Friedrich Wilhelm Nietzsche, suara ganjil dari masa kemapanan kebudayaan Eropa, adalah kutipan yang klise. Nietzsche begitu reputasional sehingga mendengar stereotyping-nya mengenai Gott ist tot (Tuhan telah mati) saja, orang akan melarang dirinya, atau orang lain, untuk lebih lanjut mendaki Mahameru pemikiran Nietzsche. Sebenarnya keonaran apa yang telah diperbuat Nietzsche, atau secara pragmatis, siapa Nietzsche bagi kita?
Nietzsche ingin melihat manusia, Ia ingin bertolak dari manusia. Maka jelaslah alasan Nietzsche menamakan karya terakhirnya sebagai Ecce Homo (lihatlah manusia). Nietzsche bertolak dari kemandirian manusia yang dicoba diperkosa dari berbagai arah dan dididik untuk menjadi pengecut oleh Sains, Filsafat, Rasionalitas, Empirisme, Agama dan Moral. Bagi Nietzsche, hakikat manusia adalah sendirian (sepi adalah rumahku-dan “aku” adalah “manusia” kata Nietzsche), dituntut untuk menciptakan dunia baru yang bebas setelah “benua-benua nilai” tenggelam ke permukaan samudera, dan mengafirmasi hidup. Ia menolak metafisika, karena metafisika melalui beragam tawaran pemikirannya berebut melecehkan realitas fenomenologis yang dihidupkan oleh kemanusiaan untuk beralih kepada sebab-sebab hakiki di dimensi transendental. Dengan kata lain, dengan semangat memekiknya yang khas itu, Nietzsche ingin mengatakan bahwa metafisika berusaha mem-fanakan hidup dengan mengatakan bahwa apa yang berada di dunia pengalaman hanyalah merupakan manifestasi semu dari bentuk-bentuk, atau prinsip-prinsip pertama yang melahirkannya. Tidak, kata Nietzsche, dunia fenomenalah yang hakiki, karena manusia unggul (Ubermensch) tidak perlu berpaling kepada kehakikian metafisik apapun, Ia mampu berkata “ya” kepada hidup, seorang Ja-Sagender.
Nihilisme
Satu dari beberapa kata kunci primer untuk memasuki khazanah filsafat Nietzsche adalah Nihilisme, sebuah prinsip yang mewanti-wanti manusia untuk menghadapi sebuah era yang berada dalam jangkauan Visi Nubuat Nietzsche, tentang kemandegan kebudayaan Eropa (dan manusia), titik di mana ikhtiar manusia dalam memercayai jaminan nilai-nilai akan sampai kepada kejenuhannya, untuk sama sekali melenyapkan jaminan nilai-nilai itu selamanya. Akan tetapi seseorang tidak boleh salah dalam menafsirkan prediksi Nietzsche ini. Nietzsche tidak sedang menjadi pengkhotbah moralis yang mencoba menyelamatkan manusia dari bencana besar dengan cara membangun kuil-kuil penyucian diri. Ketika menurut Nietzsche segala nilai yang menjadi pegangan hidup manusia akan musnah sama sekali, Nietzsche tidak sedang mengatakan bahwa manusia harus berusaha mencegahnya (karena bagi Nietzsche Nihilisme akan terjadi sebagai kekuatan yang berada di luar daya individual) ataupun bergiat menciptakan sistem nilai baru. Bagi Nietzsche, hari di mana Nihilisme akan datang adalah pertaruhan bagi Herden-Moral dan Herren-Moral untuk membuktikan perbedaan kualitasnya.
Nihilisme, secara metaforis adalah kisah tentang seorang pelaut, kapal, jangkar dan benua. Manusia adalah seorang pelaut, itulah hakikat metaforisnya. Betapapun Ia akan sangat mahir dalam memasak dan menyemir sepatu, manusia adalah seorang pelaut, dan jauh di dalam jiwa setiap pelaut, air adalah habitatnya. Air lah yang paling valid dalam menguji jiwa seorang pelaut. Semua aktivitas kontinental yang tak berhubungan dengan samudera seperti menjadi guru, juru masak atau tentara adalah aktifitas-aktifitas yang membuat manusia melupakan hakikatnya. Semua itu diakibatkan oleh nilai-nilai dogmatik yang membelenggu Ubermensch dalam setiap individu untuk menghargai samudera. Pada benua-benua yang nyaman, manusia-manusia lemah dan pengecut tinggal dengan nyaman di dalam buaian dogma. Namun Nietzsche meramalkan bahwa sesuatu yang teramat besar tengah menuju realisasi. Dan itu adalah Nihilisme.
