<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>For a Fighting Idea</title>
	<atom:link href="http://jundurrahman.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jundurrahman.wordpress.com</link>
	<description>I do Believe in Mankind</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Dec 2011 07:49:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jundurrahman.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>For a Fighting Idea</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jundurrahman.wordpress.com/osd.xml" title="For a Fighting Idea" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jundurrahman.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pemikiran Marx (2)</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/12/26/pemikiran-marx-2/</link>
		<comments>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/12/26/pemikiran-marx-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 07:49:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jundurrahman Assayyaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Filosofis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundurrahman.wordpress.com/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[Materialisme Historis, Kapitalisme, Komunisme  Ketiga istilah di atas secara bergantian digunakan oleh sebagian orang untuk menamakan gagasan Marx. Anthony Giddens, yang ulasannya tentang Kapitalisme (Capitalism and Modern Social Theory) adalah sumber yang paling saya rujuk sampai sekarang, mengatakan bahwa sesungguhnya Marx adalah pemikir yang brilian dan sebagaimana ciri pemikir brilian lain, dia membahas banyak sekali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=664&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Materialisme Historis, Kapitalisme, Komunisme</strong></p>
<p><strong> </strong>Ketiga istilah di atas secara bergantian digunakan oleh sebagian orang untuk menamakan gagasan Marx. Anthony Giddens, yang ulasannya tentang Kapitalisme (<em>Capitalism and Modern Social Theory</em>) adalah sumber yang paling saya rujuk sampai sekarang, mengatakan bahwa sesungguhnya Marx adalah pemikir yang brilian dan sebagaimana ciri pemikir brilian lain, dia membahas banyak sekali hal sehingga pada dasarnya pemikirannya adalah himpunan tema-tema yang luas. Dia kurang fokus dengan satu hal saja. Sering orang harus menelusuri lebih dari satu karya Marx untuk mengkodifikasi atau mendapat keseluruhan pengetahuan yang sistematis tentang satu tema Marxis saja. Jika kita mengenal Marx sebagai pencetus isu-isu ‘hubungan-hubungan produksi’, ‘perkembangan sejarah’, ‘kerja’, species-life’, ‘hubungan produksi’ hingga ‘komunisme’, maka setiap tema itu bukannya dibahas secara tuntas di sebuah buku atau bab yang khusus. Perumusan apa yang kita kenal dengan ‘tema-tema yang dibahas Marx’ adalah hasil pembacaan atas karya-karya tersebut di kemudian hari. Dengan begitu, kita sulit untuk memberinya asosiasi tunggal entah dengan ‘materialisme historis’, ‘kapitalisme’ atau ‘komunisme’.</p>
<p>Untuk mempermudah posisi gagasan-gagasan utama Marx, kita bisa mengatakan bahwa ‘Materialisme historis’ adalah alat analisis Marx atas sejarah. Dia adalah epistemologi Marx dan bukan sebentuk pengetahuan atau produk penelitian. Sedangkan ‘Kapitalisme’ adalah nama bagi hasil kajian Marx mengenai sejarah kontemporer. Sejarah kontemporer adalah subjek yang penting bagi teoritisi sejarah, sebab Ia menjelaskan bagaimana dan siapa manusia-manusia di Dunia pada hari ini. ‘Kapitalisme’ adalah nama tahapan perkembangan sosial di mana kita tengah berada kini (atau tepatnya: zaman pada saat Marx tengah berada, yaitu pada pertengahan hingga akhir  abad Ke 19).</p>
<p>Secara sederhana, Marx mengonsepsikan sejarah sebagai perkembangan dari fase-fase Sosialisme Awal-Feodalisme-Kapitalisme-Komunisme (sosialisme akhir). Urutan tersebut membersitkan kesan adanya ‘ramalan’ yang dibuat Marx tentang fase sosial yang menggantikan Kapitalisme, yakni ‘Komunisme’ sebab fase itu belum terjadi sampai pada saat Marx merumuskan teorinya. Selain itu, bisa terlihat pula bahwa fase-fase perkembangan sejarah menurut Marx adalah proses peralihan dari sebentuk sosialisme purba ke sebentuk sosialisme lain yang lebih kompleks dan modern.</p>
<p><strong>Komunisme dan Otoritarianisme</strong></p>
<p>Giddens juga menganalisis bahwa Marx memaksudkan ‘komunisme’ sebagai Demokrasi itu sendiri. Lebih tepatnya: demokrasi yang asli, yang seharusnya. Ini cukup mendisonansi kesan di kalangan orang-orang bias yang terkecoh oleh propaganda bahwa Marxisme adalah otoritarianisme. Jangankan merupakan jenis pemerintahan yang melibatkan sedikit orang sebagai penguasa, Komunisme yang dimaksudkan Marx justru meniadakan kelas penguasa, sehingga pada dasarnya justru melibatkan banyak, sangat banyak, terlalu banyak bahkan semua orang karena Ia tak lain adalah pengertian baru tentang Demokrasi.</p>
<p>Dengan menyamakan Komunisme dengan Demokrasi, tidak berarti Marx mengatakan bahwa dunia Barat yang ketika itu sedang terdemokratisasi seiring dengan runtuhnya Feodalisme pada masa Pencerahan dan ditegaskan oleh Revolusi Perancis di abad ke 19 sedang terkomunisasi. Demokrasi Marx bukanlah demokrasi historis, melainkan konsepsional. Bagi Marx, demokrasi yang diterapkan oleh sejarah Barat adalah demokrasi yang defisiensi, yang sesungguhnya lebih merupakan propaganda tentang demokrasi daripada demorasi yang sebenarnya. Marx berusaha membenahi itu dengan mengonsepsikan ulang ‘<em>demos</em>’ sebagai ‘<em>commune</em>’.</p>
<p>Namun demikian, pencampuran antara kesan Komunisme dengan Otoritarianisme bukannya tanpa alasan sama sekali. Setidaknya ada dua alasan: (1) di tahap teoritis, para Marxis dan komentator Marxisme menerjemahkan dan mengekstrapolasi gagasan-gagasan otentik Marx dengan merumuskan harusnya membentuk Partai Komunis. Seorang Marxis Jerman, Walter Benjamin, mengatakan bahwa revolusi proletariat sebagaimana yang diramalkan oleh Marx sebagai tanda beralihnya kapitalisme ke komunisme, bukanlah keharusan sejarah. Sejarah tidaklah dijalankan berdasarkan prinsip mekanika dan bukanlah persamaan-persamaan matematis. Komunisme bukanlah resultan yang pasti terjadi karena faktor-faktor alamiahnya. Benjamin menangkap kesan bahwa bagi Marx dan aktivis komunisme Eropa kala itu, revolusi proletariat adalah kepastian sejarah, sehingga tidak perlu diorganisir. Benjamin berpandangan sebaliknya.</p>
<p>Bagi Benjamin, kesadaran kelas proletariat tidak serta-merta muncul sebab kalangan proletar bisa saja memiliki semangat revolusi yang tinggi atau rendah. Proletariat zaman industri juga memilikinya. Kaum buruh sebagai proletariat zaman industri bisa saja kurang revolusioner, sebab kesadaran kelas tidak terbentuk dengan serta-merta. Gagasan mengenai ‘kesadaran kelas’ adalah faktor penting bagi sebagian Marxis yang beranggapan bahwa revolusi akan terjadi sebagai kepastian sejarah. Secara tidak langsung, para Marxis yang berpandangan demikian menerima pembentukan kesadaran kelas sebagai suatu keniscayaan pula.</p>
<p>&#8216;Kesadaran kelas’ adalah sesuatu yang menyatukan kaum tertindas dalam peristiwa-peristiwa pembentukan kelas yang mengawali setiap peralihan tahapan sejarah. Seorang Marxis lain, Georg Lukacs, mengatakan bahwa—saya menganggap ini merupakan kelanjutan dari analisis dari Karl Marx sendiri sebagaimana terkesan dalam beberapa ulasan yang pernah saya baca—kaum proletar adalah anggota masyarakat yang paling intelek sebab mereka adalah penguasa kompetensi produksi. Kompetensi semacam itu didapatkan dari pelatihan dan pendidikan; sesuatu yang membuat mereka lebih intelek dari kebanyakan pemodal. Dengan basis pendidikan dan kehidupan yang ditentukan oleh fluktuasi modal dan fiskal, kaum proletar siap hidup dengan dinamis, mengantisipasi dan bahkan hidup ‘beratapkan’ perubahan itu sendiri.</p>
<p>Karakter proletariat yang intelektual dan dinamis berbeda dengan kaum kapitalis. Secara umum para kapitalis tidaklah memiliki kompetensi produksi. Seorang pemegang saham mayoritas perusahaan otomotif tidak tahu-menahu teknologi otomotif yang canggih dan selalu berinovasi, namun tidak demikian dengan karyawan-karyawan proletariatnya. Kapitalis menguasai sebagian besar uang yang dikelola dalam struktur bisnis karena proses akumulasi modal dan akses terhadap pasar. Ini menegaskan sifat tidak intelektualnya kaum kapitalis sebagaimana yang dimaksud Lukacs dan Marx.</p>
<p>Analisis demikian mengantarkan Lukacs untuk sampai kepada kesimpulan bahwa kalangan yang intelektual dan berjiwa dinamis itu akan dengan sendirinya sampai kepada pemikiran tentang ironi dan irasionalitas mengenai ketertindasan mereka yang tidak wajar. Pada akhirnya, dengan cara-cara yang otomatis, kelompok sosial yang tertindas itu akan menganalisis keadaan masyarakat mereka sendiri. Analisis mereka akan sampai kepada kesimpulan bahwa ada suatu kelas di dalam masyarakat yang memiliki kompetensi produksi dan segala aspek intelektual yang dibutuhkan untuk mencipta komoditas melalui pembentukan alam, namun mereka ‘diasingkan’ dari nilai ekonomis yang sesungguhnya dari karya-karya cipta mereka. Di titik ini, kesadaran akan nasib yang sama muncul, dan kelas sosial abadi itu dideklarasikan kemunculannya.</p>
<p>Akan tetapi Stalin, Benjamin dan kalangan Marxis yang lebih aktif berpandangan bahwa kesadaran yang semacam itu tidak akan muncul dengan sendirinya. ‘Revolusioner’ sangat boleh jadi bukanlah sifat proletar. Proletariat ‘diasingkan’ dari hasil-hasil produksinya yang dieksploitasi oleh kapitalis, namun hal itu tidak memunculkan kesadaran kolektif. Kalaupun ada, sangat mungkin perjuangannya bersifat lokal dan kompromistik, tanpa pemahaman yang dimaksudkan Marx tentang kesadaran kelas dan dialektika sejarah. Untuk menumbuhkan kesadaran kelas, perlu dibentuk suatu organisasi yang menyebarkan konsepsi proletariat sebagai alat perjuangan. Ini sama seperti memberi ‘bentuk’ bagi semangat revolusioner yang sudah ada, tetapi terancam impoten.</p>
<p>Alasan (2) adalah bahwa di tahap praktis, berdasarkan analisis teoritis, Marxis yang lebih radikal melihat perlunya dibentuk suatu Partai Komunis. Partai Komunis menjadi mesin propaganda yang bekerja untuk memberi ‘wujud’ bagi proletariat yang tertindas. Partai memperkenalkan Ideologi buruh untuk berjuang merealisasikan masyarakat tanpa kelas, tanpa hak milik pribadi. Kiprah Partai Komunis, sebagaimana dicatat oleh sejarah, memainkan peran propaganda, perjuangan berdarah merebut kekuasaan dan sebagai unsur kekuasaan dalam sebuah negara Komunis, melakukan pemaksaan kebijakan yang keras atas nama ‘stabilitas’ dan usaha-usaha yang kurang memerhatikan hak asasi manusia. Dengan demikian, usaha menerapkan Komunisme dalam bentuk negara Komunis melalui sentralitas Partai Komunislah yang membuat Komunisme lekat dengan kesan Otoritariansime, padahal hal tersebut (Partai Komunis) pada awalnya dibentuk untuk menumbuhkan kesadaran kelas dalam rangka memberikan kepada sejarah semua faktor-faktor yang diperlukannya untuk memberlakukan revolusi sosial, sesuai konsepsi materialisme historis.</p>
<p>Masyarakat Komunisme, sebagai tahapan perkembangan sosial paling maju yang menurut analisis Marx akan menggantikan Kapitalisme, adalah masyarakat ‘tanpa kelas’. Istilah ini sering menimbulkan kesalahpahaman di kalangan pengamat yang memiliki tendensi liberal dan mencari-cari kesalahan inheren Marxisme. Kesalahan asosiasi antara masyarakat ‘tanpa kelas’ dengan penghapusan kebebasan manusia juga menjadi sebab munculnya kesan otoritarianisme yang dilekatkan dengan paham tersebut.</p>
<p><strong>Analisis Utama Marx</strong></p>
<p><strong> </strong>Ini adalah bagian di mana analisis utama Marx tentang perkembangan sejarah diuraikan. Ada seorang penulis yang mencoba menyimpulkan bahwa analisis Marx—yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ‘diagnosis’ sebab ‘analisis’ lebih merupakan penerapan metode pegetahuan tertentu atas suatu objek yang belum diketahui, sedangkan ‘diagnosis’ adalah keseluruhan analisis yang sudah dinyatakan ‘benar’ atau sudah merupakan ‘doktrin pengetahuan’—mengenai Sejarah adalah bahwa sejarah didorong untuk berkembang oleh kebutuhan ‘perut’ manusia. Ini adalah kesimpulan ambisius yang sulit dikatakan tidak sedang mengecilkan mutu konsepsi Marx. Namun, ada sedikit isu implisit yang terkandung dalam pernyataan itu yang ‘ada benarnya’.</p>
<p>Teori Marx terdiri dari analisis ekonomis. Bukan analisis ekonomi, melainkan analisis ekonomis, yaitu analisis yang bersifat ekonomi, yang menjadikan perspektif ekonomi sebagai ‘pisau analisis’ dalam memahami sejarah. Apa yang dinamakan dengan ‘sejarah’ itu sendiri tetaplah merupakan riwayat kehidupan manusia yang multidimensional, tidak semata ekonomi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa perspektif ekonomi adalah pemodelan yang dilakukan Marx atas sejarah.</p>
<p><strong>1.  Spesialisasi Kerja</strong></p>
<p>Sebelumnya kita telah menyinggung konsepsi Marx tentang ‘kerja’ sebagai modifikasi material dari konsepsi Hegel. Dalam materialisme historis, sejarah berkembang sebab bentuk dunia sosial berkembang. Maksudnya: sejarah adalah riwayat tentang perubahan dunia sosial. Ini sangat penting sebab dunia sosial adalah sumber dan rujukan bagi manusia-manusia individual untuk memahami diri mereka. Pemahaman akan masa lalu, identitas dan jatidiri etnis serta cara hidup komunal diambil dari dunia sosial. Masyarakat dan keseluruhan cara hidupnya yang meliputi agama (suprastruktur) dan teknologi (basis) yang disebut ‘budaya’ dan pada gilirannya memberikan pemahaman akan jatidiri dan cara hidup manusia, adalah anasir pembentuk dunia sosial.</p>
<p>Hal tersebut sangat penting untuk mengerti apa sesungguhnya ‘Sejarah’ itu, sebab Sejarah tidak akan muncul jika dunia sosial tidak berubah, melainkan hanya kemapanan yang berlarut-larut, <em>Status Quo</em>. Oleh karena dunia sosial dikatakan berubah menurut gerakan yang dialektis, maka Sejarah tercipta. Apa yang disebut dengan ‘Sejarah’ tak lain adalah <em>Insight</em> (pantikan kesadaran) yang ditimbulkan dari penghayatan bahwa dunia sosial terus berubah—dan membangkitkan antisipasi bahwa Ia mungkin akan berubah lagi. Masa lalu menjadi penting sebab ada perubahan. Tanpa perubahan, kategori-kategori Sejarah seperti ‘dahulu’, ‘sekarang’ dan ‘nanti’ tidak akan lahir sebab apakah yang membedakan isi dari ketiga rentang waktu itu jika yang ada hanya kesamaan?</p>
