Generasiku yang liberal…..

Setahun belakangan, aku secara samar-samar menangkap kesan bertambahnya jumlah orang yang kurang menyukaiku. Ini juga disebabkan semakin seringnya aku (terkesan) marah-marah dan besarnya kemauanku untuk mempertahankan pendapatku secara agresif sehingga orang-orang (Indonesia) mengalami keguncangan budaya karena tidak terbiasa dengan egoisme semacam itu.

Namun, akupun, disamping memahami perasaan mereka, juga membenarkan diriku. Aku telah sampai kepada titik kejenuhan tertentu berhadapan dengan orang-orang di generasiku yang pikirannya seragam semua yang, dalam paradigma generalis dapat kita sebut sebagai para penganut liberalisme.

Salah jika ada yang mengira aku sedang bicara tentang orang-orang hedonis yang memiliki standard moral yang longgar, atau orang-orang yang menganut pandangan ideologis khusus yang beririsan dengan kriteria liberal seperti feminisme, atheisme, agnostisisme atau liberalisme etis, politis dan ekonomi itu sendiri. Tidak! Aku bicara tentang 90% anggota generasiku yang juga meliputi mereka yang tidak meninggalkan sholat dan rajin bersedekah. Aku bicara tentang gejala yang tersebar luas.

Pandangan liberal adalah sebuah cara pandang, sedemikian halus dan tak kasat mata, sehingga mudah merasuki orang atau budaya tanpa disadari, dan pada orang yang berbeda-beda, dia mengambil perwujudan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pada seorang atheis yang dungu, dia dapat mengambil bentuk yang ekstrim dan fundamental seperti: pandangan bahwa budaya dan agama yang didasarkan atas kepercayaan nonsaintifik, nonnatural dan tidak memiliki kegunaan yang praktis harus dikoreksi untuk menciptakan prakondisi kultural bagi ‘evolusi’ manusia secara sosial dan antropologis (mereka punya utopia lugu tentang suatu zaman saintifik dan reason yang komplet).

Pada seorang hedonis rendahan, dia bisa mengambil wujud liberalisme etis atau transaksionalisme etis seperti: setiap orang berhak secara total atas dirinya, tubuhnya dan ekspresinya dan hak ini tidak bisa diintervensi oleh realitas abstrak seperti norma masyarakat, atau bahwa asal-usul dari semua kebenaran etis terletak pada prinsip ‘tidak melakukan kepada orang lain apa yang engkau tak mau orang lain lakukan kepadamu.’ Pandangan etis yang memalukan semacam ini jelas berasal baik dari kebebalan tentang budaya dan peradaban serta semangat dalam meruntuhkannya. Itu bertentangan dengan prasyarat manusia yang berbudaya yang membutuhkan hidup ditengah budaya yang dihasilkan oleh masyarakat yang tak bisa berkembang dengan transaksionalisme etis semacam itu. Bahkan kutu-pun akan malu jika harus hidup ditengah komunitas yang mengadopsi sistem seperti itu.

Namun, pandangan liberal dapat merasuki seorang yang beragama dengan baik sekalipun dengan cara menjelma menjadi dorongan untuk menjadi seorang pasifis.

Kurangnya afiliasi kepada identitas-identitas budaya, masyarakat dan ummat oleh sebab lebih berafiliasi kepada ide-ide generalis-universalis yang tidak memiliki korespondensi material dengan sejarah dan realita seperti semangat-semangat antidiskriminasi, HAM atau semacam semangat pelampauan atas identitas agama dan budaya tradisional adalah gejala-gejala seorang ‘pasifis’. Disebut ‘pasifis’ supaya lebih sopan mengingat mereka memiliki moral yang baik, namun ‘pasif’ dalam menerima gempuran-gempuran dahsyat propaganda modern yang ada pada HAM dan ide antidiskriminasi.

Orang-orang baik ini pada saatnya, sebagai ‘buah hasil penyemaian propaganda yang telah matang’ akan ikut-ikutan dengan noraknya untuk menentang setiap ekspresi yang paling samar sekalipun atas semangat-semangat menghidupkan tradisi, pengusungan atas kepentingan masyarakat yang sungguh nyata karena dibangun diatas basis sistem-nilai-tradisi agama dan budaya. Mereka lebih memilih ide-ide transenden, abstrak dan nonmaterial seperti HAM, globalisasi, pasar bebas, modal, meritokrasi (pemujaan atas kemampuan dan kompetensi) dan antidiskriminasi.

Satu, mereka tak dapat membedakan yang mana yang merupakan kepentingan material dari propaganda yang abstrak.

Dua, mereka sangat kekurangan semangat solidaritas perkauman dan menjadi sangat berat sekali dalam mengeluarkan ekspresi solidaritas.

Tiga, sebagai ganti bentuk pengelompokkan lama berbasis tradisi, maka mereka yang menyebut dirinya profesional dan modern menciptakan network-network berdasarkan kesamaan baru: kompetensi dan prestasi.

Mereka tak sadar bahwa semua modus ‘secret society for power’ adalah menciptakan penggolongan abstrak atas dasar kompetensi, prestasi dan pengaruh. Idenya adalah mengumpulkan semua orang kuat dari berbagai asal-usul dan saling memperkuat satu sama lain, menciptakan ‘kelas penguasa’ diatas manusia lain yang diluar itu. Apa yang mereka lakukan adalah menciptakan ‘elite society’ kecil-kecilan dan mereka tak akan paham argumentasi bahwa kondisi sosial itu akan memperkuat sikap anti mereka kepada tradisi, kolektivisme dan militansi suci kepada agama.

Mereka semakin abstrak, meritokratis. Kesamaan etnis dan agama lama-lama hanya dianggap barang kuno dan mereka menatap penuh takjub kepada ide-ide kompetensi dan prestasi.

Latah

Aku secara pribadi tidak pernah melihat orang latah yang bukan orang Indonesia. Ini sebagiannya karena aku barang sejengkalpun tidak pernah keluar dari perbatasan Republik ini. Akan tetapi, sebagaimana banyak orang lain di seluruh dunia, aku adalah penikmat budaya pop. Dan berdasarkan semua yang kukonsumsi yang dapat digolongkan ke dalam budaya itu–yang sangat bersifat kontemporer, mudah berubah-ubah, mudah berganti trend, sehingga menjadi tidak terlalu jelas sebenarnya apanya sih yang ‘budaya’ dari serba-serbi hal yang menyelisihi sifat lestari itu–aku tidak pernah melihat adanya lirik musik, adegan film, kisah roman, kisah komik atau film animasi yang menyorot fenomena latah. Kalau tidak salah, aku pernah menonton film Thailand yang menampilkan adegan latah seorang perempuan berwajah amat Melayu ketimbang Indochina, akan tetapi aku tidak dapat mengingatnya.

 

Karena semua pengalaman ini, terlebih karena jangankan jarang, bahkan sekalipun aku tidak pernah menyaksikan kasus ada orang dari bangsa Bule yang latah, atau orang dari Bangsa Asia Timur yang terkenal cerdik latah, juga orang dari bangsa Asia Barat yang rupawan dan kaya-raya latah, aku sangat kuat meyakini bahwa latah adalah sesuatu yang khas Indonesia. Tampak ada sesuatu yang unik dalam susunan jiwa orang Indonesia, yang memungkinkan mereka latah. Ada sesuatu yang amat humble, bersahaja, terbuka, apa adanya, terang-terangan dan pasrah, yang itu semua berkaitan erat dengan latah. Aku melihat bangsaku sendiri dengan semua sifat tadi. Ketika kutengok pertemuanku dengan orang-orang latah, umumnya mereka orang yang amat-sangat terbuka, bersahaja, berjiwa sosial dan pasrah. Karena itu semualah mereka cenderung dikendalikan oleh pihak luar, sehingga bahkan apa yang dikata-katakan oleh lidah mereka sendiri ketika latah, ada di luar kendali mereka. Bangsaku adalah bangsa yang sangat akomodatif terhadap kontrol dari luar. Bangsaku begitu cair dalam batas yang mereka miliki di antara aku dan kamu, dia. Sehingga, lidah bangsaku dapat dengan mudah ditundukkan oleh aturan produksi kata-kata yang tidak sesuai dengan kemauannya.

 

Beberapa waktu yang lalu, aku menyaksikan seseorang yang latah secara tidak biasa. Orang ini kulewati minimal dua kali dalam setiap harinya, karena dia adalah pedagang warung nasi yang berada di ujung gang dari rumah sewaku, yang kulalui setiap pergi dan pulang. Tetapi, sebelum itu, akan kujelaskan suasana pada hari itu.

 

Hari itu matahari terik, sebagaimana yang diketahui bahwa sekarang adalah puncak musim kemarau. Ketika aku keluar dari rumah sewaku, aku hanya pindah dari ruangan pengap ke ruangan yang panas, walaupun aku lebih memilih udara yang panas secara alamiah, ketimbang udara yang pengap karena aliran udara yang tidak baik. Ketika aku keluar sekitar pukul 10.15, aku melihat matahari benar-benar terik, tanpa adanya perlawanan dari awan-awan yang sudah menyerah karena mereka sudah sadar bahwa puncak musim kemarau adalah panggung bagi matahari. Kemungkinan bagi turunnya hujan ibarat punuk yang merindukan bulan. Awan putihpun tidak ada, apalagi yang kelabu. Oleh karena itu, rasanya tidak ada orang yang menganggap, sebagai contoh, hujan akan segera turun, kecuali Ia akan segera ditimpali dengan, sebagaimana pepatah kontemporer di tengah rakyat, ‘hujan dari Hong Kong!’ Asal-usul pemilihan negeri ‘Hong Kong’ ini masih menjadi misteri hingga kini. Ada apakah dengan Hong Kong? Kenapa tidak Makau atau Taiwan, tetangga-tetangganya? Atau Lesotho sekalian?

 

Begitulah keadaan di dunia manusia, yang memang ditakdirkan untuk hidup di bawah naungan matahari ini. Akan tetapi, belakangan, setelah kejadian itu terjadi, aku membayangkan, di Dunia Atas, yakni di Dunia Langit, penduduk langit ternyata lebih informatif. Seringkali, informasi-informasi yang beredar di langit berselisihan dengan yang beredar di bumi. Ketika orang-orang di bumi ketika itu menerjemahkan isyarat alam sebagai mustahilnya sesuatu akan terjadi, maka penduduk langit malah sudah mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi. Mungkin saja dari atas ada tanda-tandanya, tapi dari bawah, tak terlihat. Oleh karena itu, apapun yang dapat timbul dari kekagetan dan kesalahan prediksi akan kejadian alam pada hari itu, tak akan timbul di kalangan warga langit yang lebih informatif. Mungkin saja di langit tidak dikenal pepatah yang dikenal di bumi, yaitu, ‘bak petir di siang bolong’, sesuatu yang di bumi, khususnya di Indonesia, menggambarkan sesuatu yang mustahil. Oleh karena itu, pada hari itu penduduk langit tidak akan mengalami apa yang akan dialami oleh penduduk bumi, khususnya Ibu pedagang warung nasi itu.

