Hari-hari ini saya seperti bangun dari sebuah tidur dogmatis. Mungkin sudah sejak pertama kali manusia mampu melihat, setiap benda pasti jatuh ke Bumi. Namun, yang mampu bangun dari tidur dogmatis hanyalah Newton, yang mampu membangun kefisikaan dari kejadian jatuhnya benda. Mungkin sudah sejak pertama kali, daur kehidupan di alam semesta ini tampil menganga dengan telanjangnya melewati hari-hari manusia, namun hanya orang-orang yang sedikit yang mampu bertolak dari cara pikir creatio ex-nihilo dan Generatio Spontanea. Tidur dogmatis itu adalah sesuatu yang dalam dan hitam, yang melintasi hari-hari manusia, dan mengalihkannya dari ketelanjangan yang hakiki.
Hari-hari ini, seolah-olah banyak kejadian revolusioner yang terjadi. Israel memperlakukan Sipil Palestina melalui cara-cara militer. Perpolitikan orang Islam di Indonesia mengalami kontradiksi dan parodi yang sangat menggelitik. Dakwah Islam terasa beratnya. Demonstrasi anti-radikalitas Islam terjadi di Leeds. Darfur bergolak lagi, sementara Sirkuit spektakuler Yas Marina di Abu Dhabi dibangun dengan megah. Logika peradilan tak dapat menyentuh keadilan, dan saya belum juga kaya-raya. Semua seolah-olah terjadi, seolah-olah tertampilkan begitu saja pada realitas, tanpa proses. Padahal saya, anda dan kita semua tahu bahwa segala sesuatunya memiliki hukum. Fenomena, tidak mungkin terlepas dari faktor kausalitasnya. Namun inilah saya, baru saja bangun dari tidur dogmatis dan luput melihat bahwa dunia ini evolusioner, bukan revolusioner. Segala ketiba-tibaan adalah ketidakmampuan kognitif saja. Kelemahan Intuitif saja.
Ketika melihat diri sendiri, saya melihat mimpi yang rasanya hampir dimuntahkan karena tidak kuat ditampung lagi. Agregat cita-cita yang wrong thing in the wrong man. Sebuah cita-cita yang tidak proper mengingat siapa yang memilikinya. Sebuah cita-cita yang muluk sama sekali: saya bermimpi meletakkan Islam pada fitrahnya.
Kepada seorang teman saya berkeluh bahwa saya tidak tega melihat Ummat saya tidak mampu menjawab tantangan zaman. Saya melihat Ummat terlalu egois, dengan mencipta dan berkutat dengan masalahnya sendiri. Ketika melihatnya melalui cara pandang evolusioner, saya tersadar bahwa ini semua, lebih dari seratus tahun yang lalu sudah diprovokasikan oleh Jamaluddin al-Afghani. Seratus tahun yang lalu Jamaluddin al-Afghani melihat bahwa akar kemerosotan masyarakat Islam adalah cara pandangnya yang terlalu mistik. Tarekat Spiritual berdiri dan ketersediaan pangan tidak terproduksi dengan baik. Masyarakat Islam dihadapkan dengan superioritas peradaban Barat dan Imperialisme masuk dengan mengikuti hukum alam. Ketika itu, seorang al-Afghani berdemonstrasi dengan teori pan-Islamismenya.
Pan-Islamisme, persatuan Ummat Islam, adalah gagasan Politik, sesuatu yang dapat diwujudkan melalui gerakan sosial untuk membangun masyarakat. Yang tiada dalam masyarakat Islam ketika itu adalah semangat eksplorasi, yang ada adalah konformisme dalam ritual dan merasa tidak bermasalah dengan Imperialisme di atas tanah-tanah Islam. Al-Afghani berjuang untuk membangkitkan kesadaran Politik, dan kini kita bisa melihat bahwa Ummat telah semakin Politis, sesuai cita-citanya. Akan tetapi, semua nampak seperti revolusi di dalam tidur dogmatis.
