090215

Februari 9, 2015

Apakah hidup itu? Apakah sebenarnya hal itu, sesuatu yang diberikan kepada kita tanpa kita minta, suatu realitas yang tidak berkaitan dengan kehendak kita, melainkan hasil dari kehendak dan kekuasaan pihak lain jauh sebelum kita diizinkan untuk menilai kelayakan realisasinya? Di usia remajaku, entah dari mana, aku hanya bisa menjawab bahwa bahkan arti pertama dari pertanyaan itu, arti pertama dan mendasar dari usaha untuk menilainya, terlepas dari hasilnya yang baik atau buruk, justru terletak pada fakta bahwa kita sudah hidup. Sebab, pertanyaan, usaha untuk menjawabnya dan pada akhirnya, jawaban apapun yang dihasilkannya, hanya dapat terjadi pada diri seorang manusia hidup. Apakah seseorang memutuskan bahwa hidup adalah anugerah ataukah malapetaka, apakah Tuhan itu manis atau jahat, apapun itu, sepenuhnya bergantung pada fakta bahwa dia hidup dan kemudian bertanya-tanya.

Andai satu-satunya realitas dan kebenaran yang dikenakan kepada kita adalah kematian, maka apakah kematian itu adalah anugerah atau malapetaka? Hipotesis—yakni, kebenaran hakiki yang direduksi secara tidak tahu malu menjadi hipotesis demi kepentingan penalaran manusia yang picisan—bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan mengasumsikan dengan sendirinya konsep bahwa manusia tadinya mati atau noneksisten dan kemudian diciptakan—dihidupkan. Jika, dengan demikian, tidak pernah ada penciptaan, apakah kita layak mengatakan bahwa kematian itu adalah anugerah sebab kehidupan yang penuh kemalangan ini adalah malapetaka? Siapakah yang akan bertanya-tanya mengenai arti kematian jika kita semua mati dan tidak pernah hidup? Tidak mungkin kematian adalah anugerah sebagai konsekuensi dari kehidupan yang merupakan malapetaka, sebab berpikir mensyaratkan kehidupan. Dengan demikian, siapapun yang menyimpulkan bahwa hidup adalah malapetaka, dia menyimpulkannya setelah mengeruk habis-habisan segala karunia dan anugerah kehidupan yang memberikannya kemungkinan untuk bertanya-tanya.

Inilah salah satu dari ……… Tuhan.


240115

Januari 29, 2015

Jangan katakan apapun, jangan katakan. Tidak ada yang bisa kau katakan kecuali sopan-santun yang dusta. Ketika suara tidak bisa menyatakan maksudmu, kau hanya akan bertambah kesal. Bertingkahlah seperti biasa, berkeliaran, tersenyum kepada setiap orang, acuh dan antusias secara bergantian dalam momen-momen yang mengecewakan. Aku, seorang lelaki, berbahagia berada di dekatmu. Perempuan sepertimu tidak pernah terlalu sederhana bagiku. Tingkah lakumu seperti seekor kucing yang sangat ringan, bagaimana dirimu melangkah dengan sangat enteng kesana kemari, secara dinamis melalui renungan-renunganku yang statis dan dibuat terpesona. Kata-katamu tak jarang mencerminkan pikiran yang telah tercerahkan, termasuk tentang bernyanyi itu… Secara naluriah, aku ingin mengenalmu lebih jauh, tetapi sayang, itu tidak mungkin. Dalam hidup ini orang harus memilih dan demi Tuhan (!) aku adalah orang yang sangat dibebani dengan pilihan-pilihanku. Mungkin aku akan tetap terpesona kepadamu dalam beberapa tahun ke depan atau sebuah mimpi di tidurku malam ini akan menghapusmu… Tetapi pada dasarnya, di luar semua rasa hormat yang mendalam kepada sesama manusia, ada suatu rasa ingin tahu yang luar biasa, yang tidak harus berujung kepada percintaan. Memang, itu diawali dengan cinta, tetapi itu sangat mungkin menjadi semacam rasa persaudaraan yang ganjil setelah kita mengobrol sekian lama, saling menghubungkan hati-hati, jiwa-jiwa kita, yang selama 26 tahun ini terpisah dalam dua kehidupan yang saling acuh satu sama lain. Makanya, kubilang, jangan berkata apa-apa. Sebenarnya dalam diam, hati-hati kita berbicara dengan sangat fasih, tetapi kita terlalu sering berpaling dari keyakinan yang nyata itu. Ada masa-masa di mana aku merasa sangat kesepian justru dengan menyadari bahwa aku telah setengah mengenalmu dan bukan sepenuhnya. Aku sangat ingin memegang tanganmu dan melihat, kebenaran apa yang mengalir melaluinya…..lalu mungkin kita bisa menikmati matahari di padang itu di suatu sebelum-tengah-hari… Tetapi aku, seorang yang sangat paham caranya menyatakan cinta, tidak bisa meresikokan pergaulan yang kaku ini hanya demi suatu angan-angan spekulatif yang tidak punya masa depan.