 

Ketika langkah gontaiku yang memprotes suhu udara sudah hampir tiba di ujung gang untuk berbelok ke jalan raya, situasi di daerah yang ramai itu adalah meriah namun tertib. Orang-orang yang berpeluh mengusahakan hajatnya masing-masing dengan damai dan tidak saling mengganggu. Semuanya berlangsung tertib dalam koor riuh-rendah yang tercipta dari gabungan suara-suara acak dari semua pedagang, karyawan, pengojek, konsumen dan siapa saja di sana, termasuk langkah kaki yang mengetuk dari sepatu pantofelku. Hanya matahari yang tersenyum usil, seperti orang yang dari kejauhan menyaksikan seseorang tengah dijahili dengan kocak sekali, sedangkan orang itu sendiri tidak sadar.

 

Dan sekonyong-konyong saja, ‘jegeeerrrr!’ petir di siang bolongpun menyambar. Semua orang di sana kaget bukan kepalang. Benar-benar suatu kejadian yang istimewa. Keributan pecah dengan serempak, seolah dimulai dengan suatu aba-aba. Semua orang menjadi ribut, mengucapkan apa-apa yang harus diucapkan. Di sana-sini anak-anak kecil menangis karena kaget bukan main. Penjaja tahu gejrot diajak oleh gerobak sepedanya berbelok ke kiri, dan menabrak kios reparasi pompa. Alarm dari mobil-mobil yang diparkir melengking tak merdu, false. Aku sendiri tidak seberapa kaget, akan tetapi rasa malas-malasanku beraktivitas dalam momen itu langsung hilang dan mataku menjadi segar karena petir itu. Aliran darah menjadi lebih deras, degup jantung meningkat sampai ke taraf yang menggairahkan dan hormon-hormon yang berguna juga diproduksi dengan lebih baik.

 

Dalam pada itu, jikalau salah satu tugas Badan Sensus dan Dinas Kependudukan adalah menghitung populasi masyarakat pengidap latah, maka tugas itu akan sangat terbantu. Mendengar gelegar yang sangat mengagetkan itu, semua kaum pelatah segera menunjukkan tajinya. Berupa-rupa orang yang latah dan berupa-rupa pula kosakata latah mereka, serta nada dan polanya, dapat teramati dan dicatat dalam diagram lengkap yang akan sangat berguna bagi program-program pemerintah. Selain itu, para peneliti psikologi, sosiologi, antropologi dan berbagai logi-logi Kelatahan, akan mendapatkan referensi primernya.

 

Di antara semua orang yang latah, Ibu inilah yang sangat menarik perhatian. Di luar pelatah, orang-orang yang dikagetkan oleh petir di siang bolong itu, yang tidak latah, menyebut nama-nama Tuhan atau kalimat-kalimat ‘relijius’. Inilah yang paling banyak diucapkan. Namun, apa mau dikata, faktanya, para pelatah paling banyak mengucapkan perbendaharaan kata-kata tak senonoh, walaupun kata-kata itu juga, ternyata, jika kita cermati, adalah bagian yang sah dari khazanah berbahasa kita juga, yang diakui di dalam kamus. Akan tetapi, bukan ini puncak kekecewaannya, bukan karena peradaban kita ternyata membutuhkan kosakata tak senonoh dalam khazanah berbahasanya.

 

Ini adalah tentang Ibu pedagang warung nasi. Dia adalah pelatah nomor wahid, yang jika kita mengagetkannya dalam hati, dia sudah bisa latah. Pengalaman panjang menjadi seorang pelatah, menjadikannya pelatah kawakan. Berupa-rupa teknik latah sudah dikuasainya. Pada saat kejadian itu, sungguh membanggakan, dia menyebut kalimat-kalimat yang berisi nama Tuhan. Betapa mengharukannya, masyarakat kita memang relijius. Namun, sejurus kemudian, ibarat sebuah teknik latah yang rumit dan tak terduga, maka dia mengucapkan rentetan kata-kata kedua yang, ya ampun, jorok sekali! Karena joroknya, maka tak mungkin diutarakan di sini. Namun, cukuplah jika dikatakan bahwa seisi ummat kebun binatangpun tidak seberapa jorok dibandingkan kata-kata itu. Di sinilah kita pada awalnya menjadi kecewa, dan kemudian berubah menjadi terenyuh dan berpikir lama. Latah itu tak berhenti hanya dengan dua bagian, tetapi berulang-ulang di mana nyaris secara berselang-seling, bergantian, bolak-balik, dia mengungkit-ngungkit Tuhan dan mengucapkan kata-kata tak senonoh. Itu berlangsung sehingga siapa saja yang mendengarnya akan hapal polanya. Betapa ganjilnya bahwa dua hakekat yang amat jauh berbeda, yang relijius dan yang amat permisif terhadap kotoran duniawi, berkumpul di satu kepala yang sama, dan dengan lancar diucapkan oleh lisan yang sama, seolah diaransemen. Ketika aku menyaksikan latahnya Ibu itu hingga tuntas, tiba-tiba aku teringat dengan keyakinan lamaku bahwa latah sangatlah khas Indonesia, dan berpikir agak lama sehingga pengendara ojek berhelm hijau datang.

 

 

 

 

 

Kisah Bagaimana Kebosanan Memperkenalkan Dirinya Kepadaku

Dulu, ketika aku masih kecil, bahkan belum pula disunat, aku tinggal di sebuah rumah yang besar, di mana terdapat banyak kamar, banyak lorong dan dengan demikian, banyak keseruan untuk dijelajahi oleh aku yang masih kecil, yang, sesuai dengan sifat anak kecil, memiliki energi tanpa batas untuk dibuang-buang dengan melakukan setumpuk hal yang ketika dewasa nanti akan dikategorikan ‘sia-sia.’ Inilah kehebatan menjadi seorang anak kecil. Anak-anak memiliki lebih banyak energi daripada yang dibutuhkan untuk melakukan semua hal yang sia-sia. Bandingkan dengan orang dewasa, kita malah tidak memiliki cukup energi untuk melakukan semua hal yang memang perlu dan penting. Ketika kita lagi dan lagi merasa telah mengkhianati prioritas, tekad, resolusi yang telah kita buat, sebagai orang dewasa kita merasa telah menjadi manusia yang kerdil dan kurang berarti, bahkan sekadar terhadap diri sendiri. Kita dapat merasa menjadi orang dewasa yang tidak serius, tidak dewasa. Kita mungkin bisa berubah menjadi lebih formal dan tahu tata krama profesional, tetapi itu tidak menjamin kita akan bisa secara jujur mengakui bahwa diri kita telah melakukan hal-hal yang esensial dalam wujud kita yang manusia dewasa ini. Tapi, pada diri anak kecil, melimpahnya energi tak akan pernah terkhianati.

 

Dahulu, tak kupusingkan bagaimana, apakah wajar atau tidak bagiku untuk bisa tinggal di rumah sebesar itu. Tak pernah kupedulikan ketika itu keadaan ekonomi keluargaku. Bahkan, mungkin juga, tak kupahami perbedaan antara kaya dan miskin. Malahan, di rumah itu, aku mengira kemiskinan sama dengan mengasihani diri sendiri. Kemiskinan bagiku waktu itu bukanlah karena terpenuhinya persyaratan miskin, melainkan karena adanya perasaan nelangsa. Namun, bukanlah tujuanku untuk melebih-lebihkan atau memaksakan anggapan ini. Ini berasal dari pengalamanku saja ketika sewaktu kanak-kanak aku untuk pertama kalinya didera oleh perasaan nelangsa. Konsep kemiskinan masuk kedalam pemahamanku melalui pengalaman emosional itu, sebab belum cukup panjanglah akalku untuk memahami kemiskinan sebagai konsep ekonomi pada waktu itu. Aku pertama-tama mendapat gambaran kemiskinan sebagai sesuatu yang ditandai oleh perasaan nelangsa. Itulah pertama kalinya aku merasa miskin.

 

Belakangan, baru kusadari bahwa seharusnya pada waktu itu, keluargaku tak cukup kaya untuk bisa membiayai sewa rumah sebesar itu. Jika hal ini sudah kusadari pada waktu itu, tentu aku akan heran juga. Pada pokoknya, kenangan tentang rumah itu telah secara tidak sengaja ikut membentukku menjadi manusia seperti apa aku sekarang. Masih lekat dalam ingatanku pintu-pintu kayu yang berjumlah banyak, semuanya dipernis dalam warna yang tua dan semuanya berat. Aku tahu ini lebih karena tenagaku yang masih kanak-kanak begitu kecil, namun, toh aku tak tahu rasanya menarik atau mendorong pintu itu dengan ringan, sebab yang kutahu hanya menarik dan mendorongnya dengan berat (gagasan tentang yang jelas-jelas kualami selalu dengan caranya sendiri mempertahankan kesannya meskipun didominasi oleh pengetahuan ‘teoritis’ resmi). Lorong-lorong adalah sangat banyak dan anggota keluarga begitu sedikit–semuanya hanya berjumlah empat orang termasuk aku sendiri–sehingga seolah-olah terkadang kami semua terpisah dan diperlukan suatu perjalanan untuk ditempuh, agar kami bisa bertemu lagi. Begitulah perasaanku ketika kecil dulu.

 

Di akhir-akhir dari setiap pekan, tiba-tiba banyak orang yang tak kukenal datang dan mengisi beberapa ruangan dengan melakukan sesi-sesi diskusi kelompok kecil. Setiap ruangan yang diisi oleh setiap kelompok memiliki papan tulis kecil agar seseorang yang seperti seorang pengajar bisa menyampaikan pelajarannya. Di kemudian hari, aku baru mengetahui bahwa sebuah lembagalah yang membayar sewa rumah itu. Keluargaku meninggalinya sebagai bagian dari lembaga itu sehingga, secara teknis, sesungguhnya keluargaku hanya meninggali beberapa kamar yang diisi oleh barang-barang kami. Tetapi, pada waktu itu, tak kupahami hal itu. Pada pokoknya, aku menelusuri, menjelajahi berbagai ruangan dari rumah yang luas itu. Yang tak kusadari, sebenarnya aku juga sekaligus menjelajahi beberapa bagian dari jiwaku. Sampai sekarang, pengalaman-pengalaman emosional yang ‘monumental’ yang kurasakan selama tinggal di sana masih menyisakan pertanyaan, yang nyaris sama sekali aku tak tertarik untuk mempelajarinya secara ilmiah–jawaban ilmiah hanya akan mengasingkan akalku dari pengalaman amat pribadiku sendiri.

 

Misalnya ‘bosan.’ Kata ‘bosan’ memiliki makna, yang diketahui oleh semua orang. Aku adalah seorang ‘pembosan serial.’ Begitulah julukanku pada ragam kepembosanan yang menclok di dalam diriku. Aku adalah pembosan yang ‘tuntas’ dalam menjelajahi suatu hal, objek obsesi atau hobi, lalu kutinggalkan dan tak pernah kusentuh lagi. Tentu saja, terkadang aku bernostalgia. Aku adalah manusia yang mendapat kesenangan tak-dewasa yang murah-meriah dari mengulangi sebuah kejadian di masa lalu, seperti tersangka kriminal mereka-ulang episode kejahatannya. Ketika melakukannya, aku terpesona oleh efek perjalanan waktu terhadap perasaanku. Tetapi, itu hanya terkadang saja. Umumnya, dalam jangka waktu yang agak lama, aku punya sebuah hobi atau obsesi, yang, sesuai namanya (obsesi), umumnya tak berguna-berguna amat. Lalu, ketika Ia terkesan akan menjadi hobi seumur hidupku, tiba-tiba aku bosan, lalu aku berganti hobi dan terulangilah pola itu. Ini namanya ‘serial’, sebab tak ada (jarang) yang terulangi. Itulah gambaran dari makna bosan. Carilah di kamus untuk definisi akademisnya.

