Subjek dan Perjuangan yang Pahit
Ada sebuah kisah Heroik, yang disebut teori, mengenai perjuangan subjek yang diceritakan oleh Jacques Lacan. Lacan adalah seorang psikoanalis Perancis dan seringkali dikaitkan dengan arus pemikiran pascamodernisme. Psikoanalisa adalah suatu pendekatan dalam ilmu psikologi untuk memahami manusia melalui alam bawah sadarnya. Dalam psikoanalisa, alam bawah sadar adalah kondisi atau struktur alam sadar; suatu lokus di mana alam sadar berumah dan dibentuk. Suatu alam perbendaharaan predisposisi, potensi traumatik, potensi nilai-nilai, sifat, yang diacu oleh proses-proses sadar. Dalam psikoanalisa, alam sadar yang bersifat rasional dan logis adalah kelanjutan dari alam bawah sadar yang irasional dan bahkan hewani. Rasionalitas menjadi berakar pada irasionalitas. Kebenaran sadar berakar pada keharusan buta bawah sadar.
Di sisi lain, arus filsafat pascamodernisme adalah arus (himpunan pemikir-pemikir dan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya sulit diklasifikasikan secara seragam) filsafat abad ke 20 yang muncul sebagai respon dari gagasan tentang ‘Modernisme’. Dalam kaitannya dengan Subjek, Pascamodernisme bertendensi untuk mensubordinasikan ‘subjek’ di bawah suprastruktur yang meliputinya. Dalam pascamodernisme, semua kualitas adidaya yang biasa dinisbatkan kepada manusia seperti kebebasan kehendak (free will), keunikan pribadi (Individual Differences) dan pilihan-pilihan bebas yang membentuk manusia sebenarnya tidak lain adalah keharusan-keharusan dunia eksternal, dunia ‘Simbolik’ yang dibangun oleh konsensus nilai-nilai dan sejarah. Kedirian (self) manusia dianggap lebih merupakan perumusan ide-ide atau kepercayaan (belief) ketimbang fakta absolut yang berlaku kapanpun dan dimanapun secara akultural. Ide-ide itu, alih-alih akultural, justru dibentuk oleh lembaga-lembaga dan struktur seperti bahasa, moral dan ide-ide yang berlaku dalam masyarakat. Nilai-nilai dan produk sejarah yang tadinya adalah ‘senjata’, ‘memakan tuannya’ dan berbalik mensubordinasikannya. Semua kualitas manusia, bahkan yang paling sadar dan dijiwai pun, adalah bentukan struktur dan sistem simbol. Itulah mengapa arus tersebut dinamakan ‘pascamodernisme’, sebab Ia lahir sebagai respon atas Modernisme yang salah satu Diktumnya–’Cogito Ergo Sum’– adalah tentang subjek yang luar biasa, yang, berkebalikan dengan pascamodernisme, menciptakan dan mengendalikan struktur dan nilai-nilai.
Irasionalitas dan superioritas bawah sadar dari psikoanalisa dan struktur yang supraordinatif dalam pascamodernisme teramu ke dalam ‘kisah perjuangan subjek’ Lacan. Pada awalnya subjek (manusia sebagai satu-satunya eksistensi unik, yang bukan-objek) adalah ‘The Real’, yakni Subjek yang masih suci. Akan tetapi ada kesulitan untuk mendefinisikan ‘The Real’ sebagai Subjek. Sebab, ‘The Real’ adalah kesatuan mutlak yang tidak berkekurangan. Dalam pembentukan kesadaran manusia, ‘The Real’ adalah fase ketika kesadaran bayi belum terpisah dari Ibunya.
Bayi mendapatkan kenikmatan mutlak dengan melebur pada ibunya, memenuhi diri sendiri. Dengan begitu, bayi belum dapat mengonfirmasi eksistensi individualnya. Bayi tidak sadar. Yang tidak sadar, tentu saja bukan subjek. ‘The Real’ adalah kondisi prasubjek, cikal bakal subjek. Ketika ‘The Real’ masih eksis, pemahaman akan ‘The Real’ tidak ada, sebab tidak ada kesadaran yang bisa memikirkan atau membayangkannya. ‘The Real’ dirumuskan di kemudian hari oleh ‘The Imaginary’.
‘The Imaginary’ adalah kelanjutan dari ‘The Real’ yang nostalgik, yang merindukan kesempurnaan dan kemutlakan yang diretrospeksikannya dan diformulasikannya sebagai ‘The Real’. Jadi, ‘The Real’ dalam suatu arti adalah produk dari ‘The Imaginary’. Tepatnya: suatu mimpi Utopis, suatu konstruk yang direkayasa untuk menamakan suatu gejala ketiadaan kesadaran yang dicirikan oleh kecukupan mutlak, keterpenuhan murni dan tiadanya konflik-konflik kesadaran dan psikis secara umum.