YAHUDI DALAM MEIN KAMPF

Januari 4, 2015

‘Mein Kampf’ (My Campaign, Perjuanganku) yang ditulis Adolf Hitler adalah sebuah buku yang tidak bisa disikapi dengan suatu sikap yang solid dan final. Asumsi-asumsi dasar dari Mein Kampf akan cenderung ditolak oleh siapa saja, termasuk generasi baru dari Bangsa Jerman pascaperang Dunia II yang tidak lagi dibentuk oleh atmosfer sosial, politik, budaya dan terutama sejarah–terutama dendam terhadap kekalahan Kekaisaran Jerman di Perang Dunia I. Asumsi-asumsi Mein Kampf yang mengandung doktrin superioritas ras ‘Arya’, inferioritas ras non-Arya, dorongan-dorongan terhadap konflik antarbangsa, kecaman terhadap ideologi pasifisme (Demokrasi), konsepnya mengenai perkembangan budaya manusia dan bagaimana ras Arya adalah agen tunggal dari perkembangan itu, akan cenderung ditolak oleh ‘pikiran modern’.

Siapa saja yang tidak ingin ‘tersingkir di batas terakhir peradaban’–seperti istilah F. Scott Fitzgerald–pasti akan cenderung bersikap konformis untuk mendukung demokrasi dan pasifisme, menolak rasialisme dan Chauvinisme, bahkan sampai kepada penolakan atas simbol-simbol NAZI dan sebuah istilah ganjil bin tidak kritis, ‘antisemitisme’. Tentu saja, sikap konformis seperti ini, pada analisis terakhir, akan mendapat banyak pembenaran dan dukungan. Akan tetapi, sebagai sebuah gejala psikologis, kita bisa melihat dengan cukup gamblang betapa ‘otomatisasi’ (demikian istilahnya) dari ekspresi-ekspresi semacam itu lahir dari pola-pola bawah sadar. Konotasi-konotasi, imej-imej dan simbolisme-simbolisme dari ‘demokrasi’, ‘pasifisme’ dan lain-lain akan terlalu menggiurkan untuk tidak didukung. Jadi, ekspresi-ekspresi semacam itu benar-benar merupakan aktivitas bawah sadar yang bertujuan untuk menghindarkan Ego dari ‘isolasi di batas akhir peradaban’ sebagaimana bunyi sinisme yang secara kurang ajar tepat dari F. Scott Fitzgerald itu.

Mein Kampf adalah sebuah karya sastra bangsa Jerman dari awal abad ke-20 yang lalu, asal saja kita menerima definisi ‘susastera’ sebagai ‘tulisan yang bersifat cendekia dalam lingkungan pengertian yang tidak dibatasi’ dari sebuah masyarakat yang dipengaruhi oleh eksistensi dari tulisan itu. Mein Kampf bukanlah diskursus akademik betapapun arus utama dari kritikus dan komentator atas tulisan itu mengatakan bahwa, sebagai ekspresi dari ‘pikiran Jerman’, Mein Kampf sangat dipengaruhi oleh filsuf Friedrich Wilhelm Nietzsche.

