Psikologi perjalanan dari iman kepada taqwa

Di dalam Al Qur’an, terdapat sebuah ayat yang sekali anda membacanya, maka anda tak dapat memalingkan diri anda daripadanya, sebuah ayat yang akan membayangi anda selamanya. Ayat itu berbunyi, Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik (QS al-Hadid [57]: 16). Dengan susah payah dan segala perasaan tak mampu, saya akan berusaha menggambarkan hubungan saya dengan ayat ini.

Jadi, marilah kita mulai dengan mengakui sesuatu yang tak mungkin bisa diingkari karena merupakan sebuah hak yang nyata, bahkan kalaupun kita tidak memiliki emosi, sentiment dan keberpihakan apapun kepada Allah: sungguh, Allah Maha Suci dan amat jauh dari membutuhkan pengakuan siapapun akan semua sifatNya yang agung. Hakikat atas Dzat, Asma dan SifatNya adalah mandiri dan mutlak sehingga tidak membutuhkan hubungan dengan hal apapun supaya bisa menjadi nyata.Keagungan Allah adalah berdiri sendiri, mandiri, tidak memiliki sebab dan faktor yang mendahuluinya atau menjadi prasyaratnya. Dengan demikian, semua pengakuan dan kesimpulan rasional yang mengafirmasi kebenaran ayat-ayat Allah yang sifatnya netral secara a-posteriori serta tak berpihak, ataupun kecondongan atau favoritisme yang dimiliki oleh seseorang untuk membenarkan kalam-kalam (perkataan, ayat) Allah secara a-priori, sifatnya adalah tak perlu dan tak berarti dalam menambahkan, mengurangi, mewujudkan atau menihilkan kebenaran ayat-ayat Allah.

Hal ini harus diingat demi memahami bahwa tidak ada glorifikasi atas ayat-ayat Allah atau bahwa ayat-ayat Allah tidak bisa dipercantik oleh argumentasi yang lebih canggih ataupun kurang canggih.Di dalam kemandiriannya yang sempurna, ayat-ayat Allah selalu benar dan tidak membutuhkan semua bentuk promosi atasnya. Dengan demikian, jika dalam tulisan ini terdapat kesan upaya untuk mengglorifikasi dan dramatisasi secara emosional pesan-pesan agama tertentu, sungguh hal itu tidak dibutuhkan sekalipun mungkin tidak terhindarkan (karena emosi manusia dapat tersentuh dan tergerak).Sebaliknya, jika tiada kesan glorifikasi, bukan berarti tulisan ini dijajah oleh mentalitas untuk menunjukkan ciri-ciri yang remeh dari netralitas belaka dan tak acuh.

Jika orang bertanya mengapa manusia beriman, maka baik di dalam ajaran Islam maupun sebagai hasil penyelidikan berdasarkan penggunaan akal rasional, jawabannya adalah karena secara intrapersonal, manusia diciptakan dengan potensi untuk beriman dan potensi itu condong untuk menjadi actual, serta secara ekstrapersonal, lingkungan hidup manusia, yaitu alam objek-objek ini, mengandung pertanda akan Allah. Untuk menguraikan bagaimana manusia itu beriman secara intra dan ekstrapersonal, maka tradisi pemikiran Islam, klasik dan modern, sudah menyediakan sebukit literature untuk kita dan bukan untuk menjelaskan hal itu tulisan sederhana dan terlalu ringkas ini ditujukan. Tulisan ini ditujukan untuk melakukan percobaan generalisasi atas penyelidikan terhadap pengalaman subjektif penulisnya tentang proses psikologis dari beriman kepada bertaqwa.

Ayat yang telah dikutip di atas, secara persuasif mengandung retorika yang sifatnya membayangi dan melekat, sebuah sindiran yang menyasar langsung kepada jantung keimanan,di mana dia berbunyi, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)”.Mengapa hal ini menyasar langsung kepada jantung keimanan? Karena keimanan sudah mengandung pengakuan akan keharusan untuk bertaqwa bagi orang beriman. Iman sudah mencakup di dalam dirinya sendiri suatu pemahaman akan konsekuensi untuk bertaqwa setelah beriman, atau untuk setia setelah mencintai, atau untuk bertindak penuh tanggung jawab setelah mengakui, atau untuk merasakan rasa nyaman setelah bertindak benar dan merasakan rasa gelisah setelah bertindak salah. Iman, dengan demikian, selalu membayangi dan mengikuti pemiliknya dengan tuntutan moral mendasar untuk berlaku seturut dengan nilai-nilai keimanan itu, yang disebut bertaqwa.Iman, sebagai suatu tatanan nilai yang abstrak, mengimplikasikan tuntutan moral (bahkan eksistensial) dalam hal tatanan perilaku yang konkret, yang disebut taqwa. Integritas (kebersatuan) ini, di mana iman dan taqwa menyusun kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, adalah kebutuhan moral, bahkan eksistensial, yang mengancam pengkhianat atas integritas tersebut suatu penderitaan moral, bahkan eksistensial.

Jika keimanan, pengakuan yang tak teringkari dan sangat fundamental akan sesuatu menuntut pemiliknya untuk mengembangkan suatu tatanan perilaku (taqwa) maka tidak ada suatu kalimat yang paling menjanjikan rasa sakit dan penderitaan moral-eksistensial selain, Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Kalimat tersebut dirancang untuk tidak bisa dijawab dengan cara yang tidak dimaui oleh pengungkapnya, kecuali dengan disertai oleh efek penderitaan moral-eksistensial. Kalimat ini mengandung sejumlah dimensi, yang masing-masing dimensinya memiliki sifatnya sendiri dalam memberikan efek penderitaan moral-eksistensial bagi mereka yang merupakan objek dari sindiran itu.

DIMENSI DISKREPANSI

Di dalam Islam dan di dalam proses psikologis manusia, terdapat suatu system mendasar yang mengharuskan afirmasi/ pengakuan atas suatu nilai kebenaran tertentu memenuhi perilaku-perilaku, preferensi-preferensi, tindakan-tindakan tertentu yang dianggap sebagai ‘aktualisasi’ (penerjemahan kedalam perilaku sosial/ konkret) atas afirmasi tersebut. Jika nilai kebenaran yang dimaksud termasuk kedalam kategori nilai fundamental, maka tuntutan moral untuk memenuhi perilaku, preferensi, tindakan tertentu juga fundamental sifatnya.Nilai fundamental diantaranya adalah keadilan vs kezhaliman, kejujuran vs kebohongan, hak vs bukan hak, tanggung jawab vs penelantaran atau cinta vs benci.Nilai yang kurang fundamental mencakup apapun yang dapat dikategorikan sebagai nilai turunan/ perincian dari nilai fundamental seperti tidak korupsi, tidak memanipulasi, nilai penghormatan kepada mereka yang lebih tua, kesetaraan dan lain-lain.

Diskrepansi adalah adanya kesenjangan antara keharusan abstrak dan kenyataan material, tidak hanya dalam konteks moral, tetapi juga dalam logika dan ilmu pengetahuan, dimana kesimpulan teoritis semakin tak mapan karena selalu dikikis validitasnya oleh gejala-gejala yang baru dan belum pernah diperhitungkan. Dalam konteks moral, diskrepansi dimaksudkan sebagai tidak mampunya seorang manusia lepas dari deraan penderitaan moral-eksistensial karena tidak memiliki jawaban yang sah mengapa dirinya tidak berlaku sesuai dengan moralitasnya sendiri.Ketidakmampuan ini juga adalah ketidakmampuan untuk menciptakan integritas (kebersatuan) antara afirmasi moral dengan aktualisasinya ke dalam perilaku.Mengapa disebut ‘diskrepansi’ menciptakan integritas moral ketimbang ‘kegagalan’ menciptakan integritas moral?

Jika kita menggunakan istilah ‘kegagalan’ seseorang dalam menegakkan perilaku konkret seturut dengan afirmasinya atas nilai kebenaran tertentu, maka kita telah salah dalam memahami ‘upaya’ orang tersebut.Dengan istilah ‘upaya’, kita memahami bahwa ada upaya yang berhasil dan gagal, ada upaya yang berbuah dan tidak.Kegagalan dalam sebuah upaya sesungguhnya lebih berorientasi kekalahan dalam mengatasi kendala eksternal, dimana sebagai contoh, seorang pembalap gagal mencapai podium karena gagal lebih cepat dari pembalap di depannya.Penggunaan istilah ‘gagal’ menyaratkan adanya kompetisi, tantangan eksternal, peluang, keberuntungan dan perbandingan antara potensi-potensi dan performa-performa kompetitor.

Dalam perwujudan integritas moral, diskrepansilah yang terjadi ketimbang kegagalan, karena pada dasarnya tidak ada alasan yang dapat diterima oleh diri sendiri tentang mengapa kita menerima suatu nilai kebenaran dan tidak memenuhi tuntutan untuk menjalankan perilaku tertentu yang seturut dengan kebenaran itu.Diskrepansi menunjukkan adanya anomali dan ketaklaziman, mengharuskan adanya koreksi di antara dua unsur: entah abstraksinya atau aktualisasinya. Pengertian ini memberikan pemahaman penting tentang efek dimensi diskrepansi dari ayat Allah tersebut: tidak ada yang bisa dibenarkan dari terjadinya diskrepansi antara iman dan taqwa sehingga terjaminlah suatu penderitaan moral-eksistensial.

DIMENSI TEMPORAL

Ayat tersebut dimulai dengan frasa “belum datangkah waktunya…” Dengan mudah, tersurat adanya pengertian temporal/ waktu (“saatnya”).Merenungkan dan berusaha untuk sampai kepada jantung maksud dari bagian ini, adalah sangat lazim jika kita bertanya-tanya, “memangnya kapan waktunya?”

Efek dari bagian ini ternyata amat praktikal dan eksperimental. Waktu, masa, saat mengacu kepada suatu perjalanan dimensional dalam dunia manusia, yaitu dimensi proses atau dimensi keempat setelah ketiga dimensi ruang. Ini adalah makna universalnya. Dalam kalimat dan wacana apapun, jika salah satu kata tersebut dilibatkan tanpa konteks, maka harus dipahami bahwa maknanya universal, yaitu sebagai perjalanan waktu atau proses biologi-kimiawi-fisika sejak terciptanya alam semesta hingga ujung dari prosesnya. Jadi, adakah konteks temporal dari ayat tersebut?

Jawabannya adalah ada dan tiada, karena argumentasi pendukungnya tampaknya sama kuat. Dalam asumsi bahwa ada konteks, maka konteksnya adalah “masa yang tepat untuk mulai bertaqwa.” Dan kapankah masanya? Masanya adalah didalam, tak mungkin diluar, lingkup masa hidup seseorang.Artinya, konsep yang dimasukkan secara implisit disini adalah kematian. Dengan asumsi bahwa terdapat konteks temporal dalam ayat tersebut, maka ujung temporal dari tempo hidup manusia (kematian) adalah apa yang coba diingatkan.Jika kematian sudah diingatkan, maka habis perkara dan tutup perdebatan. Ayat tersebut, dalam perspektif temporalnya yang mengingatkan akan kefanaan umur hidup manusia di dunia ini, tidak lain ingin mengatakan bahwa waktunya sudah datang, yaitu sejak manusia memahami bahwa dirinya dapat mati kapanpun dan bahwa waktu kematian bukannya semakin menjauh.