 

Tetapi, sebagaimana tadi kuceritakan bahwa konsep ‘kemiskinan’ tak mendatangiku sebagai kosakata ekonomi, melainkan lewat penjiwaan emosional yang secara sewenang-wenang menetapkan definisi ‘miskin’, maka akupun tidak pertama-tama mencari kamus untuk memahami arti kata ‘bosan.’ Jadi, seolah antara yang pertama kali membisikkan di telingaku bunyi kata ‘bosan’ dan yang membisikiku maknanya, adalah dua pihak yang berbeda dan tak akur.

 

Suatu hari, di rumahku yang besar itu–kini perlu kutambahkan bahwa sebagian amat besar dari ruangan-ruangannya kosong melompong, tak berperabot–aku sedang berlarian dengan riangnya. Tidak tahu sudah berapa lap kuputari ruangan-ruangan di rumah itu, tetapi setelah aku menikung di suatu tikungan, di ruangan yang agak jauh dari pandangan mataku, Ibu dan Ayahku terlihat sedang berada di ambang pintunya. Ketika aku melihat Beliau berdua, aku memutuskan untuk mengambil pit stop di situ, mungkin dengan menabrak mereka dengan pelan sambil tertawa-tawa, lalu mereka akan memintaku untuk tidak nakal. Jadi, aku terus berlari dan semakin mendekati ruangan itu. Ketika aku hampir sampai, tiba-tiba saja pintu itu ditutup, tepat sekali di depan mukaku, memisahkanku dari beliau berdua yang sudah masuk di dalamnya. ‘Blam!’ begitu bunyi pintu itu tertutup dengan dramatis, seolah diperhitungkan jaraknya dari mukaku–juga dari cita-citaku yang ingin memasukinya. Atau, mungkin tidak demikian. Mungkin lebih ke ‘brak!’ bunyinya. Entahlah, agaknya tak penting. Tetapi ini yang penting.

 

Ketika pintu itu tertutup, berhembuslah angin yang cukup keras ke wajahku. Sensasi dan dramatisasinya adalah sedemikian, sehingga aku tergoda untuk menggunakan ungkapan, ‘menyerbu wajahku.’ Terhempas rambutku, sementara aku menutup mataku. Setelah angin yang bertiup mereda, dan mereda pula gema suara menutupnya pintu, tiba-tiba saja dunia menjadi berubah. Kesunyian yang teramat-sangat tiba-tiba berkuasa. Serangga-serangga dari tanah lapang yang luas mengelilingi rumah, berhenti bernyanyi. Ayah dan Ibuku tak terlihat lagi. Adikku tak tahu di mana. Terbersit di dalam benakku perasaan seorang anak yang tak diinginkan oleh orangtuanya, seperti anak durhaka yang teramat mengecewakan, sehingga pantas mendapat dampratan sekelas pintu yang dibanting di depan wajahnya. Tak ada suara sedikitpun, seolah berbisikpun orang tak berani. Seluruh dunia seperti mengamatiku dalam kebisuan yang sempurna, dan hanya aku saja yang diamati. Perlahan perasaan diamati hilang, berganti menjadi perasaan seolah semua ummat manusia berkumpul di suatu tempat, sedang bergembira makan ketupat sayur pada hari Lebaran, sementara aku sendirian tinggal di tempat lain, dilupakan selupa-lupanya. Aku adalah satu-satunya eksistensi berakal di duniaku. Lalu, air mata tanpa diduga mengalir di pipiku, aku menangis tanpa suara. Kesunyiannya adalah sedemikian, sehingga aku bahkan sampai berharap ada hantu menyeramkan yang menemaniku pada saat itu. ‘Dan itulah rasanya’, bisik entah siapa, ‘bosan.’

 

1112017

Bisikan siapakah yang menggema di lembah hati ini

Menyebut namamu ketika aku terlupa

Cinta siapakah yang tiada rela

Bila wajah sang kekasih berpaling barang sekali napas dihela

Semua yang hidup menyanyikan senandung cinta yang perih sepeninggalmu

Seperti juga angin yang tak tenang di tanjung ini

Mengapa air mata ruhani menetes

Untuk suatu bait yang paling duniawi

Tentang kerinduan ombak kepada engkau

Psikologi perjalanan dari iman kepada taqwa

Di dalam Al Qur’an, terdapat sebuah ayat yang sekali anda membacanya, maka anda tak dapat memalingkan diri anda daripadanya, sebuah ayat yang akan membayangi anda selamanya. Ayat itu berbunyi, Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik (QS al-Hadid [57]: 16). Dengan susah payah dan segala perasaan tak mampu, saya akan berusaha menggambarkan hubungan saya dengan ayat ini.

Jadi, marilah kita mulai dengan mengakui sesuatu yang tak mungkin bisa diingkari karena merupakan sebuah hak yang nyata, bahkan kalaupun kita tidak memiliki emosi, sentiment dan keberpihakan apapun kepada Allah: sungguh, Allah Maha Suci dan amat jauh dari membutuhkan pengakuan siapapun akan semua sifatNya yang agung. Hakikat atas Dzat, Asma dan SifatNya adalah mandiri dan mutlak sehingga tidak membutuhkan hubungan dengan hal apapun supaya bisa menjadi nyata.Keagungan Allah adalah berdiri sendiri, mandiri, tidak memiliki sebab dan faktor yang mendahuluinya atau menjadi prasyaratnya. Dengan demikian, semua pengakuan dan kesimpulan rasional yang mengafirmasi kebenaran ayat-ayat Allah yang sifatnya netral secara a-posteriori serta tak berpihak, ataupun kecondongan atau favoritisme yang dimiliki oleh seseorang untuk membenarkan kalam-kalam (perkataan, ayat) Allah secara a-priori, sifatnya adalah tak perlu dan tak berarti dalam menambahkan, mengurangi, mewujudkan atau menihilkan kebenaran ayat-ayat Allah.

Hal ini harus diingat demi memahami bahwa tidak ada glorifikasi atas ayat-ayat Allah atau bahwa ayat-ayat Allah tidak bisa dipercantik oleh argumentasi yang lebih canggih ataupun kurang canggih.Di dalam kemandiriannya yang sempurna, ayat-ayat Allah selalu benar dan tidak membutuhkan semua bentuk promosi atasnya. Dengan demikian, jika dalam tulisan ini terdapat kesan upaya untuk mengglorifikasi dan dramatisasi secara emosional pesan-pesan agama tertentu, sungguh hal itu tidak dibutuhkan sekalipun mungkin tidak terhindarkan (karena emosi manusia dapat tersentuh dan tergerak).Sebaliknya, jika tiada kesan glorifikasi, bukan berarti tulisan ini dijajah oleh mentalitas untuk menunjukkan ciri-ciri yang remeh dari netralitas belaka dan tak acuh.

Jika orang bertanya mengapa manusia beriman, maka baik di dalam ajaran Islam maupun sebagai hasil penyelidikan berdasarkan penggunaan akal rasional, jawabannya adalah karena secara intrapersonal, manusia diciptakan dengan potensi untuk beriman dan potensi itu condong untuk menjadi actual, serta secara ekstrapersonal, lingkungan hidup manusia, yaitu alam objek-objek ini, mengandung pertanda akan Allah. Untuk menguraikan bagaimana manusia itu beriman secara intra dan ekstrapersonal, maka tradisi pemikiran Islam, klasik dan modern, sudah menyediakan sebukit literature untuk kita dan bukan untuk menjelaskan hal itu tulisan sederhana dan terlalu ringkas ini ditujukan. Tulisan ini ditujukan untuk melakukan percobaan generalisasi atas penyelidikan terhadap pengalaman subjektif penulisnya tentang proses psikologis dari beriman kepada bertaqwa.

Ayat yang telah dikutip di atas, secara persuasif mengandung retorika yang sifatnya membayangi dan melekat, sebuah sindiran yang menyasar langsung kepada jantung keimanan,di mana dia berbunyi, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)”.Mengapa hal ini menyasar langsung kepada jantung keimanan? Karena keimanan sudah mengandung pengakuan akan keharusan untuk bertaqwa bagi orang beriman. Iman sudah mencakup di dalam dirinya sendiri suatu pemahaman akan konsekuensi untuk bertaqwa setelah beriman, atau untuk setia setelah mencintai, atau untuk bertindak penuh tanggung jawab setelah mengakui, atau untuk merasakan rasa nyaman setelah bertindak benar dan merasakan rasa gelisah setelah bertindak salah. Iman, dengan demikian, selalu membayangi dan mengikuti pemiliknya dengan tuntutan moral mendasar untuk berlaku seturut dengan nilai-nilai keimanan itu, yang disebut bertaqwa.Iman, sebagai suatu tatanan nilai yang abstrak, mengimplikasikan tuntutan moral (bahkan eksistensial) dalam hal tatanan perilaku yang konkret, yang disebut taqwa. Integritas (kebersatuan) ini, di mana iman dan taqwa menyusun kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, adalah kebutuhan moral, bahkan eksistensial, yang mengancam pengkhianat atas integritas tersebut suatu penderitaan moral, bahkan eksistensial.

Jika keimanan, pengakuan yang tak teringkari dan sangat fundamental akan sesuatu menuntut pemiliknya untuk mengembangkan suatu tatanan perilaku (taqwa) maka tidak ada suatu kalimat yang paling menjanjikan rasa sakit dan penderitaan moral-eksistensial selain, Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Kalimat tersebut dirancang untuk tidak bisa dijawab dengan cara yang tidak dimaui oleh pengungkapnya, kecuali dengan disertai oleh efek penderitaan moral-eksistensial. Kalimat ini mengandung sejumlah dimensi, yang masing-masing dimensinya memiliki sifatnya sendiri dalam memberikan efek penderitaan moral-eksistensial bagi mereka yang merupakan objek dari sindiran itu.

DIMENSI DISKREPANSI

Di dalam Islam dan di dalam proses psikologis manusia, terdapat suatu system mendasar yang mengharuskan afirmasi/ pengakuan atas suatu nilai kebenaran tertentu memenuhi perilaku-perilaku, preferensi-preferensi, tindakan-tindakan tertentu yang dianggap sebagai ‘aktualisasi’ (penerjemahan kedalam perilaku sosial/ konkret) atas afirmasi tersebut. Jika nilai kebenaran yang dimaksud termasuk kedalam kategori nilai fundamental, maka tuntutan moral untuk memenuhi perilaku, preferensi, tindakan tertentu juga fundamental sifatnya.Nilai fundamental diantaranya adalah keadilan vs kezhaliman, kejujuran vs kebohongan, hak vs bukan hak, tanggung jawab vs penelantaran atau cinta vs benci.Nilai yang kurang fundamental mencakup apapun yang dapat dikategorikan sebagai nilai turunan/ perincian dari nilai fundamental seperti tidak korupsi, tidak memanipulasi, nilai penghormatan kepada mereka yang lebih tua, kesetaraan dan lain-lain.