Nihilisme datang dalam wujud tenggelamnya seluruh benua, seluruh jaminan untuk hidup dengan nyaman tanpa keinsyafan untuk menggugat asumsi-asumsi fundamental yang membuat manusia percaya bahwa benua dapat menjamin kehidupannya sampai kapanpun. Benua Moral menjamin bahwa kebaikan yang dilakukan oleh seorang manusia dalam sistem moral tertentu merupakan kehendak metafisika dari Tuhan, sehingga dengan menjadi seorang moralis, manusia mendapat jaminannya untuk hidup tenang dan tak perlu repot-repot mengarungi samudera untuk mencari hikmah yang sesungguhnya. Benua empirisme, seperti yang dibangun oleh David Hume, menjamin bahwa kehakikian konstruk dunia (Weltanschauung) dibangun dari pasifitas mental yang bereaksi secara konstan dan konsisten terhadap pengalaman-pengalaman sensibel untuk kemudian membangun pengetahuan. Jika seseorang tinggal di atas benua Empirisme, maka dia merasa tidak memiliki alasan untuk mengarungi samudera nir-nilai yang ganas untuk mencari kehakikian nilai. Demikian pula jika Benua Rasionalitas Descartes masih dihuni manusia, mereka akan melihat seluruh dunia (yang utuh dalam kehakikian yang tak terjangkau oleh fragmentasi rasionalisme) dalam bayang-bayang ketiadaan Ontologis dari benda-benda yang ada di dunia fenomena, karena yang hakiki hanyalah mental manusia. Nietzsche menolak untuk memegang kewarganegaraan dari benua manapun, Ia memilih untuk menyambut datangnya keruntuhan segala benua-nilai (nihilisme) dengan cara melepas jangkar kapalnya lebih dahulu dari siapapun.
Ketika seluruh prosesi Nihilisme telah sempurna, mari kita lihat berapa kapal yang tersisa untuk mengarungi dunia nirnilai, kata Nietzsche.
Mengapa, bagi Nietzsche, seseorang yang hidup dengan memercayai suatu nilai dianggap pengecut? Jawabannya adalah karena Nietzsche melihat adanya jiwa seorang budak di dalam setiap penganut nilai, Ia memiliki Herden Moral yang mengibakan nurani Nietzsche.
Dunia menilai filsafat Nietzsche sebagai karya-karya dalam domain Metafisika, Etika dan sedikit ada yang menafsirkannya sebagai Filsafat Politik. Ada Kontroversi mengenai hal yang terakhir disebut, namun semua pemerhati filsafatnya tidak akan tidak mencapai konsensus bahwa seluruh karya Nietzsche adalah kritik yang membunuh. Bidang apapun yang coba didiskusikannya, entah Metafisika atau Etika, adalah juga bidang yang coba diledakkannya. Dalam hal ini Nietzsche menganalogikan tindakan ultra-agresifnya dengan dinamit, “aku bukanlah seorang manusia, melainkan sebuah dinamit. Meresahkan orang lain adalah tugasku”.
Di dalam Metafisika, Nietzsche memberikan perhatian yang signifikan kepada Filsafat Immanuel Kant dan Arthur Schopenhauer. Nietszche mengkritik, pertama, dalam gaya dan preferensi bertutur yang aforistik-puitik, dualisme dunia sebagai dikotomi antara dunia fenomena yang teralami dengan dunia transendental yang mencitrakan dunia fenomena itu. Dengan kata lain, gaya filosofis Metafisika cenderung membahas sebab-sebab pertama dari being (apa yang dipercaya atau dinyatakan sebagai ‘ada’) sebagai bentuk-bentuk atau prinsip-prinsip yang berasal dari dunia transendental itu. Apa yang dinyatakan sedang terjadi di dalam empirisme adalah fenomena yang sesungguhnya merupakan penampakan dari kejadian lain yang lebih hakiki. Misalnya, bagi Kant, hukum moral sebagai being adalah sesuatu yeng terfenomenologi dari kehendak manusia. Isi moral menjadi ada sebagai akibat dari ekspektasi manusia untuk bertindak ini atau tidak bertindak itu. Di dalam metafisika, Nietzsche melihat sayap seekor burung gereja yang lemah, bukan burung Rajawali yang siap mengarungi kehidupan di atas langit nilai-nilai. Mengatasi nilai-nilai untuk menjadi berani untuk hidup tanpa jaminan.