Jika diasumsikan bahwa tiada konteks temporal dalam ayat tersebut, maka keadaannya adalah bahwa Allah berkata, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)” sebagai pengingat manusia akan suatu perkataan yang sering dikatakannya sendiri, “belumkah datang hidayah Allah kepadaku?”Dengan demikian, artinya Allah berfirman, “belumkah datang hidayahKu kepadamu?”Jawabannya adalah, bahkan ayat tersebut adalah hidayah.

DIMENSI EKSISTENSIAL

Frasa yang telanjur masyhur, “to be or not to be” sering dikutip dengan merujuk kepada karya sastrawan Inggris abad XVII, William Shakespeare dalam karyanya, Hamlet. Maksud dari ungkapan itu (“ada atau tiada”) menunjukkan suatu dilemma.Dilemma itu adalah dilemma sangat dahsyat dimana seseorang tidak sedang memilih antara pakai baju merah atau biru, jalan-jalan ke Jepang atau Australia, makan gado-gado atau ketoprak.Dilemma itu adalah dilemma eksistensial (sesuatu yang bersifat memberikan arti bagi keberadaan kita yang telanjur ada ini) dimana seseorang memilih ada (to be) atau tiada (not to be).Ini adalah ungkapan klasik tentang contoh dilemma eksistensial.

Mari kita ambil sebuah contoh sederhana.Ada seseorang yang sangat yakin bahwa dirinya adalah seorang penyanyi yang istimewa.Jika ada hal-hal yang paling diyakininya di dunia ini, maka salah satunya adalah potensi hebatnya sebagai penyanyi. Dia telah selama bertahun-tahun berusaha untuk memetakan potensi menyanyinya di dalam peta pemeringkatan penyanyi-peyanyi hebat nan terkenal. Setelah memetakannya selama bertahun-tahun dengan cermat, skeptis, netral, objektif dengan metode yang tepat, maka dia tidak bisa mengelak lagi dari kesimpulan bahwa dirinya sesungguhnya memiliki bakat menyanyi yang luar bisaa dan layak untuk menampilkannya kepada public, berkarir di bidang itu dan mendapatkan penghargaan sepantasnya. Namun, setelah lama waktu berlalu, Ia tak kunjung percaya diri atau merasa telah menemukan momen yang tepat untuk menunjukkan kemampuannya.

Suatu kali, dada orang tadi berdegup kencang karena percampuran antara perasaan bersemangat, antusias, khawatir, ragu, penuh harap, takut akan resiko ketika Ia melihat peluang untuk mendaftar pada ajang pencarian bakat menyanyi yang bergengsi. Dalam momentum tersebut, tokoh kita ini berada dalam dilemma eksistensial dimana potensi menyanyinya yang dahsyat berada dalam momentum penentuan entah untuk “menjadi” (to be) sehingga public akan pada akhirnya mengetahui mutiara indah yang terpendam dalam dirinya selama ini, atau justru “tidak menjadi” (not to be) dimana mimpi buruk terbesarnya selama ini dapat menjadi kenyataan dengan akan terpendamnya untuk selamanya mutiara talenta yang sangat besar itu. Ini adalah ilustrasi dari dilemma eksistensial, “to be or not tobe”.

Iman adalah sesuatu yang sangat abstrak sekalipun sangat dahsyat, yang terpendam didalam diri kita selama ini.Dalam kasus dimana seorang yang beriman itu tidak atau tidak cukup bertaqwa (padahal sesungguhnya setiap orang beriman selamanya akan merasakan kurangnya ketaqwaannya kepada Allah) dia seringkali berjumpa dengan momen dilemma eksistensial, termasuk ketika jantung keimanannya diguncangkan oleh pertanyaan Allah dalam ayat tadi, dimana pada saat semacam itu dia ditekan oleh dirinya sendiri dengan sangat kuat untuk menjadikan, mewujudkan, memberikan wujud, memberikan bukti, mencptakan integritas dari imannya dengan melaksanakan taqwa atau… “not to be”, ketika iman yang selama ini terpendam dalam diri tidak mencapai realisasinya.

Tidak tercapainya realisasi membuat dilemma eksistensial tersebut berakhir dalam kehampaan makna hidup (eksistensial) dan penderitaan yang tidak remeh karena tidak saja iman tersebut berhenti pada kesimpulan bahwa Ia tak teralisasi, namun Ia bahkan dirasa taka da (not to be). Ini terjadi karena fungsi dari realisasi (to be) dari iman kepada taqwa yang melewati dilemma eksistensial itu tidak sekadar memberikan bukti sosial kepada public atau orang lain, melainkan memberikan bukti kepada diri sendiri—yang tak akan puas (ridha) jika tak melihat adanya realisasi yang memberikan keridhaan eksistensial pada hidupnya.

KESIMPULAN

Dimensi psikologis dalam perjalanan seorang manusia dari iman kepada taqwa adalah perjalanan mengatasi diskrepansi, mempertimbangkan kematian sebagai pertimbangan bagi setiap pengambilan keputusan dan perjalanan meralisasikan arti eksistensial dari hidupnya.Jika ada iman dan taqwa tidak teralisasi, maka iman adalah suatu faktor penderitaan eksistensial. Sementara iman sendiri dianggap sebagai fitrah manusia, atau kondisi yang dengan kondisi itu manusia dirancangciptakan, maka dengan sendirinya, manusia yang beriman karena dirancang untuk beriman namun tidak bertaqwa, tidak akan mencapai realisasi dari iman itu dan dibebani oleh krisis eksistensial, dilemma moral.

Iman sendiri tidak dapat dinihilkan sejauh manusia masih diliputi kebimbangan dengan semua argumentasi yang bermaksud untuk menjelaskan kemungkinan adanya kenyataan tanpa Tuhan.Dengan demikian, terkikisnya iman menunjukkan terkikisnya fitrah, namun melemahkan tuntutan eksistensial untuk merealisasi taqwa (yang jika tidak teralisasi, maka terciptalah krisis eksistensial).Jadi, pilihannya adalah memiliki iman yang redup namun kurang merasakan krisis eksistensial dari tidak tercapainya taqwa, atau memiliki iman yang terang dan kuat, yang mengadakan tuntutan berkesinambungan untuk mencapai integritas antara iman dan taqwa.Dalam perspektif fitrah (kondisi semulajadi manusia) maka iman adalah kemestian karena manusia diciptakan dengan fitrah itu, sekalipun hal tersebut dapat menjadi kurang vital dalam kasus-kasus pribadi tertentu.

Di sisi lain, taqwa sepenuhnya adalah pilihan, usaha dan kesengajaan. Proses, perjalanan dan perjuangan menyempitkan kesenjangan diantara iman dan taqwa dengan demikian adalah ‘peta-jalan’ (roadmap) kehidupan manusia atau bahwa manusia memang dimaksudkan untuk mengarungi perjalanan itu: semulajadi manusia menuntut manusia itu untuk merealisasikan taqwa, namun manusia bisa memilih untuk memenuhinya atau tidak, mencapai realisasi eksistensial atau krisis eksistensial.

30112016

Untuk menggambarkan bagaimana hamba merindukan Tuan,

Masukkanlah burung cinta ke dalam sangkar besi

Kemudian tataplah langit terik di sore hari yang berangin

Harum rerumputan menyemilirkan hasrat bermain

Di mana Tuan tergoda untuk singgah sejenak dalam kehidupan dunia

Ketika layang-layang putus turun ke padang rumput tempat Tuan pernah menggantungkan cita yang indah akan gadis itu,

Ingatlah akan senyumannya yang bersahaja

Tergurat secara aneh dan menyakitkan dalam kenangan tak terjangkau

Dalam pada itu, bebaskanlah sang burung cinta ke langit luas

Kepada apa Tuan berseru, “terbanglah sejauh-jauhnya, tebus citaku!”

Padahal langit tiada berujung

Tetap bukalah pintu sangkar, apakah dia akan kembali?

19102016

Di sebuah kota yang mungkin hanya pernah mengenal kedamaian

di jantung Jawa Timur yang entah mengapa tiba-tiba begitu mengesankan

Duniapun perlahan-lahan akan memudar pula

ditelan kepekatan malam

Perkenalan-perkenalan akan terlupakan setelah penghabisan hari ini

Ketika ini senandung keperihan seorang biduan panggung

mengalun pelan dari kejauhan

bersama dengan irama dangdut vulgar yang tidak bisa disebut murahan

semata-mata karena dia berbicara tentang pandangan vulgar orang biasa tentang cinta

Mega-mega jingga di langit menjadi kenangan terakhir

dari siang yang riang

Ingin kusampaikan teriakan kehilangan seorang anak yang malang

Tetapi suatu ketakutan menghentikanku

Apakah yang sesungguhnya pernah kumiliki… ?

Apakah cintamu… ?

Apakah cintamu, kasih… ?

Dan apakah artinya itu bagi dunia ini….. ?

