Kejiwaan Komunikasi dalam Adzan

Jika pada suatu hari Jum’at siang manapun, menjelang matahari tepat di atas kepala, yakni waktu dzuhur, terdengar bunyi yang mengucapkan, ‘Allahu Akbar… Allahu Akbar…’ semua orang yang akan datang ke Masjid melihatnya sebagai pesan dari dua hal.

Yang pertama, ketika pernyataan itu dilihat sebagai sebuah pernyataan yang membutuhkan konfirmasi, alias sebagai ‘proposisi’, pernyataan ‘Allahu Akbar’ akan dikonfirmasi sebagai valid atau sahih oleh setiap orang yang akan pergi ke Masjid. Orang hanya akan menyimpulkan keharusan untuk pergi ke Masjid sejauh dia sepakat akan kebesaran Allah yang diekspresikan oleh kalimat ‘Allahu Akbar’. Jadi, terlepas dari apakah pernyataan ‘Allahu Akbar’ diucapkan sebagai adzan yang berkumandang (yang dengan demikian akan membuatnya menjadi komunikasi massa) atau dinyatakan oleh seseorang sebagai komunikasi interpersonal, dia akan dikonfirmasi dengan ucapan ‘shadaqta’ (Anda, yang mengucapkannya, benar). Itulah alasan mengapa salah satu sunnah dalam soal adzan adalah agar orang yang mendengar adzan itu mengulangi lafadz adzan oleh dirinya sendiri. Itu adalah suatu bentuk afirmasi.

Pernyataan akan kebesaran Allah, dalam kasus adzan, hanyalah contoh yang dapat diwakilkan oleh setiap kalimat lain dalam lafadz adzan semisal ‘(asyahadu an) laa ilaaha illallah’ atau ‘(asyahadu anna) Muhammadan Rasulullah’. Setiap kalimat proposisi, yang berisi judgment, akan dikonfirmasi dengan ‘shadaqta’ oleh setiap orang yang akan pergi ke masjid. Selain menyetujui kebesaran Allah, setiap orang yang akan pergi ke masjid pada hari Jum’at pasti juga akan menyetujui status Allah sebagai Tuhan yang Esa dan Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan. Tidak mungkin ada orang yang bersikap negatif atau menolak proposisi-proposisi dari adzan atau bersikap netral terhadapnya, yang akan mampu menyimpulkan keharusannya untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Sikap afirmatif atau membenarkan gagasan-gagasan yang terkandung di dalam adzan akan membentuk integritas seseorang dalam melaksanakan sholat Jum’at, sebab Ia tidak hanya menampilkan perilaku orang sholat, melainkan juga sepakat dengan ide-ide yang membangun perilaku sholat.

Kedua, adzan sebagai suatu sarana, di dalam hukum Islam, bertujuan untuk menyerukan datangnya waktu sholat dan demi pasal yang kedua inilah, adzan perlu menyampaikan jawaban mengapa mendirikan sholat adalah sesuatu yang beralasan, sebagaimana yang dijelaskan di pasal pertama. Alasan-alasan tersebut diungkapkan ke dalam klaim-klaim kebesaran Allah, keesaan Allah, kerasulan Muhammad dan lain-lain. Di luar sebagai proposisi, aspek kedua tentang adzan adalah ajakan. Itulah mengapa di antara lafadz adzan, ada kalimat yang berbunyi ‘hayya ‘alal falah’ (marilah menuju kebahagiaan). Ketika adzan sebagai proposisi mendorong aktivitas mental untuk mengafirmasi pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, maka adzan sebagai ajakan akan memicu aktivitas behavioral (perilaku fisik).

Kedua fungsi dari adzan tersebut, yaitu fungsi yang merangsang aktifitas mental dan behavioral membuat adzan bukan hanya suatu tanda waktu, melainkan juga suatu promosi yang dilakukan terus-menerus sehingga setiap orang diingatkan akan alasan mereka melakukan sholat, tidak sekadar diingatkan akan kewajiban mereka. Artinya, adzan tidak hanya mengingatkan orang akan kewajibannya mendirikan sholat, melainkan juga mengingatkan orang mengapa mereka memilihnya menjadi kewajiban mereka. Adzan tidak hanya berisi tuntutan untuk melakukan sholat, melainkan juga merasionalisir sholat dalam taraf di mana manusia diingatkan akan kebebasannya dalam menerima atau menolak sholat. Tanpa berusaha untuk menundukkan dan menaklukkan syari’at Allah di bawah penghakiman rasional manusia, akan tetapi adzan, dengan demikian, adalah sesuatu yang mengomprehensi mentalitas seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah mereka akan sholat atau tidak. Orang yang menyimak adzan akan berpikir tidak hanya untuk mengingat kewajiban, melainkan juga mengapa itu menjadi wajib padahal syarat wajib pertama dari sholat adalah status sebagai seorang muslim. Mengapa orang menjadi seorang muslim ketika itu tidak wajib baginya?

Perilaku manusia, kecuali perilaku instingtual atau gerakan reflex, adalah sesuatu yang dilatarbelakangi oleh motivasi. ‘Motivasi’ adalah dorongan psikologis untuk melakukan sesuatu, tetapi tidak bersifat determinan. Artinya, motivasi akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang baik baginya, tetapi karena Ia tidak determinan, manusia tetap bisa mengabaikan motivasinya untuk melakukan sesuatu sehingga Ia dapat melewatkan kans untuk sukses, bahagia, sejahtera, selamat dan sebagainya. Motivasi berhubungan dengan kecenderungan manusia untuk melakukan hal-hal yang mendukung kehidupan, memperbaiki taraf kehidupan dan menjauhi kematian. Kekuatan lain yang mendorong perilaku manusia adalah instinctual drive, atau semacam dorongan primordial yang berada pada level bendawi dari diri manusia (self). Dalam istilah psikoanalisa, level ini disebut ‘Id’ yang merupakan kata Jerman untuk ‘It’, kata ganti pihak ketiga objek. Instinctual drive ini berguna untuk mengarahkan manusia secara prasadar kepada pola-pola tingkah laku yang dibutuhkan untuk mempertahankan pola umum makhluk hidup yang dalam dikotomi psikoanalisa meliputi sex dan agresi atau eros dan tanathos, serta pola-pola perilaku lain yang merupakan dorongan di tingkat spesies seperti makan, mencari keamanan dan berkembang-biak.