Evolusi selama seratus tahun pasca-alAfghani telah menyusun cara pikir terlampau Politis dari masyarakat. Ummat belum juga belajar untuk meneladani mental peradaban Islam yang terdahulu. Dapat dikatakan, pertama, bahwa perjuangan Politik di dalam Negara-negara Islam tidak selalu gerakan yang berakar di masyarakat secara meluas dan transparan. Banyak di antara perjuangan Politik dikelola melalui dominasi elit. Bagian yang dikomunikasikan kepada masyarakat luas bukanlah seluruh bagian dari perjuangan Politik elit. Kedua, nyaris semua perjuangan Politik di masyarakat Islam tidak menyentuh akar kemasyarakatan berdasarkan parameter-parameter keunggulan peradaban secara umum. Pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaaaan dan paradigma universal atas KeIslaman dari masyarakat Islam kurang disentuh dibanding usaha pragmatik meraih kekuasaan Politik. Bahkan, gerakan yang pada awalnya memiliki akar di kehidupan riil masyarakat, berbalik mengalienasi masyarakat persis ketika peluang Politik parlementer semakin terbuka. Ini sangat kontradiktif, setidaknya terhadap konsepsi perjuangan Politik al-Afghani. Realitas pasca-alAfghani belum menjadi realitas yang kontinyu: bahwa apa yang dirintis oleh perjuangan masyarakat Islam hari ini akan dihancurkan besok, untuk membangun landasan perjuangan yang sama sekali baru. Tak ada koherensi, tak ada pan-Islamisme
Perjuangan Politik dilandasi dengan kognisi dan rekognisi dunia melalui dikotomi Minna wa laysa Minna: kami dan kalian. Kami faksionistik dan kalian faksionistik. Selalu ada kami pada sisi Islam dan kalian pada sisi Kufur. Ini memang benar, dalam iman dikotomi ini berlaku sampai kapanpun. Namun, dikotomi ini telah meyeret pandangan umum Ummat kepada Status Quo terhadap cara pandang sosiologis.
Masyarakat Islam dilihat melalui psikohistorisisme. Klaim masyarakat Islam menjadi melekat kepada apa yang disebut sebagai Kaum Muslimin sejak ratusan tahun yang lalu di Arab, di Asia tengah, di Turki, di Iran, di India dan di ranah Melayu. Di luar itu, treatment untuk memberikan perhatian dakwah menjadi sangat dibedakan. Padahal, seluruh variabel peradaban Islam akan selalu berada dalam kondisi persaingan yang menjemukan dengan Barat, kecuali jika kita mampu mengislamisasi barat. Ummat cenderung mengejar Barat, bukan memeluk Barat: mengIslamisasi, mengimpor kemajuannya dan mengembangkan progresifitasnya. Saya rasa, jika para Shahabat dan generasi Salaf menggunakan cara pikir yang sama, kita tidak akan dapat belajar dari kegemilangan masyarakat Islam pada era yang lalu, yang kata Arnold J. Toynbee, cenderung membangkitkan sentimen primitifisme untuk “mengenang periode emas”. Generasi terdahulu telah secara dramatis dan historis mengimpor, menerjemahkan, mengadaptasi dan kemudian mengembangkan corak khas intelektualisme Islam di atas fundamen Yunani dan Persia. Mengapa mereka bisa sedemikian gemilang? Karena mereka memeluk Aristoteles dan Plato, alih-alih membuangnya.
Minna wa laysa minna akan kita temui pada Iman dan pada Jihad. Agaknya sentimen Minna wa laysa minna telah mendasari perjuangan Politik Ummat. Kita bermimpi mendirikan suatu masyarakat Islam yang bertolak dari psikohistorisisme kita, bukan mengembangkan masyarakat manusia yang bertahkim kepada hukum-hukum dari para pemimpin-pemimpinnya yang beragama Islam. Bagi saya, Islam harus menjadi rahmat bagi semesta alam, dan janji Allah harus terbukti bahwa Bumi akan diwariskan kepada generasi yang Shalih. Bumi pasti meliputi realitas mukmin dan kafir, dan kesemuanya harus tunduk kepada hukum yang memuliakan manusia dan meninggikan Allah, yakni hukum Allah sendiri.
Di dalam kehidupan pasca-tidur dogmatik, semua tampak kacau. Agaknya seorang pemikir cukup jeli demi mengatakan bahwa ketika kita telah bangkit dari kejumudan, semua segera menjadi Chaos (kacau). Orang-orang penakut menyibukkan diri dengan memejamkan mata, membangun realitas maya melalui topangan nilai-nilai yang konformis sehingga realitas terlihat Cosmic (teratur). Padahal, dia hanya tak mampu hidup dalam realitas yang asli, yang penuh tantangan. Nilai-nilai konformisme bisa berarti membutakan nurani bahwa Politik kita tak membuat rasa lapar yang sangat dari anak-anak Muslim potensial di Darfur menghilang. Jargon-jargon kita tak membuat keresahan spiritual dari para atheis yang merindukan Allah menjadi absen. Partai-partai Politik Islam tidak siap menyambut revolusi moral yang mungkin terjadi di suatu negeri, karena paradigma Politiknya tidak pernah mengandaikan faktor X Revolusi moral. Fanatisme kita bahkan menimbulkan resistensi dari sesama Muslim. Bagaimana kita akan membangun universalisme kesejahteraan yang dihasilkan oleh Islam?