Diskrepansi adalah adanya kesenjangan antara keharusan abstrak dan kenyataan material, tidak hanya dalam konteks moral, tetapi juga dalam logika dan ilmu pengetahuan, dimana kesimpulan teoritis semakin tak mapan karena selalu dikikis validitasnya oleh gejala-gejala yang baru dan belum pernah diperhitungkan. Dalam konteks moral, diskrepansi dimaksudkan sebagai tidak mampunya seorang manusia lepas dari deraan penderitaan moral-eksistensial karena tidak memiliki jawaban yang sah mengapa dirinya tidak berlaku sesuai dengan moralitasnya sendiri.Ketidakmampuan ini juga adalah ketidakmampuan untuk menciptakan integritas (kebersatuan) antara afirmasi moral dengan aktualisasinya ke dalam perilaku.Mengapa disebut ‘diskrepansi’ menciptakan integritas moral ketimbang ‘kegagalan’ menciptakan integritas moral?

Jika kita menggunakan istilah ‘kegagalan’ seseorang dalam menegakkan perilaku konkret seturut dengan afirmasinya atas nilai kebenaran tertentu, maka kita telah salah dalam memahami ‘upaya’ orang tersebut.Dengan istilah ‘upaya’, kita memahami bahwa ada upaya yang berhasil dan gagal, ada upaya yang berbuah dan tidak.Kegagalan dalam sebuah upaya sesungguhnya lebih berorientasi kekalahan dalam mengatasi kendala eksternal, dimana sebagai contoh, seorang pembalap gagal mencapai podium karena gagal lebih cepat dari pembalap di depannya.Penggunaan istilah ‘gagal’ menyaratkan adanya kompetisi, tantangan eksternal, peluang, keberuntungan dan perbandingan antara potensi-potensi dan performa-performa kompetitor.

Dalam perwujudan integritas moral, diskrepansilah yang terjadi ketimbang kegagalan, karena pada dasarnya tidak ada alasan yang dapat diterima oleh diri sendiri tentang mengapa kita menerima suatu nilai kebenaran dan tidak memenuhi tuntutan untuk menjalankan perilaku tertentu yang seturut dengan kebenaran itu.Diskrepansi menunjukkan adanya anomali dan ketaklaziman, mengharuskan adanya koreksi di antara dua unsur: entah abstraksinya atau aktualisasinya. Pengertian ini memberikan pemahaman penting tentang efek dimensi diskrepansi dari ayat Allah tersebut: tidak ada yang bisa dibenarkan dari terjadinya diskrepansi antara iman dan taqwa sehingga terjaminlah suatu penderitaan moral-eksistensial.

DIMENSI TEMPORAL

Ayat tersebut dimulai dengan frasa “belum datangkah waktunya…” Dengan mudah, tersurat adanya pengertian temporal/ waktu (“saatnya”).Merenungkan dan berusaha untuk sampai kepada jantung maksud dari bagian ini, adalah sangat lazim jika kita bertanya-tanya, “memangnya kapan waktunya?”

Efek dari bagian ini ternyata amat praktikal dan eksperimental. Waktu, masa, saat mengacu kepada suatu perjalanan dimensional dalam dunia manusia, yaitu dimensi proses atau dimensi keempat setelah ketiga dimensi ruang. Ini adalah makna universalnya. Dalam kalimat dan wacana apapun, jika salah satu kata tersebut dilibatkan tanpa konteks, maka harus dipahami bahwa maknanya universal, yaitu sebagai perjalanan waktu atau proses biologi-kimiawi-fisika sejak terciptanya alam semesta hingga ujung dari prosesnya. Jadi, adakah konteks temporal dari ayat tersebut?

Jawabannya adalah ada dan tiada, karena argumentasi pendukungnya tampaknya sama kuat. Dalam asumsi bahwa ada konteks, maka konteksnya adalah “masa yang tepat untuk mulai bertaqwa.” Dan kapankah masanya? Masanya adalah didalam, tak mungkin diluar, lingkup masa hidup seseorang.Artinya, konsep yang dimasukkan secara implisit disini adalah kematian. Dengan asumsi bahwa terdapat konteks temporal dalam ayat tersebut, maka ujung temporal dari tempo hidup manusia (kematian) adalah apa yang coba diingatkan.Jika kematian sudah diingatkan, maka habis perkara dan tutup perdebatan. Ayat tersebut, dalam perspektif temporalnya yang mengingatkan akan kefanaan umur hidup manusia di dunia ini, tidak lain ingin mengatakan bahwa waktunya sudah datang, yaitu sejak manusia memahami bahwa dirinya dapat mati kapanpun dan bahwa waktu kematian bukannya semakin menjauh.

Jika diasumsikan bahwa tiada konteks temporal dalam ayat tersebut, maka keadaannya adalah bahwa Allah berkata, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)” sebagai pengingat manusia akan suatu perkataan yang sering dikatakannya sendiri, “belumkah datang hidayah Allah kepadaku?”Dengan demikian, artinya Allah berfirman, “belumkah datang hidayahKu kepadamu?”Jawabannya adalah, bahkan ayat tersebut adalah hidayah.

DIMENSI EKSISTENSIAL

Frasa yang telanjur masyhur, “to be or not to be” sering dikutip dengan merujuk kepada karya sastrawan Inggris abad XVII, William Shakespeare dalam karyanya, Hamlet. Maksud dari ungkapan itu (“ada atau tiada”) menunjukkan suatu dilemma.Dilemma itu adalah dilemma sangat dahsyat dimana seseorang tidak sedang memilih antara pakai baju merah atau biru, jalan-jalan ke Jepang atau Australia, makan gado-gado atau ketoprak.Dilemma itu adalah dilemma eksistensial (sesuatu yang bersifat memberikan arti bagi keberadaan kita yang telanjur ada ini) dimana seseorang memilih ada (to be) atau tiada (not to be).Ini adalah ungkapan klasik tentang contoh dilemma eksistensial.

Mari kita ambil sebuah contoh sederhana.Ada seseorang yang sangat yakin bahwa dirinya adalah seorang penyanyi yang istimewa.Jika ada hal-hal yang paling diyakininya di dunia ini, maka salah satunya adalah potensi hebatnya sebagai penyanyi. Dia telah selama bertahun-tahun berusaha untuk memetakan potensi menyanyinya di dalam peta pemeringkatan penyanyi-peyanyi hebat nan terkenal. Setelah memetakannya selama bertahun-tahun dengan cermat, skeptis, netral, objektif dengan metode yang tepat, maka dia tidak bisa mengelak lagi dari kesimpulan bahwa dirinya sesungguhnya memiliki bakat menyanyi yang luar bisaa dan layak untuk menampilkannya kepada public, berkarir di bidang itu dan mendapatkan penghargaan sepantasnya. Namun, setelah lama waktu berlalu, Ia tak kunjung percaya diri atau merasa telah menemukan momen yang tepat untuk menunjukkan kemampuannya.

Suatu kali, dada orang tadi berdegup kencang karena percampuran antara perasaan bersemangat, antusias, khawatir, ragu, penuh harap, takut akan resiko ketika Ia melihat peluang untuk mendaftar pada ajang pencarian bakat menyanyi yang bergengsi. Dalam momentum tersebut, tokoh kita ini berada dalam dilemma eksistensial dimana potensi menyanyinya yang dahsyat berada dalam momentum penentuan entah untuk “menjadi” (to be) sehingga public akan pada akhirnya mengetahui mutiara indah yang terpendam dalam dirinya selama ini, atau justru “tidak menjadi” (not to be) dimana mimpi buruk terbesarnya selama ini dapat menjadi kenyataan dengan akan terpendamnya untuk selamanya mutiara talenta yang sangat besar itu. Ini adalah ilustrasi dari dilemma eksistensial, “to be or not tobe”.

Iman adalah sesuatu yang sangat abstrak sekalipun sangat dahsyat, yang terpendam didalam diri kita selama ini.Dalam kasus dimana seorang yang beriman itu tidak atau tidak cukup bertaqwa (padahal sesungguhnya setiap orang beriman selamanya akan merasakan kurangnya ketaqwaannya kepada Allah) dia seringkali berjumpa dengan momen dilemma eksistensial, termasuk ketika jantung keimanannya diguncangkan oleh pertanyaan Allah dalam ayat tadi, dimana pada saat semacam itu dia ditekan oleh dirinya sendiri dengan sangat kuat untuk menjadikan, mewujudkan, memberikan wujud, memberikan bukti, mencptakan integritas dari imannya dengan melaksanakan taqwa atau… “not to be”, ketika iman yang selama ini terpendam dalam diri tidak mencapai realisasinya.

Tidak tercapainya realisasi membuat dilemma eksistensial tersebut berakhir dalam kehampaan makna hidup (eksistensial) dan penderitaan yang tidak remeh karena tidak saja iman tersebut berhenti pada kesimpulan bahwa Ia tak teralisasi, namun Ia bahkan dirasa taka da (not to be). Ini terjadi karena fungsi dari realisasi (to be) dari iman kepada taqwa yang melewati dilemma eksistensial itu tidak sekadar memberikan bukti sosial kepada public atau orang lain, melainkan memberikan bukti kepada diri sendiri—yang tak akan puas (ridha) jika tak melihat adanya realisasi yang memberikan keridhaan eksistensial pada hidupnya.

KESIMPULAN

Dimensi psikologis dalam perjalanan seorang manusia dari iman kepada taqwa adalah perjalanan mengatasi diskrepansi, mempertimbangkan kematian sebagai pertimbangan bagi setiap pengambilan keputusan dan perjalanan meralisasikan arti eksistensial dari hidupnya.Jika ada iman dan taqwa tidak teralisasi, maka iman adalah suatu faktor penderitaan eksistensial. Sementara iman sendiri dianggap sebagai fitrah manusia, atau kondisi yang dengan kondisi itu manusia dirancangciptakan, maka dengan sendirinya, manusia yang beriman karena dirancang untuk beriman namun tidak bertaqwa, tidak akan mencapai realisasi dari iman itu dan dibebani oleh krisis eksistensial, dilemma moral.

Iman sendiri tidak dapat dinihilkan sejauh manusia masih diliputi kebimbangan dengan semua argumentasi yang bermaksud untuk menjelaskan kemungkinan adanya kenyataan tanpa Tuhan.Dengan demikian, terkikisnya iman menunjukkan terkikisnya fitrah, namun melemahkan tuntutan eksistensial untuk merealisasi taqwa (yang jika tidak teralisasi, maka terciptalah krisis eksistensial).Jadi, pilihannya adalah memiliki iman yang redup namun kurang merasakan krisis eksistensial dari tidak tercapainya taqwa, atau memiliki iman yang terang dan kuat, yang mengadakan tuntutan berkesinambungan untuk mencapai integritas antara iman dan taqwa.Dalam perspektif fitrah (kondisi semulajadi manusia) maka iman adalah kemestian karena manusia diciptakan dengan fitrah itu, sekalipun hal tersebut dapat menjadi kurang vital dalam kasus-kasus pribadi tertentu.

Di sisi lain, taqwa sepenuhnya adalah pilihan, usaha dan kesengajaan. Proses, perjalanan dan perjuangan menyempitkan kesenjangan diantara iman dan taqwa dengan demikian adalah ‘peta-jalan’ (roadmap) kehidupan manusia atau bahwa manusia memang dimaksudkan untuk mengarungi perjalanan itu: semulajadi manusia menuntut manusia itu untuk merealisasikan taqwa, namun manusia bisa memilih untuk memenuhinya atau tidak, mencapai realisasi eksistensial atau krisis eksistensial.

