25 Oktober 2011
Di balik jendela, Hujan turun sangat deras dan lama. Sederas dan selama apa, siapa yang tahu? Aku merasa telah mengerti: Sang Hujanpun tidak mau tahu. Ia akan turun sederas dan selama tekadnya. Andai Hujan itu mau mewakili hasrat jiwaku, menjadi tubuh bagi tekadnya yang buta, membuatnya hidup dalam kederasan yang seharusnya, meski tak abadi…dan setelah Ia mereda, bersama mengeringnya Bumi, biarkan sungai jiwaku yang kecil dan dangkal itupun mengering, untuk selamanya.
Categories: Catatan Keseharian
Tanggapan Mutakhir