Pemikiran Marx (1)
Pendahuluan
Ada yang pernah mengatakan bahwa Marxisme adalah agama besar keempat di dunia selain agama-agama besar Semit, yaitu Yudaisme, Kristen dan Islam. Sebabnya, Marxisme adalah Ideologi yang membahas permasalahan hidup manusia, tidak hanya secara idividual, tetapi juga secara sosial, serta tidak hanya secara temporal, tetapi juga secara historis. Di satu sisi, pencetus paham ini, Karl Heinrich Marx sendiri, memang memaksudkan pekerjaannya sebagai teori ilmiah. Mark menegaskan perbedaan antara ‘sosialisme utopis’ dengan ‘sosialisme ilmiah’ di mana Ia menisbatkan yang terakhir ini kepada pemikirannya. Jelas bahwa teori-teori Marx oleh penyusunnya dimaksudkan sebagai abstraksi ilmiah atas perkembangan sejarah dan sosial. Formulasi ilmu Sosiologi pun belakangan mengklasifikasikan teori sosial Marx sebagai ‘sosiologi kritis’. Jadi, sampai tahap-tahap tertentu dan bagi kalangan yang melihatnya dari segi teknis, teori Marx bukanlah suatu Ideologi, melainkan pemikiran keilmuan.
Namun, rasanya siapapun tidak bisa memungkiri adanya ideologi dalam teori-teori Marx. Marx tidak hanya mendeskripsikan dunia sosial, melainkan juga menyisipkan preskripsi di tengah-tengahnya. Temuan-temuan Ilmiahnya, oleh Marx, digunakan untuk menyusun suatu himbauan untuk merealisasikan suatu revolusi sosial. Pemikiran Marx sering disebut ‘praxis’, yakni praktek yang terkait erat dengan teori. Lebih tepatnya: praktek revolusi sosial yang bersenjatakan teori sosial.
Marx tidak berhenti pada usaha untuk menyusun suatu model teoritis yang menjelaskan seluruh perkembangan sejarah dalam lingkup perkembangan sosial, melainkan berusaha membidik suatu ‘celah’ di dalam setiap fase perkembangan sosial dan memberikan resep bagi kaum yang dianiaya di setiap fase itu untuk memanfaatkan celah tersebut demi mengemansipasi diri mereka. Marx bukan hanya seorang ilmuwan yang dengan dingin meneliti objeknya di laboratorium, melainkan menggunakan hasil temuannya untuk memperbaiki taraf kemanusiaan. Marx adalah seorang Humanis yang teoritis.
Bagaimana kemudian Marxisme menjadi suatu ‘agama’? Marxisme dianggap sebagai paham yang lengkap. Sebagaimana agama, Marxisme mengandung doktrin tentang kehidupan manusia, kebahagiaan manusia, keadilan, ‘kebaikan’ vs ‘kejahatan’ dan nubuat mengenai ‘hari akhir’. Dengan demikian, paham ini menjadi melibatkan begitu banyak orang sebagai kritikus, pemuja maupun penentang, juga begitu banyak pikiran dan dedikasi yang ditujukan kepadanya. Komentar dan reaksi atas Marxisme begitu panjang-lebar, berlarut-larut dan menghasilkan berbagai interpretasi serta pembaharuan di kalangan Marxis pasca-Marx. Marx sendiri bukanlah Marxis. Ia pernah berkata, “Aku bukanlah seorang Marxis (Aku hanyalah Karl Marx dan konsepsiku adalah ‘materialisme historis’)”, sehingga Ia bukanlah pendiri apa yang disebut sebagai ‘agama Marxis’. Agama Marxis adalah sistem yang tercipta dari pengolahan atas ajaran-ajaran Marx oleh para Marxis terkemudian yang membawa pemikiran-pemikiran itu pada konsekuensi intelektual dan sosial-politik yang tidak diantisipasi oleh Marx sendiri.
Namun demikian, cikal-bakal sifat ideologis pada pemikiran Marx sudah disinyalir oleh pernyataan Karl Marx sendiri. Marx pernah mengeluarkan manifestonya mengenai tujuan pemikiran bahwa, “tugas filsafat bukan (hanya) untuk memahami kenyataan, melainkan untuk merubahnya”. Dengan demikian, jelas terasa bahwa Marx sejak awal tidak ingin membangun karakter yang dingin dari teorinya. Ia tidak membicarakan manusia dan buadayanya sebagai variabel-variabel objektif dalam modelnya tentang perkembangan sosial. Marx, sejauh yang dapat kita rumuskan dari pernyataan-pernyataannya sendiri, adalah teoritisi yang menjadi teoritisi demi perubahan kenyataan. Pemahaman atas kenyataan sosial, bagi Marx, hanyalah sarana bagi usaha untuk merubahnya.