Ragam lain dari insting adalah reflex. Reflex adalah gerakan tidak sadar yang tercipta secara instant sebagai sistem makhluk hidup untuk menghindari bahaya. Oleh karena itu, insting seseorang atau seekor binatang akan secara natural dan nonintelektual meningkatkan kewaspadaan pada situasi-situasi yang tidak dikenal atau yang secara tipikal menyimpan potensi berbahaya seperti keadaan gelap. Kewaspadaan tersebut aktif sebelum suatu individu makhluk hidup mengenali secara sadar bahaya yang mereka hadapi. Insting yang meningkatkan kewaspadaan ditujukan sebagai antisipasi atas semua bentuk bahaya yang mungkin, yang bertentangan dengan insting untuk bertahan hidup. Ini juga berlaku ketika seseorang bisa melakukan gerakan menghindari sesuatu sebelum menggunakan pikiran rasionalnya dalam mengelola informasi tentang benda yang dihindari.

Sifat dari insting adalah mekanik, objektif dan otomatis. Insting adalah instant. Oleh karena itu, dalam khazanah bahasa Melayu, ada konotasi yang berbeda dari istilah ‘perilaku’ dan ‘tingkah laku’. ‘Tingkah laku’ adalah apa yang dirujuk secara akurat oleh istilah Inggris ‘behavior’ yang mencakup perilaku yang muncul sebagai aktualisasi insting. Tingkah laku adalah aktivitas yang empirik dan sensoris atau dapat diindera. Jadi, tingkah laku adalah aktivitas fisik atau material dari sesuatu, sekalipun hal itu adalah suatu benda mati yang tidak memiliki kehendak.

Di sisi lain, istilah ‘perilaku’ berhubungan dengan aktivitas yang sejalan dengan norma. Perilaku adalah kualitas khusus subjek yang memiliki kehendak dan dapat memilih. Pada istilah ‘perilaku’, terdapat syarat evaluasi. Perilaku tidak sekadar merupakan aktivitas fisik atau material yang terbukti setelah diinderai. Perilaku adalah hasil penginderaan mengenai adanya tingkah laku yang dinilai, dikomprehensi dan disimpulkan ke dalam peristilahan norma. Oleh karena itu, ketika seseorang berlari dengan cepat atau lambat, kualitas itu adalah tingkah laku. Tetapi, ketika seseorang berlari dengan cepat untuk menolong seorang korban kecelakaan, maka perilakunya digambarkan sebagai perilaku ‘peka’ dan ‘ringan tangan’. Perilaku adalah evaluasi atas tingkah laku.

Sholat adalah sebuah perilaku (peri=nilai/ norma) jika dilakukan dengan kesadaran terhadap kebenaran mengenai ide-ide yang menunjang dan menjadi alasan disyari’atkannya sholat—otherwise, dia adalah tingkah-laku. Di antara ide-ide itu adalah ‘Allahu Akbar’, ‘Laa Ilaaha Illallaah’, ‘Muhammadan Rasuulullaah’ dan ‘Hayya ‘Alal Falah’.

‘Allahu Akbar’ atau ekspresi atas kebesaran Allah mengungkapkan alasan mengapa penyembahan dilakukan. Kebesaran Allah adalah alasannya. Kebesaran, atau kemahabesaran Allah dalam taraf superlative menunjukkan bahwa jika ada yang pantas disembah oleh makhluq secerdas dan semulia manusia, mestilah Ia adalah sesuatu yang Akbar. Kemahabesaran Allah mengandung suatu logika ‘substansial’ alias ‘dzatiyyah’. Dalam lafadz ‘Allahu Akbar’, klaim kemahabesaran Allah mengandung ungkapan bahwa karena Allah Maha Besar, maka Allah pantas disembah. Jadi, hak atas penyembahan itu dinyatakan inheren di dalam dzat Allah. Eksistensi Allah sendiri sudah menyimpulkan adanya hak untuk disembah. Jadi, hak untuk disembah ada selama Allah ada. Padahal, di antara sifat-sifat wajib Allah, ada Wujud (Maha Ada) dan Baqa’ (Berada secara Abadi, tak berawal dan tak berakhir).

‘Laa Ilaaha Illallaah’ adalah ungkapan bagi eksklusifitas penyembahan itu. ‘Al Akbar’ atau yang Maha Besar adalah Tuhan (harfiah=Allah) dan prinsip ini menginduksikan suatu kesimpulan ketika ditambahkan dengan prinsip lain bahwa tiada Tuhan melainkan Tuhan. Artinya, hanya ada satu Tuhan. Artinya, hanya ada satu ‘Al Akbar’ dan penyembahan dalam sholat hanya ditujukan kepada satu pihak saja, yang Maha Esa. Makna lain dari ungkapan yang kedua ini adalah meningkatkan gengsi dari sholat. Dengan menjadikan hanya satu Tuhan yang Maha Esa yang disembah dalam sholat, adzan membangun gagasan bahwa sholat adalah sesuatu yang khas dan eksklusif, serta tidak mau mengompromikan standardnya dalam menyembah, melainkan hanya mematok Allah saja sebagai standard yang mutlak bagi tujuan penyembahan.

‘Muhammadan Rasuulullaah’ juga berisi ungkapan bagi eksklusifitas penyembahan itu. Status Muhammad sebagai utusan Tuhan yang menerima firman mengenai sholat serta tatacara pelaksanaannya tidak diserikatkan dengan semua Rasul-rasul yang lain, yang tak disebut dalam lafadz adzan. Tidak ada nama Rasul yang lain dalam ungkapan-ungkapan adzan, hanya Muhammad SAW saja. Ini menunjukkan eksklusifitas sholat dalam 2 perspektif:

Pertama, ‘sholat’ adalah istilah Arab bagi ‘do’a’ (yang juga istilah Arab). ‘Sholat’ cukup searti dengan istilah Inggris ‘prayer’, istilah Melayu ‘sembahyang’ dan istilah Persia ‘namaz’. Itulah mengapa Muslim Inggris dan AS terkadang mengganti kata ‘sholat’ dengan ‘prayer’, Muslim Indonesia dan Malaysia menggunakan kata ‘sembahyang’ dan Muslim Turki, Pakistan dan Afghanistan menggunakan kata ‘Namaz’. Jadi, sebagaimana istilah ‘Allah’ yang sekadar berarti ‘The God’ (Sang Tuhan), kata ‘sholat’-pun sebenarnya inklusif. Dia mencakup semua bentuk do’a dan upacara keagamaan. Kaum Kristen Koptik Mesir dan Maronit Lebanon yang merupakan bangsa Arab, menyebut upacara keagamaan mereka dengan ‘sholat’.  Kalimat ‘Muhammadan Rasuulullaah’ berusaha menegaskan eksklusifitas sholat ummat Muhammad di atas inklusifitas sholat dalam pengertian ini.