<p>Lalu, dengan cara apa dunia sosial berubah? Jawabannya adalah dengan ‘spesialisasi  kerja’. Masyarakat  pertama berisi individu-individu yang komunal, yang sepenuhnya berdedikasi bagi kebersamaan. Ini tidak bermakna kejiwaan—walaupun Emile Durkheim menyatakannya yang sebaliknya—melainkan ekonomis. Pada fase masyarakat awal, kepemilikan individu tidak ada, sebab tidak ada modal bebas yang bisa digunakan untuk menciptakan komoditas. Masyarakat pertama membagi-bagi anggotanya untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam masyarakat yang telah mengenal budidaya, pekerjaan dibagi menjadi pemburu dan penggarap lahan. Semua dilakukan dari, untuk dan oleh semua.</p>
<p>Namun, seolah adalah keniscayaan, surplus produksi kemudian terjadi. Ini disebabkan oleh menetapnya masyarakat, sehingga mendorong dikembangkannya teknologi intensifikasi dan domestikasi. Masyarakat yang tadinya nomaden dan hanya memanfaatkan produksi alam menjadi masyarakat yang menetap, yang mengintensifikasi pertanian dan mendomestikasi peternakan, yang, dalam istilah Marx, menjadi masyarakat yang ‘bekerja’ membentuk alam. Ketika surplus terjadi, kelebihan tersebut dibagikan dengan cara yang paling rasional: kepada mereka yang paling berjasa dalam perburuan dan pertanian. Peristiwa ini adalah peristiwa monumental di mana modal pertama mulai diberlakukan.</p>
<p>Masyarakat yang tadinya tak mengenal modal, menjadi mengenal modal. Sebenarnya surplus produksi tidak serta-merta menjadi modal, namun berpotensi menjadi modal. Pemilik surplus dapat mengonsumsi sendiri kelebihannya. Namun sebagian orang yang cerdik dan semakin cerdik dalam penemuan teknologi produksi dan pembentukan alam, memilih untuk membuat surplus tersebut sebagai instrumen untuk menghasilkan produksi lain.</p>
<p>Surplus tersebut mereka tawarkan kepada siapa saja yang mau bekerja kepada mereka dalam kegiatan produksi privat. Surplus itu ingin dilimpahkan sebagai gaji. Ini adalah modal, kapitalis, pekerja, dan gaji pertama dalam sejarah. Mulai dari sini, skema modal-produksi dimulai. Modal dikonversi menjadi sejumlah produk yang lambat-laun akan mengandung nilai jual yang lebih besar dari modal. Dengan demikian terjadi akselerasi pengumpulan kekayaan, massifikasi tenaga kerja (sebab tidak hanya berarti akselerasi kekayaan, melainkan juga akumulasi modal) dan pada gilirannya merangsang dikembangkannya teknologi produksi yang menjawab persoalan-persoalan efisiensi dan efektifitas produksi.</p>
<p>&#8216;Spesialisasi kerja’ terjadi seiring berkembangnya jenis-jenis usaha, teknologi produksi dan komoditas.  Ketika teknologi yang berkembang menawarkan lebih banyak jenis komoditas untuk diproduksi, maka jenis tenaga kerja yang dibutuhkan menjadi meningkat dengan spesifikasi, spesialisasi dan standard kerja yang makin mengecil dan mengetat. Dengan demikian, ‘spesialisasi kerja’ terjadi. Konsep ini penting di dalam seluruh gagasan perkembangan sosial Marx sebagai indikator bagi kompleksitas masyarakat. Perkembangan masyarakat ditandai oleh profil spesialisasi kerja yang dimilikinya.</p>
<p>Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa ‘spesialisasi kerja’ adalah wujud organisasi sosialyang pada wujud itu perkembangan sosial dapat dipahami.</p>
<p>Sebenarnya bukan berarti bahwa ‘spesialisasi kerja’ yang mendorong masyarakat untuk berkembang, melainkan modal dan dalam suatu arti, teknologi produksi. Namun, hanya spesialisasi kerjalah yang dapat dirasakan secara langsung dalam konteks sosial. Spesialisasi kerja menjadi wujud masyarakat. Masyarakat yang begitu terspesialisasi, yang hubungan antarindividunya lebih transaksional dan materialistik, adalah masyarakat ‘<em>Gesellschaft</em>’, sedangkan masyarakat tradisional-komunal adalah masyarakat ‘<em>Gemeinschaft</em>’. Oleh karena itu, masyarakat berkembang melalui spesialisasi kerja, disebabkan oleh profil pemilikan kekayaan dalam masyarakat tersebut yang mencerminkan hubungan-hubungan produksi yang ada. Spesialisasi kerja adalah dampak sosial dari kepemilikan modal oleh pribadi yang berkembang dari kenyataan sederhana akan adanya surplus produksi pada masyarakat komunal.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundurrahman.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundurrahman.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundurrahman.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundurrahman.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundurrahman.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundurrahman.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundurrahman.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundurrahman.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundurrahman.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundurrahman.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundurrahman.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundurrahman.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundurrahman.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundurrahman.wordpress.com/664/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=664&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/12/26/pemikiran-marx-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b55bb9e0a651078ae940d1141510c3d0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundurrahman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemikiran Marx (1)</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/12/15/pemikiran-marx-1/</link>
		<comments>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/12/15/pemikiran-marx-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 04:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jundurrahman Assayyaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Filosofis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundurrahman.wordpress.com/?p=658</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Ada yang pernah mengatakan bahwa Marxisme adalah agama besar keempat di dunia selain agama-agama besar Semit, yaitu Yudaisme, Kristen dan Islam. Sebabnya, Marxisme adalah Ideologi yang membahas permasalahan hidup manusia, tidak hanya secara idividual, tetapi juga secara sosial, serta tidak hanya secara temporal, tetapi juga secara historis. Di satu sisi, pencetus paham ini, Karl [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=658&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p><a href="http://jundurrahman.files.wordpress.com/2011/12/karl-marx.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-659" title="Karl Marx" src="http://jundurrahman.files.wordpress.com/2011/12/karl-marx.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>Ada yang pernah mengatakan bahwa Marxisme adalah agama besar keempat di dunia selain agama-agama besar Semit, yaitu Yudaisme, Kristen dan Islam. Sebabnya, Marxisme adalah Ideologi yang membahas permasalahan hidup manusia, tidak hanya secara idividual, tetapi juga secara sosial, serta tidak hanya secara temporal, tetapi juga secara historis. Di satu sisi, pencetus paham ini, Karl Heinrich Marx sendiri, memang memaksudkan pekerjaannya sebagai teori ilmiah. Mark menegaskan perbedaan antara ‘sosialisme utopis’ dengan ‘sosialisme ilmiah’ di mana Ia menisbatkan yang terakhir ini kepada pemikirannya. Jelas bahwa teori-teori Marx oleh penyusunnya dimaksudkan sebagai abstraksi ilmiah atas perkembangan sejarah dan sosial. Formulasi ilmu Sosiologi pun belakangan mengklasifikasikan teori sosial Marx sebagai ‘sosiologi kritis’. Jadi, sampai tahap-tahap tertentu dan bagi kalangan yang melihatnya dari segi teknis, teori Marx bukanlah suatu Ideologi, melainkan pemikiran keilmuan.</p>
<p>Namun, rasanya siapapun tidak bisa memungkiri adanya ideologi dalam teori-teori Marx. Marx tidak hanya mendeskripsikan dunia sosial, melainkan juga menyisipkan preskripsi di tengah-tengahnya. Temuan-temuan Ilmiahnya, oleh Marx, digunakan untuk menyusun suatu himbauan untuk merealisasikan suatu revolusi sosial. Pemikiran Marx sering disebut ‘praxis’, yakni praktek yang terkait erat dengan teori. Lebih tepatnya: praktek revolusi sosial yang bersenjatakan teori sosial.</p>
<p>Marx tidak berhenti pada usaha untuk menyusun suatu model teoritis yang menjelaskan seluruh perkembangan sejarah dalam lingkup perkembangan sosial, melainkan berusaha membidik suatu ‘celah’ di dalam setiap fase perkembangan sosial dan memberikan resep bagi kaum yang dianiaya di setiap fase itu untuk memanfaatkan celah tersebut demi mengemansipasi diri mereka. Marx bukan hanya seorang ilmuwan yang dengan dingin meneliti objeknya di laboratorium, melainkan menggunakan hasil temuannya untuk memperbaiki taraf kemanusiaan. Marx adalah seorang Humanis yang teoritis.</p>
<p>Bagaimana kemudian Marxisme menjadi suatu ‘agama’? Marxisme dianggap sebagai paham yang lengkap. Sebagaimana agama, Marxisme mengandung doktrin tentang kehidupan manusia, kebahagiaan manusia, keadilan, ‘kebaikan’ vs ‘kejahatan’ dan nubuat mengenai ‘hari akhir’. Dengan demikian, paham ini menjadi melibatkan begitu banyak orang sebagai kritikus, pemuja maupun penentang, juga begitu banyak pikiran dan dedikasi yang ditujukan kepadanya. Komentar dan reaksi atas Marxisme begitu panjang-lebar, berlarut-larut dan menghasilkan berbagai interpretasi serta pembaharuan di kalangan Marxis pasca-Marx. Marx sendiri bukanlah Marxis. Ia pernah berkata, “<em>Aku bukanlah seorang Marxis (Aku hanyalah Karl Marx dan konsepsiku adalah ‘materialisme historis’)</em>”, sehingga Ia bukanlah pendiri apa yang disebut sebagai ‘agama Marxis’. Agama Marxis adalah sistem yang tercipta dari pengolahan atas ajaran-ajaran Marx oleh para Marxis terkemudian yang membawa pemikiran-pemikiran itu pada konsekuensi intelektual dan sosial-politik yang tidak diantisipasi oleh Marx sendiri.</p>
<p>Namun demikian, cikal-bakal sifat ideologis pada pemikiran Marx sudah disinyalir oleh pernyataan Karl Marx sendiri. Marx pernah mengeluarkan manifestonya mengenai tujuan pemikiran bahwa, “<em>tugas filsafat bukan (hanya) untuk memahami kenyataan, melainkan untuk merubahnya</em>”. Dengan demikian, jelas terasa bahwa Marx sejak awal tidak ingin membangun karakter yang dingin dari teorinya. Ia tidak membicarakan manusia dan buadayanya sebagai variabel-variabel objektif dalam modelnya tentang perkembangan sosial. Marx, sejauh yang dapat kita rumuskan dari pernyataan-pernyataannya sendiri, adalah teoritisi yang menjadi teoritisi demi perubahan kenyataan. Pemahaman atas kenyataan sosial, bagi Marx, hanyalah sarana bagi usaha untuk merubahnya.</p>
<p>Klasifikasi yang timbul dalam Sosiologi mengelompokkan Kapitalisme, sebagai salah satu varian Marxisme yang dianggap teoritis, ke dalam kelompok teori sosiologi kritis. Kategori ini diberikan untuk membedakannya dengan sosiologi klasik yang berkembang pada permulaan fase pemikiran modern dan sosiologi pascamodern (postmodern) yang berkembang pada abad ke 20. Ketika sosiologi klasik adalah usaha menjelaskan pembentukan masyarakat secara logis, berdasarkan kontrak sosial, yang merupakan penolakan atas teori antik yang menekankan pada teologi (bahwa masyarakat terbentuk karena itu adalah desain kehidupan yang dirancang oleh Tuhan), maka sosiologi kritis menjelaskan perkembangan masyarakat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sosiologi klasik mencoba menjelaskan pembentukan masyarakat, sedangkan sosiologi kritis mencoba menjelaskan perkembangan masyarakat.</p>
<p>Karakter yang berbeda dari sosiologi klasik dan kritis menimbulkan implikasi bahwa sosiologi klasik mengasumsikan sifat masyarakat yang menetap atau pasti, cenderung tidak berubah atau setidaknya tidak menganggap perubahannya sebagai tema yang sentral dan signifikan. Sebaliknya, sosiologi kritis dengan cermat melihat bahwa masyarakat cenderung berkembang. Tak sekadar melihatnya sebagai berkembang, teori Marx masih pula menggarisbawahi sifat perkembangan ini yang dialektis, bukan formal. Perkembangan yang didasari oleh kerangka kerja yang ‘siklis’ (melingkar), bukan ‘formal’ atau ‘linear’ yang bergerak maju terus menerus dengan meninggalkan elemen-elemen yang terkandung pada fase sebelumnya. Dialektika yang diusung dalam sosiologi Marxis menyatakan bahwa dalam setiap fase perubahan sosial, ada satu dan lain elemen yang ikut serta, tidak ditinggalkan sama sekali. Salah satu elemen yang paling penting dan terkenal dinyatakannya dalam istilah ‘proletariat’. Untuk sifat dialektis ini, Marx dipengaruhi oleh filsuf yang mendahuluinya, seorang nama besar dalam tradisi dialektika, Georg Wilhelm Friedrich Hegel.</p>
<p><strong>Dialektika dan Dialektika Hegel</strong></p>
<ol>
<li><strong></strong><strong>Sejarah sebagai ‘Ide’ yang berkembang secara ‘Swakreatif’</strong></li>
</ol>
<p>Kata ‘dialektika’ disebut berasal dari kata Yunani ‘dialegestai’ yang berarti ‘dialog’. Jadi, sifat ‘dialektis’ adalah sifat yang menyerupai sifat dialog: tanya jawab, tanggap-menanggapi, aksi-reaksi. Secara teknis, sifat dialektis adalah sifat yang melekat pada suatu proses di mana hal-hal diajukan dan ditolak.</p>
<p>Riwayat pemikiran dialektika dapat ditelusuri sampai filsuf Yunani Kuno pada abad keenam SM, Heraclitus. Heraclitus lebih sering dikaitkan dengan ‘Pluralisme’ daripada Dialektika, namun dalam pemikirannya terkandung gagasan dialektika tentang perubahan. Heraclitus melihat bahwa alam penuh dengan perubahan-perubahan. Sampai-sampai Ia mengatakan bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa berdiri pada aliran sungai yang sama persis sebanyak dua kali. Sebab butir-butir air dan tanah serta bebatuan yang disentuhnya, walaupun berada di ‘sungai yang sama’, seungguhnya tidak pernah sama. Tidak ada butiran-butiran air yang persis sama akan disentuh di sungai yang sama sebanyak dua kali, begitupun bebatuan akan terus mengikis dan berpindah sehingga membentuk sosok sungai yang tidak sama, senantiasa berubah. Dengan begitu, sesungguhnya setiap hal yang merupakan kumpulan hal-hal, kecuali yang tak dapat dibagi lagi (<em>Individuum</em>) tidak dapat diberi nama, dan tidak memiliki identitas. Tidak ada sungai atau gunung yang persis sama yang akan bertahan selama 100 tahun. “<em>Panta rhei kai udan menei</em>”, kata Heraclitus, “segala sesuatu berubah, tak ada yang menetap”.</p>