23 September 2015

Mudah kujanjikan kepadamu, kekasih, bahwa wajahmu akan kujaga selamanya
Dalam hatiku yang terbakar oleh apinya
Akan tetapi seringkali
Selagi dengan lembut kukecup bibirmu
Kurasakan di antara kelembutan dan kemesraannya
Sebuah janji yang pasti
Yang menyakiti kita
Dan yang perlahan-lahan menjadikan kita layu
Hingga seolah tak dapat lagi kita melanjutkan sebuah permainan bernama hidup
Yang sungguh amat letih dan rapuh
Satu-satunya janji kehidupan adalah kefanaan
Betapa besarnya perayaan, tetapi betapa kecilnya apa yang dirayakan
Kadangkala, ketika pesan-pesan ini menggeledek, mengguntur ke dalam jiwaku,
Sembari berharap dapat menjadi seorang yang arif,
Ke dalam kesunyian, di mana keabadian barangkali bersemayam,
Kuasingkan diriku
Bahkan dari kemesraan ciumanmu, kekasih
Bahkan dari kemesraan dekapanmu

Walaupun Semiskin Kunang-kunang

Malam sedang berkemas-kemas, sementara pagi belum lagi datang. Jalan-jalan besar dan pusat-pusat keramaian malam hari di ibukota negara yang sedang bergeliat tak tentu arah ini, pada waktu itu, telah menjadi begitu sepi, ditinggalkan, seolah-olah mengalami keruntuhan dari masa-masa jayanya yang masih lekat di ingatan karena belum lama berselang. Tempat-tempat itu segera menjadi begitu murung, seolah larut di dalam pikirannya masing-masing, tersedu-sedan demi meyadari bahwa sesungguhnya mereka tidaklah sehebat, semegah, sebrilian itu. Mereka tersadar bahwa tidak peduli terkesan sehebat apapun mereka, tetapi mereka tak ubahnya seperti pramuria yang glamour, bertarif setengah miliar, beredar di antara tokoh-tokoh hebat dari kalangan atas, kadangkala sangat-sangat diinginkan, tetapi, selepas itu, tak pernah ada yang pulang kepadanya. Dia dipuja-puja, orang melaksanakan ekspektasinya kepada mereka, lalu, setelah semuanya selesai, mereka ditinggalkan sendiri, murung, jauh dari citra setengah miliarnya dan tersadar, apa arti semua ini, ketika tidak ada yang pulang kepadaku? Ini sama halnya dengan situs-situs pembangunan yang hebat itu. Lima puluh miliar dihabiskan dalam satu malam di tempat itu. Pada awalnya, pengunjungnya seolah rela meninggalkan rumah-rumah mereka di waktu-waktu yang tak pantas untuk bepergian, hanya untuk menemui tempat-tempat itu yang lebih menggiurkan. Tempat-tempat itupun menjadi bangga, lihat siapa saja penghuniku, katanya. Orang-orang hebat tolol berkumpul di situ, sedemikian rupa sehingga seandainya mereka dapat bersepakat untuk mengambil-alih dunia, tentu mereka dapat mewujudkannya. Dan betapa mengagumkannya pula, begitu banyak orang-orang semacam itu berkumpul hanya di satu tempat yang cemerlang itu. Tetapi, belum sempat tawa itu dinikmati sampai puas, sekonyong-konyong orang-orang gila itu menjadi waras, teringat bahwa mereka sudah mulai butuh pulang, ke rumah mereka yang sebenarnya, tempat di mana terdapat bermacam-macam hal yang biasa sekali dan membosankan–rice-cooker, oven, tempat tidur dan lemari buku–, sama sekali bukan tempat yang spektakuler seperti tempat itu. Secepat kejayaan diraih oleh tempat itu, secepat itu pula Ia lenyap, nisbi, tak berbekas, tak bisa dianggap berarti. Ketika diingatkan tentang hal ini, yang selalu mereka ingkari, tiba-tiba saja mereka menjadi mual…dan pada akhirnya semua orang, tanpa kecuali, muntah. Wajah-wajah pias yang baru saja muntah amatlah mengibakan. Seorang lelaki, seolah-olah sosok diriku sendiri, menengok ke arah bak sampah besar di mana terdapat seekor kucing sedang menikmati makanannya. Bahkan kucing miskin itu tampak lebih gagah dan angkuh di matanya, ketimbang wajah-wajah itu. Tempat-tempat hebat itupun mengutuk dirinya sendiri karena telah ditakdirkan untuk terperangkap di dalam tubuh bisu yang saban malamnya mengalami kejayaan, sekaligus kejatuhan, nelangsa ibarat seorang lelaki yang patah hati, karena tak ada seorangpun yang berpulang kepadanya.

Aku sendiri tak pernah mengunjungi tempat itu. Tetapi, pada waktu itu, ketika di persinggungan hari itu aku mendusin di kamar sewaku, aku merasa, entah bagaimana, seolah-olah aku baru pulang dari tempat semacam itu. Baru dua setengah jam aku tertidur, padahal tadinya aku merasa lelah sekali. Aku terbangun dengan amat tiba-tiba, sehingga tak sempat merasakan peralihan dari bermalas-malasan hingga siap untuk bangkit, tak ubahnya seperti orang yang bangun kaget dari sebuah mimpi buruk. Bedanya, aku tak berkeringat sama sekali. Kulirik jam tanganku, langsung kutahu bahwa malam dan pagi sedang saling menunggu. Malam sudah amat bosan, sehingga Ia berharap pagi datang lebih cepat, sementara pagi sedang mencari-cari alasan untuk mangkir. Sungguh keadaan yang sepi. Dunia seolah tak bertuan, seperti sepasukan tentara yang kehilangan komando dan tak tahu harus bagaimana. Gamang. Bingung. Ketika aku bangkit, aku berpikir untuk menyalakan lampu, tetapi sesuatu yang emosional dan tidak jelas menghalangiku. Akhirnya, kubangkit dalam cahaya temaram. Kubuka kunci pintu kamar dan kudengar suara kunci membuka, ‘klek’. Tiba-tiba aku mendapat firasat bagus yang berasal dari menariknya bunyi kunci itu membuka. Dari semua suara yang dimungkinkan, mengapa harus, ‘klek’? Oh, indahnya, sungguh suara yang paling memesona bagi suatu kunci untuk membuka! Suara itu adalah seorang gadis kecil di dini hari, membuka kulkas dan melahap entah cokelat, strawberry atau pudding vanilla yang bukan jatahnya, lalu dengan langkah-langkah kucing berusaha kembali ke kamarnya, menyusuri bagian–bagian rumah dengan hati-hati, dengan kesunyian mutlak di latar belakangnya. Suara yang nyata dan kesunyian saling bercampur, sehingga menghasilkan ketidaktentuan di dalam perasaan manusia. Setelahnya, kususuri koridor sempit untuk membuka pintu beranda di lantai tiga ini. Aku berdiri di beranda itu, membiarkan diriku ditampar-tampar oleh angin dini hari yang penuh semangat, tetapi di wajahku itu semua terasa sebagai pengganti sebuah belaian dari sang kekasih, yang pada waktu itu tak mungkin didapatkan oleh seorang lelaki setengah sebatang kara di kota besar. Tiba-tiba aku jatuh cinta kepada saat itu. Tiba-tiba aku menyukai fakta bahwa aku adalah satu-satunya orang yang masih bangun dari semua penghuni bangunan empat lantai ini. Aku sendirian di beranda itu, begitu bebas memikirkan dan melakukan apapun yang kuinginkan. Agak jauh di sudut sana, dengan menyempil, aku diam-diam menyaksikan diriku melakukan berbagai hal kecil untuk menikmati dunia pada dini hari, tanpa kusadari. Akupun menjadi larut ke dalam intipan diam-diamku terhadap hal-hal kecil yang memesona yang kulakukan di beranda sana. Tiba-tiba aku teringat kepada novel Irving Krachmar, seorang Muslim dari bangsa Yahudi, tepatnya bagaimana dia menggambarkan seekor kunang-kunang mencari Tuhannya. Dia terbang dari satu lentera ke lentera lain, hingga mencapai bulan–lentera terbesar–sambil mengobral kata-katanya yang amat cerewet, ‘Tuhan, Tuhan, apakah dirimu di sana? Kunang-kunang mencarimu sejak sore dan membawakan untukmu Lemon Tea’. Akupun juga jadi ingin minum Lemon Tea bersama Tuhan, sambil pada akhirnya menceritakan semua hal paling sejati yang selama ini kusimpan. Ketika kunang-kunang sudah sampai bulan, Lemon Teanya sudah tak terlalu dingin. Ternyata itu adalah Ice Lemon Tea! (Soal Lemon Tea, lentera dan bulan ini datang dari interpretasiku saja, tetapi terinspirasi dari novel Irving Krachmar dan ilustrasi, verbal maupun visual, di dalamnya)

Karena sebab-sebab itu dan yang lainnya, air mata mengembang di bendungan mataku, seperti akan segera menjebolnya. Ke dalam jiwaku yang kerdil dan rapuh, berjatuhan berbagai hal secara berkelimpahan, sehingga tak sanggup aku menanggungnya. Aku cukup sulit untuk menangis, padahal harusnya aku adalah orang yang cukup peka. Ini, sebagiannya, disebabkan karena paradoks-paradoks di dalam diriku, sebagaimana pada diri semua orang, karena sekalipun aku adalah orang yang peka, aku juga agak menyukai perkelahian. Setidaknya, ide tentang berkelahi dengan orang yang cocok untuk dilawan, membakar suatu bagian dari jiwaku. Daftar mengenai perkawinan-perkawinan yang paradoksal ini, di dalam diriku, bisa amat diperpanjang, tetapi cukuplah digambarkan bahwa bagian yang keras dari jiwaku telah ditempa menjadi sebuah pedang tajam, sedangkan bagian yang lembut sudah diolah menjadi kue Muffin dengan kismis yang, tidak perlu dikatakan lagi, sudah ditakdirkan untuk menjadi begitu lezat. Oleh karena itu, perkiraanku tidak meleset. Air mata itu hanya mengembang saja, dan urung menganak-sungai dengan dramatis, nangis bombay, melintasi padang-padang di pipiku. Akan tetapi, hatiku tetap saja menangis, sehingga dia disuburkan olehnya. Aku kembali memerhatikan keadaan dunia manusia.

Kini aku sudah terbangun, bahkan hatiku sudah lebih terbangun lagi. Tetapi, sejam yang lalu, mana kutahu apa yang terjadi? Bulan purnama, lampu-lampu kota entah mengapa menjadi lebih temaram sehingga bintang-bintang–yakni gadis-gadis zaman dahulu yang memandang pingitan adalah takdir mutlak yang manis dari para gadis–menjadi sedikit tidak sopan untuk berani menampakkan dirinya. Tidak satu atau dua, tetapi lebih dari selusin. Pemandangan dan suasana lebih daripada sekadar apa yang terlihat, melainkan juga yang terdengar. Dan bahkan, sangat kurasakan sekali bahwa suasana tidak hanya meliputi apa yang tampak seperti bulan yang indah, melainkan juga apa yang tidak tampak, misalnya kompatriot-kompatriotku di rumah kos-kosan empat lantai ini, yang ketidakhadirannya jutru ialah bentuk kontribusi mereka terhadap suasana intim yang tercipta. Andai saja mereka hadir sesuai dengan protokol resmi mereka, yakni mengenakan kaos kutang bolong, celana pendek, sendal jepit buluk pusaka keluarga turun-temurun, gitaran, suara false berebutan menyanyi dan merokok, maka tentu darah akan terdorong deras ke ujung pembuluh, menciptakan rasa amat sebal di hati, yang mau tidak mau, sungguh, secara harfiah, hanya bisa diterjemahkan dengan senyum sangat lebar dan tutur kata lemah lembut. Akan tetapi, mereka dengan cerdasnya tidak hadir dan akupun mulai berpikir tentang ‘yang tidak ada’. Betapa sama sekali tidak remehnya kenyataan ini: betapa banyaknya pemandangan hebat yang terjadi ketika semua orang tidur atau lengah, maka apakah kita dapat membayangkan, dapat meng-kognisi, dapat meng-komprehensi, realitas pada saat-saat semacam itu? Kebesaran, kemegahan, keagungan muncul, tetapi semua orang sedang tidur atau lengah. Pikiran tololku hanya dapat bertanya-tanya, ‘untuk apa kalau begitu?’ Apa yang terjadi di dasar palung Mariana di Pasifik, atau sebuah Supercluster berjarak jutaan tahun cahaya dari bumi, siapa yang menyaksikan? Untuk apa semua drama ini ditayangkan dengan amat teratur episode demi episodenya, tanpa satupun penonton? Masih bisakah orang tidur setelah menyadari hal ini? Semua hal itu, percaya atau tidak, di dalam kerahasiaannya yang tidak akan pernah terbongkar, senantiasa terjadi. Kita tidak akan pernah mengetahuinya, tetapi hal-hal itu tetap ada. Serangga-serangga kolonial yang tidak akan pernah ditemukan keberadaannya, selama beberapa juta tahun terakhir ini tetap setia menjalankan semua kegiatan di dalam masyarakat mereka yang rumit dan tertib. Sementara itu, bintang yang sepuluh milyar tahun yang lalu masih merupakan bintang muda, kini sudah mulai berwarna oranye tua, dan akan segera meledak, dan tak satu orangpun akan pernah mengetahui kisahnya–kisah cintanya mungkin? Sementara itu, suatu kaum yang memiliki akal sangat tinggi, barangkali setinggi kaum kita sendiri, menjalani kehidupannya di semesta yang tidak terjangkau, tidak mengetahui apa-apa tentang sejarah anak-anak Adam. Segala sesuatunya tetap berjalan dengan teratur dalam kesunyian, dan untuk apa? Oh, kekasih, untuk apa? Untuk siapa kamu terus berjalan dengan cara jalanmu yang konyol itu, wahai semut kekasihku?

