Setahun belakangan, aku secara samar-samar menangkap kesan bertambahnya jumlah orang yang kurang menyukaiku. Ini juga disebabkan semakin seringnya aku (terkesan) marah-marah dan besarnya kemauanku untuk mempertahankan pendapatku secara agresif sehingga orang-orang (Indonesia) mengalami keguncangan budaya karena tidak terbiasa dengan egoisme semacam itu.

Namun, akupun, disamping memahami perasaan mereka, juga membenarkan diriku. Aku telah sampai kepada titik kejenuhan tertentu berhadapan dengan orang-orang di generasiku yang pikirannya seragam semua yang, dalam paradigma generalis dapat kita sebut sebagai para penganut liberalisme.

Salah jika ada yang mengira aku sedang bicara tentang orang-orang hedonis yang memiliki standard moral yang longgar, atau orang-orang yang menganut pandangan ideologis khusus yang beririsan dengan kriteria liberal seperti feminisme, atheisme, agnostisisme atau liberalisme etis, politis dan ekonomi itu sendiri. Tidak! Aku bicara tentang 90% anggota generasiku yang juga meliputi mereka yang tidak meninggalkan sholat dan rajin bersedekah. Aku bicara tentang gejala yang tersebar luas.

Pandangan liberal adalah sebuah cara pandang, sedemikian halus dan tak kasat mata, sehingga mudah merasuki orang atau budaya tanpa disadari, dan pada orang yang berbeda-beda, dia mengambil perwujudan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pada seorang atheis yang dungu, dia dapat mengambil bentuk yang ekstrim dan fundamental seperti: pandangan bahwa budaya dan agama yang didasarkan atas kepercayaan nonsaintifik, nonnatural dan tidak memiliki kegunaan yang praktis harus dikoreksi untuk menciptakan prakondisi kultural bagi ‘evolusi’ manusia secara sosial dan antropologis (mereka punya utopia lugu tentang suatu zaman saintifik dan reason yang komplet).

Pada seorang hedonis rendahan, dia bisa mengambil wujud liberalisme etis atau transaksionalisme etis seperti: setiap orang berhak secara total atas dirinya, tubuhnya dan ekspresinya dan hak ini tidak bisa diintervensi oleh realitas abstrak seperti norma masyarakat, atau bahwa asal-usul dari semua kebenaran etis terletak pada prinsip ‘tidak melakukan kepada orang lain apa yang engkau tak mau orang lain lakukan kepadamu.’ Pandangan etis yang memalukan semacam ini jelas berasal baik dari kebebalan tentang budaya dan peradaban serta semangat dalam meruntuhkannya. Itu bertentangan dengan prasyarat manusia yang berbudaya yang membutuhkan hidup ditengah budaya yang dihasilkan oleh masyarakat yang tak bisa berkembang dengan transaksionalisme etis semacam itu. Bahkan kutu-pun akan malu jika harus hidup ditengah komunitas yang mengadopsi sistem seperti itu.

Namun, pandangan liberal dapat merasuki seorang yang beragama dengan baik sekalipun dengan cara menjelma menjadi dorongan untuk menjadi seorang pasifis.

Kurangnya afiliasi kepada identitas-identitas budaya, masyarakat dan ummat oleh sebab lebih berafiliasi kepada ide-ide generalis-universalis yang tidak memiliki korespondensi material dengan sejarah dan realita seperti semangat-semangat antidiskriminasi, HAM atau semacam semangat pelampauan atas identitas agama dan budaya tradisional adalah gejala-gejala seorang ‘pasifis’. Disebut ‘pasifis’ supaya lebih sopan mengingat mereka memiliki moral yang baik, namun ‘pasif’ dalam menerima gempuran-gempuran dahsyat propaganda modern yang ada pada HAM dan ide antidiskriminasi.

Orang-orang baik ini pada saatnya, sebagai ‘buah hasil penyemaian propaganda yang telah matang’ akan ikut-ikutan dengan noraknya untuk menentang setiap ekspresi yang paling samar sekalipun atas semangat-semangat menghidupkan tradisi, pengusungan atas kepentingan masyarakat yang sungguh nyata karena dibangun diatas basis sistem-nilai-tradisi agama dan budaya. Mereka lebih memilih ide-ide transenden, abstrak dan nonmaterial seperti HAM, globalisasi, pasar bebas, modal, meritokrasi (pemujaan atas kemampuan dan kompetensi) dan antidiskriminasi.

Satu, mereka tak dapat membedakan yang mana yang merupakan kepentingan material dari propaganda yang abstrak.

Dua, mereka sangat kekurangan semangat solidaritas perkauman dan menjadi sangat berat sekali dalam mengeluarkan ekspresi solidaritas.

Tiga, sebagai ganti bentuk pengelompokkan lama berbasis tradisi, maka mereka yang menyebut dirinya profesional dan modern menciptakan network-network berdasarkan kesamaan baru: kompetensi dan prestasi.

Mereka tak sadar bahwa semua modus ‘secret society for power’ adalah menciptakan penggolongan abstrak atas dasar kompetensi, prestasi dan pengaruh. Idenya adalah mengumpulkan semua orang kuat dari berbagai asal-usul dan saling memperkuat satu sama lain, menciptakan ‘kelas penguasa’ diatas manusia lain yang diluar itu. Apa yang mereka lakukan adalah menciptakan ‘elite society’ kecil-kecilan dan mereka tak akan paham argumentasi bahwa kondisi sosial itu akan memperkuat sikap anti mereka kepada tradisi, kolektivisme dan militansi suci kepada agama.

Mereka semakin abstrak, meritokratis. Kesamaan etnis dan agama lama-lama hanya dianggap barang kuno dan mereka menatap penuh takjub kepada ide-ide kompetensi dan prestasi.

Iklan