<p>Hegel sendiri, dalam teorinya, membicarakan sejarah. Sejarah yang menurut Hegel berkembang menurut cara dialektis, adalah sejarah yang bersifat ‘<em>self creation</em>’ (swakreasi). Dengan istilah itu, apa yang dimaksudkan oleh Hegel adalah bahwa jika sejarah dikatakan berkembang, maka secara logis kita harus menerima bahwa ‘perkembangan’ adalah proses menuju sesuatu yang baru atau tidak persis sama dengan keadaan sebelumnya. Dengan begitu, ada penciptaan (yang terjadi) di dalam proses perkembangan. Pertanyaannya adalah: apa/ siapa serta bagaimana penciptaan itu berlangsung?</p>
<p>Secara logis, penciptaan atau pembaharuan terjadi melalui intervensi atau dialektika. Apabila pembaharuan sejarah tercipta karena adanya intervensi, maka siapa subjek yang mengintervensinya? Hegel lebih merasa bahwa pembaharuan itu terjadi karena dialektika yang mensyaratkan swakreasi daripada intervensi. Bagi Hegel, sejarah—‘kenyataan’ itu sendiri—itu bersifat ‘<em>self-sufficient</em>’ atau serba-cukup karena Ia mengandung semua potensi yang dibutuhkannya untuk berkembang tanpa memerlukan intervensi dari daya di luar sistemnya. Begitulah, Hegel berpikir bahwa sejarah akan berkembang karena sifat inherennya untuk berkembang, mencapai kebaruan. Bagaimana caranya?</p>
<p>Di sini, masuklah konsep mengenai sejarah sebagai ‘Ide’. Konsep ini sangat radikal sebab Hegel mengintegrasikan antara perilaku/ tindakan dengan pengetahuan/ pikiran. Di sinilah sejarah sebagai kumpulan peristiwa-peristiwa secara teoritis tak ubahnya kumpulan pikiran-pikiran. Mengetahui adalah bertindak. Ungkapan otentik dari Hegel menyatakan bahwa, “<em>yang (bersifat) real itu rasional, yang rasional itu (bersifat) real</em>”. Sejarah adalah riwayat perkembangan pikiran (rasio).</p>
<p>Hegel haruslah dipahami sebagai seorang Idealis dan seorang Mistis. Seorang Idealis adalah seorang rasionalis pada tingkat kenyataan. Idealisme lebih radikal daripada rasionalisme sebab ketika Rasionalisme adalah penekanan atas cara berpikir, maka Idealisme adalah penekanan atas kenyataan yang bersifat rasional. Menurut sistem logika Hegel yang dialektis itu, tentu bukan hanya perkembangan kenyataan yang bersifat dialektis, melainkan juga kemunculannya. Dialektika pertama, yang menandai kemunculan kenyataan, bersifat mistis. Bagi Hegel, dialektika pertama adalah ‘negasi’ suatu entitas atas dirinya sendiri. Kenyataan yang beragam—beragam subjek, kesadaran yang kesemuanya merupakan syarat interaksi dialektis—berasal dari entitas yang mutlak. Secara teknis entitas itu disebut sebagai ‘Ide Absolut’, ‘Pikiran Absolut’ atau ‘Roh Absolut’. ‘Ide Absolut’ ini sangat mudah diasosiasikan dengan ‘Tuhan’ dalam pemikiran Pantheisme. Memang, Hegel disebut terpengaruh oleh filsuf Jerman lainnya, Schelling, yang pantheis. Pemikiran tentang entitas yang mutlak ini agaknya dianggap logis oleh Hegel. Salah satu diktum Hegelian adalah, “<em>keutuhan lebih logis (lebih mengandung arti) daripada bagian-bagiannya</em>”.</p>
<p>Dengan negasi, terjadi disintegrasi. ‘Ide Absolut’ yang sedianya integral, menjadi terpecah-pecah karena disintegrasi. Terkadang juga digunakan ungkapan lain untuk menjelaskan penegasian ini: Ide Absolut meng-eksklusi dirinya sendiri. Namun, sudah cukup tepat untuk menggunakan istilah ‘disintegrasi’. Di sinilah sejarah bermula. Skema permulaan sampai pengakhiran sejarah adalah skema di mana Ide Absolut mengintegrasikan dirinya kembali. Proses perkembangan ke arah reintegrasi itu dilakukan berdasarkan mekanisme yang dialektis.</p>
<p>Dalam perkembangan sejarah yang tolak-menolak itu, dialektika terjadi dengan melalui tiga tahap tolak-menolak. Tahap pertama adalah ‘Thesis’, tahap kedua adalah ‘Antithesis’ dan tahap ketiga adalah ‘Sinthesis’. Mulai dari sini sifat mistis dari pemikirannya perlahan pudar dan digantikan oleh sifat Logis-epistemologis.</p>
<p>Dalam sejarah, terdapat kemunculan peristiwa-peristiwa dan gagasan-gagasan. Itulah sejarah. Sejarah yang berkembang adalah sejarah di mana suatu peristiwa mempengaruhi peristiwa lain yang berlangsung setelahnya, dan peristiwa sebelumnya terlibat dalam peristiwa setelahnya. Demikian pula dengan gagasan. Suatu ideologi akan direspon oleh ideologi lain yang akan mengalami proses serupa. Kemunculan gagasan atau peristiwa—yang mencerminkan rasio—dalam suatu waktu disebut sebagai ‘Thesis’ sebab Ia bersifat positif dan afirmatif. Ia adalah suatu versi anggapan tentang kenyataan, tentang ‘ada’. Thesis adalah kenyataan yang hadir secara ‘<em>Immediate</em>’ sebab Ia yang justru memediasi Antithesis. Melaluinyalah Antithesis direalisasikan.</p>
<p>Antithesis adalah potensi di dalam Thesis. Thesis mengandung potensi untuk tertolak demi dapat dipahami. Perumusan Thesis selalu mensyaratkan Antithesis, sebagaimana pikiran kita tak dapat memahami terang tanpa gelap, banyak tanpa sedikit dan gembira tanpa sedih. Pembentukan suatu pengetahuan selalu mensyaratkan variasi dan oposisi. Dengan demikian, Antithesis adalah sesuatu yang ‘<em>Mediate</em>’, yang hadir melalui Thesis.</p>
<p>Dengan adanya Thesis dan Antithesis, rasio dapat memahami hal-hal, sedangkan menurut konsepsi hegel, rasio adalah kenyataan itu sendiri. Yang dapat dipikirkan, menurut diktum Hegel yang sudah dikutip, adalah yang nyata itu sendiri. Sejarah berkembang menurut berkembangnya rasio, sedangkan rasio berkembang dengan berkembangnya pengetahuan, sedangkan pengetahuan dihasilkan oleh oposisi dan variasi. Dengan adanya Thesis dan Antithesis, rasio berkembang karena Ia menjadi—ini agak menyalahi konsepsi yang otentik dari Hegel—‘tahu’.</p>
<p>Namun dialektika merupakan perkembangan yang lestari, bukan sekali atau sporadis. Thesis dan Antithesis tak dapat ko-eksis (ada secara bersama-sama) terus-menerus. Sesuatu Thesis butuh penolakan (Antithesis) lagi untuk dapat mengembangkan rasio. Di sinilah terjadi resolusi konflik oposisional antara Thesis dan Antithesis ketika kedua bertransendensi menjadi ‘Sinthesis’.</p>
<p>Sinthesis adalah suatu formulasi Thesis baru yang sesungguhnya merupakan ‘resolusi konflik’ antara Thesis dan Antithesis. Sinthesis sebenarnya lebih merupakan proses men-Thesiskan Thesis dan Antithesis secara terpadu. Proses yang terjadi pada Sinthesis adalah ‘<em>Aufhebung</em>’ (transendensi) atau ‘pe-lampau-an’ di mana terbentuk konsepsi baru. Dialektika antara Thesis dan Antithesis lama bukanlah bagaimana salah satu pihak mendominasi, tetapi berpadu dan berdamai. Di sanalah terjadi transendensi. Selanjutnya, Thesis baru yang dihasilkan oleh proses Sinthesis mensyaratkan Antithesis dan demikianlah seluruh dialektika sejarah terjadi. Sinthesis mentransendensi Thesis dan Antithesis sehingga terbentuk keseluruhan yang lebih sempurna dari pengetahuan dan proses yang demikian itu terus terjadi di dalam dialektika sejarah. ‘Dialektika Sejarah’, begitulah konsepsi Hegel sering disebut.</p>
<ol start="2">
<li><strong>‘Yang-Real’ dan ‘Yang-Rasional’</strong></li>
</ol>
<p>Sampai sejauh apapun konsepsi Hegel dipelajari, ada kesan misterius yang selalu tersisa. Sebagian karena kita menjadi menduga-duga ‘makna final’ dari peristilahan dan ungkapan-ungkapan Hegel. Sebagian dikarenakan komprehensifnya konsepsi Hegel. Konsepsi Hegel adalah sistem teoritis tentang kenyataan; seluruh kenyataan. Konsepsi Hegel membawa relevansi Logis, Metafisis, Moral dan lain sebagainya. Konsepsi Hegel menyatukan semua aspek perikehidupan mulai dari Sains (pengetahuan positif) sampai dengan Pantheisme yang mistik. Konsepsi itu juga menyatukan seluruh jenis pengetahuan ke dalam satu sistem deskriptif tunggal. Kesulitannya terletak pada bahwa sistem Hegel menerangkan prinsip dari seluruh kerja kenyataan. Ia perlu diimplementasikan sedemikian rupa untuk menjelaskan partikularitas-partikularitas kenyataan yang konkret. Di sinilah ‘ambisius’nya konsepsi Hegel.</p>
<p>Salah satu misterinya yang terbesar adalah pengertian tentang ‘yang real’ sebagai ‘yang rasional’ dan sebaliknya. Kita mulai bisa memahami maknanya dengan konsepsi mistik Hegel tentang Ide Absolut yang terdisintegrasi. Dengan penalaran formal, kita bisa memahami konsekuensi bahwa ‘yang-real’ adalah ‘yang-rasional’ dan sebaliknya, sebab sejarah reintegrasi Ide Absolut pastilah merupakan sejarah perkembangan rasio hingga mencapai keutuhan Ide Absolut kembali. Disintegrasi itu adalah disintegrasi kesadaran. Reintegrasi itupun adalah reintegrasi kesadaran.</p>
<p>Ada keterangan lain dari Hegel yang lebih memperjelas identitas ‘yang-real’ dan ‘yang-rasional’. Bagi Hegel, mengetahui berarti bertindak. Manusia tidak tahu apa-apa kecuali Ia bertindak. ‘Yang Real’ atau kenyataan bersifat rasional sebab Ia dapat dipikirkan, dibayangkan, bersifat logis dan dapat diolah oleh pikiran. Namun, ‘yang rasional’ atau pikiran manusia juga adalah perwujudan ‘yang real’ sebab dengan bertindak (baca: mengerjakan, mengolah, membentuk alam) manusia merealisasikan rasionalitasnya sehingga Ia menjadi tahu kapasitasnya dan dunianya. Hanya dengan mencapai sesuatu yang nyatalah, manusia mampu mengembangkan rasionalitasnya. Hanya dengan mewujudkan konsepsinya (Rasio) tentang teknologi penerbanganlah, maka semua kenyataan penerbangan seperti pesawat terbang, pilot, pramugari, bandara dan perang udara menjadi nyata (Real). Yang-Rasional adalah pramodel bagi Yang-Real. Dengan cara itulah ‘yang-rasional’ menjadi—bahkan ‘tak lain tak bukan’—adalah ‘yang-real’.</p>
<p>Secara mistik, rasio-rasio Individual adalah pecahan-pecahan (disintegrasi) kesadaran dari Ide Absolut. Sejarah adalah sejarah reintegrasi rasio-rasio itu menjadi Ide (rasio) Absolut: suatu proses ‘<em>Self-realization</em>’ bagi Ide Absolut. Ide Absolut adalah suatu ‘<em>Self</em>’. Dengan begitu, kenyataan (Yang-Real) yang berkembang adalah kesadaran (Yang-Rasional) yang bereintegrasi. Keduanya adalah satu dan sama melalui konflik dialektis. Perkembangan sejarah (kenyataan/ Yang-Real) adalah proses realisasi kembali Ide Absolut yang bagaimanapun merupakan suatu Ide, pikiran atau rasio.</p>
<p>Relevansi dari hal ini bagi Marx adalah munculnya konsepsi Marx mengenai ‘kerja’. Dengan mengadaptasi pemikiran Hegel tentang hubungan antara kedua hal di atas, Marx menegaskan bahwa ‘kerja’, yakni pengerjaan, pengolahan dan pembentukan alam (yang sifatnya ‘real’) dibutuhkan bagi manusia untuk memahami dirinya (suatu aktivitas ‘rasional’). Manusia merealisasikan dirinya melalui ‘kerja’, sebab pembentukan alam adalah dorongan dasariah manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia tak dapat memakan ayam mentah, kendatipun manusia bergantung pada alam untuk mendapatkan ayam mentah sehingga membutuhkan ‘kerja’ untuk menghasilkan ayam goreng. Inilah perbedaan produksi manusia dengan hewan yang dapat memakan ayam mentah secara langsung. Manusia adalah ‘hewan yang bekerja’. Manusia Ialah hewan sebab bergantung pada alam, namun hewan yang istimewa dengan <em>vita activa</em>nya untuk bekerja itu.</p>
<p>Dengan ‘kerja’, manusia merealisasikan pemikirannya dan menjadi sadar bahwa kemampuannya dapat terus berkembang dengan <em>feedback</em> atas pekerjaannya membentuk alam. Dengan pembentukan alam, teknologi berkembang sehingga dapat menuai lebih banyak lagi komoditas alamiah dan teknologi itu memampukan manusia untuk lebih cerdas lagi mengolahnya. Dalam konsepsi Marx tentang perkembangan sosial yang akan dijelaskan nanti, perkembangan komoditas ini adalah faktor terbentuknya masyarakat yang lebih kompleks.</p>
<ol start="3">
<li><strong>‘Proletariat’</strong></li>
</ol>
<p>Pengaruh terbesar Hegel pada Marx adalah konsepnya tentang ‘Swakreasi’, yakni bahwa bahan perkembangan kenyataan adalah unsur-unsur yang terkandungnya sendiri. Di sinilah pentingnya untuk dicermati: bahwa bagi Marx, sejarah itu berkembang dengan dinamis, tak statis, dan bahwa pekembangannya itu bersifat dialektis. Pilihan dialektika ini sebenarnya adalah kompromi dari tidak logisnya kenyataan sebagai sesuatu yang berkembang karena intervensi-intervensi. Karena perkembangan tak lain ialah pembaharuan, dan pembaharuan tak lain adalah penciptaan, maka dengan mengacu pada asumsi Hegel tentang kenyataan yang ‘<em>self-sufficient</em>’, penciptaan yang dihasilkan oleh intervensi di luar sistem kenyataan tidak logis. Oleh karena itu Marx memutuskan bahwa dialektika adalah proses yang paling logis.</p>
<p>Dalam perkembangan sosial (Marx lebih teknis dari Hegel dengan mendefinisikan sejarah secara tidak mistis, tetapi Sosiologis) yang berkembang secara dialektis-swakreatif, peran ‘Proletariat’ menjadi sangat penting. Proletariat menggenapi syarat perkembangan yang dialektis sebab Ia menjadi unsur perubahan yang selalu ada dalam setiap fase. Dengan begitu, perkembangan sosial benar-benar bersifat siklis. Proletariat adalah pelaksana Swakreasi.</p>
<p>‘Proletariat’ didefinisikan sebagai unsur atau kelas sosial yang selalu terbentuk pada setiap tahapan perkembangan sosial (yang secara umum diurutkan sebagai sosialisme awal-feodalisme-kapitalisme-sosialisme akhir) yang merupakan ‘residu’ dari konstelasi sosial. Proletariat merupakan ‘sisa persamaan’ dari hubungan-hubungan sosial yang harus seimbang sehingga menjadi dipaksakan dan pasti menyisakan residu. Hubungan itu meliputi hubungan produksi dan kekuasaan. Oleh karena proletariat dinyatakan selalu ada dalam setiap tahapan perkembangan sosial, maka Ia sebenarnya adalah nama bagi jenis kelas masyarakat yang berbeda-beda di tahap yang berbeda-beda sebab setiap tahapan itu memiliki keunikan.</p>
<p>Letak persamaan dari kelas-kelas yang dikelompokkan sebagai ‘proletariat’ adalah bahwa kelas-kelas itu merupakan residu irasionalitas masyarakat. Misalnya, pada masa industri seperti sekarang ‘proletariat’ mewujud dalam kelas pekerja/ buruh. Alasannya, dalam era industri, buruh menampung semua irasionalitas dari ‘persamaan matematis yang dipaksaan’ dalam dunia Industri. Kelas buruh ditimpakan keburukan dan ketidakberdayaan sosial sebagai konsekuensi zaman industri yang diatur oleh efisiensi dan pengetatan, juga modal yang harus terus produktif atau seluruh jalinan perekonomian akan serta-merta runtuh. Dalam jalinan yang seperti itu, buruh terpenjara karena nafkah mereka betul-betul bergantung kepada hal-hal yang ‘dari balik meja’ dikontrol dan dispekulasikan oleh kapitalis yang bahkan tidak punya kecakapan produksi, berupa modal, saham, kurs dan kebijakan politik ketenagakerjaan. Sementara produktifitas modal kapitalis berhutang kepada kompetensi produksi buruh.</p>