Bayangkan diri kita, hidup tanpa pengetahuan matematika dan moral secuil pun. Kita akan kesulitan untuk membangun kepastian finansial ketika kita tak menguasai dan memercayai Matematika. Neraca keuangan tak akan bisa diukur dengan konstan dan konsisten, sementara kita tidak bisa memprediksi secara rasional bahwa 1 Kg Telur ayam yang berharga 6000 Rupiah hari ini, dengan asumsi tiadanya gejolak ekonomi yang drastis, tidak akan berbeda jauh harganya esok hari. Namun, terlepas dari metafisika moral matematika, kita memilih untuk memercayai sistem matematika agar kita mampu menguasai hidup dengan teratur dan pasti. Ini, sekilas, terlihat merupakan imperatif dalam tuntutan peradaban, namun sebagai suara ganjil, Nietzsche melihatnya secara lain.
Kita memercayai hukum matematis, seperti memercayai hukum moral semata-mata untuk menjamin kepastian dunia kita. Kita terlalu takut untuk hidup di dalam dunia yang tidak terukur, kita terlalu takut untuk menjadi komparatif terhadap nilai lain, termasuk ketanpa-nilaian yang Nietzsche sebut dengan Nihilisme itu. Manusia semacam itu adalah manusia Herden-Moral, bermental budak. Ubermensch di dalam konsepsi Nietzsche adalah manusia-Rajawali, bukan karena dia meniru Film Yoko, tetapi karena dia merasa harus mempertanyakan hal paling fundamental dari nilai itu sendiri, untuk membuktikan bahwa dirinya tidak mengidap excessive-dependency terhadap jaminan nilai, bahwa dirinya tidak merasa gentar untuk melihat dunia tanpa jaminan dogmatik yang tidak terbukti itu. Ia ingin mempertanyakan moral serta mendestruktifisasi segala nilai yang tak handal dan menjadi Tuan (Herr) di langit biru keberanian: Rajawali.
Manusia Supra-Historis yang Tidak Menanti Apapun
Nietzsche menggagas 3 konsep untuk menghadang moralitas, dan yang terpenting adalah apa yang disebutnya sebagai manusia Supra-Historis. 2 sisanya yang kurang penting adalah manusia Historis dan Ahistoris. Kebanyakan manusia adalah manusia Historis, yakni tipe manusia yang mengelola kesadaran sejarahnya untuk belajar darinya. Menjadi manusia Historis tidak cukup sehat dalam alam pemikiran Nietzsche, karena kesadaran mengenai masa lalu seseorang, atau masa lalunya sebagai bagian dari elemen masyarakat yang terlindas revolusi dapat membuat seseorang untuk menyadari batas kreatifnya. Sebagai pemikir eksistensialisme, Nietzsche menolak manusia yang menggariskan kapasitas kreatifnya, karena hal itu berarti terpakunya manusia pada nilai yang ‘mengamankan’ prospek hidupnya serta menjauh dari tindakan kreatif setelah matinya nilai-nilai.
Sebaliknya, manusia ahistoris adalah manusia sebatang kara yang hidup begitu saja, tanpa barometer untuk menciptakan dunia yang cocok untuk mengamankan kelangsungan hidupnya. Manusia dengan jenis seperti ini tidak memiliki kans untuk menjadi pencipta nilai-nilai karena dia tidak pernah sadar terhadap nilai-nilai apa yang pernah ada dan kemudian mati bersama-sama, tenggelam ke bawah gelombang Nihilisme yang diramalkan Nietzsche akan datang pada masa di mana kebudayaan Eropa, dan manusia pada umumnya mengalami kemandulan.
Untuk memahami konsep Nietzsche mengenai manusia Supra-Historis, mari bayangkan hukum moral, yang ingin dihadangnya, sesuatu yang memproyeksikan tujuan hidup manusia kepada ke-disana-an atau ke-nanti-an. Dengan demikian moralitas itu bersifat transendental pula: Ia menolak dunia fenomena sebagai tempat segala hal mencapai finalitasnya, karena tujuan dari moralitas adalah apa-apa yang akan dicapai pada dimensi apapun yang tidak berkaitan dengan aktualitas dunia fenomena. Pada titik ini, Nietzsche melengkapi gagasan tentang Ja-Sagender sebagai manusia Supra-Historis yang menyelesaikan dunia tepat pada saatnya, saat demi saat. Saat demi saat, dunianya senantiasa terpenuhi.