Akan tetapi, orang tidak perlu terlalu berlebihan dan ditenagai oleh obsesi buta untuk mengasosiasikan Mein Kampf dengan fatalisme-fatalisme Nietzschean karena betapapun gagasan mengenai proyek perjuangan ras Arya, sebagai ras superior yang dianggap ‘mengandung’ potensi perkembangan budaya manusia, dalam memperluas ‘ruang kehidupan’nya (Lebensraum) dapat dianggap sebagai penjelmaan dari ide Nietzsche tentang ‘Ubermensch’, akan tetapi, ras Arya sendiri diterangkan sebagai sebuah ras yang unggul karena kapasitas intelijensia dan organisasinya, sesuatu yang berkebalikan dengan fatalisme Nietzsche yang meremehkan rasio dan memuja-muja imej manusia yang lebih emosional dan vital, dengan menolak ide modern berupa rasionalitas dan mempromosikan ide posmodern mengenai relatifitas–bahkan nihilisme, yakni, ketiadaan kebenaran.

Latar belakang kebencian terhadap Yahudi, dalam Mein Kampf, dijelaskan sebagai akibat dari pertentangan-pertentangan radikal di antara karakteristik bangsa Arya dengan Yahudi. Ras Arya (suatu abstraksi yang lazim digunakan pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 untuk menyebut kelompok bangsa-bangsa ‘Indo-Eropa’) digambarkan sebagai sebuah bangsa yang memiliki sejarah masa lalu sebagai ras nomaden. Bangsa-bangsa nomaden, sudah jelas dengan sendirinya, membutuhkan organisasi sosial yang bertumpu pada pembagian kerja, namun tidak mengenal pembagian kekayaan. Masyarakat nomaden adalah masyarakat yang etos hidupnya tidak mengembangkan pemukiman-pemukiman besar tempat aktivitas komersial berlangsung. Mereka hidup berpindah-pindah dengan memanfaatkan sumberdaya alam di suatu tempat, untuk pergi ke tempat lain ketika sumberdaya alam di tempat pertama mulai habis. Cara hidup yang seperti ini mengandung sejumlah implikasi.

Pertama, masyarakat semacam ini memang tidak dimustahilkan untuk menjadi perusak alam, sebab karakter nomaden mereka membuatnya tidak mengembangkan teknologi produksi yang mengefisiensikan sumberdaya alam. Sebab, teknologi semacam itu membutuhkan syarat fundamental berupa hidup yang menetap. Teknologi produksi yang efisien adalah modal yang tidak akan dibelanjakan dalam setiap siklus produksi. Berbeda dengan bahan baku yang merupakan modal temporer, alat produksi adalah modal permanen–atau relatif lebih permanen. Dia harus diinstalasi pada sebuah infrastruktur, seperti pabrik dan pabrik adalah salah satu jenis isi dari pemukiman. Sebagai masyarakat nomaden, nenek moyang bangsa Arya tidak mengembangkan ciri sosial dan teknologi ini.

Namun, bangsa-bangsa nomaden umumnya tidak tidak memiliki populasi yang banyak. Ketika bangsa Mongol di bawah Jenghis Khan dan cucunya, Kublai Khan, melakukan invasi Mongol ke penjuru dunia selama abad ke-13 M, mereka, sebagaimana dideskripsikan sejarawan Inggris John Man, melakukan eksodus (atau ‘diaspora’) dalam skala satu bangsa. Ini menunjukkan bahwa populasi bangsa nomaden Mongol ketika itu berada pada skala yang memungkinkan mereka untuk melakukan eksodus sembari menjalankan penaklukkan, selain faktor lain yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu, yakni sifat nonprofesional dari tradisi militer bangsa Mongol: setiap individu lelaki dewasa pada dasarnya adalah ‘combatant’. Dengan demikian, ketika model pemenuhan kebutuhan mereka tidak mengenal efisiensi, akan tetapi ketiadaan mekanisme komersial dan sedikitnya populasi menghambat mereka dari merusak alam secara besar-besaran.