Untuk beberapa lama, kuterima dengan amat terbuka semua tawaran dari beranda itu, akses yang diberikannya kepada pemandangan agung di pelupuk mataku, dan pemandangan lain yang lebih agung di baliknya, dan dibaliknya lagi dan seterusnya. Tidak ada yang coba kusia-siakan, tidak ada yang coba kupercepat dan tidak ada yang kulakukan penuh kegusaran dan ketidaksabaran. Aku sabar dalam menyimak apapun yang mau dikatakan oleh beranda itu, yakni apa yang dengan perasaan meluap-luap dan membuncah-buncah sudah diketahuinya selagi aku masih tidur lelap di kamar ujung, kemudian Ia sendiri yang membangunkanku agar aku bisa mendapatkan kelimpahan dari hikmah kebijaksanaannya yang lebih cerdas daripadaku sendiri. Kudengar semua yang mau disabdakan guru hingga Ia selesai semuanya, tammah. Kemudian, seperti seorang amatir yang paling payah, kuambil air wudhu dan lalu sholat. Sungguh-sungguh aku merasa kesulitan dan kepayahan dalam melakukan setiap bagian dari prosedur-prosedur perilaku yang harusnya amat sederhana itu. Aku wudhu dan wudhu lagi, membasuh wajah dan membasuh lagi. Selalu ada yang terasa tak benar, tetapi tak sungguh terbayang di dalam abstraksiku apa itu. Apa yang dapat kuterjemahkan hanya sebersit perasaan terpisah dari diriku sendiri, terpecah-belah, centang-perenang, ketidaktentuan, keputusasaan, seolah-olah tubuhku berubah menjadi zat gas yang tak solid dan masing-masing bagiannya mengarah ke arah yang berbeda-beda semau-maunya, sehingga aku menjadi takut akan kehilangan diriku. Tetapi, di saat bersamaan, memperumit keadaan, terdapat pula optimisme, harapan, kepercayaan atas kemampuan, penerimaan atas janji yang hebat dan semangat yang tak terkendali. Selalu ada yang hanya dapat secara kabur digambarkan sebagai ‘retak’ dari takbiratul ihram, bacaan al fatihah, ruku’, i’tidal dan sujud. Selalu ada beberapa orang yang sholat, dan masing-masingnya mengarah kepada arah yang berbeda-beda. Lalu, siapakah aku di antara mereka semua, di manakah aku? Di sinilah aku menjadi tersadarkan dari ketololanku, di mana aku dibingungkan oleh kefanaanku sendiri ketika tengah menyembah Allah yang baqa’ (abadi). Ditempatkan diriku di sebuah jalan, di mana aku sama sekali tidak mengetahui seberapa jauh perjalanan untuk pergi, dan seberapa jauh perjalanan untuk kembali. Yang bisa kulakukan hanyalah tetap berjalan dan berharap yang terbaik, selagi aku sholat dalam malam yang sedang berkemas-kemas, sementara terbayang olehku kejemuan dari pagi hari, di mana semua urusan hanya berhubungan dengan manusia. Mengapa malam begitu cepat berlalu? Aku penasaran dengan kisah kunang-kunang itu.

Kejiwaan Komunikasi dalam Adzan

Jika pada suatu hari Jum’at siang manapun, menjelang matahari tepat di atas kepala, yakni waktu dzuhur, terdengar bunyi yang mengucapkan, ‘Allahu Akbar… Allahu Akbar…’ semua orang yang akan datang ke Masjid melihatnya sebagai pesan dari dua hal.

Yang pertama, ketika pernyataan itu dilihat sebagai sebuah pernyataan yang membutuhkan konfirmasi, alias sebagai ‘proposisi’, pernyataan ‘Allahu Akbar’ akan dikonfirmasi sebagai valid atau sahih oleh setiap orang yang akan pergi ke Masjid. Orang hanya akan menyimpulkan keharusan untuk pergi ke Masjid sejauh dia sepakat akan kebesaran Allah yang diekspresikan oleh kalimat ‘Allahu Akbar’. Jadi, terlepas dari apakah pernyataan ‘Allahu Akbar’ diucapkan sebagai adzan yang berkumandang (yang dengan demikian akan membuatnya menjadi komunikasi massa) atau dinyatakan oleh seseorang sebagai komunikasi interpersonal, dia akan dikonfirmasi dengan ucapan ‘shadaqta’ (Anda, yang mengucapkannya, benar). Itulah alasan mengapa salah satu sunnah dalam soal adzan adalah agar orang yang mendengar adzan itu mengulangi lafadz adzan oleh dirinya sendiri. Itu adalah suatu bentuk afirmasi.

Pernyataan akan kebesaran Allah, dalam kasus adzan, hanyalah contoh yang dapat diwakilkan oleh setiap kalimat lain dalam lafadz adzan semisal ‘(asyahadu an) laa ilaaha illallah’ atau ‘(asyahadu anna) Muhammadan Rasulullah’. Setiap kalimat proposisi, yang berisi judgment, akan dikonfirmasi dengan ‘shadaqta’ oleh setiap orang yang akan pergi ke masjid. Selain menyetujui kebesaran Allah, setiap orang yang akan pergi ke masjid pada hari Jum’at pasti juga akan menyetujui status Allah sebagai Tuhan yang Esa dan Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan. Tidak mungkin ada orang yang bersikap negatif atau menolak proposisi-proposisi dari adzan atau bersikap netral terhadapnya, yang akan mampu menyimpulkan keharusannya untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Sikap afirmatif atau membenarkan gagasan-gagasan yang terkandung di dalam adzan akan membentuk integritas seseorang dalam melaksanakan sholat Jum’at, sebab Ia tidak hanya menampilkan perilaku orang sholat, melainkan juga sepakat dengan ide-ide yang membangun perilaku sholat.

Kedua, adzan sebagai suatu sarana, di dalam hukum Islam, bertujuan untuk menyerukan datangnya waktu sholat dan demi pasal yang kedua inilah, adzan perlu menyampaikan jawaban mengapa mendirikan sholat adalah sesuatu yang beralasan, sebagaimana yang dijelaskan di pasal pertama. Alasan-alasan tersebut diungkapkan ke dalam klaim-klaim kebesaran Allah, keesaan Allah, kerasulan Muhammad dan lain-lain. Di luar sebagai proposisi, aspek kedua tentang adzan adalah ajakan. Itulah mengapa di antara lafadz adzan, ada kalimat yang berbunyi ‘hayya ‘alal falah’ (marilah menuju kebahagiaan). Ketika adzan sebagai proposisi mendorong aktivitas mental untuk mengafirmasi pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, maka adzan sebagai ajakan akan memicu aktivitas behavioral (perilaku fisik).

Kedua fungsi dari adzan tersebut, yaitu fungsi yang merangsang aktifitas mental dan behavioral membuat adzan bukan hanya suatu tanda waktu, melainkan juga suatu promosi yang dilakukan terus-menerus sehingga setiap orang diingatkan akan alasan mereka melakukan sholat, tidak sekadar diingatkan akan kewajiban mereka. Artinya, adzan tidak hanya mengingatkan orang akan kewajibannya mendirikan sholat, melainkan juga mengingatkan orang mengapa mereka memilihnya menjadi kewajiban mereka. Adzan tidak hanya berisi tuntutan untuk melakukan sholat, melainkan juga merasionalisir sholat dalam taraf di mana manusia diingatkan akan kebebasannya dalam menerima atau menolak sholat. Tanpa berusaha untuk menundukkan dan menaklukkan syari’at Allah di bawah penghakiman rasional manusia, akan tetapi adzan, dengan demikian, adalah sesuatu yang mengomprehensi mentalitas seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah mereka akan sholat atau tidak. Orang yang menyimak adzan akan berpikir tidak hanya untuk mengingat kewajiban, melainkan juga mengapa itu menjadi wajib padahal syarat wajib pertama dari sholat adalah status sebagai seorang muslim. Mengapa orang menjadi seorang muslim ketika itu tidak wajib baginya?

Perilaku manusia, kecuali perilaku instingtual atau gerakan reflex, adalah sesuatu yang dilatarbelakangi oleh motivasi. ‘Motivasi’ adalah dorongan psikologis untuk melakukan sesuatu, tetapi tidak bersifat determinan. Artinya, motivasi akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang baik baginya, tetapi karena Ia tidak determinan, manusia tetap bisa mengabaikan motivasinya untuk melakukan sesuatu sehingga Ia dapat melewatkan kans untuk sukses, bahagia, sejahtera, selamat dan sebagainya. Motivasi berhubungan dengan kecenderungan manusia untuk melakukan hal-hal yang mendukung kehidupan, memperbaiki taraf kehidupan dan menjauhi kematian. Kekuatan lain yang mendorong perilaku manusia adalah instinctual drive, atau semacam dorongan primordial yang berada pada level bendawi dari diri manusia (self). Dalam istilah psikoanalisa, level ini disebut ‘Id’ yang merupakan kata Jerman untuk ‘It’, kata ganti pihak ketiga objek. Instinctual drive ini berguna untuk mengarahkan manusia secara prasadar kepada pola-pola tingkah laku yang dibutuhkan untuk mempertahankan pola umum makhluk hidup yang dalam dikotomi psikoanalisa meliputi sex dan agresi atau eros dan tanathos, serta pola-pola perilaku lain yang merupakan dorongan di tingkat spesies seperti makan, mencari keamanan dan berkembang-biak.