Klasifikasi yang timbul dalam Sosiologi mengelompokkan Kapitalisme, sebagai salah satu varian Marxisme yang dianggap teoritis, ke dalam kelompok teori sosiologi kritis. Kategori ini diberikan untuk membedakannya dengan sosiologi klasik yang berkembang pada permulaan fase pemikiran modern dan sosiologi pascamodern (postmodern) yang berkembang pada abad ke 20. Ketika sosiologi klasik adalah usaha menjelaskan pembentukan masyarakat secara logis, berdasarkan kontrak sosial, yang merupakan penolakan atas teori antik yang menekankan pada teologi (bahwa masyarakat terbentuk karena itu adalah desain kehidupan yang dirancang oleh Tuhan), maka sosiologi kritis menjelaskan perkembangan masyarakat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sosiologi klasik mencoba menjelaskan pembentukan masyarakat, sedangkan sosiologi kritis mencoba menjelaskan perkembangan masyarakat.
Karakter yang berbeda dari sosiologi klasik dan kritis menimbulkan implikasi bahwa sosiologi klasik mengasumsikan sifat masyarakat yang menetap atau pasti, cenderung tidak berubah atau setidaknya tidak menganggap perubahannya sebagai tema yang sentral dan signifikan. Sebaliknya, sosiologi kritis dengan cermat melihat bahwa masyarakat cenderung berkembang. Tak sekadar melihatnya sebagai berkembang, teori Marx masih pula menggarisbawahi sifat perkembangan ini yang dialektis, bukan formal. Perkembangan yang didasari oleh kerangka kerja yang ‘siklis’ (melingkar), bukan ‘formal’ atau ‘linear’ yang bergerak maju terus menerus dengan meninggalkan elemen-elemen yang terkandung pada fase sebelumnya. Dialektika yang diusung dalam sosiologi Marxis menyatakan bahwa dalam setiap fase perubahan sosial, ada satu dan lain elemen yang ikut serta, tidak ditinggalkan sama sekali. Salah satu elemen yang paling penting dan terkenal dinyatakannya dalam istilah ‘proletariat’. Untuk sifat dialektis ini, Marx dipengaruhi oleh filsuf yang mendahuluinya, seorang nama besar dalam tradisi dialektika, Georg Wilhelm Friedrich Hegel.
Dialektika dan Dialektika Hegel
- Sejarah sebagai ‘Ide’ yang berkembang secara ‘Swakreatif’
Kata ‘dialektika’ disebut berasal dari kata Yunani ‘dialegestai’ yang berarti ‘dialog’. Jadi, sifat ‘dialektis’ adalah sifat yang menyerupai sifat dialog: tanya jawab, tanggap-menanggapi, aksi-reaksi. Secara teknis, sifat dialektis adalah sifat yang melekat pada suatu proses di mana hal-hal diajukan dan ditolak.
Riwayat pemikiran dialektika dapat ditelusuri sampai filsuf Yunani Kuno pada abad keenam SM, Heraclitus. Heraclitus lebih sering dikaitkan dengan ‘Pluralisme’ daripada Dialektika, namun dalam pemikirannya terkandung gagasan dialektika tentang perubahan. Heraclitus melihat bahwa alam penuh dengan perubahan-perubahan. Sampai-sampai Ia mengatakan bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa berdiri pada aliran sungai yang sama persis sebanyak dua kali. Sebab butir-butir air dan tanah serta bebatuan yang disentuhnya, walaupun berada di ‘sungai yang sama’, seungguhnya tidak pernah sama. Tidak ada butiran-butiran air yang persis sama akan disentuh di sungai yang sama sebanyak dua kali, begitupun bebatuan akan terus mengikis dan berpindah sehingga membentuk sosok sungai yang tidak sama, senantiasa berubah. Dengan begitu, sesungguhnya setiap hal yang merupakan kumpulan hal-hal, kecuali yang tak dapat dibagi lagi (Individuum) tidak dapat diberi nama, dan tidak memiliki identitas. Tidak ada sungai atau gunung yang persis sama yang akan bertahan selama 100 tahun. “Panta rhei kai udan menei”, kata Heraclitus, “segala sesuatu berubah, tak ada yang menetap”.