Kedua, masyarakat nomaden seperti nenek moyang bangsa Arya tidak melihat adanya kebutuhan untuk menyimpan surplus benda-benda pemenuh kebutuhan yang mereka eksploitasi secara langsung dari alam. Bangsa nomaden yang tidak mengenal perilaku komersial, selain perdagangan dengan bangsa-bangsa menetap di sekeliling mereka, tidak memiliki kebutuhan untuk merubah surplus barang menjadi modal. Nenek moyang bangsa Arya, dengan demikian, memiliki organisasi sosial yang bersifat komunal, komunitarian dalam konteks ekonomi, di mana mereka adalah pribadi-pribadi pekerja dan bukan pedagang atau pemodal. Inti dari kebudayaan Arya adalah kerja dan bukan modal.

Ini, klaim Adolf Hitler, bertolak-belakang secara diametral dengan bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi tidak pernah dikenal sebagai pekerja. Ini, sebagiannya, disebabkan karena Yahudi adalah sebuah entitas kultural namun bukan politis. ‘Negara Bangsa Yahudi’ tidak pernah eksis selama bertahun-tahun sejak kembalinya mereka dari pengasingan kedua dari Babilonia, sebagai ‘negara bawahan’ Kekaisaran Persia yang berakhir pada tahun 322 SM. Artinya, hingga Mein Kampf ditulis, sudah 2150 tahun bangsa Yahudi tidak berkuasa secara politis.Tetapi, kebencian banyak bangsa-bangsa kepada bangsa Yahudi justru ikut disebabkan oleh kenyataan ini. Artinya, jika Yahudi tetap menjadi sebuah bangsa yang mandiri secara politis, kerusakan secara ekonomi (dan lain-lain) yang disebabkan oleh manipulasinya terhadap banyak bangsa, tidak akan terjadi. Sejak penaklukkan oleh Babilonia pada tahun 587 SM, bangsa Yahudi berdiaspora dan terpencar ke penjuru dunia.

Sebagai sebuah bangsa tanpa negara, bangsa Yahudi menjadi tidak mengembangkan suatu budaya yang khusus. Adalah sebuah fakta yang ganjil untuk merenungkan betapa bangsa Yahudi, dengan semua kapasitas intelijensianya, tidak mengembangkan suatu budaya yang khusus. Hal ini disebabkan oleh tiadanya teritori yang mereka kuasai secara khusus. Kekuasaan besar dari bangsa Yahudi dicapai berkat dominasi dan manipulasi atas sebuah faktor nonteritorial, yang global: uang. Kenyataannya, pengembangan suatu budaya selalu dipengaruhi oleh sumberdaya, topografi, iklim dan ciri-ciri geografis lainnya dari tanah-air yang didiami sebuah bangsa. Bangsa Yahudi tidak memiliki syarat ini, sehingga merekapun tidak mengembangkan sebuah budaya yang khusus. Adolf Hitler mengatakan bahwa bagi bangsa Yahudi, ‘tidak ada budaya yang aneh di mata mereka’, sebab mereka hidup berdekatan kepada setiap budaya.