<p>Dalam keproletariatan zaman industri, buruh diasingkan dari hasil produksinya yang dijual oleh kelas ‘kapitalis’ (pemilik modal) sebagai hak milik mereka. Buruh digaji secara tetap dengan nilai ekonomis yang jauh lebih kecil dari nilai ekonomis komoditas yang mereka hasilkan. Padahal, kelas buruh adalah pemilik kompetensi produksi, namun mereka tidak berhak menjual karya intelektualnya karena kontrak kerja dan tidak memiliki alat-alat produksi yang mereka butuhkan. Kapitalislah yang memilikinya, meskipun mereka tidak memiliki kecakapan menggunakannya. Hal-hal tersebut mengandung irasionalitas, sementara rasionalitas industri (efisiensi dan produktifitas modal) justru menuntut agar buruh menjadi semakin tidak berdaya sebab modal bergerak liar sementara mereka begitu tergantung. Terjadi akumulasi uang yang menuntut akumulasi produksi, padahal perkembangan gaji buruh ama sekali tidak setara dengan perkembangan uang kapitalis.</p>
<p>Kita bisa menyatakannya dengan cara lain: proletariat adalah kelas sosial yang selalu terbentuk secara alamiah melalui proses marjinalisasi, pendangkalan kekuatan ekonomi dan eksploitasi sebagai akibat dari setiap tahapan perkembangan sosial. Proletariat adalah kumpulan ketidakrasionalan kehendak kolektif kelas-kelas lain. Proletariat adalah ‘temuan’ Marx tentang aktor perkembangan sosial. Tanpa proletariat, tidak ada revolusi dan tidak akan ada pembaharuan. Proletariat memang niscaya marjinal, namun Ia juga niscaya timbul dan Ia diperlukan demi hukum perkembangan sosial menurut konsepsi Marx. Proletariat adalah nama bagi asosiasi kelas-kelas tertindas di sepanjang sejarah. Ia adalah ‘tempat sampah sosial’ bagi kelas-kelas lainnya, tempat mereka menghimpun akibat-akibat sosial yang lahir dari hubungan-hubungan yang irasional. Namun, proletariat adalah niscaya sebab mereka adalah aktor perubahan sosial yang membawa setiap tahapan ke tahapan yang selanjutnya.</p>
<p><strong>Konsepsi Keterasingan Feuerbach dan Otentisitas Dialektika Marx</strong></p>
<p>Meskipun Marx mendapatkan konsepsi dialektikanya dari Hegel, namun dialektika Marx berbeda dengan Hegel. Ketika Hegel menekankan pada Ide atau rasio, Marx menekankan sifat lain dari perkembangan sosial, yaitu material. Dialektika Hegel, yang sering disebut sebagai ‘Dialektika Historis’, berbeda dengan dialektika Marx yang disebut dengan ‘Materialisme Historis’. Sejatinya, konsepsi Marx dapat juga disebut ‘Dialektika Historis Materiil’, sebab Ia tetaplah dialektis meski ada sifat materiil bersamanya.</p>
<p>Sampai di sini patut juga diketengahkan analisis sebagian besar komentator Marxisme mengenai terpengaruhnya Marx oleh Ludwig Feuerbach. Feuerbach adalah filsuf yang berada di antara kiprah Hegel dan Marx, sehingga menjadi penghubung dari keduanya. Feuerbach adalah komentator Hegel. DIalah yang memberikan preseden bagi Marx untuk menolak sifat Idealis dari dialektika Hegel. Feuerbach mengkritik kecenderungan Idealis Hegel bersama dengan kritiknya mengenai agama, yang sesungguhnya adalah kritiknya terhadap Kristianitas.</p>
<p>Bagi Feuerbech, sistem filsafat Hegel seperti perpanjangan filosofis dari agama. Sistem Hegel sangat Idealis. Idealisme itu, yang tidak bersifat riil, menutup mata dari persoalan-persoalan hidup manusia yang konkret. Sistem Hegel seperti agama sebab Ia menawarkan suatu harmoni yang menempatkan persoalan-persoalan konkret di dalam proses yang luar biasa abstraknya. Sistem Hegel seperti pemodelan matematis yang sangat abstrak yang mencoba membuat kerangka teoritis atas fenomena-fenomena yang secara konkret begitu kompleks. Filsafat Hegel tidak materiil, yang artinya tidak bertolak dari makna yang dialami manusia tentang dunianya.</p>
<p>Bagi Feuerbach, sistem yang Idealis seperti itu tidak berguna sebab Ia tidak memberikan apa-apa kepada dunia materiil, padahal manusia mengalami permasalahan secara materiil. Kemiskinan, kebodohan dan keterasingan manusia dari kebahagiaan yang diimpikannya tidak akan menjadi lebih baik ketika manusia menjadi semakin cerdas dalam memahami sistem Hegel bahwa mereka dan dunia mereka hanyalah manifestasi Ide Absolut yang akan segera tereintegrasi, sehingga kesadaran akan penderitaan akan segera menghilang. Sebaliknya, seluruh teori tentang manusia, bagi Feuerbach, haruslah memperhatikan manusia yang konkret.</p>
<p>Relijiusitas dalam filsafat Hegel tercermin pada kecenderungannya untuk memberikan ilusi bagi manusia tentang harmoni mutlak di dalam Ide Absolut. Pergolakan, yang di antaranya adalah penderitaan, hanyalah keretakan-keretakan disintegral yang akan segera ditambal dalam realisasi Ide Absolut. Feuerbach menolak ini dan menekankan materialisme (kekonkretan) sebagai pengganti Idealisme Hegel yang dianggapnya ‘candu’.</p>
<p>Dengan demikian, Feuerbach memberikan Materialisme kepada Marx manakala Hegel memberikannya Dialektika dan ‘kerja’. Namun ada satu hal lagi yang juga merupakan sumbangan Feuerbach kepada Marx: konsepsinya tentang keterasingan.</p>
<p>‘Keterasingan’ sebenarnya juga isu yang diangkat oleh Hegel, namun Feuerbach menggunakannya juga setelah membalik prosesnya. Bagi Hegel, kenyataan adalah hasil Ide Absolut yang mengasingkan (meng-eksklusi) dirinya. Manusia adalah hasil pengasingan ‘Tuhan’ terhadap dirinya sendiri. Bagi Feuerbach, justru Tuhanlah yang dihasilkan oleh keterasingan manusia. Ia ingin mengatakan bahwa Tuhan adalah kisah fiksi yang lahir dari kerinduan manusia akan realisasi dirinya. Sesungguhnya Tuhan tidak lain adalah konsepsi manusia tentang dirinya yang sempurna. Ini sangat masuk akal mengingat yang dimaksud Feuerbach dengan ‘Tuhan’ adalah Trinitas Kristiani yang begitu Anthropomorfis di mana Tuhan berdarah dan berdaging, penuh kebajikan dan rela mengorbankan dirinya demi cita-cita kemanusiaan. Tuhan yang dimaksud Feuerbach adalah Tuhan sebagai pemrofilan manusia yang memenuhi semua Ideal manusiawi yang ingin dilakukannya, namun tidak bisa.</p>
<p>Teori Feuerbach tentang ‘keterasingan’ menjelaskan proses psikis perumusan ‘Tuhan’. Pada awalnya, manusia merasa serba cukup. Ini tidak menunjukkan tahapan temporal manapun dalam sejarah. Manusia tidak memiliki Ideal-ideal atau cita-cita moral sebab semua moralitas adalah tradisi. Tidak ada hambatan untuk merealisasikan kebajikan. Moralitas adalah bahasa sosial. Orang berelasi dengan orang melalui instrumen moral.</p>
<p>Ketika masyarakat berkembang menjadi semakin kompleks—jumlah, pemikiran, hasrat, munculnya otoritas—manusia mulai menemui kendala dalam merealisasikan moral. Di satu titik, manusia mulai mengkultuskan moralitas itu sebab Ia masih mengingatnya namun terkendala dalam menjalankannya. Moralitas menjadi Ideal sehingga menjelma menjadi ilusi mengenai Adimanusia yang tak lain adalah manusia yang mula-mula. Adimanusia ini perlahan menjadi ‘Tuhan’. Dengan demikian, alih-alih manusia yang merupakan hasil keterasingan Tuhan (Ide Absolut) atas dirinya sendiri, melainkan ‘Tuhan’ yang merupakan hasil keterasingan manusia dari ‘<em>the true self</em>’. ‘Tuhan’ lahir dari kerinduan manusia akan jatidirinya.</p>
<p>Keempat hal yang sudah dibahas di atas—dialektika, materialisme, ‘kerja’ dan ‘keterasingan’—adalah dasar-dasar perumusan sosiologi Marxis, suatu sosiologi humanis yang menekankan potensi manusia untuk mengubah alam sampai ke tataran yang istimewa dibanding makhluk hidup manapun, namun suatu ketika kemampuan mengubah alam itu justru akan membawa mereka ke fase yang mengasingkan mereka: Kapitalisme. Unsur revolusi teori Marx adalah bahwa fase itu dapat digulingkan dengan revolusi yang faktor-faktornya akan secara alamiah tersedia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundurrahman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundurrahman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundurrahman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundurrahman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundurrahman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundurrahman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundurrahman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundurrahman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundurrahman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundurrahman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundurrahman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundurrahman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundurrahman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundurrahman.wordpress.com/658/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=658&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/12/15/pemikiran-marx-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b55bb9e0a651078ae940d1141510c3d0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundurrahman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jundurrahman.files.wordpress.com/2011/12/karl-marx.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Karl Marx</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Subjek dan Perjuangan yang Pahit</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/12/13/subjek-dan-perjuangan-yang-pahit/</link>
		<comments>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/12/13/subjek-dan-perjuangan-yang-pahit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 14:04:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jundurrahman Assayyaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Filosofis]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundurrahman.wordpress.com/?p=653</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah kisah Heroik, yang disebut teori, mengenai perjuangan subjek yang diceritakan oleh Jacques Lacan. Lacan adalah seorang psikoanalis Perancis dan seringkali dikaitkan dengan arus pemikiran pascamodernisme. Psikoanalisa adalah suatu pendekatan dalam ilmu psikologi untuk memahami manusia melalui alam bawah sadarnya. Dalam psikoanalisa, alam bawah sadar adalah kondisi atau struktur alam sadar; suatu lokus di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=653&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada sebuah kisah Heroik, yang disebut teori, mengenai perjuangan subjek yang diceritakan oleh Jacques Lacan. Lacan adalah seorang psikoanalis Perancis dan seringkali dikaitkan dengan arus pemikiran pascamodernisme. Psikoanalisa adalah suatu pendekatan dalam ilmu psikologi untuk memahami manusia melalui alam bawah sadarnya. Dalam psikoanalisa, alam bawah sadar adalah kondisi atau struktur alam sadar; suatu lokus di mana alam sadar berumah dan dibentuk. Suatu alam perbendaharaan predisposisi, potensi traumatik, potensi nilai-nilai, sifat, yang diacu oleh proses-proses sadar. Dalam psikoanalisa, alam sadar yang bersifat rasional dan logis adalah kelanjutan dari alam bawah sadar yang irasional dan bahkan hewani. Rasionalitas menjadi berakar pada irasionalitas. Kebenaran sadar berakar pada keharusan buta bawah sadar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sisi lain, arus filsafat pascamodernisme adalah arus (himpunan pemikir-pemikir dan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya sulit diklasifikasikan secara seragam) filsafat abad ke 20 yang muncul sebagai respon dari gagasan tentang &#8216;Modernisme&#8217;. Dalam kaitannya dengan Subjek, Pascamodernisme bertendensi untuk mensubordinasikan ‘subjek’ di bawah suprastruktur yang meliputinya. Dalam pascamodernisme, semua kualitas adidaya yang biasa dinisbatkan kepada manusia seperti kebebasan kehendak (<em>free will</em>), keunikan pribadi (<em>Individual Differences</em>) dan pilihan-pilihan bebas yang membentuk manusia sebenarnya tidak lain adalah keharusan-keharusan dunia eksternal, dunia ‘Simbolik’ yang dibangun oleh konsensus nilai-nilai dan sejarah. Kedirian (<em>self</em>) manusia dianggap lebih merupakan perumusan ide-ide atau kepercayaan (<em>belief</em>) ketimbang fakta absolut yang berlaku kapanpun dan dimanapun secara akultural. Ide-ide itu, alih-alih akultural, justru dibentuk oleh lembaga-lembaga dan struktur seperti bahasa, moral dan ide-ide yang berlaku dalam masyarakat. Nilai-nilai dan produk sejarah yang tadinya adalah ‘senjata’, ‘memakan tuannya’ dan berbalik mensubordinasikannya. Semua kualitas manusia, bahkan yang paling sadar dan dijiwai pun, adalah bentukan struktur dan sistem simbol. Itulah mengapa arus tersebut dinamakan &#8216;pascamodernisme&#8217;, sebab Ia lahir sebagai respon atas Modernisme yang salah satu Diktumnya&#8211;&#8217;Cogito Ergo Sum&#8217;&#8211; adalah tentang subjek yang luar biasa, yang, berkebalikan dengan pascamodernisme, menciptakan dan mengendalikan struktur dan nilai-nilai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Irasionalitas dan superioritas bawah sadar dari psikoanalisa dan struktur yang supraordinatif dalam pascamodernisme teramu ke dalam ‘kisah perjuangan subjek’ Lacan. Pada awalnya subjek (manusia sebagai satu-satunya eksistensi unik, yang bukan-objek) adalah ‘The Real’, yakni Subjek yang masih suci. Akan tetapi ada kesulitan untuk mendefinisikan ‘The Real’ sebagai Subjek. Sebab, ‘The Real’ adalah kesatuan mutlak yang tidak berkekurangan. Dalam pembentukan kesadaran manusia, ‘The Real’ adalah fase ketika kesadaran bayi belum terpisah dari Ibunya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bayi mendapatkan kenikmatan mutlak dengan melebur pada ibunya, memenuhi diri sendiri. Dengan begitu, bayi belum dapat mengonfirmasi eksistensi individualnya. Bayi tidak sadar. Yang tidak sadar, tentu saja bukan subjek. ‘The Real’ adalah kondisi prasubjek, cikal bakal subjek. Ketika ‘The Real’ masih eksis, pemahaman akan ‘The Real’ tidak ada, sebab tidak ada kesadaran yang bisa memikirkan atau membayangkannya. ‘The Real’ dirumuskan di kemudian hari oleh ‘The Imaginary’.