Hegel sendiri, dalam teorinya, membicarakan sejarah. Sejarah yang menurut Hegel berkembang menurut cara dialektis, adalah sejarah yang bersifat ‘self creation’ (swakreasi). Dengan istilah itu, apa yang dimaksudkan oleh Hegel adalah bahwa jika sejarah dikatakan berkembang, maka secara logis kita harus menerima bahwa ‘perkembangan’ adalah proses menuju sesuatu yang baru atau tidak persis sama dengan keadaan sebelumnya. Dengan begitu, ada penciptaan (yang terjadi) di dalam proses perkembangan. Pertanyaannya adalah: apa/ siapa serta bagaimana penciptaan itu berlangsung?
Secara logis, penciptaan atau pembaharuan terjadi melalui intervensi atau dialektika. Apabila pembaharuan sejarah tercipta karena adanya intervensi, maka siapa subjek yang mengintervensinya? Hegel lebih merasa bahwa pembaharuan itu terjadi karena dialektika yang mensyaratkan swakreasi daripada intervensi. Bagi Hegel, sejarah—‘kenyataan’ itu sendiri—itu bersifat ‘self-sufficient’ atau serba-cukup karena Ia mengandung semua potensi yang dibutuhkannya untuk berkembang tanpa memerlukan intervensi dari daya di luar sistemnya. Begitulah, Hegel berpikir bahwa sejarah akan berkembang karena sifat inherennya untuk berkembang, mencapai kebaruan. Bagaimana caranya?
Di sini, masuklah konsep mengenai sejarah sebagai ‘Ide’. Konsep ini sangat radikal sebab Hegel mengintegrasikan antara perilaku/ tindakan dengan pengetahuan/ pikiran. Di sinilah sejarah sebagai kumpulan peristiwa-peristiwa secara teoritis tak ubahnya kumpulan pikiran-pikiran. Mengetahui adalah bertindak. Ungkapan otentik dari Hegel menyatakan bahwa, “yang (bersifat) real itu rasional, yang rasional itu (bersifat) real”. Sejarah adalah riwayat perkembangan pikiran (rasio).
Hegel haruslah dipahami sebagai seorang Idealis dan seorang Mistis. Seorang Idealis adalah seorang rasionalis pada tingkat kenyataan. Idealisme lebih radikal daripada rasionalisme sebab ketika Rasionalisme adalah penekanan atas cara berpikir, maka Idealisme adalah penekanan atas kenyataan yang bersifat rasional. Menurut sistem logika Hegel yang dialektis itu, tentu bukan hanya perkembangan kenyataan yang bersifat dialektis, melainkan juga kemunculannya. Dialektika pertama, yang menandai kemunculan kenyataan, bersifat mistis. Bagi Hegel, dialektika pertama adalah ‘negasi’ suatu entitas atas dirinya sendiri. Kenyataan yang beragam—beragam subjek, kesadaran yang kesemuanya merupakan syarat interaksi dialektis—berasal dari entitas yang mutlak. Secara teknis entitas itu disebut sebagai ‘Ide Absolut’, ‘Pikiran Absolut’ atau ‘Roh Absolut’. ‘Ide Absolut’ ini sangat mudah diasosiasikan dengan ‘Tuhan’ dalam pemikiran Pantheisme. Memang, Hegel disebut terpengaruh oleh filsuf Jerman lainnya, Schelling, yang pantheis. Pemikiran tentang entitas yang mutlak ini agaknya dianggap logis oleh Hegel. Salah satu diktum Hegelian adalah, “keutuhan lebih logis (lebih mengandung arti) daripada bagian-bagiannya”.
Dengan negasi, terjadi disintegrasi. ‘Ide Absolut’ yang sedianya integral, menjadi terpecah-pecah karena disintegrasi. Terkadang juga digunakan ungkapan lain untuk menjelaskan penegasian ini: Ide Absolut meng-eksklusi dirinya sendiri. Namun, sudah cukup tepat untuk menggunakan istilah ‘disintegrasi’. Di sinilah sejarah bermula. Skema permulaan sampai pengakhiran sejarah adalah skema di mana Ide Absolut mengintegrasikan dirinya kembali. Proses perkembangan ke arah reintegrasi itu dilakukan berdasarkan mekanisme yang dialektis.