Ragam lain dari insting adalah reflex. Reflex adalah gerakan tidak sadar yang tercipta secara instant sebagai sistem makhluk hidup untuk menghindari bahaya. Oleh karena itu, insting seseorang atau seekor binatang akan secara natural dan nonintelektual meningkatkan kewaspadaan pada situasi-situasi yang tidak dikenal atau yang secara tipikal menyimpan potensi berbahaya seperti keadaan gelap. Kewaspadaan tersebut aktif sebelum suatu individu makhluk hidup mengenali secara sadar bahaya yang mereka hadapi. Insting yang meningkatkan kewaspadaan ditujukan sebagai antisipasi atas semua bentuk bahaya yang mungkin, yang bertentangan dengan insting untuk bertahan hidup. Ini juga berlaku ketika seseorang bisa melakukan gerakan menghindari sesuatu sebelum menggunakan pikiran rasionalnya dalam mengelola informasi tentang benda yang dihindari.

Sifat dari insting adalah mekanik, objektif dan otomatis. Insting adalah instant. Oleh karena itu, dalam khazanah bahasa Melayu, ada konotasi yang berbeda dari istilah ‘perilaku’ dan ‘tingkah laku’. ‘Tingkah laku’ adalah apa yang dirujuk secara akurat oleh istilah Inggris ‘behavior’ yang mencakup perilaku yang muncul sebagai aktualisasi insting. Tingkah laku adalah aktivitas yang empirik dan sensoris atau dapat diindera. Jadi, tingkah laku adalah aktivitas fisik atau material dari sesuatu, sekalipun hal itu adalah suatu benda mati yang tidak memiliki kehendak.

Di sisi lain, istilah ‘perilaku’ berhubungan dengan aktivitas yang sejalan dengan norma. Perilaku adalah kualitas khusus subjek yang memiliki kehendak dan dapat memilih. Pada istilah ‘perilaku’, terdapat syarat evaluasi. Perilaku tidak sekadar merupakan aktivitas fisik atau material yang terbukti setelah diinderai. Perilaku adalah hasil penginderaan mengenai adanya tingkah laku yang dinilai, dikomprehensi dan disimpulkan ke dalam peristilahan norma. Oleh karena itu, ketika seseorang berlari dengan cepat atau lambat, kualitas itu adalah tingkah laku. Tetapi, ketika seseorang berlari dengan cepat untuk menolong seorang korban kecelakaan, maka perilakunya digambarkan sebagai perilaku ‘peka’ dan ‘ringan tangan’. Perilaku adalah evaluasi atas tingkah laku.

Sholat adalah sebuah perilaku (peri=nilai/ norma) jika dilakukan dengan kesadaran terhadap kebenaran mengenai ide-ide yang menunjang dan menjadi alasan disyari’atkannya sholat—otherwise, dia adalah tingkah-laku. Di antara ide-ide itu adalah ‘Allahu Akbar’, ‘Laa Ilaaha Illallaah’, ‘Muhammadan Rasuulullaah’ dan ‘Hayya ‘Alal Falah’.

‘Allahu Akbar’ atau ekspresi atas kebesaran Allah mengungkapkan alasan mengapa penyembahan dilakukan. Kebesaran Allah adalah alasannya. Kebesaran, atau kemahabesaran Allah dalam taraf superlative menunjukkan bahwa jika ada yang pantas disembah oleh makhluq secerdas dan semulia manusia, mestilah Ia adalah sesuatu yang Akbar. Kemahabesaran Allah mengandung suatu logika ‘substansial’ alias ‘dzatiyyah’. Dalam lafadz ‘Allahu Akbar’, klaim kemahabesaran Allah mengandung ungkapan bahwa karena Allah Maha Besar, maka Allah pantas disembah. Jadi, hak atas penyembahan itu dinyatakan inheren di dalam dzat Allah. Eksistensi Allah sendiri sudah menyimpulkan adanya hak untuk disembah. Jadi, hak untuk disembah ada selama Allah ada. Padahal, di antara sifat-sifat wajib Allah, ada Wujud (Maha Ada) dan Baqa’ (Berada secara Abadi, tak berawal dan tak berakhir).

‘Laa Ilaaha Illallaah’ adalah ungkapan bagi eksklusifitas penyembahan itu. ‘Al Akbar’ atau yang Maha Besar adalah Tuhan (harfiah=Allah) dan prinsip ini menginduksikan suatu kesimpulan ketika ditambahkan dengan prinsip lain bahwa tiada Tuhan melainkan Tuhan. Artinya, hanya ada satu Tuhan. Artinya, hanya ada satu ‘Al Akbar’ dan penyembahan dalam sholat hanya ditujukan kepada satu pihak saja, yang Maha Esa. Makna lain dari ungkapan yang kedua ini adalah meningkatkan gengsi dari sholat. Dengan menjadikan hanya satu Tuhan yang Maha Esa yang disembah dalam sholat, adzan membangun gagasan bahwa sholat adalah sesuatu yang khas dan eksklusif, serta tidak mau mengompromikan standardnya dalam menyembah, melainkan hanya mematok Allah saja sebagai standard yang mutlak bagi tujuan penyembahan.

‘Muhammadan Rasuulullaah’ juga berisi ungkapan bagi eksklusifitas penyembahan itu. Status Muhammad sebagai utusan Tuhan yang menerima firman mengenai sholat serta tatacara pelaksanaannya tidak diserikatkan dengan semua Rasul-rasul yang lain, yang tak disebut dalam lafadz adzan. Tidak ada nama Rasul yang lain dalam ungkapan-ungkapan adzan, hanya Muhammad SAW saja. Ini menunjukkan eksklusifitas sholat dalam 2 perspektif:

Pertama, ‘sholat’ adalah istilah Arab bagi ‘do’a’ (yang juga istilah Arab). ‘Sholat’ cukup searti dengan istilah Inggris ‘prayer’, istilah Melayu ‘sembahyang’ dan istilah Persia ‘namaz’. Itulah mengapa Muslim Inggris dan AS terkadang mengganti kata ‘sholat’ dengan ‘prayer’, Muslim Indonesia dan Malaysia menggunakan kata ‘sembahyang’ dan Muslim Turki, Pakistan dan Afghanistan menggunakan kata ‘Namaz’. Jadi, sebagaimana istilah ‘Allah’ yang sekadar berarti ‘The God’ (Sang Tuhan), kata ‘sholat’-pun sebenarnya inklusif. Dia mencakup semua bentuk do’a dan upacara keagamaan. Kaum Kristen Koptik Mesir dan Maronit Lebanon yang merupakan bangsa Arab, menyebut upacara keagamaan mereka dengan ‘sholat’.  Kalimat ‘Muhammadan Rasuulullaah’ berusaha menegaskan eksklusifitas sholat ummat Muhammad di atas inklusifitas sholat dalam pengertian ini.

Kedua, Muhammad SAW bukanlah satu-satunya Nabi yang diminta untuk mendirikan sholat. Semua Nabi dan Rasul diberikan wahyu untuk mendirikan sholat. Nabi Muhammad sekadar satu-satunya Rasulullah yang menerima secara langsung perintah sholat ketika Ia mi’raj dari Masjidil Aqsha menuju ke Sidratul Muntaha. Kenyataan bahwa sholat bukanlah syari’at yang spesifik bagi Nabi Muhammad ditunjukkan oleh Hadits yang menggambarkan bahwa Nabi Muhammad mengimami sholat jama’ah para Nabi dan Rasul di Masjidil Aqsha sebelum mi’raj ke Sidratul Muntaha. Dalam Qur’an, para Nabi dan Rasul terdahulu, juga orang-orang saleh yang lain seperti Maryam binti ‘Imran, diperintahkan untuk ‘ruku’ bersama orang-orang yang ruku’’. Kalimat ‘Muhammadan Rasuulullaah’ juga bertujuan menegaskan eksklusifitas sholat ummat Muhammad di atas inklusifitas sholat dalam pengertian ini.

Dalam kedua pasal itulah adzan hadir untuk menegaskan eksklusifitas syari’at sholat yang disampaikan kepada ummat Muhammad SAW. Terkait dengan pasal pertama, ketika sholat dilakukan oleh semua ummat beragama dengan berbagai bentuk dan gagasan yang bervariasi yang melandasinya, seruan adzan berusaha menegakkan keunikan, keistimewaan, kekhususan, signifikansi dan eksklusifitas sholat yang dirujuk oleh adzan itu. Adzan berusaha mengatakan bahwa seruan yang spesifik ini, yang tidak dikenal dalam upacara keagamaan agama-agama yang lain, dengan sendirinya juga merujuk kepada nilai-nilai dan perilaku-perilaku yang spesifik. Sholat yang dimaksud adalah sholatnya ummat Muhammad, yang diperintahkan dalam peristiwa Mi’raj, yang ditekstualisasi dalam pesan Qur’an dan yang sunnah (cara)nya dimapankan dan dipatenkan dengan merujuk kepada cara Nabi SAW melaksanakannya—lain tidak.

Mengenai pasal yang kedua, dengan hanya mengutip nama seorang Rasul dan bukan beberapa rasul, adzan berusaha menegaskan signifikansi sholat ummat Muhammad sebagai finalisasi. Islam mengakui adanya kesinambungan wahyu atau risalah dari Allah yang Maha Esa sejak Nabi pertama a.s. hingga Nabi terakhir SAW. Tradisi ini dijelaskan lewat istilah ‘Islam’ (agama yang berserah diri kepada Tuhan) dan ‘Hanif’ (agama yang sesuai dengan fitrah—watak—manusia). Pengakuan atas dan hanya atas kerasulan Muhammad SAW di dalam bunyi adzan menunjukkan bahwa syari’at Muhammadiyyah, khususnya dalam persoalan sholat, adalah syari’at yang coba untuk ditegakkan dengan adzan sebagai seruan penegakkannya—lain tidak. Kekhasan atau eksklusifitas sholat dalam pasal kedua ditujukan terhadap inklusifitas sholat semua Nabi-nabi sebelumnya. Eksklusifitas sholat fdalam pasal pertama adalah terhadap inklusifitas bentuk-bentuk penyembahan dalam semua agama yang mengenal ritual.

Lafadz yang lain di dalam adzan, yakni ‘Hayya ‘Alash Sholah’ yang disusul dengan ‘Hayya ‘Alal Falah’ yang berarti ‘marilah sholat’ dan ‘marilah meraih kebahagiaan’, adalah pernyataan-pernyataan yang memiliki keunikannya sendiri dibandingkan tiga pernyataan sebelumnya.