30112016

Untuk menggambarkan bagaimana hamba merindukan Tuan,

Masukkanlah burung cinta ke dalam sangkar besi

Kemudian tataplah langit terik di sore hari yang berangin

Harum rerumputan menyemilirkan hasrat bermain

Di mana Tuan tergoda untuk singgah sejenak dalam kehidupan dunia

Ketika layang-layang putus turun ke padang rumput tempat Tuan pernah menggantungkan cita yang indah akan gadis itu,

Ingatlah akan senyumannya yang bersahaja

Tergurat secara aneh dan menyakitkan dalam kenangan tak terjangkau

Dalam pada itu, bebaskanlah sang burung cinta ke langit luas

Kepada apa Tuan berseru, “terbanglah sejauh-jauhnya, tebus citaku!”

Padahal langit tiada berujung

Tetap bukalah pintu sangkar, apakah dia akan kembali?

19102016

Di sebuah kota yang mungkin hanya pernah mengenal kedamaian

di jantung Jawa Timur yang entah mengapa tiba-tiba begitu mengesankan

Duniapun perlahan-lahan akan memudar pula

ditelan kepekatan malam

Perkenalan-perkenalan akan terlupakan setelah penghabisan hari ini

Ketika ini senandung keperihan seorang biduan panggung

mengalun pelan dari kejauhan

bersama dengan irama dangdut vulgar yang tidak bisa disebut murahan

semata-mata karena dia berbicara tentang pandangan vulgar orang biasa tentang cinta

Mega-mega jingga di langit menjadi kenangan terakhir

dari siang yang riang

Ingin kusampaikan teriakan kehilangan seorang anak yang malang

Tetapi suatu ketakutan menghentikanku

Apakah yang sesungguhnya pernah kumiliki… ?

Apakah cintamu… ?

Apakah cintamu, kasih… ?

Dan apakah artinya itu bagi dunia ini….. ?

23 September 2015

Mudah kujanjikan kepadamu, kekasih, bahwa wajahmu akan kujaga selamanya
Dalam hatiku yang terbakar oleh apinya
Akan tetapi seringkali
Selagi dengan lembut kukecup bibirmu
Kurasakan di antara kelembutan dan kemesraannya
Sebuah janji yang pasti
Yang menyakiti kita
Dan yang perlahan-lahan menjadikan kita layu
Hingga seolah tak dapat lagi kita melanjutkan sebuah permainan bernama hidup
Yang sungguh amat letih dan rapuh
Satu-satunya janji kehidupan adalah kefanaan
Betapa besarnya perayaan, tetapi betapa kecilnya apa yang dirayakan
Kadangkala, ketika pesan-pesan ini menggeledek, mengguntur ke dalam jiwaku,
Sembari berharap dapat menjadi seorang yang arif,
Ke dalam kesunyian, di mana keabadian barangkali bersemayam,
Kuasingkan diriku
Bahkan dari kemesraan ciumanmu, kekasih
Bahkan dari kemesraan dekapanmu

Walaupun Semiskin Kunang-kunang

Malam sedang berkemas-kemas, sementara pagi belum lagi datang. Jalan-jalan besar dan pusat-pusat keramaian malam hari di ibukota negara yang sedang bergeliat tak tentu arah ini, pada waktu itu, telah menjadi begitu sepi, ditinggalkan, seolah-olah mengalami keruntuhan dari masa-masa jayanya yang masih lekat di ingatan karena belum lama berselang. Tempat-tempat itu segera menjadi begitu murung, seolah larut di dalam pikirannya masing-masing, tersedu-sedan demi meyadari bahwa sesungguhnya mereka tidaklah sehebat, semegah, sebrilian itu. Mereka tersadar bahwa tidak peduli terkesan sehebat apapun mereka, tetapi mereka tak ubahnya seperti pramuria yang glamour, bertarif setengah miliar, beredar di antara tokoh-tokoh hebat dari kalangan atas, kadangkala sangat-sangat diinginkan, tetapi, selepas itu, tak pernah ada yang pulang kepadanya. Dia dipuja-puja, orang melaksanakan ekspektasinya kepada mereka, lalu, setelah semuanya selesai, mereka ditinggalkan sendiri, murung, jauh dari citra setengah miliarnya dan tersadar, apa arti semua ini, ketika tidak ada yang pulang kepadaku? Ini sama halnya dengan situs-situs pembangunan yang hebat itu. Lima puluh miliar dihabiskan dalam satu malam di tempat itu. Pada awalnya, pengunjungnya seolah rela meninggalkan rumah-rumah mereka di waktu-waktu yang tak pantas untuk bepergian, hanya untuk menemui tempat-tempat itu yang lebih menggiurkan. Tempat-tempat itupun menjadi bangga, lihat siapa saja penghuniku, katanya. Orang-orang hebat tolol berkumpul di situ, sedemikian rupa sehingga seandainya mereka dapat bersepakat untuk mengambil-alih dunia, tentu mereka dapat mewujudkannya. Dan betapa mengagumkannya pula, begitu banyak orang-orang semacam itu berkumpul hanya di satu tempat yang cemerlang itu. Tetapi, belum sempat tawa itu dinikmati sampai puas, sekonyong-konyong orang-orang gila itu menjadi waras, teringat bahwa mereka sudah mulai butuh pulang, ke rumah mereka yang sebenarnya, tempat di mana terdapat bermacam-macam hal yang biasa sekali dan membosankan–rice-cooker, oven, tempat tidur dan lemari buku–, sama sekali bukan tempat yang spektakuler seperti tempat itu. Secepat kejayaan diraih oleh tempat itu, secepat itu pula Ia lenyap, nisbi, tak berbekas, tak bisa dianggap berarti. Ketika diingatkan tentang hal ini, yang selalu mereka ingkari, tiba-tiba saja mereka menjadi mual…dan pada akhirnya semua orang, tanpa kecuali, muntah. Wajah-wajah pias yang baru saja muntah amatlah mengibakan. Seorang lelaki, seolah-olah sosok diriku sendiri, menengok ke arah bak sampah besar di mana terdapat seekor kucing sedang menikmati makanannya. Bahkan kucing miskin itu tampak lebih gagah dan angkuh di matanya, ketimbang wajah-wajah itu. Tempat-tempat hebat itupun mengutuk dirinya sendiri karena telah ditakdirkan untuk terperangkap di dalam tubuh bisu yang saban malamnya mengalami kejayaan, sekaligus kejatuhan, nelangsa ibarat seorang lelaki yang patah hati, karena tak ada seorangpun yang berpulang kepadanya.

Aku sendiri tak pernah mengunjungi tempat itu. Tetapi, pada waktu itu, ketika di persinggungan hari itu aku mendusin di kamar sewaku, aku merasa, entah bagaimana, seolah-olah aku baru pulang dari tempat semacam itu. Baru dua setengah jam aku tertidur, padahal tadinya aku merasa lelah sekali. Aku terbangun dengan amat tiba-tiba, sehingga tak sempat merasakan peralihan dari bermalas-malasan hingga siap untuk bangkit, tak ubahnya seperti orang yang bangun kaget dari sebuah mimpi buruk. Bedanya, aku tak berkeringat sama sekali. Kulirik jam tanganku, langsung kutahu bahwa malam dan pagi sedang saling menunggu. Malam sudah amat bosan, sehingga Ia berharap pagi datang lebih cepat, sementara pagi sedang mencari-cari alasan untuk mangkir. Sungguh keadaan yang sepi. Dunia seolah tak bertuan, seperti sepasukan tentara yang kehilangan komando dan tak tahu harus bagaimana. Gamang. Bingung. Ketika aku bangkit, aku berpikir untuk menyalakan lampu, tetapi sesuatu yang emosional dan tidak jelas menghalangiku. Akhirnya, kubangkit dalam cahaya temaram. Kubuka kunci pintu kamar dan kudengar suara kunci membuka, ‘klek’. Tiba-tiba aku mendapat firasat bagus yang berasal dari menariknya bunyi kunci itu membuka. Dari semua suara yang dimungkinkan, mengapa harus, ‘klek’? Oh, indahnya, sungguh suara yang paling memesona bagi suatu kunci untuk membuka! Suara itu adalah seorang gadis kecil di dini hari, membuka kulkas dan melahap entah cokelat, strawberry atau pudding vanilla yang bukan jatahnya, lalu dengan langkah-langkah kucing berusaha kembali ke kamarnya, menyusuri bagian–bagian rumah dengan hati-hati, dengan kesunyian mutlak di latar belakangnya. Suara yang nyata dan kesunyian saling bercampur, sehingga menghasilkan ketidaktentuan di dalam perasaan manusia. Setelahnya, kususuri koridor sempit untuk membuka pintu beranda di lantai tiga ini. Aku berdiri di beranda itu, membiarkan diriku ditampar-tampar oleh angin dini hari yang penuh semangat, tetapi di wajahku itu semua terasa sebagai pengganti sebuah belaian dari sang kekasih, yang pada waktu itu tak mungkin didapatkan oleh seorang lelaki setengah sebatang kara di kota besar. Tiba-tiba aku jatuh cinta kepada saat itu. Tiba-tiba aku menyukai fakta bahwa aku adalah satu-satunya orang yang masih bangun dari semua penghuni bangunan empat lantai ini. Aku sendirian di beranda itu, begitu bebas memikirkan dan melakukan apapun yang kuinginkan. Agak jauh di sudut sana, dengan menyempil, aku diam-diam menyaksikan diriku melakukan berbagai hal kecil untuk menikmati dunia pada dini hari, tanpa kusadari. Akupun menjadi larut ke dalam intipan diam-diamku terhadap hal-hal kecil yang memesona yang kulakukan di beranda sana. Tiba-tiba aku teringat kepada novel Irving Krachmar, seorang Muslim dari bangsa Yahudi, tepatnya bagaimana dia menggambarkan seekor kunang-kunang mencari Tuhannya. Dia terbang dari satu lentera ke lentera lain, hingga mencapai bulan–lentera terbesar–sambil mengobral kata-katanya yang amat cerewet, ‘Tuhan, Tuhan, apakah dirimu di sana? Kunang-kunang mencarimu sejak sore dan membawakan untukmu Lemon Tea’. Akupun juga jadi ingin minum Lemon Tea bersama Tuhan, sambil pada akhirnya menceritakan semua hal paling sejati yang selama ini kusimpan. Ketika kunang-kunang sudah sampai bulan, Lemon Teanya sudah tak terlalu dingin. Ternyata itu adalah Ice Lemon Tea! (Soal Lemon Tea, lentera dan bulan ini datang dari interpretasiku saja, tetapi terinspirasi dari novel Irving Krachmar dan ilustrasi, verbal maupun visual, di dalamnya)

Karena sebab-sebab itu dan yang lainnya, air mata mengembang di bendungan mataku, seperti akan segera menjebolnya. Ke dalam jiwaku yang kerdil dan rapuh, berjatuhan berbagai hal secara berkelimpahan, sehingga tak sanggup aku menanggungnya. Aku cukup sulit untuk menangis, padahal harusnya aku adalah orang yang cukup peka. Ini, sebagiannya, disebabkan karena paradoks-paradoks di dalam diriku, sebagaimana pada diri semua orang, karena sekalipun aku adalah orang yang peka, aku juga agak menyukai perkelahian. Setidaknya, ide tentang berkelahi dengan orang yang cocok untuk dilawan, membakar suatu bagian dari jiwaku. Daftar mengenai perkawinan-perkawinan yang paradoksal ini, di dalam diriku, bisa amat diperpanjang, tetapi cukuplah digambarkan bahwa bagian yang keras dari jiwaku telah ditempa menjadi sebuah pedang tajam, sedangkan bagian yang lembut sudah diolah menjadi kue Muffin dengan kismis yang, tidak perlu dikatakan lagi, sudah ditakdirkan untuk menjadi begitu lezat. Oleh karena itu, perkiraanku tidak meleset. Air mata itu hanya mengembang saja, dan urung menganak-sungai dengan dramatis, nangis bombay, melintasi padang-padang di pipiku. Akan tetapi, hatiku tetap saja menangis, sehingga dia disuburkan olehnya. Aku kembali memerhatikan keadaan dunia manusia.

