Beranda > Pemikiran Filosofis > Pemikiran Marx (2)

Pemikiran Marx (2)

Materialisme Historis, Kapitalisme, Komunisme

 Ketiga istilah di atas secara bergantian digunakan oleh sebagian orang untuk menamakan gagasan Marx. Anthony Giddens, yang ulasannya tentang Kapitalisme (Capitalism and Modern Social Theory) adalah sumber yang paling saya rujuk sampai sekarang, mengatakan bahwa sesungguhnya Marx adalah pemikir yang brilian dan sebagaimana ciri pemikir brilian lain, dia membahas banyak sekali hal sehingga pada dasarnya pemikirannya adalah himpunan tema-tema yang luas. Dia kurang fokus dengan satu hal saja. Sering orang harus menelusuri lebih dari satu karya Marx untuk mengkodifikasi atau mendapat keseluruhan pengetahuan yang sistematis tentang satu tema Marxis saja. Jika kita mengenal Marx sebagai pencetus isu-isu ‘hubungan-hubungan produksi’, ‘perkembangan sejarah’, ‘kerja’, species-life’, ‘hubungan produksi’ hingga ‘komunisme’, maka setiap tema itu bukannya dibahas secara tuntas di sebuah buku atau bab yang khusus. Perumusan apa yang kita kenal dengan ‘tema-tema yang dibahas Marx’ adalah hasil pembacaan atas karya-karya tersebut di kemudian hari. Dengan begitu, kita sulit untuk memberinya asosiasi tunggal entah dengan ‘materialisme historis’, ‘kapitalisme’ atau ‘komunisme’.

Untuk mempermudah posisi gagasan-gagasan utama Marx, kita bisa mengatakan bahwa ‘Materialisme historis’ adalah alat analisis Marx atas sejarah. Dia adalah epistemologi Marx dan bukan sebentuk pengetahuan atau produk penelitian. Sedangkan ‘Kapitalisme’ adalah nama bagi hasil kajian Marx mengenai sejarah kontemporer. Sejarah kontemporer adalah subjek yang penting bagi teoritisi sejarah, sebab Ia menjelaskan bagaimana dan siapa manusia-manusia di Dunia pada hari ini. ‘Kapitalisme’ adalah nama tahapan perkembangan sosial di mana kita tengah berada kini (atau tepatnya: zaman pada saat Marx tengah berada, yaitu pada pertengahan hingga akhir  abad Ke 19).

Secara sederhana, Marx mengonsepsikan sejarah sebagai perkembangan dari fase-fase Sosialisme Awal-Feodalisme-Kapitalisme-Komunisme (sosialisme akhir). Urutan tersebut membersitkan kesan adanya ‘ramalan’ yang dibuat Marx tentang fase sosial yang menggantikan Kapitalisme, yakni ‘Komunisme’ sebab fase itu belum terjadi sampai pada saat Marx merumuskan teorinya. Selain itu, bisa terlihat pula bahwa fase-fase perkembangan sejarah menurut Marx adalah proses peralihan dari sebentuk sosialisme purba ke sebentuk sosialisme lain yang lebih kompleks dan modern.

Komunisme dan Otoritarianisme

Giddens juga menganalisis bahwa Marx memaksudkan ‘komunisme’ sebagai Demokrasi itu sendiri. Lebih tepatnya: demokrasi yang asli, yang seharusnya. Ini cukup mendisonansi kesan di kalangan orang-orang bias yang terkecoh oleh propaganda bahwa Marxisme adalah otoritarianisme. Jangankan merupakan jenis pemerintahan yang melibatkan sedikit orang sebagai penguasa, Komunisme yang dimaksudkan Marx justru meniadakan kelas penguasa, sehingga pada dasarnya justru melibatkan banyak, sangat banyak, terlalu banyak bahkan semua orang karena Ia tak lain adalah pengertian baru tentang Demokrasi.