Dalam perkembangan sejarah yang tolak-menolak itu, dialektika terjadi dengan melalui tiga tahap tolak-menolak. Tahap pertama adalah ‘Thesis’, tahap kedua adalah ‘Antithesis’ dan tahap ketiga adalah ‘Sinthesis’. Mulai dari sini sifat mistis dari pemikirannya perlahan pudar dan digantikan oleh sifat Logis-epistemologis.
Dalam sejarah, terdapat kemunculan peristiwa-peristiwa dan gagasan-gagasan. Itulah sejarah. Sejarah yang berkembang adalah sejarah di mana suatu peristiwa mempengaruhi peristiwa lain yang berlangsung setelahnya, dan peristiwa sebelumnya terlibat dalam peristiwa setelahnya. Demikian pula dengan gagasan. Suatu ideologi akan direspon oleh ideologi lain yang akan mengalami proses serupa. Kemunculan gagasan atau peristiwa—yang mencerminkan rasio—dalam suatu waktu disebut sebagai ‘Thesis’ sebab Ia bersifat positif dan afirmatif. Ia adalah suatu versi anggapan tentang kenyataan, tentang ‘ada’. Thesis adalah kenyataan yang hadir secara ‘Immediate’ sebab Ia yang justru memediasi Antithesis. Melaluinyalah Antithesis direalisasikan.
Antithesis adalah potensi di dalam Thesis. Thesis mengandung potensi untuk tertolak demi dapat dipahami. Perumusan Thesis selalu mensyaratkan Antithesis, sebagaimana pikiran kita tak dapat memahami terang tanpa gelap, banyak tanpa sedikit dan gembira tanpa sedih. Pembentukan suatu pengetahuan selalu mensyaratkan variasi dan oposisi. Dengan demikian, Antithesis adalah sesuatu yang ‘Mediate’, yang hadir melalui Thesis.
Dengan adanya Thesis dan Antithesis, rasio dapat memahami hal-hal, sedangkan menurut konsepsi hegel, rasio adalah kenyataan itu sendiri. Yang dapat dipikirkan, menurut diktum Hegel yang sudah dikutip, adalah yang nyata itu sendiri. Sejarah berkembang menurut berkembangnya rasio, sedangkan rasio berkembang dengan berkembangnya pengetahuan, sedangkan pengetahuan dihasilkan oleh oposisi dan variasi. Dengan adanya Thesis dan Antithesis, rasio berkembang karena Ia menjadi—ini agak menyalahi konsepsi yang otentik dari Hegel—‘tahu’.
Namun dialektika merupakan perkembangan yang lestari, bukan sekali atau sporadis. Thesis dan Antithesis tak dapat ko-eksis (ada secara bersama-sama) terus-menerus. Sesuatu Thesis butuh penolakan (Antithesis) lagi untuk dapat mengembangkan rasio. Di sinilah terjadi resolusi konflik oposisional antara Thesis dan Antithesis ketika kedua bertransendensi menjadi ‘Sinthesis’.
Sinthesis adalah suatu formulasi Thesis baru yang sesungguhnya merupakan ‘resolusi konflik’ antara Thesis dan Antithesis. Sinthesis sebenarnya lebih merupakan proses men-Thesiskan Thesis dan Antithesis secara terpadu. Proses yang terjadi pada Sinthesis adalah ‘Aufhebung’ (transendensi) atau ‘pe-lampau-an’ di mana terbentuk konsepsi baru. Dialektika antara Thesis dan Antithesis lama bukanlah bagaimana salah satu pihak mendominasi, tetapi berpadu dan berdamai. Di sanalah terjadi transendensi. Selanjutnya, Thesis baru yang dihasilkan oleh proses Sinthesis mensyaratkan Antithesis dan demikianlah seluruh dialektika sejarah terjadi. Sinthesis mentransendensi Thesis dan Antithesis sehingga terbentuk keseluruhan yang lebih sempurna dari pengetahuan dan proses yang demikian itu terus terjadi di dalam dialektika sejarah. ‘Dialektika Sejarah’, begitulah konsepsi Hegel sering disebut.