Kedua, Muhammad SAW bukanlah satu-satunya Nabi yang diminta untuk mendirikan sholat. Semua Nabi dan Rasul diberikan wahyu untuk mendirikan sholat. Nabi Muhammad sekadar satu-satunya Rasulullah yang menerima secara langsung perintah sholat ketika Ia mi’raj dari Masjidil Aqsha menuju ke Sidratul Muntaha. Kenyataan bahwa sholat bukanlah syari’at yang spesifik bagi Nabi Muhammad ditunjukkan oleh Hadits yang menggambarkan bahwa Nabi Muhammad mengimami sholat jama’ah para Nabi dan Rasul di Masjidil Aqsha sebelum mi’raj ke Sidratul Muntaha. Dalam Qur’an, para Nabi dan Rasul terdahulu, juga orang-orang saleh yang lain seperti Maryam binti ‘Imran, diperintahkan untuk ‘ruku’ bersama orang-orang yang ruku’’. Kalimat ‘Muhammadan Rasuulullaah’ juga bertujuan menegaskan eksklusifitas sholat ummat Muhammad di atas inklusifitas sholat dalam pengertian ini.

Dalam kedua pasal itulah adzan hadir untuk menegaskan eksklusifitas syari’at sholat yang disampaikan kepada ummat Muhammad SAW. Terkait dengan pasal pertama, ketika sholat dilakukan oleh semua ummat beragama dengan berbagai bentuk dan gagasan yang bervariasi yang melandasinya, seruan adzan berusaha menegakkan keunikan, keistimewaan, kekhususan, signifikansi dan eksklusifitas sholat yang dirujuk oleh adzan itu. Adzan berusaha mengatakan bahwa seruan yang spesifik ini, yang tidak dikenal dalam upacara keagamaan agama-agama yang lain, dengan sendirinya juga merujuk kepada nilai-nilai dan perilaku-perilaku yang spesifik. Sholat yang dimaksud adalah sholatnya ummat Muhammad, yang diperintahkan dalam peristiwa Mi’raj, yang ditekstualisasi dalam pesan Qur’an dan yang sunnah (cara)nya dimapankan dan dipatenkan dengan merujuk kepada cara Nabi SAW melaksanakannya—lain tidak.

Mengenai pasal yang kedua, dengan hanya mengutip nama seorang Rasul dan bukan beberapa rasul, adzan berusaha menegaskan signifikansi sholat ummat Muhammad sebagai finalisasi. Islam mengakui adanya kesinambungan wahyu atau risalah dari Allah yang Maha Esa sejak Nabi pertama a.s. hingga Nabi terakhir SAW. Tradisi ini dijelaskan lewat istilah ‘Islam’ (agama yang berserah diri kepada Tuhan) dan ‘Hanif’ (agama yang sesuai dengan fitrah—watak—manusia). Pengakuan atas dan hanya atas kerasulan Muhammad SAW di dalam bunyi adzan menunjukkan bahwa syari’at Muhammadiyyah, khususnya dalam persoalan sholat, adalah syari’at yang coba untuk ditegakkan dengan adzan sebagai seruan penegakkannya—lain tidak. Kekhasan atau eksklusifitas sholat dalam pasal kedua ditujukan terhadap inklusifitas sholat semua Nabi-nabi sebelumnya. Eksklusifitas sholat fdalam pasal pertama adalah terhadap inklusifitas bentuk-bentuk penyembahan dalam semua agama yang mengenal ritual.

Lafadz yang lain di dalam adzan, yakni ‘Hayya ‘Alash Sholah’ yang disusul dengan ‘Hayya ‘Alal Falah’ yang berarti ‘marilah sholat’ dan ‘marilah meraih kebahagiaan’, adalah pernyataan-pernyataan yang memiliki keunikannya sendiri dibandingkan tiga pernyataan sebelumnya.

Pertama, tidak seperti pernyataan sebelumnya yang lebih bersifat filosofis dan memicu terciptanya analisis yang lebih mendalam mengenai apa yang tersirat di dalamnya, kalimat ‘Hayya ‘Alal Falah’ adalah persuasi yang ringkas, efisien dan langsung kepada sasarannya. Kalimat-kalimat ‘Hayya ‘Alash Sholah’ dan ‘Hayya ‘Alal Falah’ lebih bersifat psikologis daripada filosofis belaka. Di sini, ada kisah nyata tentang seorang Yahudi Amerika yang masuk Islam yang dapat dijadikan sebagai kasus yang relevan untuk ikut menjelaskan pesan psikologis dari ‘Hayya ‘Alash Sholah’ dan ‘Hayya ‘Alal Falah’.

Singkat cerita, ada seorang Yahudi Amerika yang kini menjadi Professor Studi-studi Islam di Hawaii, yang dibesarkan dalam keluarga Yahudi sekuler yang tidak taat menjalankan agama Yahudi. Lelaki ini dibesarkan dengan ‘regime’ nilai-nilai yang berlaku di AS dan bahkan di sebagian besar dunia: liberalisme, sekulerisme, independensi, kecenderungan atheistik yang kuat dan tidak memiliki sikap yang pasti kepada agama. Pada masa remajanya, dia mengalami krisis spiritual sebagai akibat dari benturan di antara keluarganya yang Yahudi sekuler dan neneknya yang Yahudi taat, yang banyak mengilhaminya.

Ketika di SMA, dia bersekolah di sebuah sekolah internasional yang berisi murid dari berbagai kebangsaan. Salah satu murid di sana adalah seorang muslim Pakistan, yang menjadi sahabat dekatnya. Temannya yang orang Pakistan melihat bahwa si Yahudi adalah seorang pencari kebenaran dan memberikannya sebuah mushaf Al Qur’an. Si Yahudi menerimanya, tetapi tidak pernah membuka kitab itu selama sekian tahun lamanya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah mengubur ketertarikannya kepada ideologi-ideologi sekuler seperti Komunisme, kehausan spiritualnya bangkit. Dia mencari kebenaran dalam berbagai kitab suci agama-agama. Suatu saat dia bertemu dengan orang-orang Afro-Amerika dari komunitas NOI (Nation of Islam), yang sempat bernama Black Muslims. Ini adalah komunitas dari tokoh-tokoh emansipasi kulit hitam Amerika yang terkenal seperti Elijah Muhammad dan Malcolm X. NOI pada dasarnya adalah komunitas yang cukup rasis, yang memandang rendah bangsa kulit putih dan agama Kristen mereka, serta mempromosikan superioritas ras kulit hitam dan agama Islam. Karena sifatnya yang rasis, orang-orang NOI mengatakan bahwa si Yahudi tidak cocok dengan Islam karena rasnya adalah ras Iblis. Si Yahudi bertanya, ‘jika saya Iblis, mengapa saya begitu haus untuk mengenal Tuhan?’ Jawab orang Afro NOI itu, ‘bahkan Iblispun beriman kepada Tuhan.’ Si Yahudi kaget dengan pengetahuan yang otentik itu dan bertanya darimana asal pengetahuan itu. Jawab orang NOI itu, ‘Qur’an.’