Dengan menyamakan Komunisme dengan Demokrasi, tidak berarti Marx mengatakan bahwa dunia Barat yang ketika itu sedang terdemokratisasi seiring dengan runtuhnya Feodalisme pada masa Pencerahan dan ditegaskan oleh Revolusi Perancis di abad ke 19 sedang terkomunisasi. Demokrasi Marx bukanlah demokrasi historis, melainkan konsepsional. Bagi Marx, demokrasi yang diterapkan oleh sejarah Barat adalah demokrasi yang defisiensi, yang sesungguhnya lebih merupakan propaganda tentang demokrasi daripada demorasi yang sebenarnya. Marx berusaha membenahi itu dengan mengonsepsikan ulang ‘demos’ sebagai ‘commune’.

Namun demikian, pencampuran antara kesan Komunisme dengan Otoritarianisme bukannya tanpa alasan sama sekali. Setidaknya ada dua alasan: (1) di tahap teoritis, para Marxis dan komentator Marxisme menerjemahkan dan mengekstrapolasi gagasan-gagasan otentik Marx dengan merumuskan harusnya membentuk Partai Komunis. Seorang Marxis Jerman, Walter Benjamin, mengatakan bahwa revolusi proletariat sebagaimana yang diramalkan oleh Marx sebagai tanda beralihnya kapitalisme ke komunisme, bukanlah keharusan sejarah. Sejarah tidaklah dijalankan berdasarkan prinsip mekanika dan bukanlah persamaan-persamaan matematis. Komunisme bukanlah resultan yang pasti terjadi karena faktor-faktor alamiahnya. Benjamin menangkap kesan bahwa bagi Marx dan aktivis komunisme Eropa kala itu, revolusi proletariat adalah kepastian sejarah, sehingga tidak perlu diorganisir. Benjamin berpandangan sebaliknya.

Bagi Benjamin, kesadaran kelas proletariat tidak serta-merta muncul sebab kalangan proletar bisa saja memiliki semangat revolusi yang tinggi atau rendah. Proletariat zaman industri juga memilikinya. Kaum buruh sebagai proletariat zaman industri bisa saja kurang revolusioner, sebab kesadaran kelas tidak terbentuk dengan serta-merta. Gagasan mengenai ‘kesadaran kelas’ adalah faktor penting bagi sebagian Marxis yang beranggapan bahwa revolusi akan terjadi sebagai kepastian sejarah. Secara tidak langsung, para Marxis yang berpandangan demikian menerima pembentukan kesadaran kelas sebagai suatu keniscayaan pula.

‘Kesadaran kelas’ adalah sesuatu yang menyatukan kaum tertindas dalam peristiwa-peristiwa pembentukan kelas yang mengawali setiap peralihan tahapan sejarah. Seorang Marxis lain, Georg Lukacs, mengatakan bahwa—saya menganggap ini merupakan kelanjutan dari analisis dari Karl Marx sendiri sebagaimana terkesan dalam beberapa ulasan yang pernah saya baca—kaum proletar adalah anggota masyarakat yang paling intelek sebab mereka adalah penguasa kompetensi produksi. Kompetensi semacam itu didapatkan dari pelatihan dan pendidikan; sesuatu yang membuat mereka lebih intelek dari kebanyakan pemodal. Dengan basis pendidikan dan kehidupan yang ditentukan oleh fluktuasi modal dan fiskal, kaum proletar siap hidup dengan dinamis, mengantisipasi dan bahkan hidup ‘beratapkan’ perubahan itu sendiri.

Karakter proletariat yang intelektual dan dinamis berbeda dengan kaum kapitalis. Secara umum para kapitalis tidaklah memiliki kompetensi produksi. Seorang pemegang saham mayoritas perusahaan otomotif tidak tahu-menahu teknologi otomotif yang canggih dan selalu berinovasi, namun tidak demikian dengan karyawan-karyawan proletariatnya. Kapitalis menguasai sebagian besar uang yang dikelola dalam struktur bisnis karena proses akumulasi modal dan akses terhadap pasar. Ini menegaskan sifat tidak intelektualnya kaum kapitalis sebagaimana yang dimaksud Lukacs dan Marx.