- ‘Yang-Real’ dan ‘Yang-Rasional’
Sampai sejauh apapun konsepsi Hegel dipelajari, ada kesan misterius yang selalu tersisa. Sebagian karena kita menjadi menduga-duga ‘makna final’ dari peristilahan dan ungkapan-ungkapan Hegel. Sebagian dikarenakan komprehensifnya konsepsi Hegel. Konsepsi Hegel adalah sistem teoritis tentang kenyataan; seluruh kenyataan. Konsepsi Hegel membawa relevansi Logis, Metafisis, Moral dan lain sebagainya. Konsepsi Hegel menyatukan semua aspek perikehidupan mulai dari Sains (pengetahuan positif) sampai dengan Pantheisme yang mistik. Konsepsi itu juga menyatukan seluruh jenis pengetahuan ke dalam satu sistem deskriptif tunggal. Kesulitannya terletak pada bahwa sistem Hegel menerangkan prinsip dari seluruh kerja kenyataan. Ia perlu diimplementasikan sedemikian rupa untuk menjelaskan partikularitas-partikularitas kenyataan yang konkret. Di sinilah ‘ambisius’nya konsepsi Hegel.
Salah satu misterinya yang terbesar adalah pengertian tentang ‘yang real’ sebagai ‘yang rasional’ dan sebaliknya. Kita mulai bisa memahami maknanya dengan konsepsi mistik Hegel tentang Ide Absolut yang terdisintegrasi. Dengan penalaran formal, kita bisa memahami konsekuensi bahwa ‘yang-real’ adalah ‘yang-rasional’ dan sebaliknya, sebab sejarah reintegrasi Ide Absolut pastilah merupakan sejarah perkembangan rasio hingga mencapai keutuhan Ide Absolut kembali. Disintegrasi itu adalah disintegrasi kesadaran. Reintegrasi itupun adalah reintegrasi kesadaran.
Ada keterangan lain dari Hegel yang lebih memperjelas identitas ‘yang-real’ dan ‘yang-rasional’. Bagi Hegel, mengetahui berarti bertindak. Manusia tidak tahu apa-apa kecuali Ia bertindak. ‘Yang Real’ atau kenyataan bersifat rasional sebab Ia dapat dipikirkan, dibayangkan, bersifat logis dan dapat diolah oleh pikiran. Namun, ‘yang rasional’ atau pikiran manusia juga adalah perwujudan ‘yang real’ sebab dengan bertindak (baca: mengerjakan, mengolah, membentuk alam) manusia merealisasikan rasionalitasnya sehingga Ia menjadi tahu kapasitasnya dan dunianya. Hanya dengan mencapai sesuatu yang nyatalah, manusia mampu mengembangkan rasionalitasnya. Hanya dengan mewujudkan konsepsinya (Rasio) tentang teknologi penerbanganlah, maka semua kenyataan penerbangan seperti pesawat terbang, pilot, pramugari, bandara dan perang udara menjadi nyata (Real). Yang-Rasional adalah pramodel bagi Yang-Real. Dengan cara itulah ‘yang-rasional’ menjadi—bahkan ‘tak lain tak bukan’—adalah ‘yang-real’.
Secara mistik, rasio-rasio Individual adalah pecahan-pecahan (disintegrasi) kesadaran dari Ide Absolut. Sejarah adalah sejarah reintegrasi rasio-rasio itu menjadi Ide (rasio) Absolut: suatu proses ‘Self-realization’ bagi Ide Absolut. Ide Absolut adalah suatu ‘Self’. Dengan begitu, kenyataan (Yang-Real) yang berkembang adalah kesadaran (Yang-Rasional) yang bereintegrasi. Keduanya adalah satu dan sama melalui konflik dialektis. Perkembangan sejarah (kenyataan/ Yang-Real) adalah proses realisasi kembali Ide Absolut yang bagaimanapun merupakan suatu Ide, pikiran atau rasio.
Relevansi dari hal ini bagi Marx adalah munculnya konsepsi Marx mengenai ‘kerja’. Dengan mengadaptasi pemikiran Hegel tentang hubungan antara kedua hal di atas, Marx menegaskan bahwa ‘kerja’, yakni pengerjaan, pengolahan dan pembentukan alam (yang sifatnya ‘real’) dibutuhkan bagi manusia untuk memahami dirinya (suatu aktivitas ‘rasional’). Manusia merealisasikan dirinya melalui ‘kerja’, sebab pembentukan alam adalah dorongan dasariah manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia tak dapat memakan ayam mentah, kendatipun manusia bergantung pada alam untuk mendapatkan ayam mentah sehingga membutuhkan ‘kerja’ untuk menghasilkan ayam goreng. Inilah perbedaan produksi manusia dengan hewan yang dapat memakan ayam mentah secara langsung. Manusia adalah ‘hewan yang bekerja’. Manusia Ialah hewan sebab bergantung pada alam, namun hewan yang istimewa dengan vita activanya untuk bekerja itu.