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘The Imaginary’ adalah kelanjutan dari ‘The Real’ yang nostalgik, yang merindukan kesempurnaan dan kemutlakan yang diretrospeksikannya dan diformulasikannya sebagai ‘The Real’. Jadi, ‘The Real’ dalam suatu arti adalah produk dari ‘The Imaginary’. Tepatnya: suatu mimpi Utopis, suatu konstruk yang direkayasa untuk menamakan suatu gejala ketiadaan kesadaran yang dicirikan oleh kecukupan mutlak, keterpenuhan murni dan tiadanya konflik-konflik kesadaran dan psikis secara umum.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘The Imaginary’ membayangkan bahwa asal-muasal dirinya adalah ‘The Real’ yang lambat laun memiliki kesadaran sendiri karena ‘feedback’ dari lingkungan. ‘The Real’ menjadi belajar bahwa dirinya independen terhadap objek-objek dan hubungan-hubungan intersubjektif. ‘The Real’ mempelajari bahwa lingkungan memperlakukannya seolah-olah Ia dan Ibunya terpisah satu sama lain. Akhirnya kesadaran individualnya terbentuk bersamaan dengan terpisahnya Ia dengan satu persatu objek-objek dan subjek-subjek yang dulu ‘dikiranya’ adalah satu dengan dirinya. Ego adalah hasil disintegrasi &#8216;The Real&#8217;. Egonya timbul manakala Ia mulai menemukan kosakata luar-biasa itu: Aku. &#8216;The Imaginary&#8217; adalah aktualisasi &#8216;The Real&#8217; oleh dunia luar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nampaknya menjadi niscaya bagi ‘The Imaginary’ untuk menapaktilasi asal-usul psikisnya sehingga pada akhirnya Ia merumuskan konsep ‘The Real’. Kesadaran individual dan hasrat Egoistik menimbulkan konflik manakala dorongan-dorongan kebinatangan menginginkan makan, minum, seks dan agresi namun tidak terpenuhi. Subjek menjadi terluka. Intuisi-intusi transendental untuk mewujudkan kebajikan, keindahan dan kebenaranpun seringkali tidak bersambut sebab dunia penuh dengan kekejian, kebobrokan dan kebathilan. Subjek menjadi semakin terluka. Di sinilah subjek mulai merindukan kesempurnaan, kemutlakan dan keserbacukupan. Ketiga-tiganya hanya dapat terwujud tanpa konflik, tanpa diskrepansi antara dorongan-dorongan dan intuisi-intuisi. Persoalannya, kesenjangan akan selalu hadir, kecuali jika tidak ada harapan-harapan. Harapan-harapan akan selalu ada kecuali jika tidak ada Ego. Kondisi ketiadaan Ego dikonsepsikan oleh ‘The Imaginary’ sebagai ‘The Real’. Ia adalah deklarasi mengenai asal-usul subjek.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Subjek sebagai ‘The Imaginary’ mulai berjuang untuk membayar hutang-hutangnya, menambal keretakan-keretakannya menuju realisasi ‘The Real’. Namun, ‘The Imaginary’ hanya bekerja, hanya beroperasi, hanya diketahui dan hanya berada, sejauh ‘The Symbolic’. ‘The Symbolic’ adalah hampir apa saja yang terkandung di dalam hukum-hukum ‘The Imaginary’ untuk menjadi ‘ada’, untuk mengekspresikan eksistensinya dan bahkan cara berada dari ‘The Imaginary’ itu sendiri. ‘The Symbolic’ adalah lingkungan dari ‘The Imaginary’ yang meliputi bahasa, pranata, kode-kode dan intersubjektifitas, juga hubungan-hubungan subjek-objek di mana subjek mengeksploitasi objek. ‘The Symbolic’ adalah sarana atau seluruh sarana—satu-satunya sarana—bagi ‘The Imaginary’ dalam pengungkapan dirinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘The Symbolic’ hadir pada apa yang dapat ‘ditempuh’ oleh ‘The Imaginary’ untuk menjadi seorang pengrajin perak melalui apa yang bisa dieksploitasi atau dibentuk oleh subjek terhadap objek perak. &#8216;The Symbolic&#8217; adalah batas kreativitas seorang seniman perak yang eksis dalam kerangka sejarah kerajinan perak, ragam-ragam produknya, anasir seninya dan nilai-nilainya. ‘The Symbolic’ adalah kumpulan-kumpulan cara pengungkapan cinta yang—sesuai karakter himpunan—bersifat terbatas yang bisa digunakan oleh subjek terhadap subjek lain yang dicintainya. Bagaimanapun, tak ada satupun aspek ‘The Symbolic’ yang sanggup mengekspresikan cinta subjek! Tidak ada cinta dalam bahasa! Subjek tak pernah mengungkapkan jati dirinya dengan sempurna dengan kegunaan instrumental dari ‘The Symbolic’. Sebab, bukankah ‘The Symbolic’ juga adalah Hukum Peradilan yang kadang tak mampu mengungkapkan kemurnian dari Keadilan Moral di dalam hati?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Drama perjuangan ‘The Imaginary’ untuk mencapai kesempurnaan [kesadaran mutlak (atau: ketaksadaran)] menjadi luar biasa sebab Ia tak mungkin dimenangkan. Ia hanya mungkin dikompromikan. Subjek maksimal hanya mampu mendominasi perjuangannya, bukan memenangkannya sebab subjek, ‘The Imaginary’, hanya dapat berjuang untuk merealisasikan ‘The Real’ yang sempurna melalui sarana-sarana ‘The Symbolic’ yang retak dan rapuh. Oleh karena itu, misalnya, sebagai satu contoh dari sejuta penderitaan subjek, sebenarnya subjek (terpaksa) berbohong ketika Ia menyatakan, “Aku cinta padamu”, karena subjek tidak pernah memaksudkan cinta. Ia berbohong, memang berbohong, tetapi Ia jujur belaka!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundurrahman.wordpress.com/653/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundurrahman.wordpress.com/653/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundurrahman.wordpress.com/653/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundurrahman.wordpress.com/653/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundurrahman.wordpress.com/653/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundurrahman.wordpress.com/653/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundurrahman.wordpress.com/653/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundurrahman.wordpress.com/653/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundurrahman.wordpress.com/653/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundurrahman.wordpress.com/653/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundurrahman.wordpress.com/653/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundurrahman.wordpress.com/653/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundurrahman.wordpress.com/653/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundurrahman.wordpress.com/653/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=653&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/12/13/subjek-dan-perjuangan-yang-pahit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b55bb9e0a651078ae940d1141510c3d0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundurrahman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>25 Oktober 2011</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/10/25/25-oktober-2011/</link>
		<comments>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/10/25/25-oktober-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 09:16:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jundurrahman Assayyaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Keseharian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundurrahman.wordpress.com/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Di balik jendela, Hujan turun sangat deras dan lama. Sederas dan selama apa, siapa yang tahu? Aku merasa telah mengerti: Sang Hujanpun tidak mau tahu. Ia akan turun sederas dan selama tekadnya. Andai Hujan itu mau mewakili hasrat jiwaku, menjadi tubuh bagi tekadnya yang buta, membuatnya hidup dalam kederasan yang seharusnya, meski tak abadi&#8230;dan setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=646&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di balik jendela, Hujan turun sangat deras dan lama. Sederas dan selama apa, siapa yang tahu? Aku merasa telah mengerti: Sang Hujanpun tidak mau tahu. Ia akan turun sederas dan selama tekadnya. Andai Hujan itu mau mewakili hasrat jiwaku, menjadi tubuh bagi tekadnya yang buta, membuatnya hidup dalam kederasan yang seharusnya, meski tak abadi&#8230;dan setelah Ia mereda, bersama mengeringnya Bumi, biarkan sungai jiwaku yang kecil dan dangkal itupun mengering, untuk selamanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundurrahman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundurrahman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundurrahman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundurrahman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundurrahman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundurrahman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundurrahman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundurrahman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundurrahman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundurrahman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundurrahman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundurrahman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundurrahman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundurrahman.wordpress.com/646/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=646&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/10/25/25-oktober-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b55bb9e0a651078ae940d1141510c3d0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundurrahman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>5 April 2011</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/29/5-april-2011/</link>
		<comments>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/29/5-april-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 09:11:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jundurrahman Assayyaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Keseharian]]></category>
		<category><![CDATA[Susastera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundurrahman.wordpress.com/?p=638</guid>
		<description><![CDATA[Mari bercakap-cakap denganku di persimpangan jalan itu, tempat orang-orang bersua Petani dan pedatinya, Pangeran dan kereta kencananya Harapan dan putus asa yang tampil di jalanan dan di antaranya ada Musa, berlari mengejar hidup Mari bercakap-cakap denganku, saling mengiyakan lalu kita pulang ke pelukan kekasih-kekasih kita sambil menginsyafi bahwa kita tidak telah mengubah apa-apa tapi kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=638&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mari bercakap-cakap denganku di persimpangan jalan itu, tempat orang-orang bersua</p>
<p>Petani dan pedatinya, Pangeran dan kereta kencananya</p>
<p>Harapan dan putus asa yang tampil di jalanan</p>
<p>dan di antaranya ada Musa,</p>
<p>berlari mengejar hidup</p>
<p>Mari bercakap-cakap denganku, saling mengiyakan</p>
<p>lalu kita pulang ke pelukan kekasih-kekasih kita</p>
<p>sambil menginsyafi bahwa kita tidak telah mengubah apa-apa</p>
<p>tapi kita sudah bercakap-cakap, dan kita merasa puas</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundurrahman.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundurrahman.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundurrahman.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundurrahman.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundurrahman.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundurrahman.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundurrahman.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundurrahman.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundurrahman.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundurrahman.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundurrahman.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundurrahman.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundurrahman.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundurrahman.wordpress.com/638/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=638&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/29/5-april-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b55bb9e0a651078ae940d1141510c3d0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundurrahman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara &#8216;Tahu&#8217; dan &#8216;Yakin&#8217; (2-Selesai)</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/28/antara-tahu-dan-yakin-2-selesai/</link>
		<comments>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/28/antara-tahu-dan-yakin-2-selesai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 03:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jundurrahman Assayyaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Keseharian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Filosofis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundurrahman.wordpress.com/?p=632</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang dapat diketahui tentang Tuhan? Seperti yang sudah disinggung pada bagian (1), Pak X meletakkan subjektifitas radikalnya mengenai kebenaran, kelogisan dan fakta di dalam konteks keimanan. Dirinya seolah ingin mengatakan bahwa terlebih dalam konteks keimanan, kebenaran, kelogisan, fakta dan hal-hal yang bisa diatribusikan pada argumentasi tentang keberadaan dan ketiadaan Tuhan menjadi sangat subjektif. Ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=632&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:underline;">Apa yang dapat diketahui tentang Tuhan?</span></p>
<p>Seperti yang sudah disinggung pada bagian (1), Pak X meletakkan subjektifitas radikalnya mengenai kebenaran, kelogisan dan fakta di dalam konteks keimanan. Dirinya seolah ingin mengatakan bahwa terlebih dalam konteks keimanan, kebenaran, kelogisan, fakta dan hal-hal yang bisa diatribusikan pada argumentasi tentang keberadaan dan ketiadaan Tuhan menjadi sangat subjektif. Ketika seorang theis mengklaim bahwa argumentasinya ‘benar’ dan bukti yang dikemukakannya ‘faktual’, seorang atheis bisa dengan mudahnya menolak atas alasan subjektif. Bagi Pak X, ini terjadi karena terdapat variabilitas yang tidak dapat dijembatani yang berakar pada subjektifitas dalam menilai kebenaran dan fakta bagi setiap subjek. Oleh karena itu, klaim yang bersifat theistik maupun atheistik sebenarnya hanya merupakan keyakinan buta saja, bukan pengetahuan yang argumentatif.</p>