Manusia Supra-Historis adalah manusia yang memenuhi dunianya dalam-proses. Ia tak menanti kedisanaan atau kenantian, Ia melengkapi finalitas dunianya dalam situasi fenomenologis pada tahap demi tahap. Ia adalah Ja-sagender sejati yang mengamini hidup. Ini adalah cikal-bakal interpretasi khazanah filsafat sesudahnya ketika mengidentifikasi Nietzsche sebagai filsuf Eksistensialis. Manusia Supra-Historis senantiasa menolak batasan-batasan esensial yang biasa mengerangkeng tafisr utuh manusia melalui penghayatan atas sejarah. Manusia Supra-Historis adalah manusia yang menolak moral sebagai nilai yang menguniversalisasikan segala sesuatu. Di sini, Nietzsche mensubstitusikan nilai moral dengan nilai seni, yang dalam pemikirannya merupakan perpaduan dari nilai Dionisian (paham destruktifikasi nilai-nilai) dan Appolonian (paham kejeniusan dalam menciptakan nilai baru) yang terjelmakan dalam perasaan tanpa pamrih ketika seseorang menikmati seni: Ia tidak menanti apa-apa, karena fenomena seni adalah kenikmatan yang selalu mencapai finalitasnya setiap saat.
Menilai Nietzsche, Melawan Nietzsche
Kulminasi “kegilaan” Nietzsche terdapat di dalam karyanya Also Sprach Zarathustra. Ia adalah Zarathustra dalam personifikasi itu, seorang spiritualis yang turun gunung untuk berbagi kebajikan. Alkisah, ketika Zarathustra telah selesai mendidik murid-muridnya dengan nilai-nilai Nihilisme, Ubermensch, Manusia Supra-Historis dan keberanian seorang Ja-Sagender, Ia berkata bahwa:
Sekarang Aku akan pergi seorang diri, para muridku
Kalian pun pergilah seorang diri
Demikianlah Aku berkehendak
Pergi sekarang dan lawanlah Zarathustra!
Apa maksudnya semua ini? Ini adalah bukti betapa kuatnya integritas Nietzsche atas prinsip-prinsipnya sendiri. Nietzsche ingin agar semua orang merelatifisasikan nilai-nilai, termasuk thesis-thesis Nietzsche sendiri. Nietzsche ingin agar setiap manusia hanya memercayai bahwa seorang Ja-Sagender adalah model manusia sejati, dan model manusia yang paling mampu meluhurkan hidup, hidup di dalam dimensi fenomena. Kita harus melawan Nietszche, hanya itulah kesimpulan dari Essai ini.
Karakter Nietzsche adalah anti-dogma, dia tidak mempertahankan suatu pendapat: dia tidak membangun benua baru setelah seluruh benua tenggelam digilas Nihilsme, dia mengarungi samudera itu untuk terus-menerus berada dalam status kreatif. Karakternya yang seperti itu telah membawa dirinya untuk mengagumi Goethe, Wagner dan Schopenhauer dalam jangka waktu tertentu. Seterusnya, Ia mengkritik, misalnya, Schopenhauer yang pernah dikaguminya karena Ia menilai sang Idola telah mengalami fase dogmatik. Schopenhauer pernah menjadi penjelmaan spirit Kebudayaan Yunani, namun kemudian tidak beranjak dari pola-pola lamanya, sehingga pada titik itulah Nietzsche menilainya sebagai “Imam Agung Dekadensi”.
Sama seperti itu, dalam kasus lainnya, Nietzsche mengkritik baik Kant ataupun Habermas karena masih melibatkan unsur Metafisik yang melahirkan moral. Sepintas hal ini adalah sesuatu yang wajar mengingat corak umum dari filsafat Nietzsche yang menolak sumber-sumber ketuhanan. Namun, ketika Nietzsche juga menolak Auguste Comte dan Positivismenya, segala sesuatunya menjadi lebih jelas sekaligus menarik. Bagi Nietzsche, Metafisika ketuhanan Schelling maupun rasionalisme positif Comte sama-sama dogmatik karena telah gagal dalam mempertanyakan dasar jaminan kesimpulannya. Bagi Nietzsche, Comte juga seorang Dekaden karena Ia gagal mengkritisi (dan menihilkan) rasionalisme itu sendiri! Kata siapa, ujar Nietzsche, bahwa rasionalitas dapat diandalkan? Filosofi yang menjual keberaniannya kepada jaminan nilai Ketuhanan maupun rasionalisme sama sekali tidak memiliki perbedaan skala.