Salah satu implikasi dan juga sebab dari hal ini–ketiadaan budaya dan negara teritorial–adalah karena bangsa Yahudi, sebagai bangsa yang berdiaspora, lebih dikendalikan oleh insting, ‘self-preservation’ (bertahan hidup) sebagai kebalikan dari ‘self-sacrifice’ (pengorbanan) yang direpresentasikan oleh ras Arya. Nasionalisme, budaya nasional, persepsi kultural sebagai sebuah bangsa yang melihat dirinya sebagai ‘yang unik’, ‘yang khas’, ‘yang independen’ dari bangsa-bangsa lainnya akan mendorong lahirnya sikap-sikap ‘self-sacrifice’. Banyak kasus dari perang berhubungan dengan penguasaan dan perebutan teritori. Jika sebuah negara diserang dalam sebuah perang, dan menghadapi ancaman kehilangan batas-batas teritorial lama, mereka akan mengaktifkan insting ‘self-sacrifice’ ini. Sebab, ada faktor riil yang dipertahankan: teritori. Ini berkebalikan dengan Yahudi yang tidak memiliki teritori.

Etos ‘self-sacrifice’ yang dimiliki bangsa Arya ini adalah karakter mereka yang inheren dan merupakan sesuatu yang dilestarikan di dalam batas-batas geografis dari wilayah kehidupan tradisional yang dihuni dan dipertahankan sebagai wilayah Arya yang eksklusif. Semangat untuk tetap menjadikan Arya sebagai ras dominan di dalam ‘lebensraum’ tradisional bangsa Arya, yang menuntut syarat dipertahankannya budaya Arya yang murni dan pemeliharaan atas doktrin mengenai kekhasan, independensi, serta distingsi Arya-nonArya adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh Yahudi yang tidak eksklusif, berdaulat secara politik dan pada akhirnya mengembangkan insting ‘self-preservation’. Istilah ‘pflichterfullung’ dalam bahasa Jerman hanya dapat diartikan ke dalam ungkapan majemuk, ‘kesiapsediaan dalam memenuhi kewajiban’.

Insting ‘self-preservation’ berakar pada ketiadaan teritori eksklusif bangsa Yahudi. Ketika suatu bangsa manapun–tentunya dengan mengecualikan Yahudi–terlibat di dalam peperangan yang membuat mereka terpapar dengan resiko pemusnahan, ini selamanya berhubungan dengan faktor teritorial. Suatu bangsa yang mandiri secara kebudayaan dan eksklusif dalam teritori, akan mengembangkan insting ‘self-sacrifice’ di dalam level individual demi mempertahankan kelestarian di tingkat rasial. Ini disebabkan karena ‘teritori’ menjadi syarat dari eksistensi sebuah kebudayaan yang berkuasa di dalam batas-batasnya.

Bagi Yahudi, syarat teritorial ini tidak ada. Jika komunitas Yahudi yang selalu berukuran kecil di sebuah negara beresiko terlibat dalam suatu perang yang mengikutsertakan negara ‘inang’nya, mereka tidak akan melihat kehilangan teritori sebagai pemusnahan kultural maupun rasial. Dengan demikian, mereka akan mempertahankan properti dan komunitas mereka ketimbang bertempur secara bahu-membahu dengan rekan senegara mereka hanya demi mempertahankan teritori yang tidak mereka butuhkan. Pada gilirannya, sifat pragmatis secara politik yang tidak melihat dirinya melekat pada teritori tertentu (baca: tanah air) ini membuat mereka tidak mengembangkan budaya yang ekuivalen dengan budaya bangsa-bangsa teriotrial–tidak juga berasimilasi dengan budaya inang.

Bangsa Yahudi juga digambarkan dalam Mein Kampf sebagai suatu bangsa yang tidak memiliki asal-usul nomaden. Bangsa Yahudi selalu menjadi bangsa yang bermukim. Sejak ditaklukkan oleh Babilonia pada 587 SM, bangsa Yahudi mulai hidup sebagai minoritas mukim di satu peradaban mukim kepada yang lainnya, sehingga secara berangsur-angsur dalam rentang waktu berabad-abad, mereka menciptakan skala yang luas dari wilayah dalam rentang mana mereka berdiaspora. Bangsa Yahudi, dengan demikian, dengan menggunakan dunia hewani sebagai modelnya, adalah entitas parasit.