Kini aku sudah terbangun, bahkan hatiku sudah lebih terbangun lagi. Tetapi, sejam yang lalu, mana kutahu apa yang terjadi? Bulan purnama, lampu-lampu kota entah mengapa menjadi lebih temaram sehingga bintang-bintang–yakni gadis-gadis zaman dahulu yang memandang pingitan adalah takdir mutlak yang manis dari para gadis–menjadi sedikit tidak sopan untuk berani menampakkan dirinya. Tidak satu atau dua, tetapi lebih dari selusin. Pemandangan dan suasana lebih daripada sekadar apa yang terlihat, melainkan juga yang terdengar. Dan bahkan, sangat kurasakan sekali bahwa suasana tidak hanya meliputi apa yang tampak seperti bulan yang indah, melainkan juga apa yang tidak tampak, misalnya kompatriot-kompatriotku di rumah kos-kosan empat lantai ini, yang ketidakhadirannya jutru ialah bentuk kontribusi mereka terhadap suasana intim yang tercipta. Andai saja mereka hadir sesuai dengan protokol resmi mereka, yakni mengenakan kaos kutang bolong, celana pendek, sendal jepit buluk pusaka keluarga turun-temurun, gitaran, suara false berebutan menyanyi dan merokok, maka tentu darah akan terdorong deras ke ujung pembuluh, menciptakan rasa amat sebal di hati, yang mau tidak mau, sungguh, secara harfiah, hanya bisa diterjemahkan dengan senyum sangat lebar dan tutur kata lemah lembut. Akan tetapi, mereka dengan cerdasnya tidak hadir dan akupun mulai berpikir tentang ‘yang tidak ada’. Betapa sama sekali tidak remehnya kenyataan ini: betapa banyaknya pemandangan hebat yang terjadi ketika semua orang tidur atau lengah, maka apakah kita dapat membayangkan, dapat meng-kognisi, dapat meng-komprehensi, realitas pada saat-saat semacam itu? Kebesaran, kemegahan, keagungan muncul, tetapi semua orang sedang tidur atau lengah. Pikiran tololku hanya dapat bertanya-tanya, ‘untuk apa kalau begitu?’ Apa yang terjadi di dasar palung Mariana di Pasifik, atau sebuah Supercluster berjarak jutaan tahun cahaya dari bumi, siapa yang menyaksikan? Untuk apa semua drama ini ditayangkan dengan amat teratur episode demi episodenya, tanpa satupun penonton? Masih bisakah orang tidur setelah menyadari hal ini? Semua hal itu, percaya atau tidak, di dalam kerahasiaannya yang tidak akan pernah terbongkar, senantiasa terjadi. Kita tidak akan pernah mengetahuinya, tetapi hal-hal itu tetap ada. Serangga-serangga kolonial yang tidak akan pernah ditemukan keberadaannya, selama beberapa juta tahun terakhir ini tetap setia menjalankan semua kegiatan di dalam masyarakat mereka yang rumit dan tertib. Sementara itu, bintang yang sepuluh milyar tahun yang lalu masih merupakan bintang muda, kini sudah mulai berwarna oranye tua, dan akan segera meledak, dan tak satu orangpun akan pernah mengetahui kisahnya–kisah cintanya mungkin? Sementara itu, suatu kaum yang memiliki akal sangat tinggi, barangkali setinggi kaum kita sendiri, menjalani kehidupannya di semesta yang tidak terjangkau, tidak mengetahui apa-apa tentang sejarah anak-anak Adam. Segala sesuatunya tetap berjalan dengan teratur dalam kesunyian, dan untuk apa? Oh, kekasih, untuk apa? Untuk siapa kamu terus berjalan dengan cara jalanmu yang konyol itu, wahai semut kekasihku?

Untuk beberapa lama, kuterima dengan amat terbuka semua tawaran dari beranda itu, akses yang diberikannya kepada pemandangan agung di pelupuk mataku, dan pemandangan lain yang lebih agung di baliknya, dan dibaliknya lagi dan seterusnya. Tidak ada yang coba kusia-siakan, tidak ada yang coba kupercepat dan tidak ada yang kulakukan penuh kegusaran dan ketidaksabaran. Aku sabar dalam menyimak apapun yang mau dikatakan oleh beranda itu, yakni apa yang dengan perasaan meluap-luap dan membuncah-buncah sudah diketahuinya selagi aku masih tidur lelap di kamar ujung, kemudian Ia sendiri yang membangunkanku agar aku bisa mendapatkan kelimpahan dari hikmah kebijaksanaannya yang lebih cerdas daripadaku sendiri. Kudengar semua yang mau disabdakan guru hingga Ia selesai semuanya, tammah. Kemudian, seperti seorang amatir yang paling payah, kuambil air wudhu dan lalu sholat. Sungguh-sungguh aku merasa kesulitan dan kepayahan dalam melakukan setiap bagian dari prosedur-prosedur perilaku yang harusnya amat sederhana itu. Aku wudhu dan wudhu lagi, membasuh wajah dan membasuh lagi. Selalu ada yang terasa tak benar, tetapi tak sungguh terbayang di dalam abstraksiku apa itu. Apa yang dapat kuterjemahkan hanya sebersit perasaan terpisah dari diriku sendiri, terpecah-belah, centang-perenang, ketidaktentuan, keputusasaan, seolah-olah tubuhku berubah menjadi zat gas yang tak solid dan masing-masing bagiannya mengarah ke arah yang berbeda-beda semau-maunya, sehingga aku menjadi takut akan kehilangan diriku. Tetapi, di saat bersamaan, memperumit keadaan, terdapat pula optimisme, harapan, kepercayaan atas kemampuan, penerimaan atas janji yang hebat dan semangat yang tak terkendali. Selalu ada yang hanya dapat secara kabur digambarkan sebagai ‘retak’ dari takbiratul ihram, bacaan al fatihah, ruku’, i’tidal dan sujud. Selalu ada beberapa orang yang sholat, dan masing-masingnya mengarah kepada arah yang berbeda-beda. Lalu, siapakah aku di antara mereka semua, di manakah aku? Di sinilah aku menjadi tersadarkan dari ketololanku, di mana aku dibingungkan oleh kefanaanku sendiri ketika tengah menyembah Allah yang baqa’ (abadi). Ditempatkan diriku di sebuah jalan, di mana aku sama sekali tidak mengetahui seberapa jauh perjalanan untuk pergi, dan seberapa jauh perjalanan untuk kembali. Yang bisa kulakukan hanyalah tetap berjalan dan berharap yang terbaik, selagi aku sholat dalam malam yang sedang berkemas-kemas, sementara terbayang olehku kejemuan dari pagi hari, di mana semua urusan hanya berhubungan dengan manusia. Mengapa malam begitu cepat berlalu? Aku penasaran dengan kisah kunang-kunang itu.

Kejiwaan Komunikasi dalam Adzan

Jika pada suatu hari Jum’at siang manapun, menjelang matahari tepat di atas kepala, yakni waktu dzuhur, terdengar bunyi yang mengucapkan, ‘Allahu Akbar… Allahu Akbar…’ semua orang yang akan datang ke Masjid melihatnya sebagai pesan dari dua hal.

Yang pertama, ketika pernyataan itu dilihat sebagai sebuah pernyataan yang membutuhkan konfirmasi, alias sebagai ‘proposisi’, pernyataan ‘Allahu Akbar’ akan dikonfirmasi sebagai valid atau sahih oleh setiap orang yang akan pergi ke Masjid. Orang hanya akan menyimpulkan keharusan untuk pergi ke Masjid sejauh dia sepakat akan kebesaran Allah yang diekspresikan oleh kalimat ‘Allahu Akbar’. Jadi, terlepas dari apakah pernyataan ‘Allahu Akbar’ diucapkan sebagai adzan yang berkumandang (yang dengan demikian akan membuatnya menjadi komunikasi massa) atau dinyatakan oleh seseorang sebagai komunikasi interpersonal, dia akan dikonfirmasi dengan ucapan ‘shadaqta’ (Anda, yang mengucapkannya, benar). Itulah alasan mengapa salah satu sunnah dalam soal adzan adalah agar orang yang mendengar adzan itu mengulangi lafadz adzan oleh dirinya sendiri. Itu adalah suatu bentuk afirmasi.

Pernyataan akan kebesaran Allah, dalam kasus adzan, hanyalah contoh yang dapat diwakilkan oleh setiap kalimat lain dalam lafadz adzan semisal ‘(asyahadu an) laa ilaaha illallah’ atau ‘(asyahadu anna) Muhammadan Rasulullah’. Setiap kalimat proposisi, yang berisi judgment, akan dikonfirmasi dengan ‘shadaqta’ oleh setiap orang yang akan pergi ke masjid. Selain menyetujui kebesaran Allah, setiap orang yang akan pergi ke masjid pada hari Jum’at pasti juga akan menyetujui status Allah sebagai Tuhan yang Esa dan Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan. Tidak mungkin ada orang yang bersikap negatif atau menolak proposisi-proposisi dari adzan atau bersikap netral terhadapnya, yang akan mampu menyimpulkan keharusannya untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Sikap afirmatif atau membenarkan gagasan-gagasan yang terkandung di dalam adzan akan membentuk integritas seseorang dalam melaksanakan sholat Jum’at, sebab Ia tidak hanya menampilkan perilaku orang sholat, melainkan juga sepakat dengan ide-ide yang membangun perilaku sholat.

Kedua, adzan sebagai suatu sarana, di dalam hukum Islam, bertujuan untuk menyerukan datangnya waktu sholat dan demi pasal yang kedua inilah, adzan perlu menyampaikan jawaban mengapa mendirikan sholat adalah sesuatu yang beralasan, sebagaimana yang dijelaskan di pasal pertama. Alasan-alasan tersebut diungkapkan ke dalam klaim-klaim kebesaran Allah, keesaan Allah, kerasulan Muhammad dan lain-lain. Di luar sebagai proposisi, aspek kedua tentang adzan adalah ajakan. Itulah mengapa di antara lafadz adzan, ada kalimat yang berbunyi ‘hayya ‘alal falah’ (marilah menuju kebahagiaan). Ketika adzan sebagai proposisi mendorong aktivitas mental untuk mengafirmasi pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, maka adzan sebagai ajakan akan memicu aktivitas behavioral (perilaku fisik).