Pertama, tidak seperti pernyataan sebelumnya yang lebih bersifat filosofis dan memicu terciptanya analisis yang lebih mendalam mengenai apa yang tersirat di dalamnya, kalimat ‘Hayya ‘Alal Falah’ adalah persuasi yang ringkas, efisien dan langsung kepada sasarannya. Kalimat-kalimat ‘Hayya ‘Alash Sholah’ dan ‘Hayya ‘Alal Falah’ lebih bersifat psikologis daripada filosofis belaka. Di sini, ada kisah nyata tentang seorang Yahudi Amerika yang masuk Islam yang dapat dijadikan sebagai kasus yang relevan untuk ikut menjelaskan pesan psikologis dari ‘Hayya ‘Alash Sholah’ dan ‘Hayya ‘Alal Falah’.

Singkat cerita, ada seorang Yahudi Amerika yang kini menjadi Professor Studi-studi Islam di Hawaii, yang dibesarkan dalam keluarga Yahudi sekuler yang tidak taat menjalankan agama Yahudi. Lelaki ini dibesarkan dengan ‘regime’ nilai-nilai yang berlaku di AS dan bahkan di sebagian besar dunia: liberalisme, sekulerisme, independensi, kecenderungan atheistik yang kuat dan tidak memiliki sikap yang pasti kepada agama. Pada masa remajanya, dia mengalami krisis spiritual sebagai akibat dari benturan di antara keluarganya yang Yahudi sekuler dan neneknya yang Yahudi taat, yang banyak mengilhaminya.

Ketika di SMA, dia bersekolah di sebuah sekolah internasional yang berisi murid dari berbagai kebangsaan. Salah satu murid di sana adalah seorang muslim Pakistan, yang menjadi sahabat dekatnya. Temannya yang orang Pakistan melihat bahwa si Yahudi adalah seorang pencari kebenaran dan memberikannya sebuah mushaf Al Qur’an. Si Yahudi menerimanya, tetapi tidak pernah membuka kitab itu selama sekian tahun lamanya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah mengubur ketertarikannya kepada ideologi-ideologi sekuler seperti Komunisme, kehausan spiritualnya bangkit. Dia mencari kebenaran dalam berbagai kitab suci agama-agama. Suatu saat dia bertemu dengan orang-orang Afro-Amerika dari komunitas NOI (Nation of Islam), yang sempat bernama Black Muslims. Ini adalah komunitas dari tokoh-tokoh emansipasi kulit hitam Amerika yang terkenal seperti Elijah Muhammad dan Malcolm X. NOI pada dasarnya adalah komunitas yang cukup rasis, yang memandang rendah bangsa kulit putih dan agama Kristen mereka, serta mempromosikan superioritas ras kulit hitam dan agama Islam. Karena sifatnya yang rasis, orang-orang NOI mengatakan bahwa si Yahudi tidak cocok dengan Islam karena rasnya adalah ras Iblis. Si Yahudi bertanya, ‘jika saya Iblis, mengapa saya begitu haus untuk mengenal Tuhan?’ Jawab orang Afro NOI itu, ‘bahkan Iblispun beriman kepada Tuhan.’ Si Yahudi kaget dengan pengetahuan yang otentik itu dan bertanya darimana asal pengetahuan itu. Jawab orang NOI itu, ‘Qur’an.’

Maka, si Yahudi mulai membuka Qur’an yang diterimanya bertahun-tahun yang lalu dari temannya yang orang Pakistan. Dia mulai membaca Qur’an dari ayat yang dirujuk oleh aktifis NOI tadi, yang ternyata tidak menyebutkan keterangan bahwa ras kulit putih adalah Iblis atau bahwa Islam adalah agama khusus kaum kulit hitam saja. Setelahnya, ditenagai oleh pesan-pesan Qur’an yang otentik dan memesona, si Yahudi mulai membaca Qur’an secara sistematis, mulai dari halaman pertama hingga terakhir. Rupanya, si Yahudi sangat puas dengan Qur’an dan dia memutuskan untuk mempercayai semua isi Qur’an.

Kisah menggelitik tersaji dalam pertemuannya kembali dengan teman Pakistannya dalam sebuah acara reuni. Teman Pakistannya bertanya apakah si Yahudi telah memercayai sesuatu dan dijawabnya bahwa dia memercayai Qur’an. Teman Pakistannya mengatakan bahwa dengan demikian, si Yahudi sudah menjadi seorang muslim. Jawab si Yahudi, ‘tidak.’

Rupanya si Yahudi memahami bahwa identitas ‘muslim’ adalah identitas tradisional yang hanya disandang oleh orang-orang yang berasal dari masyarakat yang sudah memeluk Islam sebagai suatu unit budaya. Artinya, baginya, seorang Pakistan, Melayu, Arab atau Turki adalah muslim karena itulah identitas tradisionalnya. Baginya, hanya karena seseorang secara intelektual sepakat dengan isi Qur’an, identitas muslim tidak secara serta-merta disandangnya. Baginya, seorang Eropa atau Yahudi yang memercayai Qur’an bukanlah seorang muslim, melainkan sekadar pembenar pesan-pesan Qur’an dan berusaha hidup dengan berpandukan Qur’an, tetapi tanpa komitmen yang mengikat dalam ‘organized religion.’ Rupanya, si Yahudi melihat ‘muslim’ sebagai identitas tradisional, bukan komitmen yang diimplikasikan oleh kepercayaan terhadap Qur’an. Dia melihat Islam sebagai ‘ide terbuka’ dan komitmen kegamaan yang mengikat adalah hal lain.

Teman Pakistannya kemudian menjelaskan bahwa Islam mencakup keimanan (pembenaran intelektual atas ide-ide Islam) dan keislaman (komitmen/ ketundukkan fisik), sehingga si Yahudi mulai menjadi muslim yang sebenarnya, yang menjalankan ibadah-ibadah dan terlibat dalam kegiatan sosial masyarakat muslim.
Kita bisa melihat bahwa psikologi si Yahudi ini, ketika dia selesai membaca Qur’an, berhasil mengakses Qur’an, tetapi tidak berhasil mengakses Islam. Hal itu disebabkan karena dia membaca Qur’an tanpa perantara, tanpa tradisi dan tanpa keterlibatan masyarakat muslim. Dia terpesona kepada Qur’an sebagai sumber dan mahakarya intelektual, moral, spiritual dan lain-lain. Dia dapat dipuaskan oleh independensi intelektualnya dalam menginterpretasi Qur’an, karena independensi itu berhasil menguak kecemerlangan Qur’an dengan kebenaran-kebenaran yang dingkapkannya mengenai Tuhan dan lain-lain.

Namun, si Yahudi tidak berhasil mengakses Islam karena dia tidak mengakses aspek kedua dalam Islam, yakni Sunnah. Islam dilandasi oleh fundamental Al Kitab (Qur’an) dan Al Hikmah (Sunnah). Sunnah adalah cara Islam dijalankan, yang merujuk kepada contoh paling otentik dari cara berislam, yakni Nabi Islam, Muhammad SAW sendiri. Sunnah adalah penginterpretasi dari Kitab yang merupakan kumpulan gagasan. Jadi, mentalitas orang semacam si Yahudi yang menerima Qur’an dan tidak menerima (atau tidak tahu) Sunnah, adalah mentalitas yang tidak menarik implikasi yang berhubungan dengan tanggung jawab ‘fisik’ terhadap keyakinan atau pengetahuan. Dalam kasus si Yahudi, dia tidak tahu bahwa ketika seseorang dikaruniai keyakinan dan pengetahuan dalam pesan-pesan Qur’an, dia harus menyempurnakan aspek intelektual dari Qur’an dengan konsekuensi-konsekuensi ketundukkan dan ketaatan ‘fisik’ (jasmani, ragawi) yang dijelaskan oleh Sunnah. Dengan demikian, pencapaian intelektual menjadi dipisahkan dengan tanggung jawab moral, sehingga pribadi seseorang menjadi tidak berintegritas.

Kalimat-kalimat pembuka dalam seruan adzan, yaitu ‘Allahu Akbar’, ‘Laa Ilaala Illallaah’ dan ‘Muhammadan Rasulullaah’ adalah informasi-informasi, atau pengetahuan-pengetahuan, yang akan memicu aktivitas mental untuk memikirkan dan membenarkan klaimnya. Dalam istilah yang telah disinggung sebelumnya, ketiga pernyataan tersebut cenderung kepada sifat yang filosofis dan intelektual. Adapun kalimat-kalimat ‘Hayya ‘Alash Sholah’ dan ‘Hayya ‘Alla Falah’ lebih bercorak psikologis. Sebagai suatu persuasi yang langsung, tegas dan efisien, ajakan untuk sholat membangun motivasi untuk menarik konsekuensi dari aktivitas filosofis-intelektual yang sebelumnya telah dilakukan para penyimak adzan dalam membernarkan Kemahabesaran Allah, Keesaan Allah dan Kerasulan Muhammad SAW. Kalimat ‘Hayya ‘Alash Sholah’mengantisipasi dengan sangat baik gejala yang sering ditemui mengenai sering tidak menyatunya pencapaian intelektual seseorang dengan moralnya. Kalimat itu berusaha mengingatkan pendengarnya mengenai satunya alasan dan akibat, yakni bahwa sholat adalah akibat dari diterimanya ‘Allahu Akbar’, ‘Laa Ilaaha Illallah’ dan ‘Muhammadan Rasuulullaah’.

‘Hayya ‘Alash Sholah’ menyasar motivasi dan aktivitas psikologis, bukan filsosofis, supaya orang mau bergerak untuk menunjukkan tanggung jawabnya kepada ide-ide sebelumnya dalam adzan, yang dibenarkannya. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, sebagai keseluruhan atau kesatuan, seruan adzan bertujuan untuk mengomprehensi mentalitas seseorang untuk menjalankan sholat. Agar konsep sholat dapat disampaikan secara komprehensif, maka adzan merangsang baik aktifitas logis (logos, logika) dan psikologis (motivasi) manusia, bukan memisahkannya.

090215

Apakah hidup itu? Apakah sebenarnya hal itu, sesuatu yang diberikan kepada kita tanpa kita minta, suatu realitas yang tidak berkaitan dengan kehendak kita, melainkan hasil dari kehendak dan kekuasaan pihak lain jauh sebelum kita diizinkan untuk menilai kelayakan realisasinya? Di usia remajaku, entah dari mana, aku hanya bisa menjawab bahwa bahkan arti pertama dari pertanyaan itu, arti pertama dan mendasar dari usaha untuk menilainya, terlepas dari hasilnya yang baik atau buruk, justru terletak pada fakta bahwa kita sudah hidup. Sebab, pertanyaan, usaha untuk menjawabnya dan pada akhirnya, jawaban apapun yang dihasilkannya, hanya dapat terjadi pada diri seorang manusia hidup. Apakah seseorang memutuskan bahwa hidup adalah anugerah ataukah malapetaka, apakah Tuhan itu manis atau jahat, apapun itu, sepenuhnya bergantung pada fakta bahwa dia hidup dan kemudian bertanya-tanya.