Maka, si Yahudi mulai membuka Qur’an yang diterimanya bertahun-tahun yang lalu dari temannya yang orang Pakistan. Dia mulai membaca Qur’an dari ayat yang dirujuk oleh aktifis NOI tadi, yang ternyata tidak menyebutkan keterangan bahwa ras kulit putih adalah Iblis atau bahwa Islam adalah agama khusus kaum kulit hitam saja. Setelahnya, ditenagai oleh pesan-pesan Qur’an yang otentik dan memesona, si Yahudi mulai membaca Qur’an secara sistematis, mulai dari halaman pertama hingga terakhir. Rupanya, si Yahudi sangat puas dengan Qur’an dan dia memutuskan untuk mempercayai semua isi Qur’an.

Kisah menggelitik tersaji dalam pertemuannya kembali dengan teman Pakistannya dalam sebuah acara reuni. Teman Pakistannya bertanya apakah si Yahudi telah memercayai sesuatu dan dijawabnya bahwa dia memercayai Qur’an. Teman Pakistannya mengatakan bahwa dengan demikian, si Yahudi sudah menjadi seorang muslim. Jawab si Yahudi, ‘tidak.’

Rupanya si Yahudi memahami bahwa identitas ‘muslim’ adalah identitas tradisional yang hanya disandang oleh orang-orang yang berasal dari masyarakat yang sudah memeluk Islam sebagai suatu unit budaya. Artinya, baginya, seorang Pakistan, Melayu, Arab atau Turki adalah muslim karena itulah identitas tradisionalnya. Baginya, hanya karena seseorang secara intelektual sepakat dengan isi Qur’an, identitas muslim tidak secara serta-merta disandangnya. Baginya, seorang Eropa atau Yahudi yang memercayai Qur’an bukanlah seorang muslim, melainkan sekadar pembenar pesan-pesan Qur’an dan berusaha hidup dengan berpandukan Qur’an, tetapi tanpa komitmen yang mengikat dalam ‘organized religion.’ Rupanya, si Yahudi melihat ‘muslim’ sebagai identitas tradisional, bukan komitmen yang diimplikasikan oleh kepercayaan terhadap Qur’an. Dia melihat Islam sebagai ‘ide terbuka’ dan komitmen kegamaan yang mengikat adalah hal lain.

Teman Pakistannya kemudian menjelaskan bahwa Islam mencakup keimanan (pembenaran intelektual atas ide-ide Islam) dan keislaman (komitmen/ ketundukkan fisik), sehingga si Yahudi mulai menjadi muslim yang sebenarnya, yang menjalankan ibadah-ibadah dan terlibat dalam kegiatan sosial masyarakat muslim.
Kita bisa melihat bahwa psikologi si Yahudi ini, ketika dia selesai membaca Qur’an, berhasil mengakses Qur’an, tetapi tidak berhasil mengakses Islam. Hal itu disebabkan karena dia membaca Qur’an tanpa perantara, tanpa tradisi dan tanpa keterlibatan masyarakat muslim. Dia terpesona kepada Qur’an sebagai sumber dan mahakarya intelektual, moral, spiritual dan lain-lain. Dia dapat dipuaskan oleh independensi intelektualnya dalam menginterpretasi Qur’an, karena independensi itu berhasil menguak kecemerlangan Qur’an dengan kebenaran-kebenaran yang dingkapkannya mengenai Tuhan dan lain-lain.

Namun, si Yahudi tidak berhasil mengakses Islam karena dia tidak mengakses aspek kedua dalam Islam, yakni Sunnah. Islam dilandasi oleh fundamental Al Kitab (Qur’an) dan Al Hikmah (Sunnah). Sunnah adalah cara Islam dijalankan, yang merujuk kepada contoh paling otentik dari cara berislam, yakni Nabi Islam, Muhammad SAW sendiri. Sunnah adalah penginterpretasi dari Kitab yang merupakan kumpulan gagasan. Jadi, mentalitas orang semacam si Yahudi yang menerima Qur’an dan tidak menerima (atau tidak tahu) Sunnah, adalah mentalitas yang tidak menarik implikasi yang berhubungan dengan tanggung jawab ‘fisik’ terhadap keyakinan atau pengetahuan. Dalam kasus si Yahudi, dia tidak tahu bahwa ketika seseorang dikaruniai keyakinan dan pengetahuan dalam pesan-pesan Qur’an, dia harus menyempurnakan aspek intelektual dari Qur’an dengan konsekuensi-konsekuensi ketundukkan dan ketaatan ‘fisik’ (jasmani, ragawi) yang dijelaskan oleh Sunnah. Dengan demikian, pencapaian intelektual menjadi dipisahkan dengan tanggung jawab moral, sehingga pribadi seseorang menjadi tidak berintegritas.

Kalimat-kalimat pembuka dalam seruan adzan, yaitu ‘Allahu Akbar’, ‘Laa Ilaala Illallaah’ dan ‘Muhammadan Rasulullaah’ adalah informasi-informasi, atau pengetahuan-pengetahuan, yang akan memicu aktivitas mental untuk memikirkan dan membenarkan klaimnya. Dalam istilah yang telah disinggung sebelumnya, ketiga pernyataan tersebut cenderung kepada sifat yang filosofis dan intelektual. Adapun kalimat-kalimat ‘Hayya ‘Alash Sholah’ dan ‘Hayya ‘Alla Falah’ lebih bercorak psikologis. Sebagai suatu persuasi yang langsung, tegas dan efisien, ajakan untuk sholat membangun motivasi untuk menarik konsekuensi dari aktivitas filosofis-intelektual yang sebelumnya telah dilakukan para penyimak adzan dalam membernarkan Kemahabesaran Allah, Keesaan Allah dan Kerasulan Muhammad SAW. Kalimat ‘Hayya ‘Alash Sholah’mengantisipasi dengan sangat baik gejala yang sering ditemui mengenai sering tidak menyatunya pencapaian intelektual seseorang dengan moralnya. Kalimat itu berusaha mengingatkan pendengarnya mengenai satunya alasan dan akibat, yakni bahwa sholat adalah akibat dari diterimanya ‘Allahu Akbar’, ‘Laa Ilaaha Illallah’ dan ‘Muhammadan Rasuulullaah’.

‘Hayya ‘Alash Sholah’ menyasar motivasi dan aktivitas psikologis, bukan filsosofis, supaya orang mau bergerak untuk menunjukkan tanggung jawabnya kepada ide-ide sebelumnya dalam adzan, yang dibenarkannya. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, sebagai keseluruhan atau kesatuan, seruan adzan bertujuan untuk mengomprehensi mentalitas seseorang untuk menjalankan sholat. Agar konsep sholat dapat disampaikan secara komprehensif, maka adzan merangsang baik aktifitas logis (logos, logika) dan psikologis (motivasi) manusia, bukan memisahkannya.