<p>Argumentasi yang sudah saya susun di dalam bagian (1) ‘kebenaran, kelogisan dan fakta’ adalah salah satu <em>framework</em> saya dalam membangun argumentasi bahwa pernyataan-pernyataan theistik dapat merupakan ‘pengetahuan’ dan secara adil saya mengatakan, bahwa (pernyataan) yang bersifat atheistik pun mungkin menjadi pengetahuan.</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Framework</span></em><span style="text-decoration:underline;">: asumsi-asumsi dasar</span></p>
<p><em>Framework</em> saya terdiri dari tiga hal. Yang pertama adalah thesis utama yang saya kemukakan pada bagian sebelumnya, yaitu bahwa selalu terdapat derajat (level) afirmasi umum tentang kebenaran, kelogisan dan fakta, tak peduli betapapun derajat tersebut bersifat prototipikal atau kerangka atau prinsip-prinsip arkhaik (paling sederhana). Andaikata sebagaimana pendapat pak X bahwa derajat afirmasi umum itu tidak ada dengan alasan subjektifitas radikal, maka sesungguhnya komunikasi paling sederhana tidak dapat terjadi di dunia manusia. Ketika setiap individu manusia menjadi sangat subjektif dalam membangun ‘sistem makna’, maka tidak ada denotasi ataupun konotasi bagi setiap kata, apalagi kalimat atau diskursus. Dengan demikian, terlepas dari subjek pembahasannya, manusia tidak mungkin mengenal komunikasi sebab komunikasi berangkat dari makna-makna konvensional.</p>
<p>Elemen kedua dari <em>framework</em> saya adalah sebuah thesis yang lain: bahwa ‘pengetahuan’ dan ‘keyakinan’ dibedakan berdasarkan derajat penghayatan psikologis. Hal inilah yang memungkinkan diberlakukannya pernyataan saya bahwa baik pernyataan yang theistik maupun atheistik, masing-masing dapat menjadi pengetahuan pada derajat penghayatan psikologis tertentu. Dengan demikian, tentu saja terdapat theisme yang berdasarkan keyakinan dan pengetahuan, begitu pula atheisme. Yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa apa yang secara umum merupakan ‘keyakinan buta’ sama sekali tidak mudah mencapai derajat pengetahuan di dalam penghayatan psikologis seseorang.</p>
<p>Elemen ketiga dari <em>framework</em> saya berbunyi bahwa apa yang disebut ‘pengetahuan’ adalah konsensus umum mengenai isu tertentu. Ini adalah salah satu karakter khas pengetahuan yang membedakannya dari keyakinan: keyakinan bersifat personal, sementara pengetahuan bersifat sosial. Keyakinan dipenuhi dengan metafora-metafora yang keunikannya dipahami secara personal dengan tendensi emosionalnya sendiri, sedangkan pengetahuan begitu ‘dingin’, impersonal dan menggunakan bahasa yang denotatif. Saya mengambil contoh tentang ‘kecepatan’. Rumus kecepatan dalam fisika adalah V=s/t di mana ‘s’ adalah jarak dan ‘t’ adalah waktu tempuh. Ketiga variabel ini diukur secara objektif-impersonal sehingga kapan saja formula kecepatan tersebut menghasilkan suatu kuantitas yang kita sebut ‘besaran kecepatan’, maka itu adalah konsensus umum. Namun, apabila seseorang sedang mengamati mobil yang melaju di pinggir jalan dan Ia menilai bahwa mobil itu ‘melaju dengan cepat’, maka itu adalah keyakinan. Ini tidak berarti bahwa ‘konsensus umum’ merupakan satu-satunya karakter pengetahuan, sebab apabila terdapat konsensus umum yang tidak berada pada derajat penghayatan psikologis tertentu (yang ‘memadai’), maka hal itu disebut sebagai ‘dogma’.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Keyakinan sebagai sesuatu yang tanpa syarat</span></p>
<p>Setiap orang, ketika memulai proses penentuan sikapnya dalam menerima keberadaan Tuhan atau tidak, memulainya dari intuisinya. Isu sebesar, serumit dan sekontroversial ‘Tuhan’ tidak bisa dimulai kecuali dengan asumsi, hipothesis atau tendensi intuitif tertentu yang disebut ‘aksioma’. Aksioma bisa menjadi rapuh dan terbantah di dalam penalaran (<em>rational reasoning</em>) ataupun pembuktian (<em>empirical discovery</em>) dan bisa pula diperkuat dan pada akhirnya diterima. Ini karena sifat aksioma adalah ‘<em>trial and error</em>’. Aksioma terkadang menjadi sekadar ‘titik tolak’ bagi pengembaraan intelektual dalam ‘mencari’ Tuhan.</p>
<p>Intuisi setiap orang mengatakan bahwa entah Tuhan itu ada atau tidak ada. Tidak ada alternatif lain pada modalitas ontologis Tuhan selain bahwa Tuhan itu entah ada atau tak ada. Tidak ada pilihan ketiga. Dari sinilah setiap orang bermula. Pada derajat penghayatan intuitif ini, klaim theistik maupun atheistik adalah sebuah ‘keyakinan’. Ini mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa setiap orang pasti memiliki sesuatu pada derajat ‘keyakinan’ tentang keberadaan Tuhan. Dengan menerima hal ini, kita telah sedikit membantah dengan cara yang elegan bahwa keyakinan memerlukan argumentasi. Keyakinan bukanlah sesuatu yang berada di akhir konstruksi penalaran dan argumentasi. Keyakinan bukanlah resultan, tetapi adalah titik-tolak yang tidak memerlukan apa-apa untuk eksis. Seseorang yang mengatakan bahwa suatu pernyataan yang merupakan puncak-kesimpulan dari sebuah penalaran adalah sebuah keyakinan menjadi mulai diragukan karena kenyataannya, keyakinan eksis tanpa syarat apapun.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pengetahuan sebagai konsekuensi logis dari penalaran</span></p>
<p>Karena ‘keyakinan’ adalah titik tolak penalaran yang tidak memerlukan argumentasi yang mendahuluinya, maka apa saja yang merupakan konsekuensi logis dari penalaran, sistem pembuktian atau argumentasi, adalah bukan keyakinan. Lalu, apakah ‘yang bukan-keyakinan’ itu adalah ‘pengetahuan’? Sejauh dikotomi kita hanya soal keyakinan-pengetahuan, maka jawabannya adalah ya, termasuk dalam isu mengenai ‘Tuhan’.</p>
<p>Ketiga asumsi dasar saya berbunyi: (1) terdapat derajat arkhaik pada afirmasi umum tentang argumentasi (meliputi kebenaran, kelogisan dan fakta), (2) pengetahuan berada pada derajat penghayatan psikologis tertentu yang lebih ‘advance’ dari keyakinan dan (3) pengetahuan adalah ‘konsensus umum’. Saya akan menerapkan ketiga asumsi tersebut pada sebuah ilustrasi di mana seseorang mencoba membuktikan sesuatu untuk menghasilkan pengetahuan, sementara Ia berangkat dari keyakinan.</p>
<p>Bayangkan seseorang yang memperhatikan sebuah kotak yang tertutup pada segala sisinya. Pada mulanya Ia tidak memiliki gagasan apapun tentang isi kotak itu dan Ia ingin mengetahuinya tanpa membukanya. Walaupun ia secara empirik tak mampu mempersepsi isi kotak itu, tetapi ia memiliki sejumlah data untuk melakukan penalarannya.</p>
<p>Pertama, kotak itu berada di daerah pelabuhan. Kedua, kotak itu basah dan air rembesannya terasa asin. Ketiga, kotak itu terlihat kokoh. Keempat, kotak itu berat namun ketika digoyangkan, tidak berbunyi. Kelima, pada hari di mana orang tersebut menemukan kotak itu, barang masuk ke pelabuhan hanya dari China dan keenam, ia melihat sendiri bahwa kotak itu pada awalnya jatuh dari tumpukan kotak yang dibawa keluar dari sebuah kapal yang baru tiba oleh seorang kuli angkut. Pertanyaannya adalah, ketika tokoh kita itu menyimpulkan dengan sangat mantap bahwa isi kotak tersebut adalah perabot kerajinan yang terbuat dari <em>keramik</em>, apakah ia ‘tahu’ atau ‘yakin’?</p>
<p>Secara umum, orang akan mengatakan bahwa orang itu meyakini, bukan mengetahuinya. Akan tetapi, dalam terminologi analisis, dia dapat dikatakan ‘tahu’. Asumsi (1) adalah bahwa terdapat derajat afirmasi umum tentang segala sesuatu, walaupun bersifat arkhaik (sangat sederhana). Tokoh kita menggunakan berbagai macam ‘indikasi’ dalam membangun penalarannya. Ketika Ia memahami bahwa kotak tersebut berada di pelabuhan pada hari di mana hanya kapal dagang dari China yang masuk sementara ia melihat sendiri kotak itu baru dikeluarkan dari kapal yang baru datang, ia dengan mantap menyimpulkan bahwa <span style="text-decoration:underline;">isi kotak itu berasal dari China</span>. Lalu, ketika Ia memahami bahwa kotak itu berat namun tidak berbunyi, Ia menyimpulkan bahwa isi kotak itu dilapisi bahan-bahan peredam kejut, sehingga <span style="text-decoration:underline;">isi kotak itu pasti barang pecah-belah</span>. Sekarang Ia memiliki dua kesimpulan, dan Ia bertanya barang apakah yang berasal dari China dan bersifat mudah pecah? Dengan mantap Ia menyimpulkan bahwa <span style="text-decoration:underline;">isi kotak itu adalah kerajinan dari <em>keramik</em></span>.</p>
<p>Asumsi (1) menguatkan pernyataan bahwa dasar dari ‘pengetahuan’ adalah derajat afirmasi umum tentang hal-hal. Pengetahuan harus dimulai dari data-data yang diafirmasi secara umum. Semua keterangan yang terkait dengan kotak tersebut bisa saja diselewengkan atau diolah secara berbeda sehingga tidak menghasilkan kesimpulan mengenai <em>keramik</em>. Namun, ada derajat afirmasi umum yang mengaitkan antara barang impor, pelabuhan, laut, peredam-kejut dan citra china sebagai eksportir kerajinan <em>keramik</em>. Ini menunjukkan bahwa semua hal itu berada pada derajat afirmasi umum. Kita tidak bisa—terlalu—berdebat tentang asosiasi hal-hal tersebut. Dengan demikian, kecurigaan bahwa kesimpulan sang tokoh tentang isi kotak itu hanya merupakan ‘keyakinan buta’ menjadi terbantahkan karena Ia melakukan proses penarikan kesimpulan berdasarkan hal-hal afirmatif.</p>
<p>Asumsi (2) menyatakan bahwa suatu ‘puncak-penalaran’ atau ‘kesimpulan’ menjadi pengetahuan ketika berada pada derajat penghayatan psikologis tertentu. Ini tidak berarti mensubjektifikasi pengetahuan melainkan menegaskan bahwa ‘pengetahuan’ dibedakan dari ‘keyakinan buta’ pada ada-tidaknya argumentasi yang membawa suatu klaim pada taraf penghayatan psikologis tertentu. Kita bisa mengatakan bahwa sang tokoh ‘<em>yakin bahwa Ia tahu</em>’ seolah-olah kita melibatkan ‘pengetahuan’ dan ‘keyakinan’ sekaligus. Keyakinan sendiri sudah dinyatakan sebagai titik-tolak yang tidak membutuhkan apa-apa untuk eksis. Yang benar adalah bahwa ‘<em>sang tokoh</em> <em>memiliki pemahaman yang mantap bahwa Ia mengetahui isi kotak tersebut sebab Ia telah melewati jarak antara keyakinan dengan pengetahuan berupa argumentasi</em>’.</p>
<p>Asumsi (3) menyatakan bahwa ‘pengetahuan’ adalah konsensus umum. Cara membuktikannya sangat mudah: apakah rata-rata orang berkecerdasan normal akan menganalisis bahwa isi kotak tersebut adalah kerajinan <em>keramik</em>? Jika jawabannya adalah ‘ya’, maka kesimpulan tersebut adalah konsensus umum.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kesimpulan yang kurang ajar</span></p>
<p>Apa perbedaan antara ‘Tuhan’ dengan isi kotak dalam ilustrasi tersebut? Tidak banyak. Keduanya sama-sama tak terlihat, tercium, terdengar. Keduanya memiliki tanda (ayat) yang merujuk kepadanya. Keduanya, (dengan adanya ayat-ayat) menjadi bisa ‘dianalisis’. Kalau serangkaian asumsi dapat diterapkan pada ‘keghaiban’ isi sebuah kotak, mengapa tidak bisa diterapkan pada keghaiban Tuhan? Tuhan sepertinya memang dipahami secara subjektif, emosional dan personal dengan kekhasan psikologis masing-masing individu. Kata ‘psikologis’ sendiri masih terlalu kaya untuk diuraikan di sini. Kembali kepada ‘isu teknis’ dari uraian ini, saya sekadar ingin menyimpulkan bahwa seseorang dimungkinkan untuk ‘mengetahui’ ada-tidaknya Tuhan, bukan sekedar meyakininya secara ‘buta’ selama (setidaknya) terdapat ketiga asumsi yang sudah dibahas sebelumnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundurrahman.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundurrahman.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundurrahman.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundurrahman.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundurrahman.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundurrahman.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundurrahman.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundurrahman.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundurrahman.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundurrahman.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundurrahman.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundurrahman.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundurrahman.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundurrahman.wordpress.com/632/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=632&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/28/antara-tahu-dan-yakin-2-selesai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b55bb9e0a651078ae940d1141510c3d0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundurrahman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dimensi Intensional dalam Korupsi</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/23/dimensi-intensional-dalam-korupsi/</link>
		<comments>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/23/dimensi-intensional-dalam-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 11:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jundurrahman Assayyaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Filosofis]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundurrahman.wordpress.com/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[Melihatnya dari sisi peluang penerapan dan kedudukannya dalam pemberantasan korupsi, gagasan ini nampak aneh. Gagasan ini ditulis semata-mata karena penulisnya&#8211;saya&#8211;hanya mengandalkan koherensi. Anggaplah untuk iseng-iseng.. Pemberantasan korupsi yang terbuka di Indonesia umurnya sudah setua reformasi itu sendiri. Pemberantasan korupsi adalah salah satu tagline reformasi yang paling menonjol, sehingga hal tersebut menjadi bagian integral dari jatidiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=624&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Melihatnya dari sisi peluang penerapan dan kedudukannya dalam pemberantasan korupsi, gagasan ini nampak aneh. Gagasan ini ditulis semata-mata karena penulisnya&#8211;saya&#8211;hanya mengandalkan koherensi. Anggaplah untuk iseng-iseng..</p>
<p>Pemberantasan korupsi yang terbuka di Indonesia umurnya sudah setua reformasi itu sendiri. Pemberantasan korupsi adalah salah satu <em>tagline</em> reformasi yang paling menonjol, sehingga hal tersebut menjadi bagian integral dari jatidiri reformasi. Reformasi di Indonesia yang demokratis kehilangan identitasnya tanpa pemberantasan korupsi. Mereka adalah sinonim satu sama lain.</p>
