Antara ‘Tahu’ dan ‘Yakin’ (2-Selesai)
Apa yang dapat diketahui tentang Tuhan?
Seperti yang sudah disinggung pada bagian (1), Pak X meletakkan subjektifitas radikalnya mengenai kebenaran, kelogisan dan fakta di dalam konteks keimanan. Dirinya seolah ingin mengatakan bahwa terlebih dalam konteks keimanan, kebenaran, kelogisan, fakta dan hal-hal yang bisa diatribusikan pada argumentasi tentang keberadaan dan ketiadaan Tuhan menjadi sangat subjektif. Ketika seorang theis mengklaim bahwa argumentasinya ‘benar’ dan bukti yang dikemukakannya ‘faktual’, seorang atheis bisa dengan mudahnya menolak atas alasan subjektif. Bagi Pak X, ini terjadi karena terdapat variabilitas yang tidak dapat dijembatani yang berakar pada subjektifitas dalam menilai kebenaran dan fakta bagi setiap subjek. Oleh karena itu, klaim yang bersifat theistik maupun atheistik sebenarnya hanya merupakan keyakinan buta saja, bukan pengetahuan yang argumentatif.
Argumentasi yang sudah saya susun di dalam bagian (1) ‘kebenaran, kelogisan dan fakta’ adalah salah satu framework saya dalam membangun argumentasi bahwa pernyataan-pernyataan theistik dapat merupakan ‘pengetahuan’ dan secara adil saya mengatakan, bahwa (pernyataan) yang bersifat atheistik pun mungkin menjadi pengetahuan.
Framework: asumsi-asumsi dasar
Framework saya terdiri dari tiga hal. Yang pertama adalah thesis utama yang saya kemukakan pada bagian sebelumnya, yaitu bahwa selalu terdapat derajat (level) afirmasi umum tentang kebenaran, kelogisan dan fakta, tak peduli betapapun derajat tersebut bersifat prototipikal atau kerangka atau prinsip-prinsip arkhaik (paling sederhana). Andaikata sebagaimana pendapat pak X bahwa derajat afirmasi umum itu tidak ada dengan alasan subjektifitas radikal, maka sesungguhnya komunikasi paling sederhana tidak dapat terjadi di dunia manusia. Ketika setiap individu manusia menjadi sangat subjektif dalam membangun ‘sistem makna’, maka tidak ada denotasi ataupun konotasi bagi setiap kata, apalagi kalimat atau diskursus. Dengan demikian, terlepas dari subjek pembahasannya, manusia tidak mungkin mengenal komunikasi sebab komunikasi berangkat dari makna-makna konvensional.
Elemen kedua dari framework saya adalah sebuah thesis yang lain: bahwa ‘pengetahuan’ dan ‘keyakinan’ dibedakan berdasarkan derajat penghayatan psikologis. Hal inilah yang memungkinkan diberlakukannya pernyataan saya bahwa baik pernyataan yang theistik maupun atheistik, masing-masing dapat menjadi pengetahuan pada derajat penghayatan psikologis tertentu. Dengan demikian, tentu saja terdapat theisme yang berdasarkan keyakinan dan pengetahuan, begitu pula atheisme. Yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa apa yang secara umum merupakan ‘keyakinan buta’ sama sekali tidak mudah mencapai derajat pengetahuan di dalam penghayatan psikologis seseorang.
Elemen ketiga dari framework saya berbunyi bahwa apa yang disebut ‘pengetahuan’ adalah konsensus umum mengenai isu tertentu. Ini adalah salah satu karakter khas pengetahuan yang membedakannya dari keyakinan: keyakinan bersifat personal, sementara pengetahuan bersifat sosial. Keyakinan dipenuhi dengan metafora-metafora yang keunikannya dipahami secara personal dengan tendensi emosionalnya sendiri, sedangkan pengetahuan begitu ‘dingin’, impersonal dan menggunakan bahasa yang denotatif. Saya mengambil contoh tentang ‘kecepatan’. Rumus kecepatan dalam fisika adalah V=s/t di mana ‘s’ adalah jarak dan ‘t’ adalah waktu tempuh. Ketiga variabel ini diukur secara objektif-impersonal sehingga kapan saja formula kecepatan tersebut menghasilkan suatu kuantitas yang kita sebut ‘besaran kecepatan’, maka itu adalah konsensus umum. Namun, apabila seseorang sedang mengamati mobil yang melaju di pinggir jalan dan Ia menilai bahwa mobil itu ‘melaju dengan cepat’, maka itu adalah keyakinan. Ini tidak berarti bahwa ‘konsensus umum’ merupakan satu-satunya karakter pengetahuan, sebab apabila terdapat konsensus umum yang tidak berada pada derajat penghayatan psikologis tertentu (yang ‘memadai’), maka hal itu disebut sebagai ‘dogma’.