Lelaki Itu dan Ruang Bacanya

‘Ruang bacanya’, yakni, suatu sudut di lantai dua tempatnya meletakkan lemari buku dan meja baca, menghadap ke sisi timur dari sebuah jalan menanjak yang mengarah ke sebuah gunung yang sangat terkenal di utara. Tepat di depan sebuah meja tempat diletakkannya banyak buku yang berada di dalam daftar urutan baca, dua buah daun jendela berkaca persegi panjang memberinya akses visual untuk memandang jalan-jalan pedesaan kecil yang berkelok-kelok—yang indah dalam kesemrawutannya yang alami, yang bertolak belakang dengan jalan-jalan perkotaan yang teratur dan kaku—petak-petak sawah yang masing-masingnya kecil, rumah-rumah yang masih dipengaruhi oleh warisan arsitektur tradisional Jawa yang perlahan semakin kurang dominan, baik yang masih bergenting tanah liat, atau yang mulai beratapkan asbes dan seng, yang semuanya berjarak cukup rendah dari tanah, lalu jalan ke gunung. Semua hal yang terhampar dalam pemandangan dari tepian timur jalan ini, yang serba rendah, seolah merelakan keleluasaan kepada langit untuk menyeruak di mana-mana. Bahkan, semua benda yang terlihat, selain langit biru dan awan-awan di musim hujan yang agak berkepenjangan ini, seolah hanyalah ornamen pelengkap nan jelek dan terserak di sana-sini, sekadar berusaha untuk secara sia-sia melawan dominasi langit yang menguasai panorama.

Di balik jendela dan meja itu, seringkali seorang lelaki, yakni dirinya, selama berjam-jam membaca buku, dengan terpaksa mengabaikan godaan memikat dari pemandangan alam yang indah; suatu pengorbanan yang dilakukan demi menjelajahi pikiran para penulis. Kombinasi dari minat intelektual yang tidak fokus dan teratur, konsumerisme dalam belanja buku dan lain-lain, memenjara lelaki itu dalam tanggung jawab untuk membaca. Dia adalah orang yang memiliki motivasi besar untuk membaca. Dia tergoda kepada pesan para penulis. Tetapi, dia juga tergoda dengan apapun yang asing yang ditawarkan oleh panorama alam yang tersaji tepat di pelupuk matanya. Pemandangan itu adalah keindahan yang hanya dibatasi oleh semacam tabir yang rapuh, yang akan dengan mudah pecah kapan saja Ia menginginkannya, tetapi yang secara tragis tidak dipecahkannya. Di antara bertualang bercucuran keringat dan kepuasan hati di jalan pegunungan itu, atau memuaskan hasrat spiritualnya akan pengetahuan, hanya satu hal yang dapat dilakukannya dalam satu waktu.

Ketika memikirkan dilemma ini, suatu kenangan dan ketidakpuasan yang sentimental menghasut perasaannya. Tiba-tiba dia teringat bahwa kemenduaan yang menyedihkan semacam itu sering terjadi dalam perjalanannya. Dalam perjuangannya meraih kebahagiaan, sebagaimana yang dilakukan oleh setiap orang, dia tidak dapat memilih di antara mereguk kebahagiaan atau memahami maknanya, tak terkecuali dalam cinta. Betapa inginnnya dia, secara naluriah, untuk terlibat di dalam semacam imbal-balik kasih sayang di antara dua orang, sesuatu yang terbuka baginya untuk didapatkan, dan yang hanya berasal dari design primordialnya sebagai makhluk hidup, tetapi betapa menakutkan pula baginya apabila Ia tidak memahami arti dari cita-cita primordial itu. Pada akhirnya, dia menjadi seorang yang condong kepada pencarian akan makna, dan kehilangan imbal-balik kasih sayang, semata-mata karena Ia dikuasai oleh kebiasaan dan keahliannya dalam hal itu. Dia mengenang hal itu ketika hasrat untuk membaca dan bertualang datang sebagai dua unsur pencipta paradoks dari latar yang sama. Dan di sanalah, di balik meja yang menghadap ke jalan pegunungan itu, dia selalu mengarungi perjalanannya dengan hatinya, tetapi tidak dengan tubuhnya…..

090215

Apakah hidup itu? Apakah sebenarnya hal itu, sesuatu yang diberikan kepada kita tanpa kita minta, suatu realitas yang tidak berkaitan dengan kehendak kita, melainkan hasil dari kehendak dan kekuasaan pihak lain jauh sebelum kita diizinkan untuk menilai kelayakan realisasinya? Di usia remajaku, entah dari mana, aku hanya bisa menjawab bahwa bahkan arti pertama dari pertanyaan itu, arti pertama dan mendasar dari usaha untuk menilainya, terlepas dari hasilnya yang baik atau buruk, justru terletak pada fakta bahwa kita sudah hidup. Sebab, pertanyaan, usaha untuk menjawabnya dan pada akhirnya, jawaban apapun yang dihasilkannya, hanya dapat terjadi pada diri seorang manusia hidup. Apakah seseorang memutuskan bahwa hidup adalah anugerah ataukah malapetaka, apakah Tuhan itu manis atau jahat, apapun itu, sepenuhnya bergantung pada fakta bahwa dia hidup dan kemudian bertanya-tanya.

Andai satu-satunya realitas dan kebenaran yang dikenakan kepada kita adalah kematian, maka apakah kematian itu adalah anugerah atau malapetaka? Hipotesis—yakni, kebenaran hakiki yang direduksi secara tidak tahu malu menjadi hipotesis demi kepentingan penalaran manusia yang picisan—bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan mengasumsikan dengan sendirinya konsep bahwa manusia tadinya mati atau noneksisten dan kemudian diciptakan—dihidupkan. Jika, dengan demikian, tidak pernah ada penciptaan, apakah kita layak mengatakan bahwa kematian itu adalah anugerah sebab kehidupan yang penuh kemalangan ini adalah malapetaka? Siapakah yang akan bertanya-tanya mengenai arti kematian jika kita semua mati dan tidak pernah hidup? Tidak mungkin kematian adalah anugerah sebagai konsekuensi dari kehidupan yang merupakan malapetaka, sebab berpikir mensyaratkan kehidupan. Dengan demikian, siapapun yang menyimpulkan bahwa hidup adalah malapetaka, dia menyimpulkannya setelah mengeruk habis-habisan segala karunia dan anugerah kehidupan yang memberikannya kemungkinan untuk bertanya-tanya.

Inilah salah satu dari ……… Tuhan.