<p>Dalam perkembangannya, nalar awam maupun ahli yang masih sehat akan cenderung bertanya, “mengapa para koruptor ini selalu bermunculan, seolah-olah mereka adalah manusia cacat moral atau psikopat yang tidak peduli pada pemberantasan korupsi?”, atau, “mengapa regenerasi para koruptor terus berlangsung di tengah dorongan moral untuk memberantasnya? Benarkan para koruptor adalah manusia-manusia yang se-<em>immoral</em> itu?”. Banyak jawaban nonpsikologis yang telah dikemukakan untuk menjawabnya, mulai dari bahwa ‘demokrasi kita berbiaya mahal, sehingga pejabat terpilih cenderung korup untuk menggantikan biaya kampanyenya’, atau, ‘partai-partai politik itu sendiri korup, sehingga menyalurkan kader-kader yang korup ke sektor pengelolaan publik’ dan juga, ‘pejabat juga manusia, di negara manapun bisa tergoda, jangan persoalkan manusianya, tetapi sistemnya’. Namun kali ini saya akan menawarkan jawaban yang bersifat psikologis.</p>
<p>Pelaku koruptor adalah manusia dan psikologi adalah disiplin yang tepat untuk menjelaskan manusia secara ilmiah. Pertanyaan yang sudah dikemukakan adalah, ‘mengapa banyak pelaku korupsi?’ Dalam pandangan saya, selama ini hukum yang mencegah dan menindak tindak pidana korupsi terlalu bersifat ‘impersonal’, sehingga gagap memahami kejiwaan pelaku koruptor ini. Hal ini menyebabkan para pejabat publik sebagai golongan yang berpotensi melakukan korupsi, birokratis maupun politis, tidak dapat mencegah dirinya dari melakukan korupsi sebab mereka tidak memahami kapankah niat korupsi itu muncul? Definisi ‘korupsi’ dalam UU Tipikor berbicara tentang ‘apa itu korupsi?’, serta ‘bilamana dan bagaimana korupsi dilakukan?’. Definisi impersonal semacam itu berguna di dalam hukum positif, tetapi definisi psikologis berguna dalam pencegahan.</p>
<p>Pelaku koruptor adalah manusia dan manusia, dalam psikologi, sebagai makhluk hidup yang evolusinya telah sampai ke taraf kompleksitas mental yang tinggi, mempraktekkan sebuah perilaku dengan terlebih dahulu mengalami ‘proses mental’ tertentu. Orang tidak bermain sepakbola tanpa berniat bermain sepakbola dan seorang pembunuh, kecuali psikopat, tidak membunuh orang yang tidak mengancamnya. Perilaku makhluk secerdas manusia berakar pada proses mentalnya yang mampu menciptakan ‘motif’,  sehingga kita bisa mencegah perilaku dengan menginterupsi proses mentalnya.</p>
<p>Alasan tersebut berguna untuk mengantisipasi sebuah hipotesis yang kemungkinannya sangat besar: mungkinkah ada sekelompok tertentu di dalam populasi koruptor di Indonesia yang tidak sungguh-sungguh memahami bahwa tindakannya adalah korupsi? Akal sehat lebih sulit untuk menerima bahwa semua pelaku koruptor yang muncul di tengah gelora pemberantasan korupsi adalah manusia-manusia <em>immoral</em> yang melakukan korupsi tanpa mempedulikan moralitas publik. Bagaimana mungkin ada sebuah sistem yang sangat sempurna yang menjamin regenerasi manusia-manusia <em>immoral</em> di sektor publik? Persoalannya, dugaan umum mengatakan bahwa mayoritas lembaga di berbagai macam level dan jenis birokrasi tidak bersih dari korupsi. Itu artinya, ada terlalu banyak ‘manusia-manusia <em>immoral</em>’ di sektor publik; sesuatu yang sulit dipercaya karena hal tersebut membentuk suatu pola regenerasi dan <em>self-sustainability</em>. Oleh karena itu, suatu definisi psikologis-manusawi dalam konteks korupsi harus mencakup kalimat, ‘anda berpeluang melakukan korupsi ketika anda berpikir untuk (&#8230;) dan/atau merasa bahwa (&#8230;)’ atau, ‘anda tengah berniat melakukan korupsi ketika anda berpikir untuk (&#8230;) dan/atau merasa bahwa (&#8230;)’.</p>
<p>Dalam penerapannya, definisi semacam itu harus mempertimbangkan <em>trend</em> tindak pidana korupsi sehingga definisi tersebut cukup operasional untuk dipahami oleh seorang pejabat publik di tengah <em>trend</em> tertentu dalam praktek korupsi. Definisi intensional harus menempatkan ‘motif korupsi’ di dalam sebuah konteks. Definisi tersebut harus mencakup faktor-faktor pendorong niat melakukan korupsi seperti ‘politik patron’, ‘primordialisme’ yang justru dianggap etis pada sebagian interpretasi kultural di negeri kita dan ‘kolusi’ kepada badan-badan usaha yang berkelindan dengan Partai politik. Definisi tersebut harus dapat merumuskan bentuk, tahapan dan konsep-konsep mental tipikal yang kerap muncul ketika seseorang tanpa sadar tengah menjustifikasi praktek korupsi melalui modus-modus proses mental seperti asosiasi dan analogi. Definisi ini disebut definisi ‘intensional’ yang berguna untuk <em>mencegah</em> praktek korupsi.</p>
<p>Di luar manfaat pencegahannya, definisi intensional tersebut harusmemiliki implikasi <em>praxis</em>nya. Penyelidikan kasus korupsi harus melibatkan pertanyaan-pertanyaan intensional tersebut kepada tersangka, sebab sistem hukum manapun tidak bisa menghukum siapa saja yang melakukan kejahatan secara tidak disengaja atau tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menyengaja sesuatu. Penyelidikan yang intensional harus membuktikan adanya niat (<em>intention</em>) untuk melakukan korupsi pada proses mental tersangka. Pada taraf penyelidikan, definisi intensional memiliki dua manfaat: pertama, sebagai argumentasi bahwa tidak ada subjek hukum yang lugu dari konsep ‘niat untuk korupsi’ berdasarkan asumsi sistem hukum kita bahwa, ‘semua subjek hukum memahami hukum’ dan kedua, sebagai landasan teoritis untuk menyelidiki ada tidaknya motif sehingga pelaku tidak digolongkan sebagai ‘tidak sadar’.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundurrahman.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundurrahman.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundurrahman.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundurrahman.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundurrahman.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundurrahman.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundurrahman.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundurrahman.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundurrahman.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundurrahman.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundurrahman.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundurrahman.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundurrahman.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundurrahman.wordpress.com/624/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=624&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/23/dimensi-intensional-dalam-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b55bb9e0a651078ae940d1141510c3d0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundurrahman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara &#8216;Tahu&#8217; dan &#8216;Yakin&#8217; (1)</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/19/antara-tahu-dan-yakin-1/</link>
		<comments>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/19/antara-tahu-dan-yakin-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 13:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jundurrahman Assayyaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Keseharian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran Filosofis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundurrahman.wordpress.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[ANTARA ‘TAHU’ DAN ‘YAKIN’ Pertama, ‘tahu’ yang saya maksud bukanlah jenis makanan olahan kacang kedelai, tetapi kata sifat ‘tahu’ seperti yang ada dalam kata berimbuhan ‘pengetahuan’ atau ‘ketidaktahuan’. Jadi jangan terlanjur berharap bahwa saya akan menulis sesuatu tentang dunia kuliner.. Amma ba’du, Saya pernah berdebat dengan seseorang tentang perbedaan antara ‘tahu’ dan ‘yakin’. Pada mulanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=615&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:underline;">ANTARA ‘TAHU’ DAN ‘YAKIN’</span></p>
<p>Pertama, ‘tahu’ yang saya maksud bukanlah jenis makanan olahan kacang kedelai, tetapi kata sifat ‘tahu’ seperti yang ada dalam kata berimbuhan ‘pengetahuan’ atau ‘ketidaktahuan’. Jadi jangan terlanjur berharap bahwa saya akan menulis sesuatu tentang dunia kuliner..</p>
<p>Amma ba’du, Saya pernah berdebat dengan seseorang tentang perbedaan antara ‘tahu’ dan ‘yakin’. Pada mulanya medan perdebatan ada di seputar sejauh mana terma-terma ‘fakta’, ‘kebenaran’ dan ‘logis’ dapat didefinisikan secara ketat, mengingat terma-terma tersebut tidak pernah memiliki makna ‘tiranik’ yang tunggal apabila telah terlibat di dalam diskursus penalaran.</p>
<p>Pak x, sebut saja begitu, lawan debat saya, berpendapat bahwa terma-terma tersebut luar biasa subjektifnya dan nyaris mustahil ditemui pola definisi yang cukup umum tentang istilah-istilah tersebut. Ini memunculkan konsekuensi bahwa apa yang merupakan ‘kebenaran’ bagi seseorang sangat mungkin dinilai sebagai ‘selain kebenaran’ dengan 100 variasi bagi 100 orang. Sama halnya dengan itu, apa yang bersifat ‘logis’ bagi seseorang, menjadi logis karena unsur-unsur yang bersifat subjektif. Saya menolak pendapat yang semacam ini, karena bagi saya, misalnya pada kasus terma ‘logis’, pengertian radikal yang diajukan pak x bertentangan dengan makna yang secara etimologis (kalau tidak bisa dibilang secara inheren) ada pada kata ‘logis’, yakni ‘hukum umum nomotetis’. ‘kebenaran’ mungkin lebih kontroversial bagi individu-individu yang berlainan dibanding apa yang bersifat ‘logis’, tetapi bahkan isu yang kontroversial seperti itupun pasti memiliki konteks teknisnya dalam setiap penggunaannya sehingga saya tetap berpendapat bahwa relatifitas pada pemaknaan ‘kebenaran’ yang berada-pada-konteks tidak seradikal itu.</p>
<p>Pak x meletakkan relatifitas radikalnya pada konteks keimanan. Ketika dia ditanya mengapa para theis tidak bisa meyakinkan para atheis bahkan ketika mereka (para theis) telah mengajukan argumentasi dan bukti yang benar dan faktual, dia menjawab bahwa individu yang berlainan memiliki kapasitas yang secara radikal berbeda pada penerimaan tentangderajat ‘kebenaran’ pada argumentasi dan ‘kefaktaan’ pada bukti. Dengan kata lain, setiap individu memiliki norma yang unik secara radikal untuk menentukan sikap mana saja ‘argumentasi yang sesuai kebenaran’ dan ‘bukti yang faktual’ itu. Melalui argumentasi yang semacam itu, menurut hemat saya, adalah tidak terhindarkan untuk menyimpulkan bahwa bagi pak x, diskusi yang efektif dan berakhir pada kesepakatan amat sangat sulit untuk terjadi sebab kapasitas penerimaan manusia mengenai kebenaran dan kelogisan luar biasa sulit untuk dijembatani. Saya tidak menyetujui pendapat ini.</p>
<p>Oleh karena itu, sebagai konsekuensi dari premis-premisnya, pak x mengatakan bahwa teori tentang Tuhan selalu merupakan persoalan keyakinan, bukan pengetahuan, sebab tidak ada orang yang mengetahui bahwa Tuhan itu ada dan tidak ada pernyataan tentang ‘pengetahuan akan Tuhan’ yang sah sebab tidak ada norma umum yang memadai bagi kebanyakan orang tentang kebenaran dan kelogisan. Sebagai konsekuensi atas ketidaksetujuan saya terhadap premis-premis pak x, sayapun tidak menyetujui pendapatnya yang ini.</p>
<p>Dengan memeriksa struktur perdebatan saya dengan pak x, saya menggarisbawahi 2 isu utama yang akan saya bahas: (1) apakah ada norma umum yang nomotetis, betapapun prototipikalnya itu, tentang ‘kebenaran’, ‘kelogisan’ dan ‘fakta’? Dan (2) apakah seseorang benar ketika ia menyatakan bahwa ia ‘tahu’ bahwa Tuhan itu ada?</p>
<p><strong>Kebenaran, kelogisan dan fakta</strong></p>
<p><strong>Kebenaran</strong></p>
<p>Sebagian orang mungkin mengkeramatkan kata ‘kebenaran’ sebagai hal supranatural yang tidak bisa dipahami oleh ‘nature’ manusia. Orang-orang yang seperti ini mungkin benar dalam konteks teknisnya sendiri, sebab mereka menempatkan kata-konsep kebenaran dalam dunia mistisisme-spiritual. Dalam dunia mistisisme-spiritual yang tidak operasional, ‘kebenaran’ sebagai ‘ultimate truth’ menjadi ‘ultimate goal’ yang dicari dengan pengorbanan besar melalui meditasi, kontemplasi atau pakem hidup yang asketik. Akan tetapi, ‘kebenaran’ juga adalah kosakata yang umum, awam dan membumi. Kebenaran di dalam fisika memiliki konteks teknisnya sendiri kecuali apabila fisika ditafsirkan secara filosofis; begitu pula dalam psikologi dan disiplin-disiplin non-sains, bahkan dalam disiplin apapun. Secara filosofis, saya mengajukan gagasan bahwa ‘kebenaran’ adalah segala sesuatu yang ‘tidak mungkin dipersalahkan’ atas setidak-tidaknya suatu alasan yang fundamental.</p>
<p>Sesuatu menjadi kebenaran dalam konteks teknisnya apabila hal tersebut tidak mungkin ditolak kecuali dengan konsekuensi bahwa tidak ada alternatif penggantinya. Contohnya, apabila hukum bahwa ‘benda kecil lebih kecil daripada benda besar yang lebih besar dari benda kecil tersebut’ tidak dapat ditolak tanpa mengancurkan seluruh kontinuum logika yang ada, maka hukum tersebut adalah kebenaran. Kenyataannya, hukum tersebut tidak dapat ditolak kecuali apabila kita secara curang merestrukturisasi seluruh sistem bahasa kita di mana kata ‘kecil’ bukanlah antonim dari kata ‘besar’. Oleh karena realitas mengenai ‘kecil’ dan ‘besar’ menemukan manifestasinya di alam secara universal dan konsisten, maka hukum tersebut menjadi benar. Apabila ditolak, kita tidak punya hukum lain yang ‘setara’ yang bisa menggantikannya, sehingga dengan demikian seluruh dimensi ukuran yang melibatkan ‘besar’ dan ‘kecil’ menjadi punah dalam khazanah ummat manusia. Ini adalah contoh di mana sesuatu pasti diterima oleh semua individu berakal sehat sebagai kebenaran absolut atas alasan yang bersifat ‘aksiologis’ yang berdasarkan nilai gunanya untuk menjaga keberlangsungan apa yang saya sebut sebagai ‘kontinuum logika’.</p>
<p>Contoh lain yang bisa kita berikan tentang kebenaran absolut dalam suatu konteks teknis adalah: ketika kita ditanya, “adakah sesuatu yang ada itu?”. Dengan kalimat lain, pertanyaannya berbunyi, “apakah ada sekurang-kurangnya satu hal saja yang ada?”. Mungkinkah orang berbeda pendapat dalam menjawab pertanyaan ini; mungkinkah orang menjawab, “tidak ada satupun hal yang ada!”? Andai ada orang yang menjawab begitu, dia akan menghancurkan dirinya sendiri karena konsekuensi logisnya menjadi, “ya, tidak ada satupun hal yang ada termasuk pernyataanmu bahwa tidak ada satupun hal yang ada itu”. Seperti yang sudah dikatakan tadi, ‘kebenaran’ adalah apa saja yang ‘tidak mungkin dipersalahkan’ berdasarkan setidaknya satu alasan. Contoh dalam paragraf ini adalah contoh kebenaran yang tidak mungkin dipersalahkan atas alasan ontologis; yaitu argumentasi bahwa ‘ada’ itu adalah ‘ada’ itu sendiri dan bukan ‘tidak ada’ atau ‘selain ada’. ‘Ada’ itu adalah dirinya sendiri dan bukan apapun yang bukan dirinya (postulat identitas ontologis).</p>