Sifat parasit ini, selain membuatnya mengenal aktivitas komersial sejak tahap yang paling dini dari persebarannya, juga menciptakan akumulasi intelijensia yang pada akhirnya memapankan konsepsi kita mengenai intelijensia Yahudi pada hari ini. Budaya Yahudi yang tidak bersifat ‘komprehensif’ (lengkap, sebagai syarat bagi suatu bangsa teritorial) membuat mereka tidak mengembangkan budaya pendidikan–dari mana kecerdasan akumulatif suatu bangsa berasal. Pendidikan bangsa Yahudi didapatkan dari memanfaatkan pendidikan yang dibentuk oleh bangsa-bangsa inangnya, termasuk dan terutama bangsa Arya (Jerman) yang mencapai kemajuan luar biasa sejak akhir abad ke-19, menyusul unifikasi ‘Kerkaisaran Jerman’ dan kemajuan industri Jerman yang luar biasa. Di zaman sebelumnya, Yahudi juga mengembangkan kecerdasannya melalui eksploitasi atas kebudayaan, penemuan dan pendidikan bangsa-bangsa dominan lain seperti Romawi dan Islam.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa, dengan merangkaikan fakta mengenai intelijensia bangsa Yahudi dan analisis Hitler mengenai insting ‘self-preservation’ mereka, bangsa Yahudi adalah pembawa (carrier) dari berbagai aspek budaya yang maju dari bangsa-bangsa inangnya di sepanjang sejarah. Kemajuan-kemajuan itu, yang dilembagakan melalui pendidikan, menjadi mungkin diserap karena bangsa Yahudi selalu menolak untuk mengorbankan diri mereka dalam resiko konflik antarbangsa. Mereka menyimpang kemajuan berbagai bangsa sambil berusaha untuk tetap bertahan hidup, sehingga ketika banyak bangsa telah dilumat pemusnahan, mereka masih tetap tinggal sebagai akumulator berbagai kemajuan dari bangsa-bangsa. Bangsa Yahudi, dengan demikian, bukanlah bangsa yang mencapai kemajuan intelijensia secara gradual. Mereka tidak melangkah di dalam proses perkembangan mereka sendiri, yang dapat digambarkan dengan istilah ‘gradual’. Mereka memparasiti berbagai bangsa dan menjalankan berbagai eksperimen yang tidak beresiko dalam rangka mencapai kombinasi yang baik–sesuatu yang memang eksperimental karena mereka menambal-sulam kemajuan-kemajuan khas berbagai bangsa yang berbeda-beda.

 


Kamis, 8 Mei 2014

Mei 8, 2014

Pagi ini aku bangun dengan perasaan yang gelisah. Setelah tanpa alasan kupandangi sebuah titik dalam ruangan selama beberapa saat, entah mengapa kuteringat dengan sebuah kejadian kecil di masa lalu. Karena pandanganku yang maskulinis, aku didebat oleh seorang perempuan yang tidak berdusta ketika kukatakan dia sangat cantik. Dia berbicara dan berbicara. Aku lupa seberapa cerdas dia ketika itu, karena aku memiliki dua alasan untuk melupakannya. Yang pertama adalah karena aku terpesona dengan apa yang kulihat, bukan kudengar. Yang kedua adalah seperti apa yang kukatakan setelah dia selesai bicara, ‘aku tak berdebat dengan perempuan.’ Mengapa kita, padahal kita adalah lelaki dan perempuan, berdebat? Mengapa kita tidak, Sayang, melakukan satu-satunya yang diamanatkan alam kepada kita, yaitu saling mencintai? Tetapi dia tersinggung dan semakin benci kepadaku. Dia tak mendapatkan kemenangannya dan aku tak mendapatkan cintaku… Di situlah kami berpisah di satu titik dari kehidupan yang tak terbatas…


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.