240115

Jangan katakan apapun, jangan katakan. Tidak ada yang bisa kau katakan kecuali sopan-santun yang dusta. Ketika suara tidak bisa menyatakan maksudmu, kau hanya akan bertambah kesal. Bertingkahlah seperti biasa, berkeliaran, tersenyum kepada setiap orang, acuh dan antusias secara bergantian dalam momen-momen yang mengecewakan. Aku, seorang lelaki, berbahagia berada di dekatmu. Perempuan sepertimu tidak pernah terlalu sederhana bagiku. Tingkah lakumu seperti seekor kucing yang sangat ringan, bagaimana dirimu melangkah dengan sangat enteng kesana kemari, secara dinamis melalui renungan-renunganku yang statis dan dibuat terpesona. Kata-katamu tak jarang mencerminkan pikiran yang telah tercerahkan, termasuk tentang bernyanyi itu… Secara naluriah, aku ingin mengenalmu lebih jauh, tetapi sayang, itu tidak mungkin. Dalam hidup ini orang harus memilih dan demi Tuhan (!) aku adalah orang yang sangat dibebani dengan pilihan-pilihanku. Mungkin aku akan tetap terpesona kepadamu dalam beberapa tahun ke depan atau sebuah mimpi di tidurku malam ini akan menghapusmu… Tetapi pada dasarnya, di luar semua rasa hormat yang mendalam kepada sesama manusia, ada suatu rasa ingin tahu yang luar biasa, yang tidak harus berujung kepada percintaan. Memang, itu diawali dengan cinta, tetapi itu sangat mungkin menjadi semacam rasa persaudaraan yang ganjil setelah kita mengobrol sekian lama, saling menghubungkan hati-hati, jiwa-jiwa kita, yang selama 26 tahun ini terpisah dalam dua kehidupan yang saling acuh satu sama lain. Makanya, kubilang, jangan berkata apa-apa. Sebenarnya dalam diam, hati-hati kita berbicara dengan sangat fasih, tetapi kita terlalu sering berpaling dari keyakinan yang nyata itu. Ada masa-masa di mana aku merasa sangat kesepian justru dengan menyadari bahwa aku telah setengah mengenalmu dan bukan sepenuhnya. Aku sangat ingin memegang tanganmu dan melihat, kebenaran apa yang mengalir melaluinya…..lalu mungkin kita bisa menikmati matahari di padang itu di suatu sebelum-tengah-hari… Tetapi aku, seorang yang sangat paham caranya menyatakan cinta, tidak bisa meresikokan pergaulan yang kaku ini hanya demi suatu angan-angan spekulatif yang tidak punya masa depan.

YAHUDI DALAM MEIN KAMPF

‘Mein Kampf’ (My Campaign, Perjuanganku) yang ditulis Adolf Hitler adalah sebuah buku yang tidak bisa disikapi dengan suatu sikap yang solid dan final. Asumsi-asumsi dasar dari Mein Kampf akan cenderung ditolak oleh siapa saja, termasuk generasi baru dari Bangsa Jerman pascaperang Dunia II yang tidak lagi dibentuk oleh atmosfer sosial, politik, budaya dan terutama sejarah–terutama dendam terhadap kekalahan Kekaisaran Jerman di Perang Dunia I. Asumsi-asumsi Mein Kampf yang mengandung doktrin superioritas ras ‘Arya’, inferioritas ras non-Arya, dorongan-dorongan terhadap konflik antarbangsa, kecaman terhadap ideologi pasifisme (Demokrasi), konsepnya mengenai perkembangan budaya manusia dan bagaimana ras Arya adalah agen tunggal dari perkembangan itu, akan cenderung ditolak oleh ‘pikiran modern’.

Siapa saja yang tidak ingin ‘tersingkir di batas terakhir peradaban’–seperti istilah F. Scott Fitzgerald–pasti akan cenderung bersikap konformis untuk mendukung demokrasi dan pasifisme, menolak rasialisme dan Chauvinisme, bahkan sampai kepada penolakan atas simbol-simbol NAZI dan sebuah istilah ganjil bin tidak kritis, ‘antisemitisme’. Tentu saja, sikap konformis seperti ini, pada analisis terakhir, akan mendapat banyak pembenaran dan dukungan. Akan tetapi, sebagai sebuah gejala psikologis, kita bisa melihat dengan cukup gamblang betapa ‘otomatisasi’ (demikian istilahnya) dari ekspresi-ekspresi semacam itu lahir dari pola-pola bawah sadar. Konotasi-konotasi, imej-imej dan simbolisme-simbolisme dari ‘demokrasi’, ‘pasifisme’ dan lain-lain akan terlalu menggiurkan untuk tidak didukung. Jadi, ekspresi-ekspresi semacam itu benar-benar merupakan aktivitas bawah sadar yang bertujuan untuk menghindarkan Ego dari ‘isolasi di batas akhir peradaban’ sebagaimana bunyi sinisme yang secara kurang ajar tepat dari F. Scott Fitzgerald itu.

Mein Kampf adalah sebuah karya sastra bangsa Jerman dari awal abad ke-20 yang lalu, asal saja kita menerima definisi ‘susastera’ sebagai ‘tulisan yang bersifat cendekia dalam lingkungan pengertian yang tidak dibatasi’ dari sebuah masyarakat yang dipengaruhi oleh eksistensi dari tulisan itu. Mein Kampf bukanlah diskursus akademik betapapun arus utama dari kritikus dan komentator atas tulisan itu mengatakan bahwa, sebagai ekspresi dari ‘pikiran Jerman’, Mein Kampf sangat dipengaruhi oleh filsuf Friedrich Wilhelm Nietzsche.

Akan tetapi, orang tidak perlu terlalu berlebihan dan ditenagai oleh obsesi buta untuk mengasosiasikan Mein Kampf dengan fatalisme-fatalisme Nietzschean karena betapapun gagasan mengenai proyek perjuangan ras Arya, sebagai ras superior yang dianggap ‘mengandung’ potensi perkembangan budaya manusia, dalam memperluas ‘ruang kehidupan’nya (Lebensraum) dapat dianggap sebagai penjelmaan dari ide Nietzsche tentang ‘Ubermensch’, akan tetapi, ras Arya sendiri diterangkan sebagai sebuah ras yang unggul karena kapasitas intelijensia dan organisasinya, sesuatu yang berkebalikan dengan fatalisme Nietzsche yang meremehkan rasio dan memuja-muja imej manusia yang lebih emosional dan vital, dengan menolak ide modern berupa rasionalitas dan mempromosikan ide posmodern mengenai relatifitas–bahkan nihilisme, yakni, ketiadaan kebenaran.