Analisis demikian mengantarkan Lukacs untuk sampai kepada kesimpulan bahwa kalangan yang intelektual dan berjiwa dinamis itu akan dengan sendirinya sampai kepada pemikiran tentang ironi dan irasionalitas mengenai ketertindasan mereka yang tidak wajar. Pada akhirnya, dengan cara-cara yang otomatis, kelompok sosial yang tertindas itu akan menganalisis keadaan masyarakat mereka sendiri. Analisis mereka akan sampai kepada kesimpulan bahwa ada suatu kelas di dalam masyarakat yang memiliki kompetensi produksi dan segala aspek intelektual yang dibutuhkan untuk mencipta komoditas melalui pembentukan alam, namun mereka ‘diasingkan’ dari nilai ekonomis yang sesungguhnya dari karya-karya cipta mereka. Di titik ini, kesadaran akan nasib yang sama muncul, dan kelas sosial abadi itu dideklarasikan kemunculannya.

Akan tetapi Stalin, Benjamin dan kalangan Marxis yang lebih aktif berpandangan bahwa kesadaran yang semacam itu tidak akan muncul dengan sendirinya. ‘Revolusioner’ sangat boleh jadi bukanlah sifat proletar. Proletariat ‘diasingkan’ dari hasil-hasil produksinya yang dieksploitasi oleh kapitalis, namun hal itu tidak memunculkan kesadaran kolektif. Kalaupun ada, sangat mungkin perjuangannya bersifat lokal dan kompromistik, tanpa pemahaman yang dimaksudkan Marx tentang kesadaran kelas dan dialektika sejarah. Untuk menumbuhkan kesadaran kelas, perlu dibentuk suatu organisasi yang menyebarkan konsepsi proletariat sebagai alat perjuangan. Ini sama seperti memberi ‘bentuk’ bagi semangat revolusioner yang sudah ada, tetapi terancam impoten.

Alasan (2) adalah bahwa di tahap praktis, berdasarkan analisis teoritis, Marxis yang lebih radikal melihat perlunya dibentuk suatu Partai Komunis. Partai Komunis menjadi mesin propaganda yang bekerja untuk memberi ‘wujud’ bagi proletariat yang tertindas. Partai memperkenalkan Ideologi buruh untuk berjuang merealisasikan masyarakat tanpa kelas, tanpa hak milik pribadi. Kiprah Partai Komunis, sebagaimana dicatat oleh sejarah, memainkan peran propaganda, perjuangan berdarah merebut kekuasaan dan sebagai unsur kekuasaan dalam sebuah negara Komunis, melakukan pemaksaan kebijakan yang keras atas nama ‘stabilitas’ dan usaha-usaha yang kurang memerhatikan hak asasi manusia. Dengan demikian, usaha menerapkan Komunisme dalam bentuk negara Komunis melalui sentralitas Partai Komunislah yang membuat Komunisme lekat dengan kesan Otoritariansime, padahal hal tersebut (Partai Komunis) pada awalnya dibentuk untuk menumbuhkan kesadaran kelas dalam rangka memberikan kepada sejarah semua faktor-faktor yang diperlukannya untuk memberlakukan revolusi sosial, sesuai konsepsi materialisme historis.

Masyarakat Komunisme, sebagai tahapan perkembangan sosial paling maju yang menurut analisis Marx akan menggantikan Kapitalisme, adalah masyarakat ‘tanpa kelas’. Istilah ini sering menimbulkan kesalahpahaman di kalangan pengamat yang memiliki tendensi liberal dan mencari-cari kesalahan inheren Marxisme. Kesalahan asosiasi antara masyarakat ‘tanpa kelas’ dengan penghapusan kebebasan manusia juga menjadi sebab munculnya kesan otoritarianisme yang dilekatkan dengan paham tersebut.