<p>Contoh terakhir lekat dengan kehidupan sehari-hari. Gelas dan sendok, keduanya adalah benda fisik yang berbeda. Bagaimana kalau benda yang biasa disebut gelas disebut sendok dan benda yang biasa disebut sendok disebut gelas? Sejauh masyarakat tidak melakukan revolusi bahasanya, kebenaran berbunyi ‘benda gelas bernama gelas dan benda sendok bernama sendok’. ‘kegelasan’ gelas dan ‘kesendokan’ sendok tidak bersifat inheren. Artinya, kalau kita mengamati sendok dan gelas di bawah mikroskop dan ketika kita mengurai struktur molekuler sendok dan gelas, kita tetap saja tak menemukan fakta empirik bahwa sendok seharusnya bernama sendok dan gelas seharusnya disebut gelas. Akan tetapi gelas dan sendok tetap saja tidak bisa dipertukarkan dan itulah kebenaran, dalam konteks teknisnya. Hanya orang yang delusional dan hanya ideologi yang kacau saja yang mau memperjuangkan perubahan penyebutan bagi sendok dan gelas. Ini adalah jenis kebenaran konstruktivisme sosial.</p>
<p>Derajat kebenaran selalu bersifat umum, betapapun prototipikalnya. Setiap kontroversi yang keras tidak membuktikan bahwa relatifitas kebenaran itu radikal tingkat dewa. Kontroversi tentang apakah ini atau itu yang benar menunjukkan bahwa derajat kebenaran dalam isu tersebut lebih prototipikal dari derajat yang sedang dikelola oleh kontroversi. Derajat penerimaan umum terhadap kebenaran bukannya tidak ada, hanya belum ditemukan saja.</p>
<p><strong>Kelogisan</strong></p>
<p>Argumentasi yang sama saya berlakukan pada ‘kelogisan’ dan ‘fakta’. ‘kelogisan’ atau ‘derajat penerimaan umum atas apa yang logis’ memang menjadi bervariasi karena beberapa variabel: variabel kecerdasan, variabel perspektif (cakrawala, luas sudut pandang), variabel tingkat perkembangan intelektualitas suatu peradaban dan lain-lain. Akan tetapi kaidah sebelumnya tetap berlaku, yakni bahwa variabilitas itu berangkat dari sebuah derajat penerimaan umum, betapapun prototipikalnya derajat tersebut. Kata sifat ‘logis’ yang berasal dari kata benda ‘logos’ yang berarti ‘hukum umum nomotetis (yang tak terubahkan)’ pada dirinya sendiri sudah menyatakan objektifitas, level penerimaan umum.</p>
<p>Contoh yang sangat tidak memuaskan yang bisa saya berikan adalah seperti dalam proses perkembangan pengetahuan. Masyarakat abad ke 3 SM akan merasa bahwa kemampuan terbang pesawat boeing 747 adalah tidak logis, sebab mereka tidak mampu memahami hukum-hukum yang bekerja pada fenomena terbangnya pesawat. Di sisi lain, ilmuwan penerbangan abad ke 21 menganggap fenomena itu logis adanya. Sekilas ini membuktikan adanya variabilitas yang ekstrim pada penerimaan umum atas apa yang logis. Tetapi ketika kita memahami bahwa selalu terdapat derajat prototipikal, kita menjadi memahami bahwa masyarakat abad ke 3 sm dan abad 21 sama-sama memahami matematika.</p>
<p>Hukum-hukum pada peristiwa mengudaranya pesawat adalah aerodinamika, elektronika, mekanika, yang kesemuanya merupakan hukum-hukum fisis. Bahasa dari fisika adalah matematika, sehingga ada derajat prototipikal penerimaan umum atas apa yang logis, yang berada pada level pemahaman bersama tentang matematika, setidak-tidaknya tentang aritmatika. Matematika dalam kasus ini adalah ‘prima causa’ atau ‘premis mayor’ yang menurunkan pengetahuan-pengetahuan yang semakin rinci atau spesifik.Menerima matematika sebagai sistem bahasa yang logis untuk mengungkapkan pola-pola berbasis jumlah di alam, berarti mengantisipasi ditemukannya pola-pola baru sebagai koherensi atas pola-pola lama, yang lambat laun akan menemukan semua hukum yang berlangsung pada peristiwa mengudaranya pesawat terbang.</p>
<p><strong>Fakta</strong></p>
<p>Agak lebih sulit membahas tentang derajat penerimaan umum pada ‘fakta’. Beberapa kalangan mengajukan usul bahwa ‘fakta’ adalah segala sesuatu yang dikonfirmasi oleh kelima indera, sehingga bersifat perseptual atau sensibel. Akan tetapi, kenyataannya, peradaban manusia mengenal fakta-fakta lain yang tidak dikonfirmasi oleh kelima indera. Ambil contoh konsep tentang ‘fakta hukum’ yang tidak pernah secara naif sekadar berarti ‘dikonfirmasi’ oleh kelima indera. Fakta hukum adalah vonis hukum atas sesuatu yang terbukti terjadi berdasarkan sistem penyelidikan hukum. Sistem penyelidikan hukum menjadi ‘indera keenam’ yang memungkinkan fakta hukum menjadi perseptual.</p>
<p>Argumentasi lain yang lebih bersifat epistemologis yang dapat menguatkan pernyataan bahwa ‘fakta’ lebih luas daripada sekadar bersifat perseptual datang dari bidang psikologi abnormal. Salah satu klasifikasi besar abnormalitas dalam psikologi adalah ‘psikotik’, yaitu gangguan kejiwaan di mana penderitanya mengalami delusi yang parah yang menyebabkan konstruksi realitasnya berbeda dari ‘orang normal’. Sederhananya, seorang yang psikotik adalah orang yang mempersepsi kenyataan dengan cara yang berbeda dengan orang normal. Pertanyaannya adalah: apakah persepsi inderawi dari seorang yang psikotik juga mengonfirmasi fakta? Kalau ya, maka fakta menjadi sesuatu yang tidak bernas karena berbeda pada berbagai macam tingkat ‘psychological well-beingness’. Padahal, selama ini pengertian umum tentang fakta adalah kebenaran yang paling sederhana. Dengan demikian, suka atau tidak, definisi tentang fakta menjadi lebih luas dari pengertian bahwa fakta adalah segala sesuatu yang dapat dikonfirmasi oleh kelima indera saja.</p>
<p>Lalu apa itu fakta? Saya mengajukan pengertian bahwa fakta adalah segala sesuatu yang dikonfirmasi oleh ‘sistem pembuktian’. Yang dimaksud dengan ‘sistem pembuktian’ adalah baik alat (benda yang mampu bekerja) atau cara (prosedur yang diaplikasikan secara sengaja) yang dapat mengolah data menjadi kesimpulan. Kelima indera manusia adalah sistem-sistem pembuktian berupa alat sebab mampu mengolah stimulus-stimulus neurologis menjadi sesuatu yang berupa ‘suara’, ‘wujud, ‘rasa’, ‘aroma’ dan ‘tekstur’. Akan tetapi ada sistem-sistem pembuktian lain yang berupa metode seperti pada sistem peradilan (yang menghasilkan ‘fakta hukum’) atau instrumen-ukur psikologi yang menghasilkan fakta psikologis (bukan ‘fakta kejiwaan’).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundurrahman.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundurrahman.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundurrahman.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundurrahman.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundurrahman.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundurrahman.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundurrahman.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundurrahman.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundurrahman.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundurrahman.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundurrahman.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundurrahman.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundurrahman.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundurrahman.wordpress.com/615/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=615&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/19/antara-tahu-dan-yakin-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b55bb9e0a651078ae940d1141510c3d0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundurrahman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa yang Biologi tak mampu jelaskan dari diri seekor burung&#8230;</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/13/apa-yang-biologi-tak-mampu-jelaskan-dari-diri-seekor-burung/</link>
		<comments>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/13/apa-yang-biologi-tak-mampu-jelaskan-dari-diri-seekor-burung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 04:27:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jundurrahman Assayyaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Susastera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundurrahman.wordpress.com/?p=612</guid>
		<description><![CDATA[Seekor burung anggota kawanan burung tersesat ke tempatku. Hewan itu tampak merana. Ia kehilangan kawanannya sama seperti manusia kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Burung itu menjadi buta, menjadi bisu dan menjadi tuli karena tiga ekor kawannya adalah mata, lidah dan telinganya. Aku bertanya kepada sang burung, mengapa Ia bisa larut ke dalam diri teman-temannya, sedangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=612&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://jundurrahman.files.wordpress.com/2011/09/a-gift-from-a-bird.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-613" title="a gift from a bird" src="http://jundurrahman.files.wordpress.com/2011/09/a-gift-from-a-bird.png?w=300&#038;h=290" alt="" width="300" height="290" /></a></p>
<p>Seekor burung anggota kawanan burung tersesat ke tempatku. Hewan itu tampak merana. Ia kehilangan kawanannya sama seperti manusia kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Burung itu menjadi buta, menjadi bisu dan menjadi tuli karena tiga ekor kawannya adalah mata, lidah dan telinganya. Aku bertanya kepada sang burung, mengapa Ia bisa larut ke dalam diri teman-temannya, sedangkan aku masih gelisah dengan diriku sendiri? Mengapa aku masih saja bisa melihat, berbicara dan mendengar walaupun jarakku kepada masa di mana kekasihku pernah berada semakin jauh? Sang burung memberikan isyarat kepadaku bahwa Ia pun pernah terluka, hanya saja kaum burung tidak ditakdirkan untuk berbagi cerita duka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundurrahman.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundurrahman.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundurrahman.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundurrahman.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundurrahman.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundurrahman.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundurrahman.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundurrahman.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundurrahman.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundurrahman.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundurrahman.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundurrahman.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundurrahman.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundurrahman.wordpress.com/612/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=612&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/09/13/apa-yang-biologi-tak-mampu-jelaskan-dari-diri-seekor-burung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b55bb9e0a651078ae940d1141510c3d0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundurrahman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jundurrahman.files.wordpress.com/2011/09/a-gift-from-a-bird.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">a gift from a bird</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kutipan tentang Perbuatan Bodoh</title>
		<link>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/08/28/sebuah-kutipan-tentang-perbuatan-bodoh/</link>
		<comments>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/08/28/sebuah-kutipan-tentang-perbuatan-bodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 21:39:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jundurrahman Assayyaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Keseharian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jundurrahman.wordpress.com/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kau tidak boleh membenci orang&#8221;, kata Ibuku, &#8220;tetapi hanya boleh membenci perbuatannya. Kau tidak boleh membenci orang karena Ia bodoh, tetapi kau tahu nak, menjadi bodoh itu adalah perbuatan bodoh&#8221; &#8211;Forrest Gump dalam &#8220;Forrest Gump&#8221;. Forrest Gump adalah orang &#8216;bodoh&#8217; dan inilah warisan Ibunya agar Mr. Gump tidak kehilangan dua tanda kutip di antara kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=604&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kau tidak boleh membenci orang&#8221;, kata Ibuku, &#8220;tetapi hanya boleh membenci perbuatannya. Kau tidak boleh membenci orang karena Ia bodoh, tetapi kau tahu nak, menjadi bodoh itu adalah perbuatan bodoh&#8221;</p>
<p style="text-align:right;"><em>&#8211;Forrest Gump dalam &#8220;Forrest Gump&#8221;. Forrest Gump adalah orang &#8216;bodoh&#8217; dan inilah warisan Ibunya agar Mr. Gump tidak kehilangan dua tanda kutip di antara kata &#8216;bodoh&#8217; itu</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jundurrahman.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jundurrahman.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jundurrahman.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jundurrahman.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jundurrahman.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jundurrahman.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jundurrahman.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jundurrahman.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jundurrahman.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jundurrahman.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jundurrahman.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jundurrahman.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jundurrahman.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jundurrahman.wordpress.com/604/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jundurrahman.wordpress.com&amp;blog=4667837&amp;post=604&amp;subd=jundurrahman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jundurrahman.wordpress.com/2011/08/28/sebuah-kutipan-tentang-perbuatan-bodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b55bb9e0a651078ae940d1141510c3d0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jundurrahman</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