Latar belakang kebencian terhadap Yahudi, dalam Mein Kampf, dijelaskan sebagai akibat dari pertentangan-pertentangan radikal di antara karakteristik bangsa Arya dengan Yahudi. Ras Arya (suatu abstraksi yang lazim digunakan pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 untuk menyebut kelompok bangsa-bangsa ‘Indo-Eropa’) digambarkan sebagai sebuah bangsa yang memiliki sejarah masa lalu sebagai ras nomaden. Bangsa-bangsa nomaden, sudah jelas dengan sendirinya, membutuhkan organisasi sosial yang bertumpu pada pembagian kerja, namun tidak mengenal pembagian kekayaan. Masyarakat nomaden adalah masyarakat yang etos hidupnya tidak mengembangkan pemukiman-pemukiman besar tempat aktivitas komersial berlangsung. Mereka hidup berpindah-pindah dengan memanfaatkan sumberdaya alam di suatu tempat, untuk pergi ke tempat lain ketika sumberdaya alam di tempat pertama mulai habis. Cara hidup yang seperti ini mengandung sejumlah implikasi.

Pertama, masyarakat semacam ini memang tidak dimustahilkan untuk menjadi perusak alam, sebab karakter nomaden mereka membuatnya tidak mengembangkan teknologi produksi yang mengefisiensikan sumberdaya alam. Sebab, teknologi semacam itu membutuhkan syarat fundamental berupa hidup yang menetap. Teknologi produksi yang efisien adalah modal yang tidak akan dibelanjakan dalam setiap siklus produksi. Berbeda dengan bahan baku yang merupakan modal temporer, alat produksi adalah modal permanen–atau relatif lebih permanen. Dia harus diinstalasi pada sebuah infrastruktur, seperti pabrik dan pabrik adalah salah satu jenis isi dari pemukiman. Sebagai masyarakat nomaden, nenek moyang bangsa Arya tidak mengembangkan ciri sosial dan teknologi ini.

Namun, bangsa-bangsa nomaden umumnya tidak tidak memiliki populasi yang banyak. Ketika bangsa Mongol di bawah Jenghis Khan dan cucunya, Kublai Khan, melakukan invasi Mongol ke penjuru dunia selama abad ke-13 M, mereka, sebagaimana dideskripsikan sejarawan Inggris John Man, melakukan eksodus (atau ‘diaspora’) dalam skala satu bangsa. Ini menunjukkan bahwa populasi bangsa nomaden Mongol ketika itu berada pada skala yang memungkinkan mereka untuk melakukan eksodus sembari menjalankan penaklukkan, selain faktor lain yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu, yakni sifat nonprofesional dari tradisi militer bangsa Mongol: setiap individu lelaki dewasa pada dasarnya adalah ‘combatant’. Dengan demikian, ketika model pemenuhan kebutuhan mereka tidak mengenal efisiensi, akan tetapi ketiadaan mekanisme komersial dan sedikitnya populasi menghambat mereka dari merusak alam secara besar-besaran.

Kedua, masyarakat nomaden seperti nenek moyang bangsa Arya tidak melihat adanya kebutuhan untuk menyimpan surplus benda-benda pemenuh kebutuhan yang mereka eksploitasi secara langsung dari alam. Bangsa nomaden yang tidak mengenal perilaku komersial, selain perdagangan dengan bangsa-bangsa menetap di sekeliling mereka, tidak memiliki kebutuhan untuk merubah surplus barang menjadi modal. Nenek moyang bangsa Arya, dengan demikian, memiliki organisasi sosial yang bersifat komunal, komunitarian dalam konteks ekonomi, di mana mereka adalah pribadi-pribadi pekerja dan bukan pedagang atau pemodal. Inti dari kebudayaan Arya adalah kerja dan bukan modal.

Ini, klaim Adolf Hitler, bertolak-belakang secara diametral dengan bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi tidak pernah dikenal sebagai pekerja. Ini, sebagiannya, disebabkan karena Yahudi adalah sebuah entitas kultural namun bukan politis. ‘Negara Bangsa Yahudi’ tidak pernah eksis selama bertahun-tahun sejak kembalinya mereka dari pengasingan kedua dari Babilonia, sebagai ‘negara bawahan’ Kekaisaran Persia yang berakhir pada tahun 322 SM. Artinya, hingga Mein Kampf ditulis, sudah 2150 tahun bangsa Yahudi tidak berkuasa secara politis.Tetapi, kebencian banyak bangsa-bangsa kepada bangsa Yahudi justru ikut disebabkan oleh kenyataan ini. Artinya, jika Yahudi tetap menjadi sebuah bangsa yang mandiri secara politis, kerusakan secara ekonomi (dan lain-lain) yang disebabkan oleh manipulasinya terhadap banyak bangsa, tidak akan terjadi. Sejak penaklukkan oleh Babilonia pada tahun 587 SM, bangsa Yahudi berdiaspora dan terpencar ke penjuru dunia.

Sebagai sebuah bangsa tanpa negara, bangsa Yahudi menjadi tidak mengembangkan suatu budaya yang khusus. Adalah sebuah fakta yang ganjil untuk merenungkan betapa bangsa Yahudi, dengan semua kapasitas intelijensianya, tidak mengembangkan suatu budaya yang khusus. Hal ini disebabkan oleh tiadanya teritori yang mereka kuasai secara khusus. Kekuasaan besar dari bangsa Yahudi dicapai berkat dominasi dan manipulasi atas sebuah faktor nonteritorial, yang global: uang. Kenyataannya, pengembangan suatu budaya selalu dipengaruhi oleh sumberdaya, topografi, iklim dan ciri-ciri geografis lainnya dari tanah-air yang didiami sebuah bangsa. Bangsa Yahudi tidak memiliki syarat ini, sehingga merekapun tidak mengembangkan sebuah budaya yang khusus. Adolf Hitler mengatakan bahwa bagi bangsa Yahudi, ‘tidak ada budaya yang aneh di mata mereka’, sebab mereka hidup berdekatan kepada setiap budaya.

Salah satu implikasi dan juga sebab dari hal ini–ketiadaan budaya dan negara teritorial–adalah karena bangsa Yahudi, sebagai bangsa yang berdiaspora, lebih dikendalikan oleh insting, ‘self-preservation’ (bertahan hidup) sebagai kebalikan dari ‘self-sacrifice’ (pengorbanan) yang direpresentasikan oleh ras Arya. Nasionalisme, budaya nasional, persepsi kultural sebagai sebuah bangsa yang melihat dirinya sebagai ‘yang unik’, ‘yang khas’, ‘yang independen’ dari bangsa-bangsa lainnya akan mendorong lahirnya sikap-sikap ‘self-sacrifice’. Banyak kasus dari perang berhubungan dengan penguasaan dan perebutan teritori. Jika sebuah negara diserang dalam sebuah perang, dan menghadapi ancaman kehilangan batas-batas teritorial lama, mereka akan mengaktifkan insting ‘self-sacrifice’ ini. Sebab, ada faktor riil yang dipertahankan: teritori. Ini berkebalikan dengan Yahudi yang tidak memiliki teritori.