Analisis Utama Marx

 Ini adalah bagian di mana analisis utama Marx tentang perkembangan sejarah diuraikan. Ada seorang penulis yang mencoba menyimpulkan bahwa analisis Marx—yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ‘diagnosis’ sebab ‘analisis’ lebih merupakan penerapan metode pegetahuan tertentu atas suatu objek yang belum diketahui, sedangkan ‘diagnosis’ adalah keseluruhan analisis yang sudah dinyatakan ‘benar’ atau sudah merupakan ‘doktrin pengetahuan’—mengenai Sejarah adalah bahwa sejarah didorong untuk berkembang oleh kebutuhan ‘perut’ manusia. Ini adalah kesimpulan ambisius yang sulit dikatakan tidak sedang mengecilkan mutu konsepsi Marx. Namun, ada sedikit isu implisit yang terkandung dalam pernyataan itu yang ‘ada benarnya’.

Teori Marx terdiri dari analisis ekonomis. Bukan analisis ekonomi, melainkan analisis ekonomis, yaitu analisis yang bersifat ekonomi, yang menjadikan perspektif ekonomi sebagai ‘pisau analisis’ dalam memahami sejarah. Apa yang dinamakan dengan ‘sejarah’ itu sendiri tetaplah merupakan riwayat kehidupan manusia yang multidimensional, tidak semata ekonomi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa perspektif ekonomi adalah pemodelan yang dilakukan Marx atas sejarah.

1.  Spesialisasi Kerja

Sebelumnya kita telah menyinggung konsepsi Marx tentang ‘kerja’ sebagai modifikasi material dari konsepsi Hegel. Dalam materialisme historis, sejarah berkembang sebab bentuk dunia sosial berkembang. Maksudnya: sejarah adalah riwayat tentang perubahan dunia sosial. Ini sangat penting sebab dunia sosial adalah sumber dan rujukan bagi manusia-manusia individual untuk memahami diri mereka. Pemahaman akan masa lalu, identitas dan jatidiri etnis serta cara hidup komunal diambil dari dunia sosial. Masyarakat dan keseluruhan cara hidupnya yang meliputi agama (suprastruktur) dan teknologi (basis) yang disebut ‘budaya’ dan pada gilirannya memberikan pemahaman akan jatidiri dan cara hidup manusia, adalah anasir pembentuk dunia sosial.

Hal tersebut sangat penting untuk mengerti apa sesungguhnya ‘Sejarah’ itu, sebab Sejarah tidak akan muncul jika dunia sosial tidak berubah, melainkan hanya kemapanan yang berlarut-larut, Status Quo. Oleh karena dunia sosial dikatakan berubah menurut gerakan yang dialektis, maka Sejarah tercipta. Apa yang disebut dengan ‘Sejarah’ tak lain adalah Insight (pantikan kesadaran) yang ditimbulkan dari penghayatan bahwa dunia sosial terus berubah—dan membangkitkan antisipasi bahwa Ia mungkin akan berubah lagi. Masa lalu menjadi penting sebab ada perubahan. Tanpa perubahan, kategori-kategori Sejarah seperti ‘dahulu’, ‘sekarang’ dan ‘nanti’ tidak akan lahir sebab apakah yang membedakan isi dari ketiga rentang waktu itu jika yang ada hanya kesamaan?

Lalu, dengan cara apa dunia sosial berubah? Jawabannya adalah dengan ‘spesialisasi  kerja’. Masyarakat  pertama berisi individu-individu yang komunal, yang sepenuhnya berdedikasi bagi kebersamaan. Ini tidak bermakna kejiwaan—walaupun Emile Durkheim menyatakannya yang sebaliknya—melainkan ekonomis. Pada fase masyarakat awal, kepemilikan individu tidak ada, sebab tidak ada modal bebas yang bisa digunakan untuk menciptakan komoditas. Masyarakat pertama membagi-bagi anggotanya untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam masyarakat yang telah mengenal budidaya, pekerjaan dibagi menjadi pemburu dan penggarap lahan. Semua dilakukan dari, untuk dan oleh semua.