Kedua fungsi dari adzan tersebut, yaitu fungsi yang merangsang aktifitas mental dan behavioral membuat adzan bukan hanya suatu tanda waktu, melainkan juga suatu promosi yang dilakukan terus-menerus sehingga setiap orang diingatkan akan alasan mereka melakukan sholat, tidak sekadar diingatkan akan kewajiban mereka. Artinya, adzan tidak hanya mengingatkan orang akan kewajibannya mendirikan sholat, melainkan juga mengingatkan orang mengapa mereka memilihnya menjadi kewajiban mereka. Adzan tidak hanya berisi tuntutan untuk melakukan sholat, melainkan juga merasionalisir sholat dalam taraf di mana manusia diingatkan akan kebebasannya dalam menerima atau menolak sholat. Tanpa berusaha untuk menundukkan dan menaklukkan syari’at Allah di bawah penghakiman rasional manusia, akan tetapi adzan, dengan demikian, adalah sesuatu yang mengomprehensi mentalitas seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah mereka akan sholat atau tidak. Orang yang menyimak adzan akan berpikir tidak hanya untuk mengingat kewajiban, melainkan juga mengapa itu menjadi wajib padahal syarat wajib pertama dari sholat adalah status sebagai seorang muslim. Mengapa orang menjadi seorang muslim ketika itu tidak wajib baginya?

Perilaku manusia, kecuali perilaku instingtual atau gerakan reflex, adalah sesuatu yang dilatarbelakangi oleh motivasi. ‘Motivasi’ adalah dorongan psikologis untuk melakukan sesuatu, tetapi tidak bersifat determinan. Artinya, motivasi akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang baik baginya, tetapi karena Ia tidak determinan, manusia tetap bisa mengabaikan motivasinya untuk melakukan sesuatu sehingga Ia dapat melewatkan kans untuk sukses, bahagia, sejahtera, selamat dan sebagainya. Motivasi berhubungan dengan kecenderungan manusia untuk melakukan hal-hal yang mendukung kehidupan, memperbaiki taraf kehidupan dan menjauhi kematian. Kekuatan lain yang mendorong perilaku manusia adalah instinctual drive, atau semacam dorongan primordial yang berada pada level bendawi dari diri manusia (self). Dalam istilah psikoanalisa, level ini disebut ‘Id’ yang merupakan kata Jerman untuk ‘It’, kata ganti pihak ketiga objek. Instinctual drive ini berguna untuk mengarahkan manusia secara prasadar kepada pola-pola tingkah laku yang dibutuhkan untuk mempertahankan pola umum makhluk hidup yang dalam dikotomi psikoanalisa meliputi sex dan agresi atau eros dan tanathos, serta pola-pola perilaku lain yang merupakan dorongan di tingkat spesies seperti makan, mencari keamanan dan berkembang-biak.

Ragam lain dari insting adalah reflex. Reflex adalah gerakan tidak sadar yang tercipta secara instant sebagai sistem makhluk hidup untuk menghindari bahaya. Oleh karena itu, insting seseorang atau seekor binatang akan secara natural dan nonintelektual meningkatkan kewaspadaan pada situasi-situasi yang tidak dikenal atau yang secara tipikal menyimpan potensi berbahaya seperti keadaan gelap. Kewaspadaan tersebut aktif sebelum suatu individu makhluk hidup mengenali secara sadar bahaya yang mereka hadapi. Insting yang meningkatkan kewaspadaan ditujukan sebagai antisipasi atas semua bentuk bahaya yang mungkin, yang bertentangan dengan insting untuk bertahan hidup. Ini juga berlaku ketika seseorang bisa melakukan gerakan menghindari sesuatu sebelum menggunakan pikiran rasionalnya dalam mengelola informasi tentang benda yang dihindari.

Sifat dari insting adalah mekanik, objektif dan otomatis. Insting adalah instant. Oleh karena itu, dalam khazanah bahasa Melayu, ada konotasi yang berbeda dari istilah ‘perilaku’ dan ‘tingkah laku’. ‘Tingkah laku’ adalah apa yang dirujuk secara akurat oleh istilah Inggris ‘behavior’ yang mencakup perilaku yang muncul sebagai aktualisasi insting. Tingkah laku adalah aktivitas yang empirik dan sensoris atau dapat diindera. Jadi, tingkah laku adalah aktivitas fisik atau material dari sesuatu, sekalipun hal itu adalah suatu benda mati yang tidak memiliki kehendak.

Di sisi lain, istilah ‘perilaku’ berhubungan dengan aktivitas yang sejalan dengan norma. Perilaku adalah kualitas khusus subjek yang memiliki kehendak dan dapat memilih. Pada istilah ‘perilaku’, terdapat syarat evaluasi. Perilaku tidak sekadar merupakan aktivitas fisik atau material yang terbukti setelah diinderai. Perilaku adalah hasil penginderaan mengenai adanya tingkah laku yang dinilai, dikomprehensi dan disimpulkan ke dalam peristilahan norma. Oleh karena itu, ketika seseorang berlari dengan cepat atau lambat, kualitas itu adalah tingkah laku. Tetapi, ketika seseorang berlari dengan cepat untuk menolong seorang korban kecelakaan, maka perilakunya digambarkan sebagai perilaku ‘peka’ dan ‘ringan tangan’. Perilaku adalah evaluasi atas tingkah laku.

Sholat adalah sebuah perilaku (peri=nilai/ norma) jika dilakukan dengan kesadaran terhadap kebenaran mengenai ide-ide yang menunjang dan menjadi alasan disyari’atkannya sholat—otherwise, dia adalah tingkah-laku. Di antara ide-ide itu adalah ‘Allahu Akbar’, ‘Laa Ilaaha Illallaah’, ‘Muhammadan Rasuulullaah’ dan ‘Hayya ‘Alal Falah’.

‘Allahu Akbar’ atau ekspresi atas kebesaran Allah mengungkapkan alasan mengapa penyembahan dilakukan. Kebesaran Allah adalah alasannya. Kebesaran, atau kemahabesaran Allah dalam taraf superlative menunjukkan bahwa jika ada yang pantas disembah oleh makhluq secerdas dan semulia manusia, mestilah Ia adalah sesuatu yang Akbar. Kemahabesaran Allah mengandung suatu logika ‘substansial’ alias ‘dzatiyyah’. Dalam lafadz ‘Allahu Akbar’, klaim kemahabesaran Allah mengandung ungkapan bahwa karena Allah Maha Besar, maka Allah pantas disembah. Jadi, hak atas penyembahan itu dinyatakan inheren di dalam dzat Allah. Eksistensi Allah sendiri sudah menyimpulkan adanya hak untuk disembah. Jadi, hak untuk disembah ada selama Allah ada. Padahal, di antara sifat-sifat wajib Allah, ada Wujud (Maha Ada) dan Baqa’ (Berada secara Abadi, tak berawal dan tak berakhir).

‘Laa Ilaaha Illallaah’ adalah ungkapan bagi eksklusifitas penyembahan itu. ‘Al Akbar’ atau yang Maha Besar adalah Tuhan (harfiah=Allah) dan prinsip ini menginduksikan suatu kesimpulan ketika ditambahkan dengan prinsip lain bahwa tiada Tuhan melainkan Tuhan. Artinya, hanya ada satu Tuhan. Artinya, hanya ada satu ‘Al Akbar’ dan penyembahan dalam sholat hanya ditujukan kepada satu pihak saja, yang Maha Esa. Makna lain dari ungkapan yang kedua ini adalah meningkatkan gengsi dari sholat. Dengan menjadikan hanya satu Tuhan yang Maha Esa yang disembah dalam sholat, adzan membangun gagasan bahwa sholat adalah sesuatu yang khas dan eksklusif, serta tidak mau mengompromikan standardnya dalam menyembah, melainkan hanya mematok Allah saja sebagai standard yang mutlak bagi tujuan penyembahan.

‘Muhammadan Rasuulullaah’ juga berisi ungkapan bagi eksklusifitas penyembahan itu. Status Muhammad sebagai utusan Tuhan yang menerima firman mengenai sholat serta tatacara pelaksanaannya tidak diserikatkan dengan semua Rasul-rasul yang lain, yang tak disebut dalam lafadz adzan. Tidak ada nama Rasul yang lain dalam ungkapan-ungkapan adzan, hanya Muhammad SAW saja. Ini menunjukkan eksklusifitas sholat dalam 2 perspektif:

Pertama, ‘sholat’ adalah istilah Arab bagi ‘do’a’ (yang juga istilah Arab). ‘Sholat’ cukup searti dengan istilah Inggris ‘prayer’, istilah Melayu ‘sembahyang’ dan istilah Persia ‘namaz’. Itulah mengapa Muslim Inggris dan AS terkadang mengganti kata ‘sholat’ dengan ‘prayer’, Muslim Indonesia dan Malaysia menggunakan kata ‘sembahyang’ dan Muslim Turki, Pakistan dan Afghanistan menggunakan kata ‘Namaz’. Jadi, sebagaimana istilah ‘Allah’ yang sekadar berarti ‘The God’ (Sang Tuhan), kata ‘sholat’-pun sebenarnya inklusif. Dia mencakup semua bentuk do’a dan upacara keagamaan. Kaum Kristen Koptik Mesir dan Maronit Lebanon yang merupakan bangsa Arab, menyebut upacara keagamaan mereka dengan ‘sholat’.  Kalimat ‘Muhammadan Rasuulullaah’ berusaha menegaskan eksklusifitas sholat ummat Muhammad di atas inklusifitas sholat dalam pengertian ini.

Kedua, Muhammad SAW bukanlah satu-satunya Nabi yang diminta untuk mendirikan sholat. Semua Nabi dan Rasul diberikan wahyu untuk mendirikan sholat. Nabi Muhammad sekadar satu-satunya Rasulullah yang menerima secara langsung perintah sholat ketika Ia mi’raj dari Masjidil Aqsha menuju ke Sidratul Muntaha. Kenyataan bahwa sholat bukanlah syari’at yang spesifik bagi Nabi Muhammad ditunjukkan oleh Hadits yang menggambarkan bahwa Nabi Muhammad mengimami sholat jama’ah para Nabi dan Rasul di Masjidil Aqsha sebelum mi’raj ke Sidratul Muntaha. Dalam Qur’an, para Nabi dan Rasul terdahulu, juga orang-orang saleh yang lain seperti Maryam binti ‘Imran, diperintahkan untuk ‘ruku’ bersama orang-orang yang ruku’’. Kalimat ‘Muhammadan Rasuulullaah’ juga bertujuan menegaskan eksklusifitas sholat ummat Muhammad di atas inklusifitas sholat dalam pengertian ini.

Dalam kedua pasal itulah adzan hadir untuk menegaskan eksklusifitas syari’at sholat yang disampaikan kepada ummat Muhammad SAW. Terkait dengan pasal pertama, ketika sholat dilakukan oleh semua ummat beragama dengan berbagai bentuk dan gagasan yang bervariasi yang melandasinya, seruan adzan berusaha menegakkan keunikan, keistimewaan, kekhususan, signifikansi dan eksklusifitas sholat yang dirujuk oleh adzan itu. Adzan berusaha mengatakan bahwa seruan yang spesifik ini, yang tidak dikenal dalam upacara keagamaan agama-agama yang lain, dengan sendirinya juga merujuk kepada nilai-nilai dan perilaku-perilaku yang spesifik. Sholat yang dimaksud adalah sholatnya ummat Muhammad, yang diperintahkan dalam peristiwa Mi’raj, yang ditekstualisasi dalam pesan Qur’an dan yang sunnah (cara)nya dimapankan dan dipatenkan dengan merujuk kepada cara Nabi SAW melaksanakannya—lain tidak.