Keyakinan sebagai sesuatu yang tanpa syarat
Setiap orang, ketika memulai proses penentuan sikapnya dalam menerima keberadaan Tuhan atau tidak, memulainya dari intuisinya. Isu sebesar, serumit dan sekontroversial ‘Tuhan’ tidak bisa dimulai kecuali dengan asumsi, hipothesis atau tendensi intuitif tertentu yang disebut ‘aksioma’. Aksioma bisa menjadi rapuh dan terbantah di dalam penalaran (rational reasoning) ataupun pembuktian (empirical discovery) dan bisa pula diperkuat dan pada akhirnya diterima. Ini karena sifat aksioma adalah ‘trial and error’. Aksioma terkadang menjadi sekadar ‘titik tolak’ bagi pengembaraan intelektual dalam ‘mencari’ Tuhan.
Intuisi setiap orang mengatakan bahwa entah Tuhan itu ada atau tidak ada. Tidak ada alternatif lain pada modalitas ontologis Tuhan selain bahwa Tuhan itu entah ada atau tak ada. Tidak ada pilihan ketiga. Dari sinilah setiap orang bermula. Pada derajat penghayatan intuitif ini, klaim theistik maupun atheistik adalah sebuah ‘keyakinan’. Ini mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa setiap orang pasti memiliki sesuatu pada derajat ‘keyakinan’ tentang keberadaan Tuhan. Dengan menerima hal ini, kita telah sedikit membantah dengan cara yang elegan bahwa keyakinan memerlukan argumentasi. Keyakinan bukanlah sesuatu yang berada di akhir konstruksi penalaran dan argumentasi. Keyakinan bukanlah resultan, tetapi adalah titik-tolak yang tidak memerlukan apa-apa untuk eksis. Seseorang yang mengatakan bahwa suatu pernyataan yang merupakan puncak-kesimpulan dari sebuah penalaran adalah sebuah keyakinan menjadi mulai diragukan karena kenyataannya, keyakinan eksis tanpa syarat apapun.
Pengetahuan sebagai konsekuensi logis dari penalaran
Karena ‘keyakinan’ adalah titik tolak penalaran yang tidak memerlukan argumentasi yang mendahuluinya, maka apa saja yang merupakan konsekuensi logis dari penalaran, sistem pembuktian atau argumentasi, adalah bukan keyakinan. Lalu, apakah ‘yang bukan-keyakinan’ itu adalah ‘pengetahuan’? Sejauh dikotomi kita hanya soal keyakinan-pengetahuan, maka jawabannya adalah ya, termasuk dalam isu mengenai ‘Tuhan’.
Ketiga asumsi dasar saya berbunyi: (1) terdapat derajat arkhaik pada afirmasi umum tentang argumentasi (meliputi kebenaran, kelogisan dan fakta), (2) pengetahuan berada pada derajat penghayatan psikologis tertentu yang lebih ‘advance’ dari keyakinan dan (3) pengetahuan adalah ‘konsensus umum’. Saya akan menerapkan ketiga asumsi tersebut pada sebuah ilustrasi di mana seseorang mencoba membuktikan sesuatu untuk menghasilkan pengetahuan, sementara Ia berangkat dari keyakinan.
Bayangkan seseorang yang memperhatikan sebuah kotak yang tertutup pada segala sisinya. Pada mulanya Ia tidak memiliki gagasan apapun tentang isi kotak itu dan Ia ingin mengetahuinya tanpa membukanya. Walaupun ia secara empirik tak mampu mempersepsi isi kotak itu, tetapi ia memiliki sejumlah data untuk melakukan penalarannya.
Pertama, kotak itu berada di daerah pelabuhan. Kedua, kotak itu basah dan air rembesannya terasa asin. Ketiga, kotak itu terlihat kokoh. Keempat, kotak itu berat namun ketika digoyangkan, tidak berbunyi. Kelima, pada hari di mana orang tersebut menemukan kotak itu, barang masuk ke pelabuhan hanya dari China dan keenam, ia melihat sendiri bahwa kotak itu pada awalnya jatuh dari tumpukan kotak yang dibawa keluar dari sebuah kapal yang baru tiba oleh seorang kuli angkut. Pertanyaannya adalah, ketika tokoh kita itu menyimpulkan dengan sangat mantap bahwa isi kotak tersebut adalah perabot kerajinan yang terbuat dari keramik, apakah ia ‘tahu’ atau ‘yakin’?