Namun, seolah adalah keniscayaan, surplus produksi kemudian terjadi. Ini disebabkan oleh menetapnya masyarakat, sehingga mendorong dikembangkannya teknologi intensifikasi dan domestikasi. Masyarakat yang tadinya nomaden dan hanya memanfaatkan produksi alam menjadi masyarakat yang menetap, yang mengintensifikasi pertanian dan mendomestikasi peternakan, yang, dalam istilah Marx, menjadi masyarakat yang ‘bekerja’ membentuk alam. Ketika surplus terjadi, kelebihan tersebut dibagikan dengan cara yang paling rasional: kepada mereka yang paling berjasa dalam perburuan dan pertanian. Peristiwa ini adalah peristiwa monumental di mana modal pertama mulai diberlakukan.

Masyarakat yang tadinya tak mengenal modal, menjadi mengenal modal. Sebenarnya surplus produksi tidak serta-merta menjadi modal, namun berpotensi menjadi modal. Pemilik surplus dapat mengonsumsi sendiri kelebihannya. Namun sebagian orang yang cerdik dan semakin cerdik dalam penemuan teknologi produksi dan pembentukan alam, memilih untuk membuat surplus tersebut sebagai instrumen untuk menghasilkan produksi lain.

Surplus tersebut mereka tawarkan kepada siapa saja yang mau bekerja kepada mereka dalam kegiatan produksi privat. Surplus itu ingin dilimpahkan sebagai gaji. Ini adalah modal, kapitalis, pekerja, dan gaji pertama dalam sejarah. Mulai dari sini, skema modal-produksi dimulai. Modal dikonversi menjadi sejumlah produk yang lambat-laun akan mengandung nilai jual yang lebih besar dari modal. Dengan demikian terjadi akselerasi pengumpulan kekayaan, massifikasi tenaga kerja (sebab tidak hanya berarti akselerasi kekayaan, melainkan juga akumulasi modal) dan pada gilirannya merangsang dikembangkannya teknologi produksi yang menjawab persoalan-persoalan efisiensi dan efektifitas produksi.

‘Spesialisasi kerja’ terjadi seiring berkembangnya jenis-jenis usaha, teknologi produksi dan komoditas.  Ketika teknologi yang berkembang menawarkan lebih banyak jenis komoditas untuk diproduksi, maka jenis tenaga kerja yang dibutuhkan menjadi meningkat dengan spesifikasi, spesialisasi dan standard kerja yang makin mengecil dan mengetat. Dengan demikian, ‘spesialisasi kerja’ terjadi. Konsep ini penting di dalam seluruh gagasan perkembangan sosial Marx sebagai indikator bagi kompleksitas masyarakat. Perkembangan masyarakat ditandai oleh profil spesialisasi kerja yang dimilikinya.

Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa ‘spesialisasi kerja’ adalah wujud organisasi sosialyang pada wujud itu perkembangan sosial dapat dipahami.

Sebenarnya bukan berarti bahwa ‘spesialisasi kerja’ yang mendorong masyarakat untuk berkembang, melainkan modal dan dalam suatu arti, teknologi produksi. Namun, hanya spesialisasi kerjalah yang dapat dirasakan secara langsung dalam konteks sosial. Spesialisasi kerja menjadi wujud masyarakat. Masyarakat yang begitu terspesialisasi, yang hubungan antarindividunya lebih transaksional dan materialistik, adalah masyarakat ‘Gesellschaft’, sedangkan masyarakat tradisional-komunal adalah masyarakat ‘Gemeinschaft’. Oleh karena itu, masyarakat berkembang melalui spesialisasi kerja, disebabkan oleh profil pemilikan kekayaan dalam masyarakat tersebut yang mencerminkan hubungan-hubungan produksi yang ada. Spesialisasi kerja adalah dampak sosial dari kepemilikan modal oleh pribadi yang berkembang dari kenyataan sederhana akan adanya surplus produksi pada masyarakat komunal.

Categories: Pemikiran Filosofis
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.