Mengenai pasal yang kedua, dengan hanya mengutip nama seorang Rasul dan bukan beberapa rasul, adzan berusaha menegaskan signifikansi sholat ummat Muhammad sebagai finalisasi. Islam mengakui adanya kesinambungan wahyu atau risalah dari Allah yang Maha Esa sejak Nabi pertama a.s. hingga Nabi terakhir SAW. Tradisi ini dijelaskan lewat istilah ‘Islam’ (agama yang berserah diri kepada Tuhan) dan ‘Hanif’ (agama yang sesuai dengan fitrah—watak—manusia). Pengakuan atas dan hanya atas kerasulan Muhammad SAW di dalam bunyi adzan menunjukkan bahwa syari’at Muhammadiyyah, khususnya dalam persoalan sholat, adalah syari’at yang coba untuk ditegakkan dengan adzan sebagai seruan penegakkannya—lain tidak. Kekhasan atau eksklusifitas sholat dalam pasal kedua ditujukan terhadap inklusifitas sholat semua Nabi-nabi sebelumnya. Eksklusifitas sholat fdalam pasal pertama adalah terhadap inklusifitas bentuk-bentuk penyembahan dalam semua agama yang mengenal ritual.

Lafadz yang lain di dalam adzan, yakni ‘Hayya ‘Alash Sholah’ yang disusul dengan ‘Hayya ‘Alal Falah’ yang berarti ‘marilah sholat’ dan ‘marilah meraih kebahagiaan’, adalah pernyataan-pernyataan yang memiliki keunikannya sendiri dibandingkan tiga pernyataan sebelumnya.

Pertama, tidak seperti pernyataan sebelumnya yang lebih bersifat filosofis dan memicu terciptanya analisis yang lebih mendalam mengenai apa yang tersirat di dalamnya, kalimat ‘Hayya ‘Alal Falah’ adalah persuasi yang ringkas, efisien dan langsung kepada sasarannya. Kalimat-kalimat ‘Hayya ‘Alash Sholah’ dan ‘Hayya ‘Alal Falah’ lebih bersifat psikologis daripada filosofis belaka. Di sini, ada kisah nyata tentang seorang Yahudi Amerika yang masuk Islam yang dapat dijadikan sebagai kasus yang relevan untuk ikut menjelaskan pesan psikologis dari ‘Hayya ‘Alash Sholah’ dan ‘Hayya ‘Alal Falah’.

Singkat cerita, ada seorang Yahudi Amerika yang kini menjadi Professor Studi-studi Islam di Hawaii, yang dibesarkan dalam keluarga Yahudi sekuler yang tidak taat menjalankan agama Yahudi. Lelaki ini dibesarkan dengan ‘regime’ nilai-nilai yang berlaku di AS dan bahkan di sebagian besar dunia: liberalisme, sekulerisme, independensi, kecenderungan atheistik yang kuat dan tidak memiliki sikap yang pasti kepada agama. Pada masa remajanya, dia mengalami krisis spiritual sebagai akibat dari benturan di antara keluarganya yang Yahudi sekuler dan neneknya yang Yahudi taat, yang banyak mengilhaminya.

Ketika di SMA, dia bersekolah di sebuah sekolah internasional yang berisi murid dari berbagai kebangsaan. Salah satu murid di sana adalah seorang muslim Pakistan, yang menjadi sahabat dekatnya. Temannya yang orang Pakistan melihat bahwa si Yahudi adalah seorang pencari kebenaran dan memberikannya sebuah mushaf Al Qur’an. Si Yahudi menerimanya, tetapi tidak pernah membuka kitab itu selama sekian tahun lamanya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah mengubur ketertarikannya kepada ideologi-ideologi sekuler seperti Komunisme, kehausan spiritualnya bangkit. Dia mencari kebenaran dalam berbagai kitab suci agama-agama. Suatu saat dia bertemu dengan orang-orang Afro-Amerika dari komunitas NOI (Nation of Islam), yang sempat bernama Black Muslims. Ini adalah komunitas dari tokoh-tokoh emansipasi kulit hitam Amerika yang terkenal seperti Elijah Muhammad dan Malcolm X. NOI pada dasarnya adalah komunitas yang cukup rasis, yang memandang rendah bangsa kulit putih dan agama Kristen mereka, serta mempromosikan superioritas ras kulit hitam dan agama Islam. Karena sifatnya yang rasis, orang-orang NOI mengatakan bahwa si Yahudi tidak cocok dengan Islam karena rasnya adalah ras Iblis. Si Yahudi bertanya, ‘jika saya Iblis, mengapa saya begitu haus untuk mengenal Tuhan?’ Jawab orang Afro NOI itu, ‘bahkan Iblispun beriman kepada Tuhan.’ Si Yahudi kaget dengan pengetahuan yang otentik itu dan bertanya darimana asal pengetahuan itu. Jawab orang NOI itu, ‘Qur’an.’

Maka, si Yahudi mulai membuka Qur’an yang diterimanya bertahun-tahun yang lalu dari temannya yang orang Pakistan. Dia mulai membaca Qur’an dari ayat yang dirujuk oleh aktifis NOI tadi, yang ternyata tidak menyebutkan keterangan bahwa ras kulit putih adalah Iblis atau bahwa Islam adalah agama khusus kaum kulit hitam saja. Setelahnya, ditenagai oleh pesan-pesan Qur’an yang otentik dan memesona, si Yahudi mulai membaca Qur’an secara sistematis, mulai dari halaman pertama hingga terakhir. Rupanya, si Yahudi sangat puas dengan Qur’an dan dia memutuskan untuk mempercayai semua isi Qur’an.

Kisah menggelitik tersaji dalam pertemuannya kembali dengan teman Pakistannya dalam sebuah acara reuni. Teman Pakistannya bertanya apakah si Yahudi telah memercayai sesuatu dan dijawabnya bahwa dia memercayai Qur’an. Teman Pakistannya mengatakan bahwa dengan demikian, si Yahudi sudah menjadi seorang muslim. Jawab si Yahudi, ‘tidak.’

Rupanya si Yahudi memahami bahwa identitas ‘muslim’ adalah identitas tradisional yang hanya disandang oleh orang-orang yang berasal dari masyarakat yang sudah memeluk Islam sebagai suatu unit budaya. Artinya, baginya, seorang Pakistan, Melayu, Arab atau Turki adalah muslim karena itulah identitas tradisionalnya. Baginya, hanya karena seseorang secara intelektual sepakat dengan isi Qur’an, identitas muslim tidak secara serta-merta disandangnya. Baginya, seorang Eropa atau Yahudi yang memercayai Qur’an bukanlah seorang muslim, melainkan sekadar pembenar pesan-pesan Qur’an dan berusaha hidup dengan berpandukan Qur’an, tetapi tanpa komitmen yang mengikat dalam ‘organized religion.’ Rupanya, si Yahudi melihat ‘muslim’ sebagai identitas tradisional, bukan komitmen yang diimplikasikan oleh kepercayaan terhadap Qur’an. Dia melihat Islam sebagai ‘ide terbuka’ dan komitmen kegamaan yang mengikat adalah hal lain.

Teman Pakistannya kemudian menjelaskan bahwa Islam mencakup keimanan (pembenaran intelektual atas ide-ide Islam) dan keislaman (komitmen/ ketundukkan fisik), sehingga si Yahudi mulai menjadi muslim yang sebenarnya, yang menjalankan ibadah-ibadah dan terlibat dalam kegiatan sosial masyarakat muslim.
Kita bisa melihat bahwa psikologi si Yahudi ini, ketika dia selesai membaca Qur’an, berhasil mengakses Qur’an, tetapi tidak berhasil mengakses Islam. Hal itu disebabkan karena dia membaca Qur’an tanpa perantara, tanpa tradisi dan tanpa keterlibatan masyarakat muslim. Dia terpesona kepada Qur’an sebagai sumber dan mahakarya intelektual, moral, spiritual dan lain-lain. Dia dapat dipuaskan oleh independensi intelektualnya dalam menginterpretasi Qur’an, karena independensi itu berhasil menguak kecemerlangan Qur’an dengan kebenaran-kebenaran yang dingkapkannya mengenai Tuhan dan lain-lain.

Namun, si Yahudi tidak berhasil mengakses Islam karena dia tidak mengakses aspek kedua dalam Islam, yakni Sunnah. Islam dilandasi oleh fundamental Al Kitab (Qur’an) dan Al Hikmah (Sunnah). Sunnah adalah cara Islam dijalankan, yang merujuk kepada contoh paling otentik dari cara berislam, yakni Nabi Islam, Muhammad SAW sendiri. Sunnah adalah penginterpretasi dari Kitab yang merupakan kumpulan gagasan. Jadi, mentalitas orang semacam si Yahudi yang menerima Qur’an dan tidak menerima (atau tidak tahu) Sunnah, adalah mentalitas yang tidak menarik implikasi yang berhubungan dengan tanggung jawab ‘fisik’ terhadap keyakinan atau pengetahuan. Dalam kasus si Yahudi, dia tidak tahu bahwa ketika seseorang dikaruniai keyakinan dan pengetahuan dalam pesan-pesan Qur’an, dia harus menyempurnakan aspek intelektual dari Qur’an dengan konsekuensi-konsekuensi ketundukkan dan ketaatan ‘fisik’ (jasmani, ragawi) yang dijelaskan oleh Sunnah. Dengan demikian, pencapaian intelektual menjadi dipisahkan dengan tanggung jawab moral, sehingga pribadi seseorang menjadi tidak berintegritas.

Kalimat-kalimat pembuka dalam seruan adzan, yaitu ‘Allahu Akbar’, ‘Laa Ilaala Illallaah’ dan ‘Muhammadan Rasulullaah’ adalah informasi-informasi, atau pengetahuan-pengetahuan, yang akan memicu aktivitas mental untuk memikirkan dan membenarkan klaimnya. Dalam istilah yang telah disinggung sebelumnya, ketiga pernyataan tersebut cenderung kepada sifat yang filosofis dan intelektual. Adapun kalimat-kalimat ‘Hayya ‘Alash Sholah’ dan ‘Hayya ‘Alla Falah’ lebih bercorak psikologis. Sebagai suatu persuasi yang langsung, tegas dan efisien, ajakan untuk sholat membangun motivasi untuk menarik konsekuensi dari aktivitas filosofis-intelektual yang sebelumnya telah dilakukan para penyimak adzan dalam membernarkan Kemahabesaran Allah, Keesaan Allah dan Kerasulan Muhammad SAW. Kalimat ‘Hayya ‘Alash Sholah’mengantisipasi dengan sangat baik gejala yang sering ditemui mengenai sering tidak menyatunya pencapaian intelektual seseorang dengan moralnya. Kalimat itu berusaha mengingatkan pendengarnya mengenai satunya alasan dan akibat, yakni bahwa sholat adalah akibat dari diterimanya ‘Allahu Akbar’, ‘Laa Ilaaha Illallah’ dan ‘Muhammadan Rasuulullaah’.

‘Hayya ‘Alash Sholah’ menyasar motivasi dan aktivitas psikologis, bukan filsosofis, supaya orang mau bergerak untuk menunjukkan tanggung jawabnya kepada ide-ide sebelumnya dalam adzan, yang dibenarkannya. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, sebagai keseluruhan atau kesatuan, seruan adzan bertujuan untuk mengomprehensi mentalitas seseorang untuk menjalankan sholat. Agar konsep sholat dapat disampaikan secara komprehensif, maka adzan merangsang baik aktifitas logis (logos, logika) dan psikologis (motivasi) manusia, bukan memisahkannya.