Andai satu-satunya realitas dan kebenaran yang dikenakan kepada kita adalah kematian, maka apakah kematian itu adalah anugerah atau malapetaka? Hipotesis—yakni, kebenaran hakiki yang direduksi secara tidak tahu malu menjadi hipotesis demi kepentingan penalaran manusia yang picisan—bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan mengasumsikan dengan sendirinya konsep bahwa manusia tadinya mati atau noneksisten dan kemudian diciptakan—dihidupkan. Jika, dengan demikian, tidak pernah ada penciptaan, apakah kita layak mengatakan bahwa kematian itu adalah anugerah sebab kehidupan yang penuh kemalangan ini adalah malapetaka? Siapakah yang akan bertanya-tanya mengenai arti kematian jika kita semua mati dan tidak pernah hidup? Tidak mungkin kematian adalah anugerah sebagai konsekuensi dari kehidupan yang merupakan malapetaka, sebab berpikir mensyaratkan kehidupan. Dengan demikian, siapapun yang menyimpulkan bahwa hidup adalah malapetaka, dia menyimpulkannya setelah mengeruk habis-habisan segala karunia dan anugerah kehidupan yang memberikannya kemungkinan untuk bertanya-tanya.

Inilah salah satu dari ……… Tuhan.

240115

Jangan katakan apapun, jangan katakan. Tidak ada yang bisa kau katakan kecuali sopan-santun yang dusta. Ketika suara tidak bisa menyatakan maksudmu, kau hanya akan bertambah kesal. Bertingkahlah seperti biasa, berkeliaran, tersenyum kepada setiap orang, acuh dan antusias secara bergantian dalam momen-momen yang mengecewakan. Aku, seorang lelaki, berbahagia berada di dekatmu. Perempuan sepertimu tidak pernah terlalu sederhana bagiku. Tingkah lakumu seperti seekor kucing yang sangat ringan, bagaimana dirimu melangkah dengan sangat enteng kesana kemari, secara dinamis melalui renungan-renunganku yang statis dan dibuat terpesona. Kata-katamu tak jarang mencerminkan pikiran yang telah tercerahkan, termasuk tentang bernyanyi itu… Secara naluriah, aku ingin mengenalmu lebih jauh, tetapi sayang, itu tidak mungkin. Dalam hidup ini orang harus memilih dan demi Tuhan (!) aku adalah orang yang sangat dibebani dengan pilihan-pilihanku. Mungkin aku akan tetap terpesona kepadamu dalam beberapa tahun ke depan atau sebuah mimpi di tidurku malam ini akan menghapusmu… Tetapi pada dasarnya, di luar semua rasa hormat yang mendalam kepada sesama manusia, ada suatu rasa ingin tahu yang luar biasa, yang tidak harus berujung kepada percintaan. Memang, itu diawali dengan cinta, tetapi itu sangat mungkin menjadi semacam rasa persaudaraan yang ganjil setelah kita mengobrol sekian lama, saling menghubungkan hati-hati, jiwa-jiwa kita, yang selama 26 tahun ini terpisah dalam dua kehidupan yang saling acuh satu sama lain. Makanya, kubilang, jangan berkata apa-apa. Sebenarnya dalam diam, hati-hati kita berbicara dengan sangat fasih, tetapi kita terlalu sering berpaling dari keyakinan yang nyata itu. Ada masa-masa di mana aku merasa sangat kesepian justru dengan menyadari bahwa aku telah setengah mengenalmu dan bukan sepenuhnya. Aku sangat ingin memegang tanganmu dan melihat, kebenaran apa yang mengalir melaluinya…..lalu mungkin kita bisa menikmati matahari di padang itu di suatu sebelum-tengah-hari… Tetapi aku, seorang yang sangat paham caranya menyatakan cinta, tidak bisa meresikokan pergaulan yang kaku ini hanya demi suatu angan-angan spekulatif yang tidak punya masa depan.

YAHUDI DALAM MEIN KAMPF

‘Mein Kampf’ (My Campaign, Perjuanganku) yang ditulis Adolf Hitler adalah sebuah buku yang tidak bisa disikapi dengan suatu sikap yang solid dan final. Asumsi-asumsi dasar dari Mein Kampf akan cenderung ditolak oleh siapa saja, termasuk generasi baru dari Bangsa Jerman pascaperang Dunia II yang tidak lagi dibentuk oleh atmosfer sosial, politik, budaya dan terutama sejarah–terutama dendam terhadap kekalahan Kekaisaran Jerman di Perang Dunia I. Asumsi-asumsi Mein Kampf yang mengandung doktrin superioritas ras ‘Arya’, inferioritas ras non-Arya, dorongan-dorongan terhadap konflik antarbangsa, kecaman terhadap ideologi pasifisme (Demokrasi), konsepnya mengenai perkembangan budaya manusia dan bagaimana ras Arya adalah agen tunggal dari perkembangan itu, akan cenderung ditolak oleh ‘pikiran modern’.

Siapa saja yang tidak ingin ‘tersingkir di batas terakhir peradaban’–seperti istilah F. Scott Fitzgerald–pasti akan cenderung bersikap konformis untuk mendukung demokrasi dan pasifisme, menolak rasialisme dan Chauvinisme, bahkan sampai kepada penolakan atas simbol-simbol NAZI dan sebuah istilah ganjil bin tidak kritis, ‘antisemitisme’. Tentu saja, sikap konformis seperti ini, pada analisis terakhir, akan mendapat banyak pembenaran dan dukungan. Akan tetapi, sebagai sebuah gejala psikologis, kita bisa melihat dengan cukup gamblang betapa ‘otomatisasi’ (demikian istilahnya) dari ekspresi-ekspresi semacam itu lahir dari pola-pola bawah sadar. Konotasi-konotasi, imej-imej dan simbolisme-simbolisme dari ‘demokrasi’, ‘pasifisme’ dan lain-lain akan terlalu menggiurkan untuk tidak didukung. Jadi, ekspresi-ekspresi semacam itu benar-benar merupakan aktivitas bawah sadar yang bertujuan untuk menghindarkan Ego dari ‘isolasi di batas akhir peradaban’ sebagaimana bunyi sinisme yang secara kurang ajar tepat dari F. Scott Fitzgerald itu.

Mein Kampf adalah sebuah karya sastra bangsa Jerman dari awal abad ke-20 yang lalu, asal saja kita menerima definisi ‘susastera’ sebagai ‘tulisan yang bersifat cendekia dalam lingkungan pengertian yang tidak dibatasi’ dari sebuah masyarakat yang dipengaruhi oleh eksistensi dari tulisan itu. Mein Kampf bukanlah diskursus akademik betapapun arus utama dari kritikus dan komentator atas tulisan itu mengatakan bahwa, sebagai ekspresi dari ‘pikiran Jerman’, Mein Kampf sangat dipengaruhi oleh filsuf Friedrich Wilhelm Nietzsche.

Akan tetapi, orang tidak perlu terlalu berlebihan dan ditenagai oleh obsesi buta untuk mengasosiasikan Mein Kampf dengan fatalisme-fatalisme Nietzschean karena betapapun gagasan mengenai proyek perjuangan ras Arya, sebagai ras superior yang dianggap ‘mengandung’ potensi perkembangan budaya manusia, dalam memperluas ‘ruang kehidupan’nya (Lebensraum) dapat dianggap sebagai penjelmaan dari ide Nietzsche tentang ‘Ubermensch’, akan tetapi, ras Arya sendiri diterangkan sebagai sebuah ras yang unggul karena kapasitas intelijensia dan organisasinya, sesuatu yang berkebalikan dengan fatalisme Nietzsche yang meremehkan rasio dan memuja-muja imej manusia yang lebih emosional dan vital, dengan menolak ide modern berupa rasionalitas dan mempromosikan ide posmodern mengenai relatifitas–bahkan nihilisme, yakni, ketiadaan kebenaran.

Latar belakang kebencian terhadap Yahudi, dalam Mein Kampf, dijelaskan sebagai akibat dari pertentangan-pertentangan radikal di antara karakteristik bangsa Arya dengan Yahudi. Ras Arya (suatu abstraksi yang lazim digunakan pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 untuk menyebut kelompok bangsa-bangsa ‘Indo-Eropa’) digambarkan sebagai sebuah bangsa yang memiliki sejarah masa lalu sebagai ras nomaden. Bangsa-bangsa nomaden, sudah jelas dengan sendirinya, membutuhkan organisasi sosial yang bertumpu pada pembagian kerja, namun tidak mengenal pembagian kekayaan. Masyarakat nomaden adalah masyarakat yang etos hidupnya tidak mengembangkan pemukiman-pemukiman besar tempat aktivitas komersial berlangsung. Mereka hidup berpindah-pindah dengan memanfaatkan sumberdaya alam di suatu tempat, untuk pergi ke tempat lain ketika sumberdaya alam di tempat pertama mulai habis. Cara hidup yang seperti ini mengandung sejumlah implikasi.

Pertama, masyarakat semacam ini memang tidak dimustahilkan untuk menjadi perusak alam, sebab karakter nomaden mereka membuatnya tidak mengembangkan teknologi produksi yang mengefisiensikan sumberdaya alam. Sebab, teknologi semacam itu membutuhkan syarat fundamental berupa hidup yang menetap. Teknologi produksi yang efisien adalah modal yang tidak akan dibelanjakan dalam setiap siklus produksi. Berbeda dengan bahan baku yang merupakan modal temporer, alat produksi adalah modal permanen–atau relatif lebih permanen. Dia harus diinstalasi pada sebuah infrastruktur, seperti pabrik dan pabrik adalah salah satu jenis isi dari pemukiman. Sebagai masyarakat nomaden, nenek moyang bangsa Arya tidak mengembangkan ciri sosial dan teknologi ini.

Namun, bangsa-bangsa nomaden umumnya tidak tidak memiliki populasi yang banyak. Ketika bangsa Mongol di bawah Jenghis Khan dan cucunya, Kublai Khan, melakukan invasi Mongol ke penjuru dunia selama abad ke-13 M, mereka, sebagaimana dideskripsikan sejarawan Inggris John Man, melakukan eksodus (atau ‘diaspora’) dalam skala satu bangsa. Ini menunjukkan bahwa populasi bangsa nomaden Mongol ketika itu berada pada skala yang memungkinkan mereka untuk melakukan eksodus sembari menjalankan penaklukkan, selain faktor lain yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu, yakni sifat nonprofesional dari tradisi militer bangsa Mongol: setiap individu lelaki dewasa pada dasarnya adalah ‘combatant’. Dengan demikian, ketika model pemenuhan kebutuhan mereka tidak mengenal efisiensi, akan tetapi ketiadaan mekanisme komersial dan sedikitnya populasi menghambat mereka dari merusak alam secara besar-besaran.