‘The Imaginary’ membayangkan bahwa asal-muasal dirinya adalah ‘The Real’ yang lambat laun memiliki kesadaran sendiri karena ‘feedback’ dari lingkungan. ‘The Real’ menjadi belajar bahwa dirinya independen terhadap objek-objek dan hubungan-hubungan intersubjektif. ‘The Real’ mempelajari bahwa lingkungan memperlakukannya seolah-olah Ia dan Ibunya terpisah satu sama lain. Akhirnya kesadaran individualnya terbentuk bersamaan dengan terpisahnya Ia dengan satu persatu objek-objek dan subjek-subjek yang dulu ‘dikiranya’ adalah satu dengan dirinya. Ego adalah hasil disintegrasi ‘The Real’. Egonya timbul manakala Ia mulai menemukan kosakata luar-biasa itu: Aku. ‘The Imaginary’ adalah aktualisasi ‘The Real’ oleh dunia luar.
Nampaknya menjadi niscaya bagi ‘The Imaginary’ untuk menapaktilasi asal-usul psikisnya sehingga pada akhirnya Ia merumuskan konsep ‘The Real’. Kesadaran individual dan hasrat Egoistik menimbulkan konflik manakala dorongan-dorongan kebinatangan menginginkan makan, minum, seks dan agresi namun tidak terpenuhi. Subjek menjadi terluka. Intuisi-intusi transendental untuk mewujudkan kebajikan, keindahan dan kebenaranpun seringkali tidak bersambut sebab dunia penuh dengan kekejian, kebobrokan dan kebathilan. Subjek menjadi semakin terluka. Di sinilah subjek mulai merindukan kesempurnaan, kemutlakan dan keserbacukupan. Ketiga-tiganya hanya dapat terwujud tanpa konflik, tanpa diskrepansi antara dorongan-dorongan dan intuisi-intuisi. Persoalannya, kesenjangan akan selalu hadir, kecuali jika tidak ada harapan-harapan. Harapan-harapan akan selalu ada kecuali jika tidak ada Ego. Kondisi ketiadaan Ego dikonsepsikan oleh ‘The Imaginary’ sebagai ‘The Real’. Ia adalah deklarasi mengenai asal-usul subjek.
Subjek sebagai ‘The Imaginary’ mulai berjuang untuk membayar hutang-hutangnya, menambal keretakan-keretakannya menuju realisasi ‘The Real’. Namun, ‘The Imaginary’ hanya bekerja, hanya beroperasi, hanya diketahui dan hanya berada, sejauh ‘The Symbolic’. ‘The Symbolic’ adalah hampir apa saja yang terkandung di dalam hukum-hukum ‘The Imaginary’ untuk menjadi ‘ada’, untuk mengekspresikan eksistensinya dan bahkan cara berada dari ‘The Imaginary’ itu sendiri. ‘The Symbolic’ adalah lingkungan dari ‘The Imaginary’ yang meliputi bahasa, pranata, kode-kode dan intersubjektifitas, juga hubungan-hubungan subjek-objek di mana subjek mengeksploitasi objek. ‘The Symbolic’ adalah sarana atau seluruh sarana—satu-satunya sarana—bagi ‘The Imaginary’ dalam pengungkapan dirinya.
‘The Symbolic’ hadir pada apa yang dapat ‘ditempuh’ oleh ‘The Imaginary’ untuk menjadi seorang pengrajin perak melalui apa yang bisa dieksploitasi atau dibentuk oleh subjek terhadap objek perak. ‘The Symbolic’ adalah batas kreativitas seorang seniman perak yang eksis dalam kerangka sejarah kerajinan perak, ragam-ragam produknya, anasir seninya dan nilai-nilainya. ‘The Symbolic’ adalah kumpulan-kumpulan cara pengungkapan cinta yang—sesuai karakter himpunan—bersifat terbatas yang bisa digunakan oleh subjek terhadap subjek lain yang dicintainya. Bagaimanapun, tak ada satupun aspek ‘The Symbolic’ yang sanggup mengekspresikan cinta subjek! Tidak ada cinta dalam bahasa! Subjek tak pernah mengungkapkan jati dirinya dengan sempurna dengan kegunaan instrumental dari ‘The Symbolic’. Sebab, bukankah ‘The Symbolic’ juga adalah Hukum Peradilan yang kadang tak mampu mengungkapkan kemurnian dari Keadilan Moral di dalam hati?
Drama perjuangan ‘The Imaginary’ untuk mencapai kesempurnaan [kesadaran mutlak (atau: ketaksadaran)] menjadi luar biasa sebab Ia tak mungkin dimenangkan. Ia hanya mungkin dikompromikan. Subjek maksimal hanya mampu mendominasi perjuangannya, bukan memenangkannya sebab subjek, ‘The Imaginary’, hanya dapat berjuang untuk merealisasikan ‘The Real’ yang sempurna melalui sarana-sarana ‘The Symbolic’ yang retak dan rapuh. Oleh karena itu, misalnya, sebagai satu contoh dari sejuta penderitaan subjek, sebenarnya subjek (terpaksa) berbohong ketika Ia menyatakan, “Aku cinta padamu”, karena subjek tidak pernah memaksudkan cinta. Ia berbohong, memang berbohong, tetapi Ia jujur belaka!
Tanggapan Mutakhir