Dengan ‘kerja’, manusia merealisasikan pemikirannya dan menjadi sadar bahwa kemampuannya dapat terus berkembang dengan feedback atas pekerjaannya membentuk alam. Dengan pembentukan alam, teknologi berkembang sehingga dapat menuai lebih banyak lagi komoditas alamiah dan teknologi itu memampukan manusia untuk lebih cerdas lagi mengolahnya. Dalam konsepsi Marx tentang perkembangan sosial yang akan dijelaskan nanti, perkembangan komoditas ini adalah faktor terbentuknya masyarakat yang lebih kompleks.
- ‘Proletariat’
Pengaruh terbesar Hegel pada Marx adalah konsepnya tentang ‘Swakreasi’, yakni bahwa bahan perkembangan kenyataan adalah unsur-unsur yang terkandungnya sendiri. Di sinilah pentingnya untuk dicermati: bahwa bagi Marx, sejarah itu berkembang dengan dinamis, tak statis, dan bahwa pekembangannya itu bersifat dialektis. Pilihan dialektika ini sebenarnya adalah kompromi dari tidak logisnya kenyataan sebagai sesuatu yang berkembang karena intervensi-intervensi. Karena perkembangan tak lain ialah pembaharuan, dan pembaharuan tak lain adalah penciptaan, maka dengan mengacu pada asumsi Hegel tentang kenyataan yang ‘self-sufficient’, penciptaan yang dihasilkan oleh intervensi di luar sistem kenyataan tidak logis. Oleh karena itu Marx memutuskan bahwa dialektika adalah proses yang paling logis.
Dalam perkembangan sosial (Marx lebih teknis dari Hegel dengan mendefinisikan sejarah secara tidak mistis, tetapi Sosiologis) yang berkembang secara dialektis-swakreatif, peran ‘Proletariat’ menjadi sangat penting. Proletariat menggenapi syarat perkembangan yang dialektis sebab Ia menjadi unsur perubahan yang selalu ada dalam setiap fase. Dengan begitu, perkembangan sosial benar-benar bersifat siklis. Proletariat adalah pelaksana Swakreasi.
‘Proletariat’ didefinisikan sebagai unsur atau kelas sosial yang selalu terbentuk pada setiap tahapan perkembangan sosial (yang secara umum diurutkan sebagai sosialisme awal-feodalisme-kapitalisme-sosialisme akhir) yang merupakan ‘residu’ dari konstelasi sosial. Proletariat merupakan ‘sisa persamaan’ dari hubungan-hubungan sosial yang harus seimbang sehingga menjadi dipaksakan dan pasti menyisakan residu. Hubungan itu meliputi hubungan produksi dan kekuasaan. Oleh karena proletariat dinyatakan selalu ada dalam setiap tahapan perkembangan sosial, maka Ia sebenarnya adalah nama bagi jenis kelas masyarakat yang berbeda-beda di tahap yang berbeda-beda sebab setiap tahapan itu memiliki keunikan.
Letak persamaan dari kelas-kelas yang dikelompokkan sebagai ‘proletariat’ adalah bahwa kelas-kelas itu merupakan residu irasionalitas masyarakat. Misalnya, pada masa industri seperti sekarang ‘proletariat’ mewujud dalam kelas pekerja/ buruh. Alasannya, dalam era industri, buruh menampung semua irasionalitas dari ‘persamaan matematis yang dipaksaan’ dalam dunia Industri. Kelas buruh ditimpakan keburukan dan ketidakberdayaan sosial sebagai konsekuensi zaman industri yang diatur oleh efisiensi dan pengetatan, juga modal yang harus terus produktif atau seluruh jalinan perekonomian akan serta-merta runtuh. Dalam jalinan yang seperti itu, buruh terpenjara karena nafkah mereka betul-betul bergantung kepada hal-hal yang ‘dari balik meja’ dikontrol dan dispekulasikan oleh kapitalis yang bahkan tidak punya kecakapan produksi, berupa modal, saham, kurs dan kebijakan politik ketenagakerjaan. Sementara produktifitas modal kapitalis berhutang kepada kompetensi produksi buruh.