Sebagai Zarathustra, Nietzsche ingin agar kuliah-kuliah moral mutakhirnya diresistensi. Menurut Nietzsche, ini adalah cara paling ampuh untuk menjaga otentisitas dirinya dari dekadensi. Dia tidak ingin menjadi baik Kant maupun Comte, yang statis untuk sebuah sistem nilai. Nietzsche ingin dilawan, oleh pelayar-pelayar yang juga tengah terombang-ambing di atas samudera kenihilan, untuk sama-sama menjadi individu-individu yang mengabaikan jaminan dalam menafisrkan dunia yang penuh kekacauan (Chaos).
Tempurung Kepemimpinan
Nietzsche berteriak sinis kepada Negara karena Negara melihat kepada manusia melalui sistem hak dan kewajiban. Sampai sebelum Nietzsche dan pemikiran postmodernisme lainnya mencapai pamor utama dalam filsafat, pemikiran Politik justru mendapatkan momentum yang baik. Ruang pemikirannya kaya, mendalam dan ekstensif. Namun, di tangan suara ganjil dari masa kemapanan kebudayaan Eropa, Politik menjadi inferior. Mengapa politik menjadi inferior, setelah sebelumnya terkesan superior?
Pertama, Politik sebagai sebuah produk filosofis sekaligus praktis, lahir di masa Yunani dan Yunani mengenal kemerdekaan individual. Salah satu rasa keyunanian pada masa kelahiran Politik adalah bahwa seorang Yunani merasa kemerdekaan individual hanya ada di kalangan mereka, sehingga bangsa-bangsa timur, meski berada di bawah Kekaisaran sekuat Persia sekalipun, dianggap sebagai bangsa budak yang dieksploitasi oleh Raja-Rajanya. Hal yang semacam itu tak dapat ditemui dalam alam kenegaraan Yunani. Sistem Demokrasi dikenal dan Senat dipilih oleh Demos (rakyat). Penentuan kebijakan dilakukan berdasarkan konsensus dari para senat yang mewakilkan suara rakyat dalam Negara-kota Yunani yang saling independen satu sama lain. Kebudayaan Politik Yunani kuno juga mengedepankan pendekatan retorika dan oratorikal, sehingga kekuasaan dan pengaruh untuk memanipulasi arah kebijakan terletak pada kelihaian intelektual.
Pada masa yang demikian, Yunani berhasil mengartikulasikan istilah Politea yang merangkum segala pengertian khasnya mengenai hak dan situasi kewarganegaraan. Istilah ini kemudian menurunkan kata Politica atau Politics yang dikenal dalam ruang kontemporer. Jika kita berhasil melihat konteks universal ketika Politik dilahirkan di Yunani, maka kita dapat melihat betapa Politik adalah konsep yang superior karena berdiri di pertengahan antara Despotisme yang memperbudak rakyat jelata dengan ekspekstasi untuk melahirkan peradaban manusia yang memperhitungkan hak kewarganegaraan pada level individual. Inilah alasan mengapa Politik bertahan sebagai salah satu cabang Filsafat yang maju. Politik terlihat sebagai gagasan yang menjanjikan terungkitnya martabat kemanusiaan.
Di dalam alam pemikiran Nietzsche, potensi Politik digantikan oleh keseluruhan filsafatnya tentang transvaluasi nilai-nilai. Di sini, di dunia yang tidak menyisakan benua-jaminan setelah datangnya Nihilisme, Nietzsche melihat bahwa dunia tanpa arti segera akan digantikan oleh nilai Ubermensch. Nilai Ubermensch adalah nilai yang berada di sini, sekarang dan satu-satunya. Nilai Ubermensch adalah nilai antikodrati yang mengenyampingkan semua esensi yang menawarkan prinsip identitas dan menggunakan eksistensi individual dalam masa Nihilisme untuk menafsirkan dunia tanpa batas, nonstop. Sehingga, di hadapan filsafat antimetafisika dan antinorma itu, Politik yang mencoba mendefinisikan, atau kata Kierkegaard, memassifikasikan cara-berada manusia adalah nilai yang akan habis dilindas oleh Ubermensch yang superior itu.
Kepemimpinan, dalam hal apapun adalah soal Politik belaka. Kepemimpinan adalah soal mengelola kebebasan yang terbatas-dan keterbatasan yang dikompensasikan oleh kebebasan. Semua ihwal kepemimpinan selalu berkorelasi dengan definisi, struktur, ekspektasi, reduksi, goal, hak dan kewajiban. Pada dunia yang seperti inilah, Nietzsche dan konsepsinya yang menolak sumber-sumber metafisika, antidefinisi-esensi dan yang mencoba melihat dunia berdasarkan cara pandang Ubermensch adalah ikan lele yang menggelepar-gelepar ketika digoreng hidup-hidup.
Ide Balasan