Secara umum, orang akan mengatakan bahwa orang itu meyakini, bukan mengetahuinya. Akan tetapi, dalam terminologi analisis, dia dapat dikatakan ‘tahu’. Asumsi (1) adalah bahwa terdapat derajat afirmasi umum tentang segala sesuatu, walaupun bersifat arkhaik (sangat sederhana). Tokoh kita menggunakan berbagai macam ‘indikasi’ dalam membangun penalarannya. Ketika Ia memahami bahwa kotak tersebut berada di pelabuhan pada hari di mana hanya kapal dagang dari China yang masuk sementara ia melihat sendiri kotak itu baru dikeluarkan dari kapal yang baru datang, ia dengan mantap menyimpulkan bahwa isi kotak itu berasal dari China. Lalu, ketika Ia memahami bahwa kotak itu berat namun tidak berbunyi, Ia menyimpulkan bahwa isi kotak itu dilapisi bahan-bahan peredam kejut, sehingga isi kotak itu pasti barang pecah-belah. Sekarang Ia memiliki dua kesimpulan, dan Ia bertanya barang apakah yang berasal dari China dan bersifat mudah pecah? Dengan mantap Ia menyimpulkan bahwa isi kotak itu adalah kerajinan dari keramik.
Asumsi (1) menguatkan pernyataan bahwa dasar dari ‘pengetahuan’ adalah derajat afirmasi umum tentang hal-hal. Pengetahuan harus dimulai dari data-data yang diafirmasi secara umum. Semua keterangan yang terkait dengan kotak tersebut bisa saja diselewengkan atau diolah secara berbeda sehingga tidak menghasilkan kesimpulan mengenai keramik. Namun, ada derajat afirmasi umum yang mengaitkan antara barang impor, pelabuhan, laut, peredam-kejut dan citra china sebagai eksportir kerajinan keramik. Ini menunjukkan bahwa semua hal itu berada pada derajat afirmasi umum. Kita tidak bisa—terlalu—berdebat tentang asosiasi hal-hal tersebut. Dengan demikian, kecurigaan bahwa kesimpulan sang tokoh tentang isi kotak itu hanya merupakan ‘keyakinan buta’ menjadi terbantahkan karena Ia melakukan proses penarikan kesimpulan berdasarkan hal-hal afirmatif.
Asumsi (2) menyatakan bahwa suatu ‘puncak-penalaran’ atau ‘kesimpulan’ menjadi pengetahuan ketika berada pada derajat penghayatan psikologis tertentu. Ini tidak berarti mensubjektifikasi pengetahuan melainkan menegaskan bahwa ‘pengetahuan’ dibedakan dari ‘keyakinan buta’ pada ada-tidaknya argumentasi yang membawa suatu klaim pada taraf penghayatan psikologis tertentu. Kita bisa mengatakan bahwa sang tokoh ‘yakin bahwa Ia tahu’ seolah-olah kita melibatkan ‘pengetahuan’ dan ‘keyakinan’ sekaligus. Keyakinan sendiri sudah dinyatakan sebagai titik-tolak yang tidak membutuhkan apa-apa untuk eksis. Yang benar adalah bahwa ‘sang tokoh memiliki pemahaman yang mantap bahwa Ia mengetahui isi kotak tersebut sebab Ia telah melewati jarak antara keyakinan dengan pengetahuan berupa argumentasi’.
Asumsi (3) menyatakan bahwa ‘pengetahuan’ adalah konsensus umum. Cara membuktikannya sangat mudah: apakah rata-rata orang berkecerdasan normal akan menganalisis bahwa isi kotak tersebut adalah kerajinan keramik? Jika jawabannya adalah ‘ya’, maka kesimpulan tersebut adalah konsensus umum.
Kesimpulan yang kurang ajar
Apa perbedaan antara ‘Tuhan’ dengan isi kotak dalam ilustrasi tersebut? Tidak banyak. Keduanya sama-sama tak terlihat, tercium, terdengar. Keduanya memiliki tanda (ayat) yang merujuk kepadanya. Keduanya, (dengan adanya ayat-ayat) menjadi bisa ‘dianalisis’. Kalau serangkaian asumsi dapat diterapkan pada ‘keghaiban’ isi sebuah kotak, mengapa tidak bisa diterapkan pada keghaiban Tuhan? Tuhan sepertinya memang dipahami secara subjektif, emosional dan personal dengan kekhasan psikologis masing-masing individu. Kata ‘psikologis’ sendiri masih terlalu kaya untuk diuraikan di sini. Kembali kepada ‘isu teknis’ dari uraian ini, saya sekadar ingin menyimpulkan bahwa seseorang dimungkinkan untuk ‘mengetahui’ ada-tidaknya Tuhan, bukan sekedar meyakininya secara ‘buta’ selama (setidaknya) terdapat ketiga asumsi yang sudah dibahas sebelumnya.
Tanggapan Mutakhir