Dalam keproletariatan zaman industri, buruh diasingkan dari hasil produksinya yang dijual oleh kelas ‘kapitalis’ (pemilik modal) sebagai hak milik mereka. Buruh digaji secara tetap dengan nilai ekonomis yang jauh lebih kecil dari nilai ekonomis komoditas yang mereka hasilkan. Padahal, kelas buruh adalah pemilik kompetensi produksi, namun mereka tidak berhak menjual karya intelektualnya karena kontrak kerja dan tidak memiliki alat-alat produksi yang mereka butuhkan. Kapitalislah yang memilikinya, meskipun mereka tidak memiliki kecakapan menggunakannya. Hal-hal tersebut mengandung irasionalitas, sementara rasionalitas industri (efisiensi dan produktifitas modal) justru menuntut agar buruh menjadi semakin tidak berdaya sebab modal bergerak liar sementara mereka begitu tergantung. Terjadi akumulasi uang yang menuntut akumulasi produksi, padahal perkembangan gaji buruh ama sekali tidak setara dengan perkembangan uang kapitalis.
Kita bisa menyatakannya dengan cara lain: proletariat adalah kelas sosial yang selalu terbentuk secara alamiah melalui proses marjinalisasi, pendangkalan kekuatan ekonomi dan eksploitasi sebagai akibat dari setiap tahapan perkembangan sosial. Proletariat adalah kumpulan ketidakrasionalan kehendak kolektif kelas-kelas lain. Proletariat adalah ‘temuan’ Marx tentang aktor perkembangan sosial. Tanpa proletariat, tidak ada revolusi dan tidak akan ada pembaharuan. Proletariat memang niscaya marjinal, namun Ia juga niscaya timbul dan Ia diperlukan demi hukum perkembangan sosial menurut konsepsi Marx. Proletariat adalah nama bagi asosiasi kelas-kelas tertindas di sepanjang sejarah. Ia adalah ‘tempat sampah sosial’ bagi kelas-kelas lainnya, tempat mereka menghimpun akibat-akibat sosial yang lahir dari hubungan-hubungan yang irasional. Namun, proletariat adalah niscaya sebab mereka adalah aktor perubahan sosial yang membawa setiap tahapan ke tahapan yang selanjutnya.
Konsepsi Keterasingan Feuerbach dan Otentisitas Dialektika Marx
Meskipun Marx mendapatkan konsepsi dialektikanya dari Hegel, namun dialektika Marx berbeda dengan Hegel. Ketika Hegel menekankan pada Ide atau rasio, Marx menekankan sifat lain dari perkembangan sosial, yaitu material. Dialektika Hegel, yang sering disebut sebagai ‘Dialektika Historis’, berbeda dengan dialektika Marx yang disebut dengan ‘Materialisme Historis’. Sejatinya, konsepsi Marx dapat juga disebut ‘Dialektika Historis Materiil’, sebab Ia tetaplah dialektis meski ada sifat materiil bersamanya.
Sampai di sini patut juga diketengahkan analisis sebagian besar komentator Marxisme mengenai terpengaruhnya Marx oleh Ludwig Feuerbach. Feuerbach adalah filsuf yang berada di antara kiprah Hegel dan Marx, sehingga menjadi penghubung dari keduanya. Feuerbach adalah komentator Hegel. DIalah yang memberikan preseden bagi Marx untuk menolak sifat Idealis dari dialektika Hegel. Feuerbach mengkritik kecenderungan Idealis Hegel bersama dengan kritiknya mengenai agama, yang sesungguhnya adalah kritiknya terhadap Kristianitas.
Bagi Feuerbech, sistem filsafat Hegel seperti perpanjangan filosofis dari agama. Sistem Hegel sangat Idealis. Idealisme itu, yang tidak bersifat riil, menutup mata dari persoalan-persoalan hidup manusia yang konkret. Sistem Hegel seperti agama sebab Ia menawarkan suatu harmoni yang menempatkan persoalan-persoalan konkret di dalam proses yang luar biasa abstraknya. Sistem Hegel seperti pemodelan matematis yang sangat abstrak yang mencoba membuat kerangka teoritis atas fenomena-fenomena yang secara konkret begitu kompleks. Filsafat Hegel tidak materiil, yang artinya tidak bertolak dari makna yang dialami manusia tentang dunianya.
Bagi Feuerbach, sistem yang Idealis seperti itu tidak berguna sebab Ia tidak memberikan apa-apa kepada dunia materiil, padahal manusia mengalami permasalahan secara materiil. Kemiskinan, kebodohan dan keterasingan manusia dari kebahagiaan yang diimpikannya tidak akan menjadi lebih baik ketika manusia menjadi semakin cerdas dalam memahami sistem Hegel bahwa mereka dan dunia mereka hanyalah manifestasi Ide Absolut yang akan segera tereintegrasi, sehingga kesadaran akan penderitaan akan segera menghilang. Sebaliknya, seluruh teori tentang manusia, bagi Feuerbach, haruslah memperhatikan manusia yang konkret.