Realitas pasca-tidur dogmatik adalah balas dendam nurani. Maukah nurani jujur? Suara-suara rintihan manusia ditularkan melalui nurani ke nurani. Ada gelombang tersendiri yang mampu mentransmisikan substansi-substansi moral dari dan ke nurani manusia. Bahwa realitas itu menantang. Bahwa kegilaan dunia jauh dari konformisme Musyawarah-Musyawarah protokoler yang dihijabi ketakziman. Bahwa Islam telah memulai pemberontakan besar dari keterkurungannya selama sekian tahun di Masjid-Masjid. Bahwa Islam ingin me-realitas, keluar dari Masjid belaka.
Nurani berkata bahwa saya tak ingin melihat Islam pada suatu masyarakat. Saya ingin melihat Islam sebagai suatu Psikologi, suatu sirkulasi abadi dari kognisi dan rekognisi atas realitas. Nurani berkata bahwa: mari, selamatkan dunia masyarakat Islamku. Berpolitiklah untuk manusia. Berpikirlah bahwa: adalah gila sepenuhnya bahwa di luar sana, ada persepsi-persepsi yang meragukan keselamatan dan kesejahteraan sosial yang ditawarkan oleh Islam. Betapa gila, dan kegilaan itu Ummat sendiri yang memulainya. Kegilaan yang sangat itu membuat buku-buku yang memenuhi meja harus disingkirkan, kontemplasi yang memperkaya spiritualitas harus dihentikan untuk kembali angkat Qur’an ke tengah-tengah realitas: berpolitik dalam arti yang kita harap-harapkan.
Maka jika Negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa nengadu kepada Allah
Karena Allah tidak akan
Mengubah nasib suatu kaum
Hingga kaum itu merubahnya
Maka jika Negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Jika tidak bisa dengan demonstrasi
Jika tidak bisa dengan diskusi
Dan itulah selemah-lemahnya Iman perjuangan
(Dikutip dari “Negeri Para Bedebah”)
Darimana Idealitas-bukan Idealisme-berasal, bersifat diperdebatkan. Sebagian, idealitas dinilai sebagai konstruktivisme yang terbangun dari kehendak-kehendak yang transendental, yaitu asal keinginan yang bersifat melampaui pengalaman dan pembelajaran eksistensial. Melalui cara berpikir yang sama transendentalnya pula, dengan demikian idealitas berasal dari kekuasaan yang bersifat personal, saling objektif satu sama lain dengan manusia dan dunianya dan dengan demikian memiliki inisiatif, motivasi dan ego. Dia adalah Tuhan Personal. Ide yang mendukungnya berbunyi bahwa karena Idealitas adalah makna yang subjektif, yang berhubungan dengan isi-pemahaman dan intuisi yang berkaitan dengan prioritas untuk melakukan, memilih atau mencapai sesuatu dari sekumpulan pilihan, atau imajinasi tentang suatu situasi, maka Idealitas itu sendiri menjadi sebuah ego, sebuah Aku dengan totalitas kesadaran yang mensyaratkannya. Idealitas tidak sekedar ada sebagai prinsip-prinsip universal yang berada dalam perspektif kekuasaan absolut yang Imanen atau Pantheistik. Lebih dari itu, Idealitas dinilai melalui terpikirkannya prioritas moral itu oleh sebentuk ego. Sumber metafisis dari Idealitas, jika demikian, pastilah diproyeksikan oleh Ego Ideal, sebentuk kesadaran subjektif yang mendasari semua prinsip kehidupan yang konsepnya personal, sosok Tuhan yang berkperibadian. Ego Ideal tidak hanya memiliki kekuasaan untuk mengatur dunia sebagai Cosmos yang deterministik, tetapi juga Chaos yang probabilistik, bahkan “impulsif” karena memiliki ego. Yang esensial adalah bahwa sumber metafisis dari Idealitas, pada pendapat ini, berasal dari kehendak yang personal.
Ide Balasan