Etos ‘self-sacrifice’ yang dimiliki bangsa Arya ini adalah karakter mereka yang inheren dan merupakan sesuatu yang dilestarikan di dalam batas-batas geografis dari wilayah kehidupan tradisional yang dihuni dan dipertahankan sebagai wilayah Arya yang eksklusif. Semangat untuk tetap menjadikan Arya sebagai ras dominan di dalam ‘lebensraum’ tradisional bangsa Arya, yang menuntut syarat dipertahankannya budaya Arya yang murni dan pemeliharaan atas doktrin mengenai kekhasan, independensi, serta distingsi Arya-nonArya adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh Yahudi yang tidak eksklusif, berdaulat secara politik dan pada akhirnya mengembangkan insting ‘self-preservation’. Istilah ‘pflichterfullung’ dalam bahasa Jerman hanya dapat diartikan ke dalam ungkapan majemuk, ‘kesiapsediaan dalam memenuhi kewajiban’.

Insting ‘self-preservation’ berakar pada ketiadaan teritori eksklusif bangsa Yahudi. Ketika suatu bangsa manapun–tentunya dengan mengecualikan Yahudi–terlibat di dalam peperangan yang membuat mereka terpapar dengan resiko pemusnahan, ini selamanya berhubungan dengan faktor teritorial. Suatu bangsa yang mandiri secara kebudayaan dan eksklusif dalam teritori, akan mengembangkan insting ‘self-sacrifice’ di dalam level individual demi mempertahankan kelestarian di tingkat rasial. Ini disebabkan karena ‘teritori’ menjadi syarat dari eksistensi sebuah kebudayaan yang berkuasa di dalam batas-batasnya.

Bagi Yahudi, syarat teritorial ini tidak ada. Jika komunitas Yahudi yang selalu berukuran kecil di sebuah negara beresiko terlibat dalam suatu perang yang mengikutsertakan negara ‘inang’nya, mereka tidak akan melihat kehilangan teritori sebagai pemusnahan kultural maupun rasial. Dengan demikian, mereka akan mempertahankan properti dan komunitas mereka ketimbang bertempur secara bahu-membahu dengan rekan senegara mereka hanya demi mempertahankan teritori yang tidak mereka butuhkan. Pada gilirannya, sifat pragmatis secara politik yang tidak melihat dirinya melekat pada teritori tertentu (baca: tanah air) ini membuat mereka tidak mengembangkan budaya yang ekuivalen dengan budaya bangsa-bangsa teriotrial–tidak juga berasimilasi dengan budaya inang.

Bangsa Yahudi juga digambarkan dalam Mein Kampf sebagai suatu bangsa yang tidak memiliki asal-usul nomaden. Bangsa Yahudi selalu menjadi bangsa yang bermukim. Sejak ditaklukkan oleh Babilonia pada 587 SM, bangsa Yahudi mulai hidup sebagai minoritas mukim di satu peradaban mukim kepada yang lainnya, sehingga secara berangsur-angsur dalam rentang waktu berabad-abad, mereka menciptakan skala yang luas dari wilayah dalam rentang mana mereka berdiaspora. Bangsa Yahudi, dengan demikian, dengan menggunakan dunia hewani sebagai modelnya, adalah entitas parasit.

Sifat parasit ini, selain membuatnya mengenal aktivitas komersial sejak tahap yang paling dini dari persebarannya, juga menciptakan akumulasi intelijensia yang pada akhirnya memapankan konsepsi kita mengenai intelijensia Yahudi pada hari ini. Budaya Yahudi yang tidak bersifat ‘komprehensif’ (lengkap, sebagai syarat bagi suatu bangsa teritorial) membuat mereka tidak mengembangkan budaya pendidikan–dari mana kecerdasan akumulatif suatu bangsa berasal. Pendidikan bangsa Yahudi didapatkan dari memanfaatkan pendidikan yang dibentuk oleh bangsa-bangsa inangnya, termasuk dan terutama bangsa Arya (Jerman) yang mencapai kemajuan luar biasa sejak akhir abad ke-19, menyusul unifikasi ‘Kerkaisaran Jerman’ dan kemajuan industri Jerman yang luar biasa. Di zaman sebelumnya, Yahudi juga mengembangkan kecerdasannya melalui eksploitasi atas kebudayaan, penemuan dan pendidikan bangsa-bangsa dominan lain seperti Romawi dan Islam.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa, dengan merangkaikan fakta mengenai intelijensia bangsa Yahudi dan analisis Hitler mengenai insting ‘self-preservation’ mereka, bangsa Yahudi adalah pembawa (carrier) dari berbagai aspek budaya yang maju dari bangsa-bangsa inangnya di sepanjang sejarah. Kemajuan-kemajuan itu, yang dilembagakan melalui pendidikan, menjadi mungkin diserap karena bangsa Yahudi selalu menolak untuk mengorbankan diri mereka dalam resiko konflik antarbangsa. Mereka menyimpang kemajuan berbagai bangsa sambil berusaha untuk tetap bertahan hidup, sehingga ketika banyak bangsa telah dilumat pemusnahan, mereka masih tetap tinggal sebagai akumulator berbagai kemajuan dari bangsa-bangsa. Bangsa Yahudi, dengan demikian, bukanlah bangsa yang mencapai kemajuan intelijensia secara gradual. Mereka tidak melangkah di dalam proses perkembangan mereka sendiri, yang dapat digambarkan dengan istilah ‘gradual’. Mereka memparasiti berbagai bangsa dan menjalankan berbagai eksperimen yang tidak beresiko dalam rangka mencapai kombinasi yang baik–sesuatu yang memang eksperimental karena mereka menambal-sulam kemajuan-kemajuan khas berbagai bangsa yang berbeda-beda.

 

Kamis, 8 Mei 2014

Pagi ini aku bangun dengan perasaan yang gelisah. Setelah tanpa alasan kupandangi sebuah titik dalam ruangan selama beberapa saat, entah mengapa kuteringat dengan sebuah kejadian kecil di masa lalu. Karena pandanganku yang maskulinis, aku didebat oleh seorang perempuan yang tidak berdusta ketika kukatakan dia sangat cantik. Dia berbicara dan berbicara. Aku lupa seberapa cerdas dia ketika itu, karena aku memiliki dua alasan untuk melupakannya. Yang pertama adalah karena aku terpesona dengan apa yang kulihat, bukan kudengar. Yang kedua adalah seperti apa yang kukatakan setelah dia selesai bicara, ‘aku tak berdebat dengan perempuan.’ Mengapa kita, padahal kita adalah lelaki dan perempuan, berdebat? Mengapa kita tidak, Sayang, melakukan satu-satunya yang diamanatkan alam kepada kita, yaitu saling mencintai? Tetapi dia tersinggung dan semakin benci kepadaku. Dia tak mendapatkan kemenangannya dan aku tak mendapatkan cintaku… Di situlah kami berpisah di satu titik dari kehidupan yang tak terbatas…