Relijiusitas dalam filsafat Hegel tercermin pada kecenderungannya untuk memberikan ilusi bagi manusia tentang harmoni mutlak di dalam Ide Absolut. Pergolakan, yang di antaranya adalah penderitaan, hanyalah keretakan-keretakan disintegral yang akan segera ditambal dalam realisasi Ide Absolut. Feuerbach menolak ini dan menekankan materialisme (kekonkretan) sebagai pengganti Idealisme Hegel yang dianggapnya ‘candu’.
Dengan demikian, Feuerbach memberikan Materialisme kepada Marx manakala Hegel memberikannya Dialektika dan ‘kerja’. Namun ada satu hal lagi yang juga merupakan sumbangan Feuerbach kepada Marx: konsepsinya tentang keterasingan.
‘Keterasingan’ sebenarnya juga isu yang diangkat oleh Hegel, namun Feuerbach menggunakannya juga setelah membalik prosesnya. Bagi Hegel, kenyataan adalah hasil Ide Absolut yang mengasingkan (meng-eksklusi) dirinya. Manusia adalah hasil pengasingan ‘Tuhan’ terhadap dirinya sendiri. Bagi Feuerbach, justru Tuhanlah yang dihasilkan oleh keterasingan manusia. Ia ingin mengatakan bahwa Tuhan adalah kisah fiksi yang lahir dari kerinduan manusia akan realisasi dirinya. Sesungguhnya Tuhan tidak lain adalah konsepsi manusia tentang dirinya yang sempurna. Ini sangat masuk akal mengingat yang dimaksud Feuerbach dengan ‘Tuhan’ adalah Trinitas Kristiani yang begitu Anthropomorfis di mana Tuhan berdarah dan berdaging, penuh kebajikan dan rela mengorbankan dirinya demi cita-cita kemanusiaan. Tuhan yang dimaksud Feuerbach adalah Tuhan sebagai pemrofilan manusia yang memenuhi semua Ideal manusiawi yang ingin dilakukannya, namun tidak bisa.
Teori Feuerbach tentang ‘keterasingan’ menjelaskan proses psikis perumusan ‘Tuhan’. Pada awalnya, manusia merasa serba cukup. Ini tidak menunjukkan tahapan temporal manapun dalam sejarah. Manusia tidak memiliki Ideal-ideal atau cita-cita moral sebab semua moralitas adalah tradisi. Tidak ada hambatan untuk merealisasikan kebajikan. Moralitas adalah bahasa sosial. Orang berelasi dengan orang melalui instrumen moral.
Ketika masyarakat berkembang menjadi semakin kompleks—jumlah, pemikiran, hasrat, munculnya otoritas—manusia mulai menemui kendala dalam merealisasikan moral. Di satu titik, manusia mulai mengkultuskan moralitas itu sebab Ia masih mengingatnya namun terkendala dalam menjalankannya. Moralitas menjadi Ideal sehingga menjelma menjadi ilusi mengenai Adimanusia yang tak lain adalah manusia yang mula-mula. Adimanusia ini perlahan menjadi ‘Tuhan’. Dengan demikian, alih-alih manusia yang merupakan hasil keterasingan Tuhan (Ide Absolut) atas dirinya sendiri, melainkan ‘Tuhan’ yang merupakan hasil keterasingan manusia dari ‘the true self’. ‘Tuhan’ lahir dari kerinduan manusia akan jatidirinya.
Keempat hal yang sudah dibahas di atas—dialektika, materialisme, ‘kerja’ dan ‘keterasingan’—adalah dasar-dasar perumusan sosiologi Marxis, suatu sosiologi humanis yang menekankan potensi manusia untuk mengubah alam sampai ke tataran yang istimewa dibanding makhluk hidup manapun, namun suatu ketika kemampuan mengubah alam itu justru akan membawa mereka ke fase yang mengasingkan mereka: Kapitalisme. Unsur revolusi teori Marx adalah bahwa fase itu dapat digulingkan dengan revolusi yang faktor-faktornya akan secara alamiah tersedia.
Sumber gambar:
http://kakbenny.blogspot.com/2010/07/karl-marx.html