Kedua, masyarakat nomaden seperti nenek moyang bangsa Arya tidak melihat adanya kebutuhan untuk menyimpan surplus benda-benda pemenuh kebutuhan yang mereka eksploitasi secara langsung dari alam. Bangsa nomaden yang tidak mengenal perilaku komersial, selain perdagangan dengan bangsa-bangsa menetap di sekeliling mereka, tidak memiliki kebutuhan untuk merubah surplus barang menjadi modal. Nenek moyang bangsa Arya, dengan demikian, memiliki organisasi sosial yang bersifat komunal, komunitarian dalam konteks ekonomi, di mana mereka adalah pribadi-pribadi pekerja dan bukan pedagang atau pemodal. Inti dari kebudayaan Arya adalah kerja dan bukan modal.

Ini, klaim Adolf Hitler, bertolak-belakang secara diametral dengan bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi tidak pernah dikenal sebagai pekerja. Ini, sebagiannya, disebabkan karena Yahudi adalah sebuah entitas kultural namun bukan politis. ‘Negara Bangsa Yahudi’ tidak pernah eksis selama bertahun-tahun sejak kembalinya mereka dari pengasingan kedua dari Babilonia, sebagai ‘negara bawahan’ Kekaisaran Persia yang berakhir pada tahun 322 SM. Artinya, hingga Mein Kampf ditulis, sudah 2150 tahun bangsa Yahudi tidak berkuasa secara politis.Tetapi, kebencian banyak bangsa-bangsa kepada bangsa Yahudi justru ikut disebabkan oleh kenyataan ini. Artinya, jika Yahudi tetap menjadi sebuah bangsa yang mandiri secara politis, kerusakan secara ekonomi (dan lain-lain) yang disebabkan oleh manipulasinya terhadap banyak bangsa, tidak akan terjadi. Sejak penaklukkan oleh Babilonia pada tahun 587 SM, bangsa Yahudi berdiaspora dan terpencar ke penjuru dunia.

Sebagai sebuah bangsa tanpa negara, bangsa Yahudi menjadi tidak mengembangkan suatu budaya yang khusus. Adalah sebuah fakta yang ganjil untuk merenungkan betapa bangsa Yahudi, dengan semua kapasitas intelijensianya, tidak mengembangkan suatu budaya yang khusus. Hal ini disebabkan oleh tiadanya teritori yang mereka kuasai secara khusus. Kekuasaan besar dari bangsa Yahudi dicapai berkat dominasi dan manipulasi atas sebuah faktor nonteritorial, yang global: uang. Kenyataannya, pengembangan suatu budaya selalu dipengaruhi oleh sumberdaya, topografi, iklim dan ciri-ciri geografis lainnya dari tanah-air yang didiami sebuah bangsa. Bangsa Yahudi tidak memiliki syarat ini, sehingga merekapun tidak mengembangkan sebuah budaya yang khusus. Adolf Hitler mengatakan bahwa bagi bangsa Yahudi, ‘tidak ada budaya yang aneh di mata mereka’, sebab mereka hidup berdekatan kepada setiap budaya.

Salah satu implikasi dan juga sebab dari hal ini–ketiadaan budaya dan negara teritorial–adalah karena bangsa Yahudi, sebagai bangsa yang berdiaspora, lebih dikendalikan oleh insting, ‘self-preservation’ (bertahan hidup) sebagai kebalikan dari ‘self-sacrifice’ (pengorbanan) yang direpresentasikan oleh ras Arya. Nasionalisme, budaya nasional, persepsi kultural sebagai sebuah bangsa yang melihat dirinya sebagai ‘yang unik’, ‘yang khas’, ‘yang independen’ dari bangsa-bangsa lainnya akan mendorong lahirnya sikap-sikap ‘self-sacrifice’. Banyak kasus dari perang berhubungan dengan penguasaan dan perebutan teritori. Jika sebuah negara diserang dalam sebuah perang, dan menghadapi ancaman kehilangan batas-batas teritorial lama, mereka akan mengaktifkan insting ‘self-sacrifice’ ini. Sebab, ada faktor riil yang dipertahankan: teritori. Ini berkebalikan dengan Yahudi yang tidak memiliki teritori.

Etos ‘self-sacrifice’ yang dimiliki bangsa Arya ini adalah karakter mereka yang inheren dan merupakan sesuatu yang dilestarikan di dalam batas-batas geografis dari wilayah kehidupan tradisional yang dihuni dan dipertahankan sebagai wilayah Arya yang eksklusif. Semangat untuk tetap menjadikan Arya sebagai ras dominan di dalam ‘lebensraum’ tradisional bangsa Arya, yang menuntut syarat dipertahankannya budaya Arya yang murni dan pemeliharaan atas doktrin mengenai kekhasan, independensi, serta distingsi Arya-nonArya adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh Yahudi yang tidak eksklusif, berdaulat secara politik dan pada akhirnya mengembangkan insting ‘self-preservation’. Istilah ‘pflichterfullung’ dalam bahasa Jerman hanya dapat diartikan ke dalam ungkapan majemuk, ‘kesiapsediaan dalam memenuhi kewajiban’.

Insting ‘self-preservation’ berakar pada ketiadaan teritori eksklusif bangsa Yahudi. Ketika suatu bangsa manapun–tentunya dengan mengecualikan Yahudi–terlibat di dalam peperangan yang membuat mereka terpapar dengan resiko pemusnahan, ini selamanya berhubungan dengan faktor teritorial. Suatu bangsa yang mandiri secara kebudayaan dan eksklusif dalam teritori, akan mengembangkan insting ‘self-sacrifice’ di dalam level individual demi mempertahankan kelestarian di tingkat rasial. Ini disebabkan karena ‘teritori’ menjadi syarat dari eksistensi sebuah kebudayaan yang berkuasa di dalam batas-batasnya.

Bagi Yahudi, syarat teritorial ini tidak ada. Jika komunitas Yahudi yang selalu berukuran kecil di sebuah negara beresiko terlibat dalam suatu perang yang mengikutsertakan negara ‘inang’nya, mereka tidak akan melihat kehilangan teritori sebagai pemusnahan kultural maupun rasial. Dengan demikian, mereka akan mempertahankan properti dan komunitas mereka ketimbang bertempur secara bahu-membahu dengan rekan senegara mereka hanya demi mempertahankan teritori yang tidak mereka butuhkan. Pada gilirannya, sifat pragmatis secara politik yang tidak melihat dirinya melekat pada teritori tertentu (baca: tanah air) ini membuat mereka tidak mengembangkan budaya yang ekuivalen dengan budaya bangsa-bangsa teriotrial–tidak juga berasimilasi dengan budaya inang.

Bangsa Yahudi juga digambarkan dalam Mein Kampf sebagai suatu bangsa yang tidak memiliki asal-usul nomaden. Bangsa Yahudi selalu menjadi bangsa yang bermukim. Sejak ditaklukkan oleh Babilonia pada 587 SM, bangsa Yahudi mulai hidup sebagai minoritas mukim di satu peradaban mukim kepada yang lainnya, sehingga secara berangsur-angsur dalam rentang waktu berabad-abad, mereka menciptakan skala yang luas dari wilayah dalam rentang mana mereka berdiaspora. Bangsa Yahudi, dengan demikian, dengan menggunakan dunia hewani sebagai modelnya, adalah entitas parasit.

Sifat parasit ini, selain membuatnya mengenal aktivitas komersial sejak tahap yang paling dini dari persebarannya, juga menciptakan akumulasi intelijensia yang pada akhirnya memapankan konsepsi kita mengenai intelijensia Yahudi pada hari ini. Budaya Yahudi yang tidak bersifat ‘komprehensif’ (lengkap, sebagai syarat bagi suatu bangsa teritorial) membuat mereka tidak mengembangkan budaya pendidikan–dari mana kecerdasan akumulatif suatu bangsa berasal. Pendidikan bangsa Yahudi didapatkan dari memanfaatkan pendidikan yang dibentuk oleh bangsa-bangsa inangnya, termasuk dan terutama bangsa Arya (Jerman) yang mencapai kemajuan luar biasa sejak akhir abad ke-19, menyusul unifikasi ‘Kerkaisaran Jerman’ dan kemajuan industri Jerman yang luar biasa. Di zaman sebelumnya, Yahudi juga mengembangkan kecerdasannya melalui eksploitasi atas kebudayaan, penemuan dan pendidikan bangsa-bangsa dominan lain seperti Romawi dan Islam.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa, dengan merangkaikan fakta mengenai intelijensia bangsa Yahudi dan analisis Hitler mengenai insting ‘self-preservation’ mereka, bangsa Yahudi adalah pembawa (carrier) dari berbagai aspek budaya yang maju dari bangsa-bangsa inangnya di sepanjang sejarah. Kemajuan-kemajuan itu, yang dilembagakan melalui pendidikan, menjadi mungkin diserap karena bangsa Yahudi selalu menolak untuk mengorbankan diri mereka dalam resiko konflik antarbangsa. Mereka menyimpang kemajuan berbagai bangsa sambil berusaha untuk tetap bertahan hidup, sehingga ketika banyak bangsa telah dilumat pemusnahan, mereka masih tetap tinggal sebagai akumulator berbagai kemajuan dari bangsa-bangsa. Bangsa Yahudi, dengan demikian, bukanlah bangsa yang mencapai kemajuan intelijensia secara gradual. Mereka tidak melangkah di dalam proses perkembangan mereka sendiri, yang dapat digambarkan dengan istilah ‘gradual’. Mereka memparasiti berbagai bangsa dan menjalankan berbagai eksperimen yang tidak beresiko dalam rangka mencapai kombinasi yang baik–sesuatu yang memang eksperimental karena mereka menambal-sulam kemajuan-kemajuan khas berbagai bangsa yang berbeda-beda.

 

Kamis, 8 Mei 2014

Pagi ini aku bangun dengan perasaan yang gelisah. Setelah tanpa alasan kupandangi sebuah titik dalam ruangan selama beberapa saat, entah mengapa kuteringat dengan sebuah kejadian kecil di masa lalu. Karena pandanganku yang maskulinis, aku didebat oleh seorang perempuan yang tidak berdusta ketika kukatakan dia sangat cantik. Dia berbicara dan berbicara. Aku lupa seberapa cerdas dia ketika itu, karena aku memiliki dua alasan untuk melupakannya. Yang pertama adalah karena aku terpesona dengan apa yang kulihat, bukan kudengar. Yang kedua adalah seperti apa yang kukatakan setelah dia selesai bicara, ‘aku tak berdebat dengan perempuan.’ Mengapa kita, padahal kita adalah lelaki dan perempuan, berdebat? Mengapa kita tidak, Sayang, melakukan satu-satunya yang diamanatkan alam kepada kita, yaitu saling mencintai? Tetapi dia tersinggung dan semakin benci kepadaku. Dia tak mendapatkan kemenangannya dan aku tak mendapatkan cintaku… Di situlah kami berpisah di satu titik dari kehidupan yang tak terbatas…